Sabtu, 18 April 2026

Menyepi dan Membangun Gagasan

(foto ilustrasi)
Senin, 03 Apr 2017 | 10:51 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhamad Muckhlisin

Penulis Alumni Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak

SAYA menyukai ajaran dan filsafat hidup yang berhubungan dengan aktivitas pejuang dan kreator perubahan, setelah beberapa lama mereka menyepi. Soekarno berhasil menulis korespondensi dan opini-opini gemilang, setelah beberapa lama ia menyepi di Endeh. Carl Gustav Jung berhasil menulis karya psikologi analitis yang merupakan sintesis dari penemuan Freud, setelah beberapa tahun ia hidup menyendiri. Akhir-akhir ini, kita pun mendengar testimoni dari sejarawan Yuval Harari, setelah menyepi selama beberapa bulan kemudian meluncurkan bukunya yang terkenal, “Sapiens: A Brief History of Humankind” (2011).

Buku tersebut akhirnya diakui sebagai karya fenomenal setelah meraih penghargaan Polonsky, sampai kemudian direkomendasikan ke publik oleh Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Setelah membaca buku lanjutannya yang berjudul “A Brief History of Tomorrow”, saya menduga bahwa Yuval adalah penulis yang sangat aktif dan produktif. Tapi setelah meneliti biografinya, dugaan saya meleset. Ternyata dia lebih banyak meluangkan waktunya untuk merenung dan berdiam diri, kemudian menuliskan gagasan-gagasannya yang cemerlang secepat kilat. Hal itu dikarenakan ilmu pengetahuan yang ada di kepalanya sudah diolah dengan matang, mengendap selama beberapa waktu, lantas dituangkan dalam bentuk karya tulis yang baik.

Konon dalam setiap tahunnya, Yuval menyempatkan waktu untuk menyepi selama 40 hari lebih, bahkan hampir dua bulan. Baginya, kehidupan menyepi membuat pikirannya lebih fokus untuk mengamati hal-hal potensial yang perlu dituliskan. Dengan menyepi manusia sanggup memilah-milah mana yang lebih urgen dituangkan ke dalam karya tulis. Dengan menyepi pula, manusia dapat menentukan prioritas terpenting untuk dituliskan, di tengah beragam kegaduhan dan kesemrawutan informasi yang berseliweran dari waktu ke waktu.

Dalam literatur Islam, kita dapat mengenal bagaimana Rasulullah di sekitar usia 40-an menghabiskan waktunya untuk menyendiri di Gua Hira. Para ulama mengartikannya sebagai upaya pembersihan jiwa (ikhtila), sehaluan dengan ajaran Zen di Cina, di mana kesadaran akan penyempurnaan diri digambarkan pada sosok seorang petani yang menunggangi sapi. Setelah sang petani menjauh hingga mencapai alam makrifat, ia melupakan sapi yang ditungganginya, sampai kemudian melupakan kekayaan duniawi yang dimilikinya. Pada fase ini, manusia dituntut agar pulang ke sumber-sumber air, masuk ke tengah-tengah dunia untuk menyampaikan kebaikan pada orang lain. Ditegaskan oleh ajaran Zen, ketika manusia menemukan Sumber Kesempurnaan Sejati, ia tidak perlu berlama-lama hidup dalam pertapaan dan pengasingan diri. Tapi harus terjun ke kancah perjuangan di tengah masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

            Sastrawan dan penyair muslim Jalaluddin Rumi, mengartikan ikhtila sebagai jihad batin yang ditempuh dalam kesendirian (menyepi) hingga terjadi pemutusan diri dari kecenderungan nafsu-nafsu hewani. Kemudian meningkat kepada fase penaklukan ego-ego pribadi, kedengkian dan kesombongan diri. Dalam ajaran sufistik dikenal istilah mukasyafah, dan ketika sang hamba telah mencapai maqom ini, takkan ada lagi yang membebani dirinya kecuali Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik ketimbang beban itu sendiri. Segala problem hidup dapat dipikul dengan ringan belaka. Yang memberatkan hidup manusia justru ketika mereka terlampau terikat pada asesoris dan kebanggaan duniawi, terlena menuruti hawa nafsunya, tradisinya, setan-setannya, yang semuanya itu bermakna semu dan fatamorgana belaka.

Saya termasuk orang yang begitu terpikat dan terpesona pada karya jurnalistik maupun sastra yang dituliskan dari hasil perenungan mendalam. Kreasi dan karya semacam itu sudah menciptakan benteng pengamannya sendiri, tidak layak gugat, bahkan oleh penulis terkenal yang membiarkan dirinya diselimuti ego dan sentimen politis sekalipun. Anda tak perlu tergoda oleh siapapun yang telah menulis puluhan hingga ratusan buku. Apalagi jika karya tersebut masih diselubungi kepentingan nafsu pribadi maupun kelompok tertentu.

Jika sebuah karya tulis dihasilkan dari kesempatan meluangkan waktu untuk kontemplasi dan menyendiri, niscaya totalitas karya tulis dapat diguratkan dengan jernih, tidak lekang oleh waktu dan tidak lapuk ditelan zaman. Tapi jangan lupa bahwa diri kita harus terbebas dari segala kepentingan ego-ego pribadi. Kadang secara pribadi saya mendambakan adanya waktu luang untuk menulis cerita dan karya sastra yang baik, khususnya tentang hakikat kebantenan dan keindonesiaan. Saya termasuk orang yang percaya pada kekuatan cerita. Bahwa dengan menyuguhkan cerita yang baik, ia akan melekat dalam benak dan memori pembaca dalam waktu yang sangat lama.

Sebagai alat komunikasi, cerita yang baik akan membekas dalam pikiran dan perasaan anak-didik, membangun kepekaan dan kepedulian tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Beda dengan memberikan doktrin, perintah, atau nasehat yang memaksakan. Sebab komunikasi dalam bentuk nasehat, anak-didik akan merasa dirinya digurui. Dan ketika dia berhadapan dengan kenyataan, nasehat itu akan mudah terlepas dari memorinya.

Seandainya otak anak-anak menyukai nasehat, tentu saja akan mudah kita perintahkan, “Kamu jangan nakal” Maka mereka pun serta-merta menjadi anak penurut dan soleh. Tapi faktanya, kenyataan tidak semudah itu, hingga kita pun memerintahkan untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya, hingga hilang kesabaran kita.

Namun dengan karya sastra, atau cerita yang baik, akan terbangun keterhubungan (harmoni) serta asosiasi antara cerita yang dibaca dengan keakuan pribadinya. Kita semua tahu setiap komunikator yang baik, penyampai pesan yang efektif, mesti dia seorang pencerita yang baik juga. Dia memiliki kekayaan metafora, anekdot, perumpamaan, atau ilustrasi apapun yang diambil dari kejadian di sekelilingnya. Kita mengenal Soekarno maupun Gus Dur yang juga seorang pencerita yang baik. Keduanya begitu melegenda, dipuja dan didekati banyak orang karena pandai bercerita. Cara mereka mengungkapkan berbagai  lelucon dan anekdot, membuat banyak orang tertawa bahkan terpingkal-pingkal. Setiap perjumpaan dengan mereka, selalu menjadi momentum yang menyenangkan.

Dengan cerita dan karya sastra yang baik, seorang penulis (sendirian) dapat menggali seluruh kemungkinan untuk mengubah perilaku manusia menjadi lebih sehat melalui bahasa sebagai perangkat utamanya. Seorang penulis yang baik akan memanfaatkan berbagai metafora, ritme dan irama, dan dapat membantu orang mengoptimalkan dirinya melalui sumber daya dan potensi yang ada dalam dirinya. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Menyepi dan Membangun Gagasan

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

1958 dibaca
Fokal IMM : Siber Politik Uang Bawaslu Banten Patut Diapresiasi
1538 dibaca
Dianggap Pas Buat Nyantai, Stadion Jadi Idaman Warga

HUKUM & KRIMINAL

1486 dibaca
Melawan Saat Ditangkap, Gembong Begal Ditembak
1504 dibaca
Satpol PP Kota Tangerang Gelar Sidang Tipiring

POLITIK

2092 dibaca
Pilkades Serentak 2017, Ini Pesan Kapolres Serang
1781 dibaca
Pilkada Kota Tangerang 2018, Nama Kader PAN Ini Mencuat

PENDIDIKAN

883 dibaca
Pelepasan KKM Untirta, Bupati Serang Sebut Fokus Tangani Tiga Bidang
Top