Sabtu, 18 April 2026

Sastra Banten di Era Milenial

[foto ilustrasi]
Kamis, 28 Jun 2018 | 23:37 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra

Penulis Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang

Pada suatu hari, Badu (bukan nama sebenarnya) memberikan kesaksian pada saya setelah menghadiri acara diskusi sastra yang serius dan angker di lembaga kebudayaan Rumah Dunia. Dilihatnya wajah sebagian sastrawan Banten yang menyorot tajam menghakimi dunia yang borjuis dan glamor. Konon, perdebatan mereka terlampau mengawang-awang, eksklusif dan sulit terjangkau oleh nalar manusia biasa. Forum itu seakan-akan hanya milik para seniman dan sastrawan, atau “mereka” yang ingin direken sebagai seniman Banten. Mereka seakan kompak meneriakkan yel-yel: “Yang bukan penyair dan seniman, bukanlah mazhab dan jamaah kami!”

Tetapi saat ini, arus transformasi dan tuntutan perubahan membuat mereka kelelahan juga. Mereka dipaksa bersikap legowo dan rendah-hati oleh keadaan. Mereka semakin sadar bahwa sumber-sumber rizki itu ada di mana-mana, baik rizki berupa harta dan penghidupan, maupun rizki berupa ilmu dan ilham-ilham yang datang di kepala para seniman. Kini barometer keangkuhan dan kesombongan membuat para pelakunya kewalahan sendiri. Seperti bumerang yang menyerang balik pelemparnya sendiri. Semua dituntut untuk arif dan bijak dalam menyikapi segala sesuatu, termasuk menyikapi kritik sastra sekalipun.

Di Jakarta kondisinya begitu juga. Pusat kebudayaan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dianggap paling top markotop selama kejayaan Orde Baru, menjelang tahun 2000-an semakin kehilangan legitimasinya. Bersamaan dengan itu, muncullah lembaga-lembaga alternatif yang lebih leluasa menyemarakkan khazanah literasi dan kesenian Indonesia. Tidak terikat oleh ruang dan waktu. Termasuk lahirnya beberapa karya sastra yang cukup cerdas menyoal budaya politik dan karakteristik orang Banten, hingga tercatat dalam sejarah bahwa desentralisasi seni lebih mendahului desentralisasi politik.

Yang tidak kalah menarik adalah munculnya lembaga-lembaga sastra alternatif di Banten yang berinisiatif sendiri, tanpa ketergantungan pada unsur instansi dari pemerintah manapun. Gerakan yang dipelopori generasi milenial ini tidak tumbuh dari gesekan politik sastra di masa sebelumnya, tetapi dari sebuah tren sastra sebagai gaya hidup. Sastra bukan sesuatu yang angker, ruwet dan sakral, tetapi sesuatu yang asyik-asyik saja, jenaka, mampu menyerap anasir dari kebudayaan dunia manapun, bahkan sanggup menertawakan iklim budaya politik di ranah Banten sendiri.

Saat ini geliat semakin munculnya wabah "suka sastra" mesti menjadi perhatian serius di kalangan pemerintah sendiri, jika mereka tidak ingin dianggap “tuna etika” atau “tuna imajinasi”, yang kelak menjadi malapetaka bagi perjalanan pemerintahannya sendiri. Kondisi ini harus berdampak pada cara pandang mereka tentang sastra Banten dan sastra Indonesia secara keseluruhan. Kalau sudah sampai pada titik ini, generasi baru yang brillian dan independen ini, tidak merasa perlu berurusan dengan ada atau tidaknya pusat kesenian atau pusat legitimasi sastra. Wawasan mereka sudah lintas budaya, bahkan lintas politik Indonesia. Bagi mereka, gesekan dan tarik-menarik ideologi sastra menjadi kagak ngaruh, bacaan mereka sudah melintasi samudera, melanglang buana tanpa adanya sekat-sekat pembatasan

Boleh saja Anda menuduh mereka sebagai generasi apolitis atau ahistoris, yang tidak mau tahu urusan petuah-petuah para leluhur Banten. Tetapi apapun tuduhan Anda, mereka tetaplah generasi baru Banten, anak-anak bangsa masakini yang penuh semangat motivasi, memiliki referensi dan acuan tersendiri. Mereka jauh lebih rileks dan humoris, jenaka, dan senang berbagi dan membahagiakan orang lain. Mereka lebih “syantik” ketimbang generasi seniman dan sastrawan sebelumnya yang terlampau serius, kaku, dan merasa dihantui oleh perjalanan sejarah sastra nasional.

Siapa yang akan coba-coba menghalangi generasi milenial yang tumbuh subur sesuai hukum alam ini. Mereka bisa merana setelah membaca puisi-puisi Dunia Ikan karya Gola Gong, tapi seketika berubah menjadi tertawa terpingkal-pingkal ketika membaca kumpulan cerpen Sokrates (Toto St. Radik) atau novel Perasaan Orang Banten (Hafis Azhari). Siapa yang coba-coba menjegal sunatullah yang berjalan secara alamiah ini.

Mereka juga bisa menikmati karya sastra manapun melalui akses internet yang tanpa batas. Mereka mudah menyimak karya sastra asing, dari bahasa manapun, atau karya-karya yang dahulu hanya bisa mengandalkan koleksi perpustakaan dan pembelian ketika melancong ke luar negeri.

Sekarang ini situasinya memang jauh lebih cair, lebih rileks tanpa batas. Pembicaraan sastra yang akademis tetap tumbuh di lingkungan kampus Untirta, UIN, dan kampus-kampus lainnya, tetapi para generasi milenial ini tak henti-hentinya menyiasati kebekuan dan kekakuan mazhab akademis dengan berbagai macam cara. Kritik dan pujian bisa saja muncul dari lingkungan pergaulan yang sama, baik di media sosial maupun di tengah kelompok diskusi atau kelompok pencinta buku, yang kini beken dengan sebutan "gerakan literasi", dan menyediakan banyak kesempatan bagi generasi mutakhir untuk menunjukkan kehadiran mereka.

Pada prinsipnya, generasi milenial ini lebih merdeka dan terbebas dari kubu-kubuan. Cahaya hidayah mereka diperoleh dari sumber manapun, baik dari medsos, Perpusda, harian umum Banten, Kubah Budaya, TBM, teman-teman diskusi di Gema Nusa, pesantren Al-Bayan dan lain sebagainya. Pos tongkrongan mereka yang bertaburan ilmu dan hikmah harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah untuk lebih memberdayakannya.

Saat ini, semakin nampak kebutuhan masyarakat Banten untuk menghidupkan oase-oase kecil tempat bertukar ide dan gagasan yang lahir dari ketulusan dan keikhlasan berbagi dan bertukar pengalaman dan pengetahuan. Tujuan utamanya, tentu saja membuat Banten menjadi tempat yang enak dan nyaman untuk didiami, tempat memperkaya ilmu dan wawasan, sumber inspirasi yang membetahkan orang-orang yang hidup di dalamnya. Insya Allah. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Sastra Banten di Era Milenial

INILAH SERANG

1061 dibaca
Ini yang Bikin Bupati Serang Tenang Walau Terpapar Covid-19
1524 dibaca
Terintegrasi dengan Pusat, Pemkab Serang Gunakan Aplikasi SIPD

HUKUM & KRIMINAL

1013 dibaca
Tangkap Dua Pengedar, Polisi Amankan 1.000 Butir Pil Heximer
1697 dibaca
Gelar Operasi Cipkon, Polsek Balaraja Amankan Puluhan Botol Miras

POLITIK

1467 dibaca
Pemilu 2019, Andika Ajak Masyarakat Cek Data Diri Sebagai Pemilih
2148 dibaca
Hasil Real Count KPU Banten, WH-Andika Unggul dari Rano-Embay

PENDIDIKAN

1190 dibaca
Hari Sumpah Pemuda, Pemkab Serang Kuliahkan 53 Mahasiswa di Untirta
Top