Jumat, 30 Oktober 2020

Akal Sehat Orang Banten

[foto ilustrasi]
Minggu, 27 Mei 2018 | 23:12 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra 

Penulis Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang

APAyang menyebabkan orang-orang Indonesia – khususnya Banten – tertinggal jauh dari sisi keilmuwan, sosial-politik, maupun iptek dengan masyarakat negara-negara maju? Hal tersebut tak lepas dari cara berpikir orang-orang kita yang nampaknya jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat di negara maju. Misalnya dari sisi ketergantungan masyarakat yang terlampau mengandalkan peran aktif pemerintah, tanpa sempat mengontrol peran aktif dari kualitas kinerjanya sendiri.

Banyak orang Banten yang tanpa disadari, telah mengerahkan segala energinya untuk sibuk mengkritik dan menyalah-nyalahkan pemerintah, seakan-akan pemerintah dan segenap aparaturnya tidak becus mengurus dan memajukan negara. Ngapain juga sibuk mengorek-ngorek kinerja mereka, sementara dirinya sendiri tak pernah mengoptimalkan kinerjanya, tak pernah berikhtiar dan berjuang keras untuk memajukan dirinya maupun orang-orang terdekatnya.

Manja sekali jenis manusia semacam ini. Jelas bukan tipikal orang yang memiliki karakter pekerja keras, tetapi sosok pemalas yang kerjaannya uring-uringan, mencak-mencak gak puguh, sementara masyarakat maju tak lepas dari karakter dan mentalitas yang teguh, ulet dan inovatif. Masyarakat maju cenderung memiliki itikad yang kuat, independen, tidak terlampau bergantung mengandalkan kemampuan pemerintah. Bukan berarti mereka cuek dan gak peduli, tetapi sadar bahwa pemerintah juga manusia yang mempunyai sisi kelebihan dan kekurangannya.

Akhir-akhir ini marak sekali selebaran, stiker hingga kaos berlabel #2019GantiPresiden. Bahkan bungkusan-bungkusan takjil dibagi-bagikan untuk berbuka puasa dengan menyemati label yang sama. Lalu, kalau presiden berganti mau ngapain sih? Bagi Anda yang sedang sakit, siapa yang menjamin kalau Anda akan segera pulih dalam hitungan jam dan hari? Bagi Anda yang senang menimbun hutang di sana-sini, siapa yang menjamin kalau hutang-hutang Anda bakal lunas, apabila presidennya Prabowo, Gatot, maupun Tomy Soeharto? Bagi Anda, atau salah satu anggota keluarga Anda yang mengidap depresi atau skizofrenia, siapa yang menjamin kesembuhan setelah presidennya ganti?

Untuk mereka yang keluarganya morat-marit – karena ulahnya sendiri – lantas siapa yang menjamin jika presidennya ganti, kemudian mereka akan rujuk dengan sakinah, walmawaddah, warahmah, walahwelah? Bagi para pejabat dan birokrat yang kerjanya sibuk mempersulit perkara mudah bagi pelayanan publik, siapapun presidennya, saya berani menjamin – demi Allah – hidup kalian akan dipersulit oleh hukum alam (sunatullah) yang memang sudah menjadi keniscayaan bagi hak hidup Anda. Oleh karena itu, bersyukur dan beruntunglah bagi mereka yang senang mempermudah urusan orang, karena mereka akan selalu dipermudah dan dilapangkan oleh Allah, siapapun yang bakal jadi presidennya.

Bagi yang senantiasa bergantung pada Allah, tidak ada urusan dengan polemik ngalor-ngidul mengenai siapa yang akan memimpin republik ini. Jokowi atau Prabowo sama-sama punya sisi kelemahan dan kelebihan, sama-sama punya konstituen pendukung yang militan, juga sama-sama punya kubu pemuja dan pembenci. Dan siapapun nanti yang akan terpilih pada 2019, itulah hak dan keniscayaan sejarah Indonesia, itulah takdir Allah yang akan memutuskan. Seperti juga Allah telah menentukan takdirnya atas jabatan kepresidenan bagi Gus Dur, Megawati maupun SBY. Jadi, urusannya apa dengan saya dan Anda yang hanya punya hak atas satu suara?

Ingatan Kolektif Kita

Dulu, presiden Gus Dur diganti oleh Megawati, terus diganti oleh SBY, terus ganti lagi jadi Jokowi. Ketika presiden baru terpilih, masyarakat agak sumringah seakan-akan punya harapan baru. Tetapi setelah perjalanan dua hingga tiga tahun, muncullah ketidakpercayaan publik yang makin meluas. Itulah akibatnya jika Anda terlampau berharap pada kekuatan manusia sebagai makhluk lemah. Siapapun yang akan jadi presiden, tentu akan ada kekuatan yang saling bertentangan. Ada lagi kelompok yang lebih ekstrim, antara mereka yang memuja secara membabi-buta, dan yang membenci dan mencaci-maki.

Sekarang Pak SBY sudah bukan presiden lagi, meskipun ia tetap menjadi kepala rumah-tangga seperti kita-kita yang sudah berkeluarga. Kalaupun Pak Jokowi diganti dengan presiden baru, mungkin saja ia akan legowo menjadi kepala rumah-tangga. Dan kalaupun presiden penggantinya akan lebih baik maupun lebih buruk dalam rangka mengurus republik ini, siapa yang bisa menjamin seratus persen? Dan kalaupun benar adanya, presidennya ternyata lebih buruk, saya yakin tetap saja banyak orang Banten yang akan mendukung dan membelanya secara membabi-buta.

Kalaupun presidennya tetap Jokowi tentu saja akan ada pihak yang menentangnya habis-habisan, bahkan hingga jabatan Jokowi berakhir. Kalaupun presidennya benar-benar ganti, politik Indonesia terus saja akan berjalan. Presiden baru akan tampil, seperti tampilnya Megawati, SBY hingga Jokowi. Orang-orang pilihan partainya akan tampil mengisi kabinet baru, partai-partai pendukungnya akan cawe-cawe meminta jatah menteri atau jabatan-jabatan setingkat menteri. Kemudian partai-partai yang tadinya mendukung Jokowi akan segera melakukan rapat konsolidasi, untuk kasak-kusuk mendekat kepada kepala negara baru.

Setelah beberapa tahun presiden baru itu menjabat, muncul lagi kekecewaan baru dari sebagian masyarakat Banten, terutama mereka yang terlampau bergantung pada urusan pemerintah. Bukannya saya melarang untuk memantau dan mengkritik pemerintah, tetapi menyikapi pemerintah dengan baik harus disertai kebenaran, kesabaran, serta kejujuran terhadap diri sendiri. Kalau tidak, energi Anda akan menjadi bulan-bulanan, dan akan habis terkuras dipermainkan kaum politisi hingga menjadi pemuja yang fanatik. Sampai pada waktunya akan berbalik menjadi pembenci yang fanatik juga.

Setidaknya itulah yang digambarkan dalam novel Perasaan Orang Banten. Anda boleh saja kecewa pada penulisnya. Tapi apa untungnya buat Anda, baik bagi yang membela maupun yang membenci. Penulisnya akan terus saja melangkah serta melahirkan karya-karya terbaru yang – menurut penilaiannya – memiliki nilai kemaslahatan bagi transformasi dan perubahan Banten ke depan.

Kekecewaan dan Kedengkian

Sejak kejatuhan Orde Baru oleh suara rakyat dan gerakan kaum muda, negeri ini telah beberapa kali ganti presiden. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tampillah Banten sebagai salah satu provinsi terbaru di republik ini, yang juga telah beberapa kali ganti gubernur. Seperti halnya janji-janji kampanye politik di Banten, rakyat akan diajak berhimpun serta diyakinkan bahwa “kita” memiliki kepentingan bersama untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan aspirasi masyarakat, yang merupakan kehendak Allah Swt.

Ya, berpolitik dengan membawa-bawa agama dan Tuhan akan membuat para politisi terdengar lebih luhur dan mulia, ditambah dalil klasik bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Para politisi sadar betul bahwa jutaan rakyat jelata di Banten ini memiliki suara yang menentukan pemenang dalam pemilu yang diselenggarakan secara demokratis. Tetapi, mereka juga sadar banget bahwa suara rakyat jelata dapat dibeli dan diborong. Sebagian mereka bahkan tega mengaduk-aduk emosi rakyat dengan berbagai-macam cara, demi untuk merebut keuntungan suara yang sebanyak-banyaknya.

Kita bisa saja menulis wacana dan opini untuk menyampaikan gagasan brillian, yang mungkin Anda pikir dapat memperbaharui situasi serta memperbaiki keadaan Banten. Tetapi rakyat pada umumnya tidak bertindak mengikuti pemikiran intelektual yang logis dan rasional, apalagi hitung-hitungan statistik yang terlampau ilmiah dan bertele-tele. Karena pada dasarnya, kaum politisi hanya menyukai pilihan dari suara rakyat awam yang fanatik dan mudah dibeli dan digerakkan.

Mereka seakan tidak peduli, bahwa Anda menulis perihal akal sehat, otak waras ataupun otak udang. Para politisi itu paham belaka bahwa orang Banten adalah sejenis makhluk dengan kecenderungan mudah percaya dan mudah dipengaruhi untuk mempercayai segala sesuatu. Otak mereka bisa saja ditanamkan kepercayaan bahwa orang atau kelompok lain adalah sesat, thagut, seakan-akan agama kita terancam bahaya, ada hantu komunis, sampai-sampai mereka terobsesi untuk berperang demi membela agama. Pergerakan mereka akan semakin militan bila disertai amplop dan nasi bungkus, apalagi ditambah sate bandeng dan emping melinjo dalam kantong kresek untuk dibawa pulang bersama-sama. Kemudian menyanyikan lagu orkestra dengan tajuk solawat badar bersama-sama pula.

Sedangkan, masyarakat di negara maju tidaklah berpikir instan yang sifatnya jangka pendek seperti itu. Dari sisi ekonomi, mereka lebih memikirkan tentang orientasi berjangka (invest oriented), tetapi orang Banten lebih mengutamakan orientasi duit melulu (money oriented). Contoh sederhananya, ketika Google didirikan, para pendirinya hidup miskin dan seadanya. Barulah setelah beberapa tahun berjalan, keuntungan yang dihasilkan berlipat-lipat, hingga bisa menghidupi ribuan hingga puluhan ribu karyawan.

Mereka yakin tak ada yang mustahil dalam hidup ini. Bagi masyarakat maju, pernyataan seperti itu bukanlah klise yang merupakan konsep teoritis belaka. Tetapi mereka betul-betul serius dan berinisiatif mengamalkannya. Sebaliknya, kebanyakan orang Banten terlampau sibuk pada urusan-urusan kecil, serta keuntungan yang dapat dihasilkan untuk kepentingan hari ini. Bagi mereka, membayangkan sesuatu yang luar biasa itu adalah hal yang mustahil, dan sulit untuk dijangkau.

Masyarakat kita seakan miskin inovasi karena tidak ada keberanian untuk tampil berbeda dan independen, baik dari sisi keilmuwan, karya sastra, maupun dari sisi penemuan di bidang iptek. Maunya mengekor pada petuah guru, wangsit atau atasan melulu. Kadang-kadang seniman yang senang dibilang ‘senior’ juga ketakutan munculnya generasi-generasi baru di bidang sastra. Jadi, inginnya tetap nangkring di atas singgasana, serta dianggap sepuh atau mursyid. Bahkan ada juga seniman yang merangkap profesi sebagai “orang pintar” segala.

Kalau sebagian besar orang Banten seperti itu, maunya mengekor dan ikut-ikutan melulu, tidak menutup kemungkinan banyak penemuan baru akan lahir dari tangan-tangan terampil orang-orang di luar sana dengan mengandalkan SDA dan SDM dari orang-orang kita. Walhasil, lagi-lagi kita hanya akan jadi figuran dan penonton yang setia menatap kemajuan daerah dan bangsa-bangsa lain. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Jumat, 26 Jun 2020 | 18:39 WIB
New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Sabtu, 06 Jun 2020 | 15:04 WIB
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jumat, 29 Mei 2020 | 20:51 WIB
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 
Selasa, 19 Mei 2020 | 21:11 WIB
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 

KOMENTAR

Akal Sehat Orang Banten

BERITA TERKAIT

PEMERINTAHAN

185 dibaca
Terintegrasi dengan Pusat, Pemkab Serang Gunakan Aplikasi SIPD
226 dibaca
Libur Panjang, Sekda : Mending Sama Keluarga

POLITIK

81 dibaca
Pilkada Kabupaten Serang, KPU Target Partisipasi Pemilih 80 Persen
133 dibaca
Ratu Tatu: Pendidikan Gratis hingga Perguruan Tinggi

HUKUM & KRIMINAL

72 dibaca
Hari Kedua Operasi Zebra Kalimaya, 148 Pengendara Ditilang
179 dibaca
Dua Residivis Sindikat Curanmor Dibekuk Polisi

PERISTIWA

177 dibaca
Dirlantas : Tidak Ada Penilangan Pada Operasi Zebra Kalimaya 2020
115 dibaca
ACT Banten Kunjungi Pulau Tunda

EKONOMI & BISNIS

203 dibaca
Buruh Kerja Selama Cuti, Perusahaan Harus Bayar Lembur
168 dibaca
Empat Perumahan Serahkan Fasos Fasum ke Pemkab Serang
Top