lBC, Serang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung Agustus hingga September 2019. Awal musim hujan diprediksi pada awal November 2019, sehingga kekeringan diperkirakan bakal meluas.
Adanya prediksi BMKG tersebut, para petani di Kampung Lamongan, Desa Tonjong, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang memilih untuk memanen hasil tanaman bawang merah lebih awal. Sebagai antisipasi terjadinya puso atau gagal panen akibat kekeringan.
“Sudah ada peringatan dini dari BMKG tentang kekeringan yang mungkin berlangsung selama 60 hari berturut-turut. (Hari ini) Nah di beberapa sentra petani bawang yang kita kunjungi salah satu di Kecamatan Kramatwatu petani bawang sudah panen muda,” kata Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana kepada lnilahBanten saat ditemui di Kantornya pada Senin, 26 Agustus 2019.
Sambungnya, petani yang seharusnya memanen bawang merah selama 58 sampai 60 hari mereka sudah panen di umur 45 sampai 47 hari. Karena, sebut dia, kalau dibiarkan dilahan tidak di panen cepat ini kemungkinan besar tanaman bawang bisa puso juga.
“Karena itu mereka (petani) panen di awal walaupun ukuran bawang belum mencapai maksimal, sehingga produksitifitas perhektarnya juga masih rendah. Di banding tahun sebelumnya musim kemarau terkadang ada 1 sampai 2 hari hujan,”terang Zaldi.
Ditanya apakah akan memengaruhi kualitas dan pemasaran dengan panen dini, Zaldi mengatakan, bukan hanya kualitas tapi juga kuantitas jadi bobotnya (bawang merah) berkurang karena belum tumbuh maksimal kualitasnya juga kurang. Karena masih banyak bawang yang warnanya masih putih belum menjadi warna merah.
“Tentunya ini memberikan kerugian, tapi daripadi dibiarkan dilahan tentunya akan terkena resiko puso. Jadi, mereka petani memilih panen bawang merah yang masih muda,”jelasnya. Seraya menyebutkan, jika mengalami puso tentunya bukan hanya kerugian materi dibutuhkan benih dengan nilai uang sebesar Rp32 juta perhektarnya, juga kerugian tenaga yang sudah dikeluarkan petani pada saat menanam.