Kamis, 29 Oktober 2020

Bagaimana Otak Koruptor Bekerja?

[foto ilustrasi/net]
Kamis, 24 Mei 2018 | 18:41 WIB - Suara Pembaca

Oleh Muahor Zakaria

Penulis Alumni Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak

Menurut hasil penelitian Dosen Fakultas Kedokteran, Taufiq Pasiak, yang juga memimpin Masyarakat Neurosains Indonesia (MNI), meskipun ada bagian otak manusia yang condong pada kebohongan, sesungguhnya struktur otak manusia didesain Sang Pencipta agar berlaku dan bertindak jujur. Ketika manusia dihadapkan pada hal-hal yang menuntut kejujuran, pikiran sadarnya akan terusik.

Proses ini berlangsung di bagian otak depan yang disebut korteks prefrontalis. Bagian otak ini berperan dalam menimbang, menganalisis, mengambil keputusan, hingga memperhitungkan baik atau buruk, untung atau rugi dan seterusnya. Proses ini dapat pula dikatakan sebagai proses berpikir, ketika stimulus yang muncul diseleksi, sampai kemudian dipikirkan tentang perlunya tindakan yang akan dilakukan.

Setiap individu memiliki kualitas yang berbeda dalam proses percepatan mengambil keputusan hingga melakukan suatu tindakan. Kecepatan berpikir sangat bergantung dari kebiasaan seseorang menggunakan otaknya atau tidak, terbiasa berpikir dangkal atau mendalam. Seorang koruptor – dalam ilmu neurosains – adalah orang yang bebal dan bodoh, karena ia tak pandai mengukur risiko dari tindakannya. Celakanya, jika koruptor yang bebal itu dapat memimpin suatu instansi hingga menjadi sang ketua dewan perwakilan rakyat di republik ini.

Seorang koruptor terlalu tergesa-gesa dalam berpikir, hingga terburu nafsu bertindak untuk mengambil hak orang banyak. Ia tidak mampu memikirkan risiko dari tindakannya karena cara berpikirnya yang enteng dan tergesa-gesa tadi. Di sisi lain, ada juga koruptor – karena encernya berpikir – lebih memilih bertindak dulu baru kemudian dipikirkan. Hal ini menunjukkan bahwa stimulus yang ada langsung direspons dengan tindakan impulsif yang terkadang bersifat destruktif, sampai akhirnya menimbulkan penyesalan.

Tindakan korupsi yang diambil tanpa proses berpikir ini, menunjukkan kurang berperannya korteks prefrontalis. Saya kadang tak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang yang korteks prefrontalisnya lemah bisa menjadi kepala daerah, bahkan bisa memimpin parlemen di negeri ini? Dalam ilmu neurosains dijelaskan mengenai fungsi sistem limbik di otak bagian tengah yang membuat seorang koruptor berani melakukan tindakan tergesa-gesa tanpa mengukur risiko. Sistem limbik ini mengatur hal-hal yang berkaitan dengan kecemasan, kekhawatiran, hingga rasa takut yang berlebihan.

Emosi yang berhubungan dengan rasa khawatir dan takut miskin inilah yang membuat koruptor tergesa-gesa mengambil suatu tindakan tanpa perhitungan matang. Tindakan yang diambilnya semata-mata untuk kenyamanan pribadi, atau untuk mempertahankan citra keluarga, dinasti atau golongannya, yang sama-sama haus akan pengakuan publik. Dia takut jatuh, takut turun jabatan, takut melarat, takut umur tua, dan tidak diakui lagi sebagai “orang penting”. Ujung-ujungnya dia takut menghadapi pengadilan, hingga takut dihadapkan di meja mahkamah sejarah.

Dalam literatur neurologi dikatakan, ketika orang berbuat jujur, otaknya akan mengeluarkan serotonin dan oksitosin, zat kimia pengirim sinyal(neurotransmitter) yang membuat manusia merasa lega, nyaman dan bahagia. Proses evolusi otak manusia – menurut Taufiq – memang di bagian otak depanlah yang berkembang paling akhir dalam evolusi otak makhluk hidup, karena itu disebut neo-korteks. Sedangkan proses perkembangan otak binatang lebih dominan pada otak bagian tengah (sistem limbik) dan otak belakangnya hingga kemudian disebut ‘paleo-korteks’.

Dominasi otak bagian tengah dan otak belakang pada binatang inilah yang membuat keputusan yang diambil binatang hanya digunakan untuk bertahan hidup, bertahan untuk makan, takut mati, tetapi tidak memperhitungkan benar maupun salah, berdampak negatif atau tidak. Oleh karena itu, manusia disebut ‘homo sapiens’, satu-satunya makhluk hidup yang bisa menalar dan punya kebijaksanaan. Evolusi otak depan pada organ tubuh manusia juga menunjukkan bahwa nilai kejujuran hanya ada pada makhluk yang bernama manusia.

Karena dari kodratnya setiap manusia dituntut untuk berbuat jujur, sebenarnya nilai-nilai kejujuran itu tak perlu diajarkan pada diri manusia. Sudah ada dengan sendirinya. Bahkan menurut Pak Taufiq yang juga mengajar ilmu neurosains di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,  nilai kejujuran itu sebenarnya tak ada kaitannya dengan ajaran maupun doktrin-doktrin agama. Karena seorang yang religius maupun nonreligius, seorang yang theis maupun atheis, sama-sama dituntut oleh dirinya sendiri untuk berbuat jujur.

Seorang warga Baduy Dalem yang tidak bersentuhan dengan Islam sama sekali, tetap mempunyai aturan tradisi yang menjadi kesepakatan umum bahwa tiap-tiap warga yang sudah dewasa, bila tidak menepati janji, berdusta, mencuri (dengan kadar tertentu), atau secara diam-diam melanggar aturan adat lainnya, mereka akan menghadapi rasa khawatir dan waswas. Karena kejujuran itu bersifat abstrak, maka bagi pelanggar aturan adat yang ketahuan dan terbukti bersalah, ia akan dihadapkan kepada kepala adat (Pu’un) untuk dikenakan sangsi hukum. Maka diadakanlah istilah ‘panamping’, sekumpulan warga Baduy yang dikenakan sangsi untuk tidak menetap di wilayah teritorial Baduy Dalem yang dianggap suci dan bersih dari kesalahan.

Meski demikian, pada prinsipnya setiap agama – termasuk Islam – membikin simplifikasi aturan yang memperpendek proses pembelajaran tentang makna kejujuran. Sebelum ada agama, manusia harus berusaha keras menjelaskan apa itu kejujuran dan dusta karena keduanya merupakan hal-hal yang abstrak tadi. Pada umumnya, para koruptor mengambil tindakan yang banyak didasari atas kepentingan jangka pendek yang dianggap menggiurkan, sementara kepentingan jangka panjang maupun kepentingan yang lebih besar diabaikan.

Pada prinsipnya, kejujuran sangat berhubungan dengan kemampuan siswa dalam berpikir dan menalar, maka dunia pendidikan wajib mengutamakan kemampuan siswa agar berpikir logis dan rasional. Pada prinsipnya, otak anak-anak kita bersifat plastis dan mudah dibentuk. Struktur otak dapat berubah akibat kondisi lingkungan yang berubah juga.

Tanpa kesadaran tentang pentingnya mendorong kemampuan otak siswa agar berpikir logis dan rasional, tidak menutup kemungkinan masyarakat Banten hanya akan menjadi penggembira dan penonton yang setia dalam menghadapi persaingan terbuka di era milenial ini. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Jumat, 26 Jun 2020 | 18:39 WIB
New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Sabtu, 06 Jun 2020 | 15:04 WIB
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jumat, 29 Mei 2020 | 20:51 WIB
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 
Selasa, 19 Mei 2020 | 21:11 WIB
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 

KOMENTAR

Bagaimana Otak Koruptor Bekerja?

BERITA TERKAIT

PEMERINTAHAN

185 dibaca
Terintegrasi dengan Pusat, Pemkab Serang Gunakan Aplikasi SIPD
222 dibaca
Libur Panjang, Sekda : Mending Sama Keluarga

POLITIK

80 dibaca
Pilkada Kabupaten Serang, KPU Target Partisipasi Pemilih 80 Persen
127 dibaca
Ratu Tatu: Pendidikan Gratis hingga Perguruan Tinggi

HUKUM & KRIMINAL

72 dibaca
Hari Kedua Operasi Zebra Kalimaya, 148 Pengendara Ditilang
175 dibaca
Dua Residivis Sindikat Curanmor Dibekuk Polisi

PERISTIWA

171 dibaca
Dirlantas : Tidak Ada Penilangan Pada Operasi Zebra Kalimaya 2020
112 dibaca
ACT Banten Kunjungi Pulau Tunda

EKONOMI & BISNIS

203 dibaca
Buruh Kerja Selama Cuti, Perusahaan Harus Bayar Lembur
168 dibaca
Empat Perumahan Serahkan Fasos Fasum ke Pemkab Serang
Top