Jumat, 19 Oktober 2018

Wanita Cantik Diramal Kiai

(foto ilustrasi)
Jumat, 04 Mei 2018 | 16:32 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Alawi Al-Bantani

Penulis Peneliti pada program historical memory wilayah Banten

SAYA masih ingat ketika Kiai Chudori mengutip salah satu ayat dari surat Ibrahim di dalam Alquran bahwa, kata-kata yang baik itu bersifat abadi. Ibarat sebuah pohon yang akarnya kokoh menghujam ke dasar bumi, batangnya menjulang ke langit, menghasilkan buah-buah yang ranum dan manis pada setiap musimnya, yang akan memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi sang pemiliknya.

Ketika saya sedang asyik mendengar tausiyah beliau, tiba-tiba muncul seorang ibu muda bersama anak balitanya, mengeluh kepalanya pening seraya minta didoakan agar sudi kiranya Pak Kiai meramal (bukan melamar) tentang nasib hidup yang akan dijalaninya di pertengahan tahun 2018 ini.

“Emangnya saya ahli nujum atau paranormal,” sanggah Kiai Chudori sambil melemparkan senyumnya pada saya. Tapi, ketika memperhatikan ekspresi wanita muda itu yang seakan berharap, Kiai Chudori kemudian memerintahkan untuk membuka telapak tangannya, sambil katanya, “Kamu harus rajin solat, ditambah solat malam lebih baik, rajin menabung dan jangan boros, harus lebih sayang pada suami dan anak-anak.”

Tak berapa lama, ibu muda yang berkerudung merah itu menitikkan air matanya. Sambil setengah terisak ia pun mengatakan, “Benar Pak Kiai, saya ini boros banget. Kadang-kadang kalau melihat barang baru bawaannya pengen kredit  melulu. Minggu-minggu kemarin, kalau lagi ada acara bareng teman-teman, kadang-kadang saya juga lupa suami sama anak-anak… ya Allah, kadang-kadang waktu solat juga sampai kelewatan, Pak Kiai.”

Bagi saya, nasihat yang meluncur dari ucapan Pak Kiai itu sebanarnya biasa dan standar saja. Tapi kok sampai membuat sang pasien tersedu-sedu segala. Barangkali ibu muda itu sudah keranjingan melihat sinetron atau infotainment mengenai apa-apa yang akan terjadi di tahun “Anjing Tanah” ini. Bahkan terlampau percaya pada ramalan-ramalan mistik mengenai siapa sajakah artis yang akan ketemu jodohnya, atau yang akan meninggal dunia. Di awal tahun 2017 lalu sama saja, banyak juga peramal yang menebak-nebak dengan kartu tarotnya. Nyaris tebakannya sama. Dari ribuan artis di negeri ini tentu saja ada yang menikah di tahun apa saja, bahkan tidak sedikit artis berusia di atas 70 tahun yang berbaring bertahun-tahun karena penyakit, dan – kalau Allah menghendaki – bisa saja meninggal di awal tahun ini atau tahun depan dan seterusnya.

Anehnya, di awal tahun 2017 lalu, tidak ada satu pun peramal yang bisa menebak adanya pejabat selebritas (ketua DPR) yang menabrak tiang listrik saking tergagap-gagap ketakutan menghadapi perkara pengadilan. Ngakunya sih tidak bersalah, sampai-sampai mengirim surat kepada para kolega dan pengurus partainya bahwa ia ingin membuktikan kebenaran ucapannya. Akhirnya, dijebloskan juga selama 15 tahun di penjara, dan tidak ada juga peramal yang sanggup meramalkan nasibnya, meskipun bisa jadi, ada peramal yang punya kesetiaan tinggi terhadap Novanto.

Jika membuka internet, di YouTube ada peramal terkenal bernama Mama Ella, bicara panjang-lebar tentang peristiwa di tahun 2018 ini. Ada artis terkenal yang konon meninggal secara mendadak. Ada juga yang rumah-tangganya retak hingga bercerai. Apa yang dia ramalkan itu sudah terbukti semua kebenarannya. Tapi anehnya, beberapa waktu setelah adanyaperceraian sang artis terkenal, tiba-tiba ada peramal kondang yang mati secara mendadak juga. Dan Mama Ella tidak bisa meramalkan adanya peramal yang mati mendadak itu. Barangkali jumlah peramal tidak mencapai ribuan seperti halnya para artis di negeri ini.

Kiai Chudori sebagai pelayan umat, dan sebagai pengasuh ratusan santri di Banten ini, tentu tidak serta-merta mengusir para tamunya yang ingin diramal sambil mengatakan “musyrik” atau “kafir” segala macam. Dia juga bukan seperti Ibu Kishartati yang menulis opini di salah satu harian umum, lantas berani-beraninya mengkultuskan diri sebagai pemimpin Ibu Profesional Banten hingga merasa berwenang untuk menyesat-nyesatkan para penulis opini. Emangnya dia siapa, sampai berani melebihi kewenangan Tuhan (dan dapat bisikan dari siapa?).

Orang yang masih percaya ramalan sebenarnya orang yang masih hidup dalam bayang-bayang tradisi dan kebudayaan purba. Seketika itu, Kiai Chudori justru menembak saya apakah saya percaya pada ramalan? Saya berpikir keras selama beberapa jenak, kamudian jawab saya, “Karena adanya penyakit, kematian seseorang masih bisa diramal. Karena adanya gejala alam, kejadian bencana alam juga masih bisa diramal, termasuk gejala dekadensi moral kaum muda yang mudah saja ditebak adanya artis yang bercerai…”

Belum selesai saya bicara sambil terbata-bata, tiba-tiba dipotong oleh Kiai Chudori, “Kalau Anda percaya ramalan, solat Anda tidak diterima selama 40 hari!”

Saya menghempaskan punggung di kursi sambil menghela napas dalam-dalam. Entahlah, saya harus ngomong apa lagi kalau Kiai Chudori sudah nembak kayak begitu. Untung ibu muda berekerudung merah tadi sudah pamit sambil membawa sebotol air putih yang dibacakan doa-doa, serta tak lupa menyelipkan amplop di telapak tangan Pak Kiai.

Barangkali Kiai Chudori memandang saya sudah tidak lagi berpegang pada kebudayaan purba, hingga merasa berhak untuk ngomong ceplas-ceplos tanpa tendeng aling-aling. Lebih lanjut, beliau menyitir artikel yang pernah ditulisnya di harianKompas (24 April 2018) yang berjudul “Membangun Akal Sehat” bahwa, seandainya saya sebagai intelektual dan penulis opini – yang tulisannya dibaca ribuan orang – masih percaya pada ramalan-ramalan, apa jadinya dengan kemajuan peradaban Banten ini? Apa jadinya dengan tauhid dan keimanan jutaan warga Banten, kalau intelektualnya saja masih berpegang pada mitos dan ramalan-ramalan seperti itu?

Saya agak tersinggung mendengarnya, meskipun saya tetap menaruh hormat pada orang yang lebih sepuh dari saya. Tapi pikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dinyatakan beliau, seandainya ramalan itu selalu tepat menjadi kenyataan, lantas di mana letak kekuasaan Allah Yang Maha Tahu segalanya.

“Bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak sanggup meramal apa-apa yang akan menimpa hidupnya sendiri,” tambah Kiai Chudori lagi, “buktinya, ia pernah mengalami kekalahan telak pada waktu perang Uhud. Beliau juga pernah terluka sewaktu dilempari batu oleh kaum Thaif. Seandainya mampu memprediksi musibah yang akan menimpanya, boleh jadi beliau mengurungkan pergi ke Thaif, juga akan menolak perang Uhud.”

Saya percaya pada apa yang dinyatakan Kiai Chudori karena berdasarkan ayat Alquran dan hadis Nabi, ketimbang bergantung pada ramalan-ramalan yang berseliweran, baik di layar televisi maupun di internet. “Tapi ngomong-ngomong, ngapain juga Pak Kiai menyuruh ibu muda tadi untuk rajin solat, sampai menyuruh solat malam segala?”

“Daripada dia cengar-cengir main WhatsApp setiap malam, semakin kurang setia pada suami, bahkan semakin jauh dari Allah, masih bagus dipakai waktu itu untuk solat tahajud bermunajat di hadapan Allah Sang Pencipta, iya kan?”

“Tapi soal menunjukkan telapak tangan itu… juga mengenai air putih yang diberikan Pak Kiai?”

“Kalau itu kan soal akting saja… emangnya cuma artis doang yang bisa akting? Soal air putih di botol aqua itu, barangkali saja dia kekurangan minum air putih hingga kepalanya agak pening-pening. Kan air putih itu bagus untuk kesehatan, lebih bagus lagi jika meminumnya pakai bismillah…”

Saya tersenyum mendengar uraian Kiai Chudori, dan beliau pun membalasnya dengan senyum pula. Kadang-kadang saya berpikir, enak juga berprofesi jadi kiai. Meskipun kata orang-orang, saya harus banyak belajar untuk sampai ke maqam kiai, hingga melampaui maqam artis dan selebriti. Dengan pandangan menerawang, saya berpikir kalau seandainya kiai itu diibaratkan profesi, alangkah baiknya jika satu pesantren saling membesarkan hati pimpinan pesantren lainnya, dan bukan malah sebaliknya. Seperti membaca pikiran saya tiba-tiba Kiai Chudori menegur, “Jangan ngelamun, ayo makan pisang gorengnya,” seraya menyodorkan sepiring pisang goreng yang disediakan sang istri sejak tadi.

“Terima kasih, Pak Kiai.”

Sambil menyomot pisang goreng dari piring, Kiai Chudori menutup uraiannya bahwa, pada dasarnya hanya Allah Yang Maha Pasti mengetahui apa-apa yang akan terjadi. Bahkan tentang apa yang akan dialami nasib seekor semut di lubang tersembunyi sekalipun. Ada pelajaran berharga yang penting menjadi pegangan hidup kita, bahwa kebaikan yang kita lakukan saat ini pasti akan dibalas Allah dengan kebaikan pula. Dan keburukan yang kita lakukan saat ini pasti akan mendapat balasannya pula.

Prinsip inilah yang perlu dicamkan, hingga kita harus hati-hati dalam melangkah, berpikir, dan menimbang sebelum bertindak, meminta pertolongan Allah agar senantiasa kita ditunjukkan jalan yang benar, serta dijauhkan dari hal-hal yang tidak diridhoi oleh-Nya. Insya Allah. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Melumpuhkan Kekuatan Syirik
Senin, 15 Okt 2018 | 19:09 WIB
Melumpuhkan Kekuatan Syirik
Hoaks dan Rekam Jejak Anda
Kamis, 11 Okt 2018 | 17:05 WIB
Hoaks dan Rekam Jejak Anda
Jujur Itu Kekuatan
Selasa, 09 Okt 2018 | 19:14 WIB
Jujur Itu Kekuatan
Bahkan Dukun Terkena Disrupsi
Senin, 08 Okt 2018 | 16:58 WIB
Bahkan Dukun Terkena Disrupsi

KOMENTAR

Wanita Cantik Diramal Kiai

PEMERINTAHAN

220 dibaca
ASN Pemprov Banten jangan Main-main dalam Absen
271 dibaca
HUT Ke-492, Pemkab Serang Diminta Perkuat Ekonomi Desa
247 dibaca
Dilantik, Pj Walikota Serang Diminta Perbaiki Jalan

POLITIK

146 dibaca
Pemilu 2019, Andika Ajak Masyarakat Cek Data Diri Sebagai Pemilih
419 dibaca
Ratusan Buruh Cikoja Deklarasi Pemilu Damai 2019
328 dibaca
Serempak di 29 Kecamatan, KPU Kabupaten Serang Lakukan GMHP

HUKUM & KRIMINAL

292 dibaca
6 Oknum Anggota Ormas Pengeroyok Polisi Terancam 7 Tahun Penjara
312 dibaca
Pengguna dan Pengedar Narkotika, Tiga Warga Cilegon Diringkus
217 dibaca
Alfamart Dibobol Maling, Uang Rp60 Juta Raib

PERISTIWA

156 dibaca
Polres Serang Kota Sita 3500 Lebih Botol Miras
186 dibaca
Tim PFA Dompet Dhuafa Pulihkan Anak-anak Pasca Gempa-Tsunami Sulteng
220 dibaca
Warga Petir Ditemukan Tewas Gantung Diri

EKONOMI & BISNIS

177 dibaca
MoU dengan DP3AKKB, Bank Banten Dukung Pemberdayaan Perempuan
187 dibaca
Andika Launching Toko Online Industri Rumahan Sijelita
Top