Sabtu, 18 April 2026

Metode Syiar Rifa’i Arief

(foto ilustrasi/ist)
Selasa, 04 Apr 2017 | 13:00 WIB - Suara Pembaca

Oleh: M. Muckhlisin

Alumni Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak

MEMBACA buku “Lepas dari Lapas Hidup” karya Kiai Adrian Mafatihullah Kariem, putera dari pendiri Pondok Pesantren Daar el-Qolam, K.H. Rifa’i Arief, mengingatkan saya pada konsep perubahan tentang keluarnya seorang yang terbelenggu dalam zona nyaman, untuk mencari tantangan baru yang lebih produktif dan dinamis. Ketika peluncuran buku sebelumnya yang berjudul “Al-Quran Tua” (Fikra Publishing, Jakarta 2013), yang mengulas pemikiran tentang  Birrul Walidain, Kiai Adrian berhasil mengisi acara-acara training yang dibiayainya sendiri ke belasan pesantren alumni Daar el-Qolam, termasuk ke lapas dan rutan-rutan di Provinsi Banten.

Dengan memotivasi para tahanan yang mendekam di jeruji besi untuk membuka pintu-pintu hati para narapidana akan pentingnya religiusitas, kiranya buku Al-Qur'an Tua sangat relevan bagi perkembangan mental dan batin mereka. Hal ini merupakan terobosan dakwah yang brillian oleh seorang kiai pesantren dengan segala risiko yang dihadapinya. Sebab tidak sedikit kita mengenal pemimpin pesantren yang cenderung eksklusif dalam syiar agama, bahkan cenderung menyendiri di “biara-biara” tempat peribadatannya.

Dalam buku Lepas dari Lapas Hidup (2017) diperkaya dengan foto-foto para alumni La Tansa, terutama Apoy dan Faank (Grup Wali Band) yang juga pernah memberikan komentar dan bait-bait puisi sebagai penghormatan kepada sang guru Kiai Rifa’i Arief dalam buku Filsafat Hidup Rifa’i Arief (Cetakan ke-2). Buku yang ditulis dengan gaya sastra tersebut telah menyebar ke puluhan pesantren di wilayah Banten dan sekitarnya. Hingga menjadi acuan bagi ribuan santriwan dan santriwati untuk mengambil hikmah dari petuah dan nasehat yang disampaikan almarhum Kiai Rifa’i Arief.

Ditekankan pula dalam buku Lepas dari Lapas Hidup tentang pentingnya makna dakwah dengan pola-pola yang puitis, santun dan bijak, hingga esensi Islam dapat tersampaikan dengan sebaik-baiknya. Diperkaya dengan sekapur sirih Kiai Syahiduddin dan Ustadzah Huwaenah, dua pengasuh Ponpes Daar el-Qolam, buku Lepas dari Lapas Hidup memberikan nuansa tersendiri bagi keseimbangan antara kebebasan jiwa dengan norma-norma agama yang perlu ditekankan bagi kepentingan anak-anak didik.

“Kalau seorang pribadi sudah tidak puas akan nikmat yang dianugerahkan Allah, lantas kepada Tuhan yang mana lagi dia akan mintai pertolongan?” demikian pesan tauhid dari Kiai Rifa’i Arief dalam buku tersebut. Biarpun harta, kekuasaan dan kedudukan melimpah-ruah, tapi bila keberkahannya dicabut oleh Allah, maka kenikmatan macam apa yang akan dia rasakan? Biarpun durian montong dan sate lezat terhampar di depan mata, tapi bila gigi dan gusi sedang bengkak, maka di mana lagi letak kelezatan itu? Karenanya pengakuan yang esensial dalam kalbu manusia adalah “hanif”, suatu jalan lurus bahwa yang benar adalah benar. Segala macam tuhan yang diciptakannya berupa pangkat, kedudukan, posisi di pesantren, kekuasaan hingga batu akik, tak lebih dari tuhan-tuhan bikinan mereka sendiri. Tak lebih dari kabut-kabut yang menyelubungi hidupnya sendiri.

Petuah Kiai Rifa’i Arief

“Seorang mukmin yang kuat bukan lantaran otot besi tulang kawat, tapi karena kekayaan ilmu dan keikhlasan dalam mengamalkannya,” tegas Kiai Adrian. Salah satu manifestasi dari pengamalan ilmu dan akhlak adalah menciptakan karya tulis yang dapat menggelorakan jiwa dan kalbu manusia. Menurut Imam Ghazali, jika Anda bukan keturunan Brahmana juga bukan anak Ksatria, tetapi tidak punya karya apapun bagi generasi penerus bangsa, maka pemikiran Anda sehebat apapun, akan selesai bersamaan dengan batas-batas usia Anda.

Kita mengenal sosok Sunan Kalijaga sebagai figur pemberani dalam menciptakan pembaharuan dakwah Islam. Ia sanggup melakukan komparasi ajaran Islam dengan budaya dan kesenian Jawa yang sudah berusia berabad-abad. Kelenturan dan keluwesan dari karakter Sunan Kalijaga dalam menghadapi budaya, tidak mudah disejajarkan dengan pendakwah maupun “mubalig genit” yang gampang mengkafir-kafirkan jamaah lain. Bahkan demi berjalannya syiar Islam, Kalijaga tidak berpakaian sorban maupun jubah seperti layaknya kebanyakan da’i dan mubaligh, juga tidak merasa perlu berdandan seperti umumnya orang-orang padang pasir.

Tak ayal, Kiai Rifa’i Arief saat berceramah di hadapan santrinya sambil mengenakan jas dan dasi, pesantren Daar el-Qolam sempat dituduh masyarakat sebagai pesantren sekuler maupun liberal. Tetapi ketika melihat pada jamaah memenuhi masjid saat melakukan solat, tak ketinggalan masyarakat pun menjulukinya sebagai pesantren wahabi dan kearab-araban.

Banyak terobosan yang dilakukan Kiai Rifa’i Arief dalam melakukan syiar Islam, dan pada zamannya dinilai “gegabah” oleh banyak kalangan. Tapi seakan-akan ia menegur dirinya agar berani melakukan prinsip “the show must go on”, berani berpolemik dalam menghadapi perbedaan prinsip namun tidak dihadapinya dengan mental jumawa dan keangkuhan, tapi dengan santun dan bijaksana.

Tentu saja tipikal semacam itu sudah sampai pada maqam tertentu di mana konsep Islam harus dipahami secara kontekstual, dan bukan harfiah dan lateral semata. Pada sisi tertentu adakalanya ketegasan diperlukan dalam menegakkan nilai kebenaran dan keadilan, tapi jiwa sang pembawa risalah tetap harus luwes dan santun.

Bebas dari Lapas Kehidupan

Rasulullah sudah memberikan teladan dalam hal misi dan syiar Islam, bahwa tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan sebaik-baiknya. Adapun perkara seseorang sadar atau tidak, tobat atau tidak, hal itu bukanlah kewenangan kita selaku pembawa risalah. Tapi mutlak sebagai hak prerogatif Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menganugerahi kesadaran kepada hamba-hamba-Nya.

Buku Lepas dari Lapas Hidup memiliki pola penulisan yang berbeda dengan sebelumnya (Al-Qur’an Tua). Bila membaca buku Al-Qur’an Tua, ibaratnya kita dituntut membawa obor dalam perjalanan di tengah lorong-lorong gelap. Ada kesejukan dalam membacanya, dilengkapi dengan metafora dan harmoni kesenyawaan antara bab satu dengan bab lainnya. Namun bila membacaLepas dari Lapas Hidup, tak ubahnya membaca serpihan-serpihan pemikiran Kiai Adrian yang sudah terkumpul selama berbulan-bulan, lantas dihimpun dalam satu buku tebal (446 halaman).

Kita akan sulit menemukan kesenyawaan antara satu bab dengan bab lainnya. Di samping karena pola pikir Kiai Adrian yang fluktuatif, kadang bernuansa realisme tapi juga kadang menampilkan metafora dengan gaya sastra, meskipun tidak ada keterhubungan antara satu detail dengan detail lainnya. Jadi tak ubahnya seperti membaca rubrik-rubrik dalam majalah atau koran, seakan tidak ada keterhubungan antara rubrik yang satu dengan rubrik yang lainnya. Tapi menurut hemat saya, orang-orang berlebihan jika mereka mengatakan bahwa buku Lepas dari Lapas Hidup adalah karya Kiai Adrian yang “ngelantur”, dan hanya mementingkan aspek pasar dari penerbit yang diuntungkan.

Karena memang bagaimanapun, pikiran manusia selalu mencari kesesuaian antara apa yang kita baca dengan apa yang kita alami sehari-hari dalam alam nyata. Bila membaca buku tersebut seakan membawa kita melompat-lompat dari satu lorong ke lorong lainnya. Kadang-kadang ada sinar terang, kadang-kadang hanya seberkas sinar, tapi juga ada bab-bab tertentu yang rupanya sulit ditemukan sepercik sinar pun di dalamnya. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Metode Syiar Rifa’i Arief

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

671 dibaca
Hari Jadi ke 496 Kabupaten Serang, Pj Gubernur Ajak Kolaborasi Atasi Kemiskinan ...
1709 dibaca
Rampok Busana Senilai Rp400 Juta, Dua Pelaku Ditembak

HUKUM & KRIMINAL

1003 dibaca
ODGJ, Pembakar Mushaf di Masjid Baiturahman Diamankan
2009 dibaca
Granat di Kejari Pandeglang Ada Kaitannya dengan Kasus Korupsi Tunjangan Daerah?

POLITIK

1013 dibaca
Terima SK Ketua KT Banten, Andika Didorong Jadi Ketum KT Nasional
2748 dibaca
116 Calon Kades Teken Pakta Integritas Pilkades Damai

PENDIDIKAN

2917 dibaca
WH: Kita Akan Bebaskan Biaya Pendidikan di Banten
Top