Sabtu, 18 April 2026

Bocah Ajaib dari Baduy

Kamis, 16 Mar 2017 | 14:08 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Fauziyah Nurul

Bu Guru Tuti merasa sedih karena ia tak sanggup membuktikan janjinya kepada anak-anak kelas 6 SD Madani, Lewidamar, Lebak. Pada hari pertama masuk, ia pernah menyatakan bahwa dirinya akan menyayangi semua anak-anak kelas 6 tanpa pandang bulu, tanpa membeda-bedakan yang satu dengan yang lainnya. Faktanya, bagaimana ia menyikapi si bandel Rudi, yang bukan saja menjengkelkan tapi juga seenaknya duduk malas-malasan di kursi, mencoret-coret buku dengan gambar-gambar yang sulit dimengerti.

Rudi, pelajar yang asli kelahiran Lewidamar, masih ada garis keturunan dari kakeknya yang asli warga Baduy Dalam. Kemudian karena ayahnya menikah dengan warga Baduy Luar, keluarga itu pun sepakat untuk tinggal di desa Lewidamar, yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Kota Rangkasbitung.

Lama kelamaan Bu Guru Tuti merasa serba salah, karena Rudi si tukang ribut itu selalu saja bikin gaduh tiapkali pelajaran sedang berlangsung. Tidak seorang pun dari teman-temannya yang suka melihat ulahnya yang suka mencoret-coret meja kelas. Kadang-kadang memukul-mukul meja seenaknya, sambil bersenandung, dan entah lagu apa yang dinyanyikannya. Belum lagi pakaiannya yang selalu kumal, dekil, dan kelihatan jarang mandi. Ia selalu ogah-ogahan bila disuruh membikin tugas. Dan bila sesekali ia mengerjakannya, hasilnya mesti tak pernah di atas angka 5.

Dalam suatu rapat guru, kepala sekolah menyarankan agar semua guru memeriksa berkas dokumen, mengenai laporan tentang perkembangan seluruh siswa yang pernah dibuat oleh guru-guru sebelumnya. Bu Guru Tuti membacanya satu-persatu dengan teliti, hingga sampailah ia pada laporan tentang perkembangan mental Rudi sejak kelas satu SD. 

Sewaktu duduk di kelas satu, Rudi berteman baik dengan kawan-kawannya. Nilai-nilai pelajarannya bagus, dan tugas-tugas dikerjakannya dengan rapi. Sewaktu kelas dua, nilai mata pelajarannya masih bagus, meskipun kesulitan bermain dengan teman-teman karena memikirkan ibunya yang sedang sakit.

Ketika duduk di kelas tiga, Rudi menjadi anak pemurung. Ibunya dirawat di rumah sakit, dan ayahnya pergi ke Sumatera untuk bekerja membiayai perawatan sang ibu. Kini ia tinggal sendirian kemudian diasuh oleh neneknya. Saat duduk di kelas empat, ibunya meninggal dunia, kemudian ia pun tidak lagi mendengar kabar tentang ayahnya di perantauan. Terakhir ketika duduk di kelas lima, ia semakin mengalami kemunduran, tidak lagi merasa tertarik dengan sekolah. Ia selalu bermalas-malasan, bahkan selalu ketiduran di kelas saat guru sedang memberikan materi pelajaran.

Bu Guru Tuti merasa trenyuh. Berlama-lama ia duduk di kursi dengan pandangan menerawang. Perasaannya semakin tergugah ketika pada suatu hari anak-anak kelas 6 membawa kado di hari ulang tahunnya yang ke-40. Kado-kado yang unik dan berwarna-warni, dihiasi dengan pita-pita yang menarik. Sedangkan Rudi hanya membungkus kadonya dengan kertas koran, serta dilekatkan dengan isolasi hitam. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak ketika Bu Guru Tuti membuka kado Rudi yang kumal, dengan berisikan selendang anyaman Baduy, dan sebotol parfum yang terbuat dari wangi dedaunan. Parfum itu nampaknya sudah dipakai, hanya berisi setengah botol saja.

Tanpa banyak berpikir, Bu Guru Tuti segera memujinya, “Wah, kado ulang tahun yang bagus sekali. Ibu belum pernah mendapatkan kado yang menarik seperti ini.” Bu Guru Tuti menyarungkan selendang di pundaknya, kemudian memoleskan parfum ke lengannya sambil menghirupnya dengan lembut.

Bel pulang berbunyi, dan anak-anak pun keluar kelas. Sebelum memasuki ruangan guru, Rudi bergegas menghampiri Bu Guru Tuti di ambang pintu, “Bu, hari ini Bu Guru wangi sekali… saya jadi ingat sama Ibu….”

Bu Guru Tuti menitikkan air matanya. Ia meremas-remas pundak Rudi, sambil menyatakan bahwa ia senang memakai parfum yang diberikan Rudi sebagai hadiah ulang tahunnya.

Berpikir dan Meninjau Kembali

Sejak peristiwa itu, Bu Guru Tuti memberikan perhatian khusus kepada Rudi. Lambat-laun si kumal dan dekil itu terus berubah, hingga kembali menjadi murid yang cemerlang. Pada semester kedua, ia pun menjadi salah satu murid terpandai di kelas 6 SD Madani, Lewidamar, Rangkasbitung.

Setelah lulus SD, karena berbagai kesibukan Bu Guru Tuti tidak mendengar kabar tentang Rudi. Hingga suatu hari ia pun mendapatkan surat yang mengabarkan bahwa Rudi telah lulus SMU, dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung. Mungkin jalannya tidak mudah, karena biaya hidup sebagai mahasiswa Indonesia cukup tinggi. Tapi di akhir surat ia menulis: “Mohon doanya dari Ibu. Bagaimanapun Bu Guru Tuti adalah guruku yang terbaik dalam sepanjang sejarah hidupku.”

Lima tahun berikutnya, setelah lulus perguruan tinggi, Rudi menulis surat lagi. Namun kali ini diakhiri dengan nama lengkap berikut gelar akademiknya sebagai sarjana pendidikan: Salam hormat, Rudi Hardini, S.Pd

Beberapa tahun berikutnya, Rudi mengirim surat lagi, mengabarkan bahwa ia akan melangsungkan pernikahan dengan seorang wanita asal Pandeglang. Namun karena ayahnya sudah meninggal setahun yang lalu, Rudi berharap sekiranya Bu Guru Tuti bersedia duduk di kursi sebelah pengantin, untuk mewakili orang tuanya. 

Bu Guru Tuti akhirnya bersedia memenuhi permintaan Rudi. Ia datang mengenakan kebaya, dengan selendang dan parfum yang pernah dihadiahkan Rudi untuk hari ulang tahunnya belasan tahun silam. Bu Guru Tuti mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin, sambil menitikkan air mata dan memeluk mereka erat-erat. Seketika itu, Rudi menjulurkan wajahnya sambil berbisik, “Terimakasih Bu, dari dulu saya selalu menjadi murid yang merasa dihargai. Sampai sekarang, saya tak pernah mengubah pendirian, bahwa Ibu Tuti adalah guru terhebat buat saya.”

Dengan berlinang air mata, Bu Guru Tuti membalas, “Kamu yang hebat Rudi, sebelum mengenal kamu, Bu Guru tidak tahu cara mengajar yang baik. Sebetulnya kamulah yang mengajari Ibu, bukan saja menjadi guru yang baik, tapi juga menjadi manusia yang baik….”

Pada akhirnya, saya ingin menyampaikan bahwa kisah di atas merupakan modofikasi dari cerpen yang ditulis Elizabeth Ballad, berjudul “Three Letters from Teddy” (1975). Saya menyumbangkan tulisan ini karena nilai kemanfaatannya bagi pembaca, dan bagi dunia pendidikan Banten. Para tenaga pengajar dan pendidik, guru, ustad maupun dosen perguruan tinggi, kiranya pantas untuk terus bermuhasabah, introspeksi diri, apakah kita mampu menjadi tenaga pendidik seperti yang diteladankan oleh Bu Guru Tuti tersebut.

Ataukah selama ini kita hanya mementingkan pelajaran kurikulum yang disusupkan kepada otak anak-didik, tanpa kemampuan menginjeksikan semangat perubahan kepada mereka. Saatnya kita banyak merenung dan beristighfar, hingga kita mampu berkaca diri untuk terus berbenah, menjadi pendidik-pendidik yang tabah dan tawakkal, serta ikhlas menanamkan benih-benih kebaikan bagi kelangsungan generasi anak-anak kita. Amin ya rabbal alamin…. (*)

Penulis: Alumni Ponpes Daar el-Qolam, Jayanti, Tangerang

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Bocah Ajaib dari Baduy

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

1453 dibaca
Tabrak Terios, Pengendara Motor Tewas
1547 dibaca
Bongkar Pembuatan Upal, Resmob Polres Serang Amankan 6 Tersangka

HUKUM & KRIMINAL

1730 dibaca
Ditempat Terpisah, Lima Pelaku Curanmor Diringkus
2263 dibaca
Pura-Pura Tambal Perahu, Polisi Bekuk 6 Penjudi Domino

POLITIK

2323 dibaca
Bukti Dukungan yang Maksimal, Ribuan Warga Hadiri Kampanye Andika di Rajeg
1155 dibaca
KPU Pandeglang Siapkan Materi Gugatan di MK

PENDIDIKAN

147 dibaca
Komitmen Majukan Pendidikan, Bupati Serang Ratu Zakiyah Resmikan Gedung SDIT-SMP...
Top