Senin, 16 Mei 2022

Cerpen Chudori Sukra: Belum Tentu Lebih Baik (2)

Ilustrasi/Net
Selasa, 20 Apr 2021 | 15:17 WIB - Suara Pembaca

Dalam waktu yang cukup lama kami saling diam, kemudian dengan suara serak dan parau ia berkata, “Dengan lelaki bujangan macam apa saya ini sedang bicara.”

“Maksudnya?” tanya saya keget. “Emang kenapa?”

“Ya, karena ini telapak tangan laki-laki yang rakus…”

“Rakus apanya?” kata saya sinis.

“Rakus dalam soal perempuan.”

“Apa salahnya? Saya ini kan laki-laki?” bela saya ngotot.

“Ya, tapi harus ada batasnya. Sedangkan kamu seperti seekor kucing hitam yang tak pernah kenyang walaupun sudah melahap banyak kepala ikan.”

“Wah, kalau Mama Nita bilang begitu, berarti…”

“Bukan saya yang bilang, tapi telapak tangan dan goresan pada tulisan Anda.”

Ah sudahlah, nggak usah dilebih-lebihkan. Lalu, soal yang lain bagaimana?”

“Yang lainnya? Ada sedikit keberuntungan dalam usaha. Karakter yang cukup kuat, serius, ambisius, meskipun bukan pekerja keras… dan ada sedikit rasa tanggungjawab.”

Saya pun menarik tangan dengan kesal, “Ah, Mama Nita nggak menemukan apa-apa di tangan saya kecuali hal-hal negatif saja.”

“Bukan hal-hal negatif tapi karakteristik,” katanya meyakinkan. “Ini serius. Dan seandainya saya seorang ibu, saya tidak bakal membiarkan anak perempuan saya menikah dengan laki-laki bujangan seperti Anda.”

Kontan saya terkejut dan merasa terpukul. Sambil berusaha mengendalikan emosi, saya menyodorkan telapak tangan lagi, dan bertanya, “Coba tolong periksa, apakah ada garis pernikahan?”

Dengan sangat cermat imemutar‑mutar telapak tangan saya ke segala arah, kemudian katanya, “Hanya petualangan cinta yang sia-sia. Tak ada pernikahan.”

Mama Nita,” saya menarik nafas panjang. “Sebenarnya saya datang ke sini mau mengatakan sesuatu yang serius mengenai Nadia. Dan saya tidak ada urusan dengan membaca rajah tangan maupun menggores ini-itu di atas kertas. Saya datang ke sini mau memutuskan bertunangan…”

“Bertunangan dengan siapa?” sahutnya dengan tak acuh.

“Ya siapa lagi kalau bukan Nadia?”

“Nadia?”

“Iya, Nadia, anak Anda!” kata saya ketus.

Mendengar kata‑kata ini, dengan tenangnya ia meletakkan kertas dan kaca pembesar, kemudian katanya, “Jadi begini Sep,” ia pun menggeser duduknya, “Ibu merasa kasihan sama kamu…”

“Apa?”

“Kasihan. Ibu kasihan sama kamu. Sebenarnya dari telapak tangan sudah menunjukkan bahwa kamu tidak akan menikah…”

“Tidak akan menikah?” kata saya jengkel.

“Ya, setidaknya dalam waktu dekat ini.”

“Kenapa? Bukankah saya dan Nadia saling cinta, dan sudah ada kesepakatan?”

“Kesepakatan apa, Nak Asep? Kasihan sekali kamu ini… kamu pikir, kamu sudah ada kesepakatan dengan Nadia, tetapi Nadia belum ada kesepakatan dengan kamu.”

“Siapa yang bilang begitu?”

Saya yang bilang. Sebab, kenyataannya Nadia baru saja bertunangan dengan laki-laki yang baik dan pekerja keras…”

“Laki-laki siapa?”

“Agus.” Ia menggeser posisi duduknya, menatap saya dengan tenang, dan lanjutnya, “Nadia sudah bertunangan dengan Agus beberapa hari lalu. Ia tidak punya keberanian untuk mengatakannya pada Anda, karena dia gadis pemalu. Sementara Agus orangnya cukup jantan, pemberani, dan juga pekerja keras. Satu hal yang menarik pada diri Agus adalah, anak muda itu tak suka membicarakan aib dan kejelekan orang. Dia tak suka menuduh-nuduh orang sebagai PKI atau komunis. Sedangkan kamu? Laki-laki macam apa kamu ini? Manusia macam apa kamu ini?”

Saya tercengang, dan benar-benar merasa terpukul. Saya mengeluarkan uang seratus ribu dari kantong, lalu membanting uang itu di depan meja, kemudian dia berkata dengan tenangnya, “Benar, apa yang saya katakan pada Nadia, bahwa Agus lebih kalem dan menyejukkan, ketimbang karakteristik Anda yang emosional dan temperamental.”

***

Saya keluar dari rumah Mama Nita dengan berjalan sempoyongan. Di tengah pikiran yang serba kalut, saya berhasil menghimpun kesimpulan bahwa Mama Nita sebenarnya bukan membaca rajah tangan, tapi ingin membongkar sifat dan watak saya yang sebenarnya.

Jadi, ketika saya menikmati bagaimana Nadia melecehkan dan menjelek-jelekkan nama Agus, di lain pihak ia pun memancing-mancing Agus agar melecehkan dan menjelek-jelekkan diri saya. Tetapi Agus, memang tidak tertarik menjelek-jelekkan orang lain, apalagi sahabatnya sendiri. Dengan begitu, Nadia berhasil membandingkan saya dan Agus dengan cermat, Dan tidak ada jalan lain, selain saya harus ikhlas dan berpasrah merestui dia menjadi istri Agus.

Akhirnya, saya pun bertekad hadir pada acara resepsi pernikahan mereka, melangkah sendirian, dan sebagai sahabat karib, Agus langsung menghambur dan memeluk saya sambil meneteskan air matanya. (*)

 -          Cerpenis adalah esais dan kritikus sastra, menjadi anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI) perwakilan Banten, pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Serang, Banten.

-          Esai dan artikel-artikel saya dapat dijumpai di media massa lokal, nasional dan media daring, di antaranya Kompas, Republika, Analisa, Satelit News, Kabar Madura, Tangsel Pos, Jurnal Roddoppuli, Ahmad Tohari’s Web, nusantaranewsco dan lain-lain.

Bagikan:

LAINNYA

Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Rabu, 24 Nov 2021 | 11:35 WIB
Kucing Itu Menyatukan Kembali 
Budaya Literasi dalam Islam
Senin, 22 Nov 2021 | 14:14 WIB
Budaya Literasi dalam Islam
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Senin, 01 Nov 2021 | 08:57 WIB
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear
Rabu, 27 Okt 2021 | 11:36 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear

KOMENTAR

Cerpen Chudori Sukra: Belum Tentu Lebih Baik (2)
pemda

INILAH SERANG

147 dibaca
Polres Serang Tangkap Pengedar Pil Koplo saat Tunggu Pelanggan
335 dibaca
Bawa Kambing, Pengemudi dan Penumpang Mobil Nyaris Diamuk Massa
244 dibaca
Pemprov Banten Siapkan Strategi Penanganan Stunting dan Gizi Buruk

HUKUM & KRIMINAL

147 dibaca
Polres Serang Tangkap Pengedar Pil Koplo saat Tunggu Pelanggan
335 dibaca
Bawa Kambing, Pengemudi dan Penumpang Mobil Nyaris Diamuk Massa
992 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus 4 Bandit Kurang dari 24 Jam Usai Terima Laporan Perampasan

POLITIK

242 dibaca
Golkar Banten Sambut Bahagia Koalisi Indonesia Bersatu
1434 dibaca
Instruksikan Pemenangan Airlangga, Andika Keliling ke DPD Golkar Kabupaten dan Kota di Ban...
1256 dibaca
Bakesbangpol Pastikan Tak Ada Ormas Radikal di Kabupaten Serang
Top