Kamis, 20 Januari 2022
Suara Pembaca

Wawancara Bersama Bung Hafis

Selasa, 25 Mei 2021 | 13:26 WIB

(Penulis Novel Perasaan Orang Banten)

Untuk dibagikan kepada puluhan ribu pelajar, mahasiswa dan kalangan santri di provinsi Banten, majalah El-Bayan edisi ulang tahun ke-12 berkesempatan bincang-bincang (wawancara) bersama penulis novel Perasaan Orang Banten (Hafis Azhari) di sela-sela kesibukannya menyelesaikan novel terbarunya setelah Pikiran Orang Indonesia (2014). Ia belum memberitahukan pewawancara (Irawaty Nusa) perihal judul novel yang sedang ditulisnya, karena boleh jadi menurutnya – lewat perjalanan waktu – akan ada perubahan mengenai judul novel tersebut.

Irawaty dan seorang fotografer majalah, disambut hangat oleh isteri Hafis, Pujiah Lestari dan ketiga puterinya, masing-masing bernama Talenta Fizarha, Adiba Historia Bantani dan Anisa Queen Mafaza. Kemudian, ketika memasuki ruang tamu, Bung Hafis meninggalkan laptopnya serta menjawab secara spontan apa-apa yang dipertanyakan sang pewawancara. Berikut ini petikan wawancara (Irawaty) bersama narasumber (Hafis) yang berlangsung selama satu jam lebih. Dan atas pertimbangan redaksi, beberapa bagian sudah mengalami proses editing, agar mudah dinikmati pembaca dari berbagai kalangan (Redaksi).

Irawaty: Mohon maaf, kalau kami mengganggu kesibukan Bung Hafis yang kabarnya tengah menulis novel terbaru untuk saat ini.

Hafis     : Ah nggak apa-apa, wawancara itu perkara penting untuk membuka cekrawala berpikir, apalagi jika segmen pembacanya semakin banyak dan luas, maka nilai-nilai kebaikan yang disampaikan akan menyebar luas. Seperti ungkapan orang-orang bijak, bahwa orang yang menyampaikan kebaikan akan berpahala, juga yang memancing lahirnya kebaikan, akan berlipat-lipat pahalanya, bukan begitu?

Irawaty: Hehehe, iya juga sih. Oya, ngomong-ngomong, kami akan memancing Bung Hafis untuk bicara banyak mengenai novel Perasaan Orang Banten, terutama tentang tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam novel tersebut, hingga pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Hafis   : Saya pernah menyampaikan panjang-lebar pada momentum acara bedah buku yang digagas Rumah Dunia di Kota Serang. Tetapi untuk konteks saat ini, barangkali tokoh-tokoh yang ditampilkan masih relevan seperti yang diungkap beberapa penulis muda akhir-akhir ini. Padahal, tidak ada yang istimewa sebenarnya. Tokoh-tokoh dalam  Perasaan Orang Banten tak lain dari tipikal orang-orang kampung yang polos dan lugu, tapi tidak jarang bersikap kasar dan temperamental, sebagaimana mentalitas inlander dari kebanyakan orang Indonesia. Di satu sisi merongrong otoritas kaum borjuis yang ikut-ikutan latah berpolitik, di sisi lain mengkritik ulah kaum agamawan yang kasak-kusuk menerima suap dari kaum politisi yang berkolaborasi dengan pengusaha kampung.

Irawaty: Tapi sepertinya Bung menawarkan konsep sastra yang kocak dan jenaka dalam novel tersebut, berbeda dengan karya berikutnya Pikiran Orang Indonesia?

Hafis   : Kalau Pikiran Orang Indonesia memang sengaja ditampilkan serius, karena ia adalah novel sejarah yang ditulis berdasarkan penelitian ilmiah historical memory. Selama beberapa tahun sebelum penulisan novel tersebut, saya sempat berkonsultasi beberapa kali ke rumah mendiang Pramoedya Ananta Toer, Josoef Isak (Penerbit Hasta Mitra, red), juga dengan puluhan korban-korban politik Orde Baru, baik sepulang dari pembuangan mereka di Pulau Buru maupun yang dipenjarakan di berbagai tempat, tanpa proses pengadilan. Tapi kalau Perasaan Orang Banten, memang berbeda format gaya bahasanya, lebih cenderung menghibur.

Irawaty: Banyak pengamat sastra menyatakan bahwa karakteristik orang-orang Banten yang dimaksudkan dalam novel itu, hanya sebagai sindiran kepada khalayak masyarakat Indonesia pada umumnya. Bagaimana menurut Bung sendiri?

Hafis    : Di situ memang ada macam-macam tokoh, berikut karakter khasnya masing-masing. Ada tokoh politik yang gagal (Bang Jali, red), meski sudah malang-melintang puluhan tahun di dunia politik. Ada pemilik warung kopi (Pak Salim, red) dan tukang pangkas rambut (Pak Majid, red) yang pernah berkecimpung dalam organisasi sosial berhaluan kiri. Ada penjaga masjid (Tohir, red) yang terpesona pada gadis kampung, dan membuatnya mengalami baku hantam dengan orang-orang Batak di restoran Padang. Ada juga seniman (Taufik Ibrahim, red) yang hidupnya hanya luntang-lantung, mengambara bagaikan tokoh dalam film Nomadland.  Melalui tokoh-tokoh itu, saya mencoba mengajak pembaca agar senantiasa introspeksi dan bercermin diri. Kebisingan dan hiruk-pikuk perpolitikan Indonesia akhir-akhir ini, tergambar jelas pada tokoh Tubagus Kusen yang mengerahkan kerumunan dan gerombolan politisi kampung, menampilkan diri selaku juru-juru kampanye yang korup, dan kemudian terjerumus oleh karena ulah perbuatannya sendiri.

Irawaty: Bila diteropong melalui kaca lensa psikologi Sigmund Freud, nampak jelas pada kebanyakan tokoh yang hidup dengan alam bawah sadarnya. Bagaimana menurut Bung Hafis?

Hafis    : Memang ada beberapa tokoh yang berani berbuat nekat tanpa punya kesanggupan mengukur risiko. Orang-orang kalap yang terperosok ke lubang galian, tanpa menyadari bahwa lubang-lubang itu adalah hasil ciptaannya sendiri. Selain itu, ada juga tokoh yang pernah malang melintang pada organisasi massa berhaluan kiri, sementara tokoh lain berkecimpung dalam iklim politik berhaluan kanan.

Irawaty: Berarti seperti Rizieq Shihab atau FPI?

Hafis     : Ya, kurang lebih sama. Seperti pada masa lalu kehidupan Bang Jali pada bab 3. Di tahun 1960-an dia sempat bergabung dengan Badan Koordinasi Organisasi Islam (BKOI). Konon organisasi itu telah berhasil menghimpun ribuan anggota, hingga suatu waktu pernah menuntut pemberhentian Presiden Soekarno dari jabatannya. Kemudian, organisasi itu tak terdengar lagi gaungnya, seakan hilang begitu saja dalam percaturan sejarah Indonesia. Pada tahun 1978 Bang Jali banting stir memimpin Gerakan Jihad Islam (GJI) yang menentang ideologi Pancasila serta mengobrak-abrik pengikut Ahmadiyah. Organisasi ini pun berakhir dengan ditangkapnya para pengurus, dan dia sendiri mendekam selama dua tahun di penjara Salemba. Pada tahun 1984 orang ini nekat lagi melibatakan diri dalam peristiwa berdarah di Tanjung Priok. Konon, kebakaran besar yang menghanguskan Bank dan Gereja, serta merencanakan pengeboman di sekitar perpustakaan nasional, dia juga ikut terlibat sebagai salah seorang pelakunya. Penangkapan yang kedua kalinya dialami ketika dia berkhotbah ‘mengompori’ masyarakat awam untuk menegakkan syariah sambil membakar bendera merah-putih di sekitar tugu monas, Jakarta. Tapi akhirnya, dia memutuskan untuk tidak mau ambil pusing dengan urusan politik. Hubungannya dengan dunia politik berakhir sejak tahun 1988, kemudian putar haluan ke bidang pendidikan agama. Namun, karena adanya daya tarik yang menggiurkan di bidang perdagangan, ia pun banting stir lagi untuk terjun ke dunia bisnis hingga saat ini. Dia mendirikan pabrik genteng dan batako yang walaupun tidak maju-maju amat, namun cukup bertahan hingga Indonesia mengalami krisis moneter menjelang kejatuhan Presiden Soeharto. Jiwa pemberontakannya semakin lama semakin terkikis. Yang tersisa hanyalah kenangan yang agak samar-samar. Selanjutnya, dia tidak mau peduli dengan hiruk-pikuk perpolitikan di negeri ini. Dia menjatuhkan pilihan untuk tidak membenci siapapun, partai manapun, dan ideologi apapun. Bahkan juga tidak ada yang dia sukai.

Irawaty: Kehidupan yang dialami Bang Jali adalah salah satu cermin dari validitas penokohan dalam novel tersebut. Lalu, apa yang disasar oleh Bung sendiri dengan menampilkan tokoh-tokoh semacam itu?

Hafis     : Sederhana saja. Biar para pembaca banyak belajar, hingga menemukan jati-diri sebagai bangsa yang plural dan majemuk. Saya mencoba membangun imajinasi publik, melalui tokoh-tokoh sastra yang bicara tentang kejujuran, keberanian, kegagalan, kerelaan berbagi, belas kasih, ketekunan, disiplin, hingga memberi solusi agar menatap masa depan Indonesia dengan penuh optimistis. Kejadian sehari-hari masyarakat Jombang yang marjinal, supaya memberikan gambaran bagi pembaca agar bisa didekati secara inderawi. Jadi, bukan sastra pendendam seperti yang disinggung banyak penulis milenial. Juga bukan sastra genit yang membangga-banggakan  tokoh kelas atas secara ekonomi. Novel POB adalah pengalaman nyata tentang sebuah dunia, dengan mata rantai sebab-akibat yang ditimbulkan olehnya.

Irawaty  : Ada penulis muda yang menghubung-hubungkan novel Bung dengan film Parasite, satu-satunya film Asia (Korea, red) yang meraih penghargaan Oscar sebagai film terbaik, tahun lalu. Apakah Bung pernah dengar tentang ini?

Hafis     : Ya, saya pernah baca itu, tapi saya tidak heran atau takjub dengan pendapat seperti itu. Sebenarnya apa sih yang dibicarakan Parasite? Kan kehidupan sehari-hari rakyat marjinal Korea, bukan kehidupan jrang-jreng yang terkesan glamor dan mewah? Film itu justru menawarkan univesalitas karena kesederhanaannya, bukan kayak kebanyakan film-film kita yang cenderung genit, atau menampilkan tokoh-tokoh heroik yang gak jelas juntrungannya. Menurut saya, cerita yang baik itu justru yang berani secara fair dan terbuka membicarakan kelemahan dan kekurangan kita sendiri. Kalau perlu menertawakan diri kita sendiri? Suatu mentalitas inlander yang mewarisi karakteristik rezim niliterisme selama 32 tahun. Dengan membaca dan bercermin diri, pada akhirnya pemirsa atau pembaca akan dibawa pada sikap santai dan rileks. Dan pada saat pembaca merasa rileks, ia bisa menyusup masuk ke dunia bawah sadar, memberikan banyak hikmah dan pelajaran berharga.

Irawaty: Selain Kiai Muhaimin, sebagian besar tokoh agama dan politik yang ditampilkan, seakan berperan selaku komoditas yang menguntungkan pelaku bisnis dan politik berbasis agama. Bagaimana menurut Bung sendiri”

Hafis   : Tentang beberapa tokoh agama yang ditampilkan, saya hanya ingin mengabarkan maraknya keberagamaan masyarakat Indonesia yang tercermin pada masyarakat Jombang. Melalui beberapa tokohnya, novel itu juga bicara tentang fungsi agama yang dipertuhankan, sementara hakikat Tuhan itu sendiri telah dikesampingkan. Nama Tuhan diperjualbelikan untuk kepentingan-kepentingan politik duniawi. Para penguasa hingga agamawan seringkali sibuk memproyeksikan fungsi Tuhan untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya masing-masing. Melalui tokoh Kiai Muhaimin, saya ingin mengajak pembaca untuk bersama-sama membersihkan citra Tuhan dari proyeksi dan politisasi kaum elite borjuasi yang mengutamakan kepentingan diri sendiri. Citra Tuhan itu harus dibersihkan dari unsur-unsur politik kotor, ideologi dan kritik-kritik palsu, propaganda kepahlawanan kosong, dicampuri urusan duit dan vested interest yang sama sekali tak ada hubungannya dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta atau Sang Kreator yang sesungguhnya.

Irawaty: Berarti pesan moral yang ingin Bung sampaikan sehaluan dengan karya-karya Pramoedya?

Hafis   : Tidak persis sama. Karena konteks zamannya sudah berbeda. Seperti halnya tokoh Kiai Muhaimin, pesan moral yang disampaikan karya Pram kadang juga tercermin dari dialog para tokohnya, sebagai ungkapan protes atau gugatan terhadap ketidakadilan dan kesewenangan. Dalam novel Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, kritikan itu langsung ditujukan kepada pemerintah Orde Baru yang dilpimpin Presiden Soeharto. Tapi bagi saya, kritik dan amarah itu wajar saja, dan dibenarkan secara religius.

Irawaty: Secara religius, bisa dibenarkan?

Hafis   : Ya, memang bisa dibenarkan. Protes dalam bentuk amarah, jika hal tersebut dimaksudkan untuk menggugat ketidakadilan dan kesewenangan penguasa terhadap rakyatnya, memang bisa dibenarkan dalam agama apapun.

Irawaty: Tapi Gus Dur (Abdurrahman Wahid, red) lebih memilih menggugat Orde Baru lewat lelucon atau lawakan konyol?

Hafis   : Itu pilihan Gus Dur dalam konteks zamannya. Tapi ketika diwawancarai Kick Andy dan diminta pendapatnya tentang Soeharto, sepertinya dia menghadapi pertanyaan yang sangat dilematis. Di satu sisi dia mengatakan bahwa Soeharto itu orang zalim, tetapi di sisi lain dia mengatakan bahwa Soeharto itu banyak jasanya.

Irawaty: Berarti Gus Dur bersikap mendua dalam perkara Soeharto?

Hafis     : Saya menghormati kebesaran Gus Dur, tapi dalam soal Soeharto, saya berpendapat lain. Menurut saya, pertanyaan dari Kick Andy mengenai Soeharto itu adalah pertanyaan berat yang dihadapi Gus Dur sepanjang hidupnya.

Irawaty: Sepanjang hidupnya?

Hafis     : Ya, sepanjang hidupnya! Karena dia dimintai pendapat tentang sosok pemimpin militer yang berkuasa selama 32 tahun. Sedangkan penilaian tentang dirinya masih terus berproses dan harus dibuktikan kebenarannya oleh sejarah.

Irawaty: Tapi menurut Bung sendiri bagaimana?

Hafis     : Pendapat saya tetap sehaluan dengan karya saya Pikiran Orang Indonesia. Katakanlah, Soeharto tidak terlibat dalam peristiwa G30S, tapi sebagai tentara, dia harus bertanggungjawab untuk mengamankan situasi kondisi pada kekisruhan tahun 1965 itu. Bukan malah mengambil keuntungan dari situasi yang kisruh dan keruh itu. Kalaupun dia tidak menyebarkan fitnah tentang adanya pihak yang terlibat, karena memang belum dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, seharusnya dia tidak membiarkan fitnah itu merebak dan merajalela di mana-mana. Apalagi setelah dia tampil sebagai orang nomor satu. Tidak sedikit penulis yang terkesan pada senyumnya yang khas. Tapi saya katakan bahwa Firaun atau Ramses II pun seringkali tersenyum bahkan menimang-nimang bayi di hadapan rakyatnya. Kalau dia hidup di zaman gambar dan foto saat ini, tentu banyak fotografer yang mengabadikan senyumnya Firaun. Tapi saya berpendapat, bahwa sejarah hidup seorang pemimpin harus dilihat seperti sebuah film yang mencapai endingnya, bukan hanya potongan-potongan foto atau gambar yang diedit semau-maunya.

Irawaty: Menurut Bung sendiri, bagaimana ending Soeharto, mantan presiden Republik Indonesia itu?

Hafis    : Kalau dia mau berjiwa besar seperti Gus Dur, dia akan berani meminta maaf pada rakyat yang dizaliminya. Dan kesempatan untuk itu sangat memungkinkan. Selama bertahun-tahun dia sekarat dan berbaring di tempat tidur. Barangkali Tuhan masih memberi tempo dan jeda waktu untuk menyatakan permintaan maaf, sebagaimana Gus Dur pernah meminta maaf. Itulah yang membuat Gus Dur tetap tercatat sebagai pemimpin besar hingga saat ini, dan karya-karya beliau sangat dikenang dalam benak dan memori kita semua. Padahal, dia hanya memimpin Indonesia dalam beberapa tahun saja. Tapi apa yang bisa kita teladani dari pemimpin yang berkuasa selama 32 tahun itu? Bapak pembangunan? Tukang material? Atau, maaf, kuli panggul atau kuli bangunan? Lalu, pemikiran apa yang bisa kita ambil hikmahnya dari pemimpin yang berkuasa selama 32 tahun itu? Mungkin hanya orang-orang tertentu yang mengenang jasanya, ketika melihat mukanya di bokong truk sambil berkata: ‘Enak jamanku, toh?’

Irawaty: Dalam novel Bung, Pikiran Orang Indonesia, sosok Soeharto seakan digambarkan sebagai Muawiyah atau pembunuh Ali bin Abi Thalib, bukankah begitu?

Hafis    : Bukan. Pembunuh Ali itu adalah seorang penganut Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam. Tadinya dia seorang yang salih dan taat beragama, tapi kemudian dia merasa dengki pada langkah perdamaian yang diambil para pengikut Ali dan pengikut Muawiyah. Memang tidak ada bukti ilmiah bahwa perlakuan Ibnu Muljam itu atas skenario Muawiyah, sebagaimana tidak ada bukti ilmiah bahwa Bung Karno telah dimatikan hak-hak politik bahkan hak hidupnya atas perintah Soeharto. Tetapi, bukti-bukti ilmiah bahwa perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang selama 32 tahun Soeharto berkuasa, telah menjadi catatan sejarah yang diketahui kita semua. Semuanya itu berakar dari pembiaran adanya fitnah dan rumor tentang PKI sejak tahun 1965. Soeharto bahkan meneruskan rumusan PKI itu menjadi GPK, OTB, makar, subversif dan seterusnya, yang mengakibatkan ribuan orang dipenjara dan terbunuh tanpa proses pengadilan. Padahal, di dalam Alquran jelas, bahwa kebencian kita terhadap suatu kaum tidak boleh membuat kita berlaku tidak adil terhadap kaum tersebut. Itulah esensi dari novel saya Pikiran Orang Indonesia. Dan orang yang bernama Soaharto itu tak pernah meminta maaf sampai wafatnya. Padahal jelas masih ada jeda waktu baginya untuk meminta maaf. Tapi sayang sekali, dia tidak melakukannya.

Irawaty: Apakah itu juga yang membuat Bung Hafis menyebut nama Soeharto sepadan dengan Pol Pot, Franco maupun Stalin?

Hafis    : Ya, masalah penguasa dan ketidakadilan penguasa itu adalah soal perbuatan manusia. Bukan soal dia beraliran, berideologi atau beragama apapun. Sebab, hanya perbuatan dan perlakuan yang kelak menentukan pertanggungjawaban dia di mata sejarah. Dalam mahkamah sejarah, pada akhirnya penilaian manusia akan paralel dan sehaluan dengan penilaian Tuhan. Jika menurut Tuhan, orang itu baik, maka catatan sejarah akan dibaca umat manusia bahwa dia adalah figur yang baik. Tapi jika menurut Tuhan dia itu jahat, maka perjalanan waktu akan menentukan bahwa dia itu seorang penjahat. Dan tidak ada yang membelanya, kecuali orang-orang berhati jahat juga, atau mereka yang belum tahu dan belum paham tentang kebenarannya. Tetapi, oleh perjalanan waktu, masyarakat kita akan paham juga pada akhirnya. Tenang saja. Yang penting, kita harus selalu konsisten pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran…. (*)

LAINNYA

Kucing Itu Menyatukan KembaliĀ 
Rabu, 24 Nov 2021 | 11:35 WIB
Kucing Itu Menyatukan KembaliĀ 
Budaya Literasi dalam Islam
Senin, 22 Nov 2021 | 14:14 WIB
Budaya Literasi dalam Islam
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Senin, 01 Nov 2021 | 08:57 WIB
Cerpen Habib Maksudi: Ketinggalan Dompet
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear
Rabu, 27 Okt 2021 | 11:36 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Penyerbuan di Kebun Solear

KOMENTAR

Wawancara Bersama Bung Hafis

INILAH SERANG

75 dibaca
Aset Milik Pemkab Serang Terkena Pelebaran Jalan Segera Dirampungkan Pemprov
74 dibaca
Pemkab Serang Fasilitasi Isbat Nikah 1.469 Pasangan Suami Istri
80 dibaca
Bupati Beri Semangat, Vaksinasi Anak di Kabupaten Serang Dimulai

HUKUM & KRIMINAL

160 dibaca
Begini Kronologi Pembuangan Bayi di Areal Pesawahan Pontang
261 dibaca
Polres Serang Tangkap Dua Pelaku Pembuang Bayi di Pontang
436 dibaca
Penemuan Bayi di Areal Sawah Gegerkan Warga Pontang

POLITIK

425 dibaca
Pilkada Kabupaten Serang 2024, KPU Ajukan Anggaran Rp107 Miliar
1124 dibaca
Pendukung Anies Dideklarasikan di Banten
1309 dibaca
Diskominfosatik Kabupaten Serang Ajak IPPNU Sinergi Adakan Literasi Digital

PENDIDIKAN

407 dibaca
Ratusan Kepala Sekolah di Pandeglang Dilantik
226 dibaca
Pemkab Serang Berikan Bantuan Sepatu untuk Siswa SDN Ujungtebu 3
Top