Sabtu, 18 April 2026

Kemiskinan Bukan dari Allah Tapi Diri Sendiri

[foto ilustrasi]
Rabu, 24 Apr 2019 | 16:50 WIB - Mozaik Islami

BILA berkenan, isilah titik-titik di bawah ini. Mohon dijawab dengan jujur, sesuai dengan apa yang tersirat dan berkelebat cepat di dalam hati kita masing-masing.

1. Allah menciptakan TERTAWA dan ...
2. Allah itu MEMATIKAN dan ...
3. Allah menciptakan LAKI-LAKI dan ...
4. Allah memberikan KEKAYAAN dan ......
Barangkali, mayoritas kita akan memberikan jawaban seperti ini:
1. MENANGIS
2. MENGHIDUPKAN
3. PEREMPUAN
4. KEMISKINAN

Marilah kita mencocokkan jawaban kita itu dengan apa yang telah Allah firmankan dalam rangkaian firman Allah SWT di Surat An-Najm (53), ayat: 43-45, dan 48. Semua pertanyaan di atas terjawab sebagai berikut:
"dan Dia-lah yang menjadikan orang TERTAWA dan MENANGIS." (QS. 53:43).

"dan Dia-lah yang MEMATIKAN dan MENGHIDUPKAN." (QS. 53:44).

"dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan LAKI-LAKI dan PEREMPUAN. " (QS. 53:45).

"dan Dia-lah yang memberikan KEKAYAAN dan KECUKUPAN." (QS. 53:48).
Ternyata jawaban kita umumnya hanya BENAR untuk pertanyaan no satu sampai 3. Jawaban kita untuk no 4 umumnya keliru, tak sesuai dengan firman Allah tersebut.

Jawaban Allah Ta'ala dalam Alquran sebagai antonym kekayaan bukanlah KEMISKINAN, tetapi KECUKUPAN.
Karena sesungguhnya Allah Ta'ala hanya menciptakan dan memberi KEKAYAAN serta KECUKUPAN kepada hamba-Nya. Bukan kemiskinan.
Bukankah ternyata yang menciptakan KEMISKINAN adalah diri kita sendiri? Hal ini bisa terjadi karena ketidakadilan ekonomi, atau mungkin kemalasan, bisa juga karena kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikir kita sendiri dengan senantiasa berkeluh kesah dan membanding-bandingkan.

Jarang sekali orang menyadari bahwa mungkin saja mereka yang di dunia ini bermegah-megah, ujub dan takabur dengan kekayaannya, di akhirat nanti menjadi makhluk yang paling menyesali mengapa ia di dunia tidak amanah dalam menyikapi kekayaannya. Mengapa ia tak sadar, bahwa apa yang diterimanya itu tak lebih sekadar ujian? Mengapa matanya tak pernah terbuka bahwa sejatinya yang ia miliki adalah hibah, sadaqah, pemberian bantuan, atau apapun harta yang ia alirkan buat orang lain? Selebihnya hanya belenggu. Belenggu di dunia, rantai yang mengikatnya di akhirat.

Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yg senantiasa bersyukur; walaupun hidup pas-pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa cukup, bukan merasa miskin.
Jadi, marilah kita bangun rasa keberlimpahan dan kecukupan didalam hati dan pikiran kita, agar kita menjadi hamba-Nya yang selalu BERSYUKUR. []

Sumber: medsos, dengan penambahan seperlunya.

Sumber :bersamadakwah/lnilah

Bagikan:

KOMENTAR

Kemiskinan Bukan dari Allah Tapi Diri Sendiri

INILAH SERANG

1734 dibaca
Timbulkan Bau Tak Sedap, Warga Keluhkan Tumpukan Sampah
981 dibaca
Targetkan 10 Besar PON Papua, Pemprov Banten Siapkan Bonus untuk yang Berprestasi

HUKUM & KRIMINAL

571 dibaca
Baru Jualan Ganja, Warga Kaligandu Ditangkap Satresnarkoba Polres Serang
710 dibaca
Satlantas Polres Serang Tertibkan Kendaraan ODOL

POLITIK

1422 dibaca
Tatu Nostalgia di Tanah Kelahiran, Pandji Silaturahmi ke Kibin
1589 dibaca
Kembalikan Formulir ke Demokrat, Vera Usung Jargon Kota Serang Cantik

PENDIDIKAN

1964 dibaca
Bahas Soal Etika Birokrasi, Mahasiswa Untirta Kunjungi Ombudsman RI
Top