Oleh: Muhamad Pauji
Seorang walikota mengunjungi korban pengeroyokan terhadap laki-laki yang disangka “penculik” di Desa Serang Ilir, Ciwandan, Cilegon. Tak berapa lama bergegas seorang bupati mengunjungi korban pemukulan hingga babak-belur di Desa Nyapah Masjid, Walantaka, Serang.
Begitu santernya informasi mengenai kasus-kasus penculikan di sekitar Banten, tanpa sempat diadakan kroscek, apalagi riset dan penelitian mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Tak ketinggalan, berita-berita itu terus merebak hingga di kalangan kampus perguruan tinggi. Seorang guru dan dosen yang notabene disebut akademisi, ikut-ikutan latah pada alur pemikiran yang sama. Saya heran, bagaimana mungkin seorang akademisi bisa terjebak pada logika berpikir yang tak punya premis berhubungan? Padahal ada mata kuliah sosiologi, riset dan penelitian ilmiah. Mengapa tidak kepikiran oleh mereka, bahwa pada tataran tertentu, kaum politisi justru mengambil keuntungan dari suasana panik dan tegang yang merebak di tengah masyarakat kita.
Dalam dunia politik dikenal istilah conflict of interest. Makna yang lebih jauh dapat diartikan bahwa suasana takut dan tegang yang bersumber dari minimnya tingkat kecerdasan masyarakat, adalah iklim dan suasana yang menggiurkan bagi kepentingan kaum politisi. Terlebih bagi mereka yang tersangkut kasus-kasus hukum yang sedang diperkarakan di pengadilan.
Setelah membaca novel Perasaan Orang Banten (POB), dalam waktu yang cukup lama saya merenungkan komentar sastrawan A.S. Laksana, jangan-jangan kebodohan di tengah masyarakat kita adalah abadi. Novel POB memang menampilkan sisi-sisi kehidupan kaum politikus Banten (sekaligus politikus Indonesia), dengan segala ulah kelakuannya yang serba lugu, polos, bahkan cenderung menggelikan. Tak ada upaya untuk mencerdaskan masyarakat, juga tak ada niatan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. Semua tampilan yang menunjukkan kepedulian hanyalah tameng asesoris pencitraan untuk kepentingan popularitas belaka. Bahkan rubrik halaman koran maupun perangkat medsos bisa diborong, berikut para tenaga ahlinya, demi kepentingan kekuasaan dan popularitas mereka.
Tak ayal, mereka menyusup ke ranah pesantren dan majlis-majlis taklim, mengajak dunia usaha untuk menghibahkan dananya bagi kepentingan pembangunan, sambil tak lupa memberi cenderamata ribuan eksemplar Quran, sejadah maupun mukenah yang disemati logo partainya masing-masing. Dalam kaitan ini, kadang kita sulit untuk menyangkal kejeniusan sastrawan yang menampilkan ulah mereka sebagai kolaborasi tritunggal jahat, yakni penguasa, pengusaha dan agamawan (ahlul-kitab).
Dengan menampilkan ulah kelakuan mereka dalam bentuk karya sastra, memang bukan pekerjaan ringan. Penulis harus cerdas mengambil jarak dari keriuhan dan kegaduhan politik pembodohan yang mereka agendakan. Banyolan dan olok-olok dalam novel POB tentu bukan dimaksudkan penulisnya agar memandang kebodohan sebagai suatu keabadian. Lelucon menggelikan yang dilontarkan di dalamnya justru menghendaki adanya revolusi kebangkitan bagi masyarakat Indonesia (khususnya Banten) agar segera bangkit dari tidur panjang atau ketidaksadarannya.
Apapun ikhtiar yang disampaikan dalam bentuk kreasi dan karya sastra, tak lepas dari sikap-sikap politik sastrawan untuk membangkitkan daya nalar dan kecerdasan rakyat. Memberi titik-titik sinar di tengah lorong-lorong gelap, hingga betul-betul masyarakat dituntun kepada proses pencerdasan dan kedewasaannya. Dalam hal yang sama, sastrawan Sapardi Djoko Damono mengemukakan suatu ironi bagi dunia politik Indonesia yang seakan-akan berjalan di tempat, tak pernah beranjak dari tradisi kedunguan dan kebodohannya.
Ditambahkan secara tendensius oleh A.S. Laksana, bahwa cara terbaik bagi sebuah negeri untuk ancur-ancuran adalah dengan menjadikan orang-orangnya tetap bodoh, penakut, kemudian saling berantem antara satu dengan yang lainnya. Di tengah masyarakat yang seperti itu – seperti yang terekam dalam POB – kepala pemerintahan bisa menyembul bagai berhala yang cantik dan tampan. Cukup mengerahkan orang-orang bayaran untuk bagi-bagi sembako dan kaos partai, ditambah dengan barisan ibu dapur dan tukang nasi bungkus yang dapat membuat masyarakat tersenyum dan bangga sejenak, setelah itu berantem lagi.
Kalau soal begituan, para kaum politikus Banten tak perlu disangsikan lagi. Mereka mahir melakukannya dengan cara-cara yang top, jitu dan akurat. Dari waktu ke waktu, suasana nampak semakin bising seakan-akan mengidap paranoia hingga schizophrenia massal. Terjadi penculikan anak di Desa Nameng, Rangkasbitung. Seorang bocah di Desa Karang Asem diculik untuk diambil ginjal dan jantungnya. Semua isu yang berhembus itu tanpa disertai kroscek, apalagi riset dan penelitian. Menyebar bagai wabah dan virus-virus ganas. Dan kepala daerah adem-tentrem-kromo mendengar keributan dan kegaduhan di tengah masyarakatnya sendiri. Beberapa jamaah pengajian malah sudah menghembus-hembuskan rumor – melebihi kewenangan Tuhan – seakan-akan Jumat besok akan datang hari kiamat.
Ada lagi orang yang meniupkan isu terbaru, bahwa kaum liberalis, sekularis dan Yahudi sedang menggalang kerjasama untuk meruntuhkan kesultanan Banten. Hmm, kita berharap orang ini masih waras otaknya, hingga Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Sebab belakangan saya mendengar kabar tentang hobi beberapa orang Banten yang suka mengutuk – konon disebut berdoa – agar azab Allah segera diturunkan bagi mereka yang tidak sepaham dan tidak sependirian. Secara pribadi saya senyam-senyum bila ada orang yang sudah sepuh, ingin dituakan tapi jiwanya kekanak-kanakan. Kelakuannya kadang persis seperti mobil tua yang semua onderdilnya mengeluarkan bunyi, kecuali klakson.
Machiavelli secara implisit menyatakan bahwa industri kebodohan dan ketakutan itu memiliki obyek pemasaran sangat luas, bahkan bisa menjangkau kalangan intelektual dan akademisi. Untuk melumpuhkan daya nalar masyarakat, kembalikan saja mereka ke zaman batu, atau kembali ke peradaban manusia purba dan suku pedalaman. Bagi yang paling keras gertakannya dia berhak jadi kepala suku. Otot yang paling kuat dapat dijadikan penentu bagi seberapa banyak jumlah pengikut dan jamaahnya. Masyarakat ditakuti-takuti, dibikin tegang dan panik, sementara jembatan dibiarkan ambrol, bangunan sekolah dibiarkan roboh. Namun agar terlihat dermawan, bijak dan bestari, tempat ibadah dan pemujaan dibangun dan direhabilitasi.
Karya orang-orang jenius dijegal, karena khawatir bisa menghambat kelestarian hasrat dan nafsu kekuasaan. Agama telah dikebiri hingga menjelma menjadi bahan caci-maki. Bukan hanya anak sekolahan, tapi antar jamaah masjid saling tawuran. Kemegahan tempat ibadah dijadikan ajang persaingan, rating dan gengsi. Percakapan mereka digantikan dengan simbol-simbol emosional. Bahasa mereka menjadi bahasa isyarat. Orang lain tertawa, mereka ikut-ikutan tertawa. Orang lain teriak, mereka ikut-ikutan menyerbu.
Baik, kita kembali ke isu-isu penculikan yang dibiarkan marak terjadi di sekitar kita. Masyarakat dibiarkan saling curiga dan memusuhi. Para kepala daerah, bupati dan walikota, membiarkan suasana masyarakat menjadi takut dan tegang, hingga muncullah sinyalemen di kalangan jurnalis dan budayawan, seakan-akan suasana ketakutan di Banten ini telah menjadi industri yang diperdagangkan. Dan pangsa pasarnya tentulah mayoritas masyarakat awam yang minim ilmu dan pendidikan, karenanya paling mudah dibodohi dan ditakut-takuti. Sampai saat ini, masyarakat Banten sangat mendambakan pemimpin yang bisa menentramkan dan mencerdaskan masyarakat, agar tidak mudah terhasut oleh aksi tipu muslihat dan kebohongan yang dihembuskan oleh orang-orang tak bertangggung jawab.
Jangan-jangan pihak kepala daerah justru ikut tersusupi oleh isu-isu tersebut, karena tokoh walikota maupun bupati yang saya sebutkan pada paragraf pertama hanyalah fiktif belaka. Sesungguhnya tidak ada bupati maupun walikota yang mengunjungi rakyatnya sendiri, yang menjadi korban pengeroyokan atas tuduhan sebagai “penculik”, baik di Desa Serang Ilir, Nyapah Masjid, Karang Asem maupun di desa-desa lain. Karena tidak menutup kemungkinan, para kepala daerah mengambil keuntungan, atau justru ikut menjadi bagian yang memanfaatkan iklim ketakutan dan ketegangan di sekitar kita. (*)
Penulis Pagiat dan simpatisan Orang Indonesia (OI) Banten.