Selasa, 19 November 2019

Usia Produktif Jangan Konsumtif

Minggu, 27 Okt 2019 | 20:43 WIB - Suara Pembaca

Oleh : Muhamad Sulaiman

INDONESIA sebagai salah satu Negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia yang kini menempati posisi 4 besar dunia dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa, melihat sumber daya manusia yang begitu melimpahnya, menjadi keunggulan tersendiri bagi dalam tumbuh kembang peradaban suatu bangsa, akan tetapi apabila Indonesia tidak dapat mengelola sumber daya yang besar tersebut dengan baik, maka siap-siap Indonesia akan menghadapi masalah yang cukup kompleks.

Namun sebagian besar SDM Indonesia terutama usia produktif  masih banyak belum terjamah dalam pengelolaan sumber daya, hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya usia produktif kini termakan oleh keadaan yakni dengan tergerusnya arus modernisasi dalam segala bidang, mulai  dari maraknya barang-barang dari luar negeri seperti, barang elektronik, fashion, dan masih banyak yang lainnya, sehingga membuat masyarakat khusus nya pemuda terlena dan terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan condong kearah hedonis.

Data Kemendikbud terakhir menunjukan jumlah konsumen penduduk Indonesia sebanyak 45 juta dan jumlah penduduk produktif mencapai 53 % dari total populasi, dengan usia produktif yang sangat melimpah menjadi keunggulan Indonesia dalam mengembangkan potensi sumber-sumber daya yang ada, sayangnya saat ini sebagian besar usia produktif  Indonesia hanya berperan sebagai pengguna saja.

Pada tahun 2030, jumlah konsumen akan meningkat menjadi 135 juta dan jumlah penduduk produktif akan meningkat menjadi 71%. Bagaimana perubahan lain akan terjadi pada masa depan Indonesia, khususnya pada Generasi Emas Indonesia? Pernahkah kita berpikir kedepan, misalnya berapa lama lagi NKRI akan eksis? Apakah ada jaminan bahwa negara Indonesia dapat eksis untuk 100 tahun lagi, 50 tahun lagi, 20 tahun lagi?

Pada tahun 2045, bangsa Indonesia akan memperingati 100 Tahun Indonesia merdeka. Bagaimana nasib bangsa Indonesia pada 100 Tahun Indonesia merdeka? Berdasarkan hasil analisis ahli ekonomi yang diterbitkan oleh Kemendikbud (2013) bangsa Indonesia akan mendapat bonus demografi (demographic bonus) sebagai modal Indonesia pada tahun 2045 akan mempunyai usia produktif (15-64 tahun) yang berlimpah. Inilah yang dimaksud bonus demografi. Bonus demografi ini adalah peluang yang harus ditangkap dan bangsa Indonesia perlu mempersiapkan untuk mewujudkannya. Usia produktif akan mampu berproduksi secara optimal apabila dipersiapkan dengan baik dan benar, tentunya cara yang paling strategis adalah melalui pendidikan.

 Bagaimana kondisi warga negara pada tahun 2045? Apa tuntutan, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi oleh negara dan bangsa Indonesia? Benarkah hal ini akan terkait dengan masalah kewarganegaraan yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat Indonesia secara luas? Melihat kondisi tersebut, maka jika kondisi tersebut terus berlangsung dikhawatirkan negara ini akan terus  menjadi ladang yang subur bagi pedagang-pedagang asing dalam memasarkan segala jenis produknya, terlebih lagi sumber daya manusia yang kurang memadai akan berdampak juga pada lapangan pekerjaan yang seharusnya diisi dan dikuasai oleh penduduk lokal akan digantikan oleh derasnya pekerja asing yang masuk  ke dalam negeri, hal ini disebabkan adanya proses globalisasi yang terus berlangsung.

Indikator dalam menentukan kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari rata-rata tingkat Pendidikan anggota masyarakatnya dan kualitas pendidikannya. Saat ini kualitas sumber daya manusia Indonesia sangat jauh tertinggal di belakang, jika kita bandingkan dengan perkembangan negara-negara dunia, bahkan dengan negara tetangga sekalipun. Menurut indeks pengembangan sumber daya manusia, Indonesia berada dibawah peringkat negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Philipina, dan Vietnam.

Melihat kondisi tersebut upaya yang harus didorong sesegera mungkin adalah melalui upaya-upaya pembenahan disektor-sektor strategis dalam memajukan kemampuan SDM, hal tersebut dapat dilakukan melalui jalur Pendidikan transformasional seperti Pendidikan advokasi yang siap untuk terjun langsung ke lapangan seusai lulus mengenyam pendidikan. Karena dari beberapa persoalan yang berkembang dimasyarakat bahwa Pendidikan advokasi masih kurang berperan dan diperhatikan dalam mendukung kompetensi pekerja di sektor strategis. Kemudian pemerintah perlu membuat pola-pola yang berkesinambungan dalam mengembangkan potensi usia produkif ke dalam beberapa sektor, seperti teknologi, pangan, kelautan dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan ketahanan nasional.

Untuk menyikapi persoalan tersebut tentu ini menjadi persoalan bersama kita sebagai sebuah bangsa, jika peluang itu dapat dimanfaatkan dengan baik maka peluang Indonesia sebagai negara yang kuat dalam ekonomi dan SDM  akan segera terwujud. Tentu hal ini harus diperkuat melalui Pendidikan dan juga Pendidikan karakter yang mesti ditanamkan kepada setiap warga negara dan meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang kaya, selanjutnya tinggal bagaimana upaya kita untuk mengelola segala sumber yang ada tersebut dengan sebaik mungkin. Harapannya dengan jumlah SDM yang berlimpah serta memenuhi kualifikasi yang mumpuni akan menjadi modal yang besar bagi kemajuan bangsa Indonesia kedepan. Wallahu’alam

Bagikan:

LAINNYA

Pesantren di Era Medsos
Kamis, 07 Nov 2019 | 16:39 WIB
Pesantren di Era Medsos
Perintis Pesantren Modern di Banten
Kamis, 24 Okt 2019 | 20:23 WIB
Perintis Pesantren Modern di Banten

KOMENTAR

Usia Produktif Jangan Konsumtif

PEMERINTAHAN

107 dibaca
DPMD Kabupaten Serang Bentuk BUMDes, Ekonomi Masyarakat Meningkat
142 dibaca
Diskominfosatik Kabupaten Serang Akan Sosialisasikan Wali Data

POLITIK

282 dibaca
Hanya Ingin Dampingi Tatu, Pandji Daftar ke Gerindra
185 dibaca
Tatu Ajak Demokrat Tuntaskan Pembangunan Kabupaten Serang

HUKUM & KRIMINAL

152 dibaca
Buruh Pabrik Bawa Satu Paket Sabu
154 dibaca
Ringkus Tiga Pelaku Curanmor, Polisi Temukan 24 Paket Sabu

PERISTIWA

198 dibaca
Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Polres Serang Perketat Pemeriksaan
214 dibaca
Kebakaran di Pasar Baros, 300 Kios Ludes Terbakar

EKONOMI & BISNIS

40 dibaca
PUPR Putuskan Uang Muka Rumah Bersubsidi Cuman 1 Persen
138 dibaca
BUMD Pemkab Serang Kelola Pelabuhan Swasta 
Top