Kamis, 05 Agustus 2021

Cerpen Muhamad Muckhlisin: Kiai Mustofa

Ilustrasi/Net
Senin, 28 Jun 2021 | 17:18 WIB - Suara Pembaca

“Bertahanlah untuk menolak keburukan, karana suatu saat nanti keburukan itu bisa menjelma menjadi kebaikan.”

Kata-kata itu disampaikan Kiai Mustofa kepada para santrinya pada sebuah majlis pengajian di Pesantren Al-Bayan. Sebagai seorang yang berniat untuk meninggalkan masalalunya yang kelam, Yanto berusaha untuk membaca diri, bahkan bertekad untuk meninggalkan hal-hal negatif yang menurut Sang Kiai akan mengantarkannya dari jalan yang gelap menuju jalan yang terang dan mencerahkan. Pada malam itu, Yanto belum sanggup menyimak pernyataan Sang Kiai yang masih sulit ditelusuri arti dan maknanya. Kualitas spiritual yang ada pada fatwa itu cukup mendalam, hingga para santri membahas kembali tentang makna di balik kata-kata bersayap yang diucapkan Sang Kiai tadi: “Bertahanlah untuk menolak keburukan, karana suatu saat nanti keburukan itu bisa menjelma menjadi kebaikan.”

Karena kesulitan memahami arti yang terkandung di dalamnya, Yanto pun undur-diri meninggalkan masjid, untuk kemudian kembali ke kampung halamannya. Malam pun semakin larut, dan keadaan semakin gelap, sedangkan perut pemuda itu keroncongan karena sepanjang hari ia belum makan. Di tengah-tengah perjalanan, ketika melintasi Kampung Jombang, pemuda yang dulunya adalah perampok dan pelaku maksiat itu melihat rumah penduduk yang terbuka pintu depannya.

Nah, inilah kesempatan terakhir baginya untuk mencuri apa-apa yang ada di dalam rumah itu. Kalau perlu menguras habis semua harta yang ada, barulah kemudian ia mendatangi sang kiai, lantas memohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya di masalalu.

Masuklah ia sambil mengendap-endap ke dalam rumah kosong itu. Seketika ia melihat rupa-rupa makanan terhidang di atas meja, hingga ada niatan untuk menyantap makanan itu sehubungan dengan perutnya yang sedang lapar karena seharian belum makan. Pikiran berkecamuk dalam dirinya. Di satu sisi naluri pencurinya yang memaksa ia untuk memakan makanan yang terhidang, namun di sisi lain bukankah ia berencana untuk bertobat dan meninggalkan kebiasaan buruknya, hingga bertekad mendatangi masjid di mana Kiai Mustofa menyampaikan ceramahnya.

Yanto pun ingin tahu lebih jauh, di mana gerangan sang tuan rumah, sehingga membiarkan pintu depan terbuka, dan boleh jadi hartanya terkuras habis oleh pencuri dan perampok lain meskipun bukan dirinya. Dalam hatinya yang terdalam, ingin sekali ia memperingatkan si tuan rumah agar berhati-hati menjaga rumahnya, karena belakangan di Kampung Karang Asem begitu marak oleh para maling dan perampok yang biasa beroperasi di kegelapan malam.

            Pemuda itu mencoba untuk masuk ke ruang tengah, dan apa yang dilihatnya di sana. Seorang wanita cantik sedang tergolek tidur dengan hanya mengenakan pakaian dalam, sehingga nampak tubuhnya yang sintal dan molek begitu mempesona pandangan matanya. Muncullah hasrat birahinya untuk memperkosa perempuan itu, yang sedang tidur di dalam rumah seorang diri, tak ada suami yang menemaninya, tak ada tuan rumah lain selain dirinya sendiri di tengah malam yang hanya diterangi oleh sinar lampu yang agak remang. Nah, setelah itu barulah ia bertobat dan memohon ampun atas dosa dan kesalahannya di masalalu.

            Akankah Tuhan memberikan kesempatan baginya untuk melakukan keburukan yang terakhir kalinya? Hanya sekali ini saja ia bertekad untuk menikmati makanan yang terhidang di atas meja, kemudian meniduri wanita cantik yang tergolek di atas tempat tidur itu. Lantas ia bertekad untuk bertobat dengan sebenar-benarnya tobat, dan tidak bakal mengulangi perbuatan jahat dan maksiat lagi untuk seumur hidupnya. Tetapi, siapakah yang bisa menjamin kebenaran itu? Siapakah yang menjamin kalau ia panjang umur dan mendapat kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar, atau bisa jadi ia mati pada saat melakukan maksiat yang terakhir kalinya itu? Bukankah ia sudah yakin akan penyesalan dirinya atas segala kekhilafannya, hingga dalam jarak yang cukup jauh mendatangi masjid di pesantren Al-Bayan, di mana Kiai Mustofa menyampaikan ceramah dan tausiyahnya?

            Segala pikiran dan pertimbangan baik dan buruk terus mengebor dalam sanubarinya. Kalau ia melakukan bagaimana, tapi kalau tidak juga bagaimana? Ingin sekali ia membangunkan wanita yang tidur setengah telanjang itu, untuk memperingatkan agar hati-hati menjaga rumahnya, serta hati-hati menjaga dirinya apabila tidur di dalam rumah sendirian pada malam gelap seperti ini. Tapi hal itu pun tidak juga ia lakukan, karena khawatir mengundang kepanikan dari wanita itu kalau-kalau ia menjerit histeris lantas menuduhnya sebagai perampok yang menyusup ke dalam rumah, atau boleh jadi ia menjadi tertuduh sebagai pemerkosa perempuan molek yang tertidur setengah telanjang itu.

            Yanto pun mengurungkan niat jahatnya, kemudian terlintas lagi suatu ucapan bersayap yang pernah disampaikan Kiai Mustofa: “Bertahanlah untuk menolak keburukan, karana suatu saat nanti keburukan itu bisa menjelma menjadi kebaikan.”

Entahlah, ia masih belum mengerti, apa yang dimaksud dari ucapan sang kiai di dalam masjid itu. Tapi kemudian terlintas dalam benaknya ia harus kembali ke pesantren Al-Bayan, untuk kembali meresapi apa-apa yang menjadi pesan dan petuah dari seorang tokoh agama yang dikenal sebagai Kiai Sufi tersebut.

Sesampai di masjid pesantren, Yanto mendapatkan Sang Kiai sedang berzikir di atas sejadahnya. Pertemuan majlis sudah berakhir, sebagian santri telah pulang ke asramanya, namun sebagian lain tertidur pulas di dalam ruangan masjid tersebut. Pemuda itu duduk di salah satu sudut belakang masjid, sambil mengamat-amati gerak-gerik Sang Kiai yang sedang khusuk dengan tasbih di sela-sela jari-jemarinya.

Tak lama kemudian, muncullah seorang wanita yang didampingi seorang lelaki tua yang merupakan pamannya, lantas masuk ke dalam masjid sambil menyampaikan pengaduannya perihal nasib yang menimpa wanita cantik itu. Kiai Mustofa mempersilakan wanita itu menyampaikan keluhannya lebih jauh:

“Begini Pak Kiai, saya datang ke sini didampingi oleh paman saya ini, untuk mengadukan kejadian mengerikan yang menimpa saya pada malam ini. Saya tidur sendirian di dalam rumah, tiba-tiba saya bermimpi didatangi seorang pemuda yang hendak mencuri semua harta saya, bahkan hampir memperkosa saya. Saya memberontak dan berteriak sekeras-kerasnya. Tapi akhirnya tersadar bahwa kejadian itu hanyalah mimpi. Saya melihat sekeliling rumah, ternyata pintu depan masih terbuka, serta makanan masih berserakan di atas meja. Mimpi ini membuat saya merinding, Pak Kiai, hingga saya berlari menuju rumah paman agar segera diantar menemui Pak Kiai di Pesantren Al-Bayan ini.”

Akhirnya, sang paman semakin memperjelas maksud kedatangannya menghadap Sang Kiai, agar kiranya wanita keponakannya itu segera dicarikan suami yang cocok untuk mendampingi hidupnya. Seketika Kiai Mustofa memandang ke sekeliling ruangan masjid, hingga didapatkannya seorang pemuda sedang duduk-duduk dengan mata terbuka di salah satu sudut belakang masjid.

“Siapa namamu?” tanya Kiai Mustofa.

“Yanto, Pak Kiai.”

“Saya melihat kamu menghadiri majlis pertemuan bersama santri-santri kami, apa yang sedang kamu rencanakan?”

Yanto menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya dengan mulut bergetar, “Saya ingin kembali ke jalan yang benar, Pak Kiai.”

Jawaban itu membuat sang kiai tergugah, hingga setelah ditanyakan lebih jauh tentang keseriusan Yanto untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar, Sang Kiai pun memanggilnya, “Yanto, ke sinilah sebentar.”

Pemuda itu tersentak kaget. Pelan-pelan ia menghampiri Sang Kiai dan duduk di sebelahnya. Beban moral begitu berat dalam benaknya, karena tidak merasa pantas baginya seorang perampok dan pelaku maksiat tiba-tiba duduk berdampingan dengan seorang Kiai Sufi yang mengasuh dan mendidik ratusan santri.

“Yanto, saya tidak melihat adanya orang terbangun malam ini kecuali kamu sendiri. Semua orang tertidur pulas, sementara perempuan ini membutuhkan laki-laki yang sanggup menjaga dan melindungi dia.”

Yanto mengerutkan dahinya sambil terus menyimak apa yang dimaksud oleh Kiai tersebut. Keseriusan pemuda itu untuk kembali ke jalan yang benar, setelah bertahun-tahun terjerumus ke lembah kenistaan, kini sudah terbaca dengan baik oleh Kiai Mustofa. Tak lama kemudian, muncullah pertanyaan yang diajukan Sang Kiai, “Yanto, maukah kamu menjadi pendamping hidup untuk wanita ini?”

“Pendamping hidup bagaimana, Pak Kiai?”

“Maukah kamu menjadi suami untuk wanita ini?”

“Masya Allah! Bukankah tidak semudah itu seseorang harus menikah, Pak Kiai?”

“Di Pesantren ini tidak direpotkan oleh berbagai aturan yang mempersulit orang untuk menikah. Dalam Islam hal-hal seperti itu harus dipermudah, bahkan salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia, Mohamad Hatta, hanya memberikan maskawin berupa buku hasil karyanya yang berjudul Alam Pikiran Yunani.”

Pemuda itu semakin bahagia mendengar uraian Sang Kiai, yang memang persoalan itu sangat diharapkan dan dinantikannya selama ini. Ya, bukankah perempuan cantik itu justru seseorang yang pernah tergolek tidur di rumah kosong itu? Bukankah ia seorang wanita yang sempat mempesona pandangan matanya, hingga bermaksud untuk menidurinya beberapa saat yang lalu?

Tapi ia pun berusaha merahasiakan niat jahat itu, bahkan terhadap Sang Kiai sekalipun. Hanya dirinya dan Allah Yang Maha Tahu atas segala kekhilafan manusia, dan hanya Allah Yang Tahu niat baik dari hati seseorang yang bermaksud untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

“Yanto, maukah kamu menjadi suami untuk wanita ini?” sekali lagi Kiai Mustofa menawarkan.

Karena tawaran itu datang langsung dari Sang Kiai, ia pun menganggukkan kepalanya meski pikiran masih menerawang jauh. Kini pemuda itu pun mengerti maksud dari perkataan Kiai Mustofa beberapa waktu lalu, yang disampaikan dalam majlis pengajian tersebut:

“Bertahanlah untuk menolak keburukan, karana suatu saat nanti keburukan itu bisa menjelma menjadi kebaikan.”

Pada akhirnya Yanto pun dipersatukan dengan wanita itu dalam pernikahan yang diselenggarakan di Pesantren Al-Bayan. Berkat kesabaran dan tekadnya untuk kembali ke jalan yang benar, ia pun berhasil menyantap makanan yang terhidang di atas meja, sekaligus dapat meniduri wanita cantik itu sebagai istrinya yang sah. ***

Muhamad Muckhlisin, cerpenis generasi milenial, menulis cerpen dan kritik sastra di berbagai harian nasional, lokal (Banten) dan media daring. Kini tinggal di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Bagikan:

LAINNYA

Pandemi dan Peringatan Tuhan
Senin, 02 Agt 2021 | 14:05 WIB
Pandemi dan Peringatan Tuhan
Cerpen Muhamad Pauji: Lurah Jombang Sakit Gigi
Sabtu, 05 Jun 2021 | 14:50 WIB
Cerpen Muhamad Pauji: Lurah Jombang Sakit Gigi
Cerpen Muhamad Pauji: Hadiah Lukisan
Selasa, 25 Mei 2021 | 16:30 WIB
Cerpen Muhamad Pauji: Hadiah Lukisan

KOMENTAR

Cerpen Muhamad Muckhlisin: Kiai Mustofa

INILAH SERANG

51 dibaca
Kapolda Banten Lantik Pejabat Utama dan Kapolres
132 dibaca
Polres Serang Tangkap Dua Pembunuh Wanita yang Jasadnya Ditimbun Pasir
132 dibaca
Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Ditunda sampai Batas Waktu yang Belum Ditentukan

HUKUM & KRIMINAL

132 dibaca
Polres Serang Tangkap Dua Pembunuh Wanita yang Jasadnya Ditimbun Pasir
330 dibaca
Pengedar Obat Dicokok Polres Serang saat Rebahan di Rumahnya
256 dibaca
Pengedar Obat Terlarang Diringkus Saat Menunggu Pelanggan

POLITIK

132 dibaca
Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Ditunda sampai Batas Waktu yang Belum Dite...
218 dibaca
PPKM Diperpanjang, Ini Kata Wabup Serang Soal Pilkades Serentak
487 dibaca
Dijadwal Ulang, Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Digelar 8 Agustus

PENDIDIKAN

783 dibaca
Webinar STIE, Mufti Ali: Banten Punya Sejarah Panjang Strategi Ekonomi di Masa K...
1334 dibaca
Andika: Data BPS Menunjukkan Kualitas Pendidikan Penduduk Banten Meningkat
Top