Sabtu, 02 Maret 2024

Universalitas Al Qur’an

[Foto Ilustrasi]
Jumat, 16 Jun 2017 | 20:11 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Pujiah Lestari

Penulis Peneliti Historical Memories untuk Wilayah Banten

ACARA buka puasa yang diselenggarakan MUI Lebak akhirnya tidak sempat saya hadiri. Adzan magrib sudah bergema ketika melewati perempatan jalan Malang Nengah. Rombongan kami memutuskan untuk buka puasa dengan berbelanja takjil di trotoar jalan raya Multatuli, dilengkapi dengan makanan dan minuman khas Banten dengan berbagai jenis dan aneka rupa masakan yang terhidang. Saya memulai berbuka dengan bubur sumsum, dan setelah solat maghrib di masjid terdekat saya pun menyantap sate bandeng dengan nasi kuning pepes, dilengkapi dengan jeroan ayam yang begitu nikmat.

Satu hal yang luput dari perhatian rombongan kami, ketika saya membeli es buah kepada penjual yang nampaknya bermata agak sipit, sempat saya tanyakan, “Dari ratusan penjual makanan buka puasa di sekitar ini, apakah mereka asli warga Lebak?”
     “Ada beberapa yang warga Lebak, sebagian pendatang, dan sebagian lagi keturunan Cina, termasuk saya,” katanya terus terang.
     “Bapak sendiri muallaf bukan?”
     “Saya Kong Hu Cu, Mbak. Sudah bertahun-tahun saya jualan es campur tiap bulan puasa. Kalau Pak Rudi yang jualan penganan di depan Alfa itu, nah dia itu muallaf.” Sambil menunjuk ke arah sahabatnya yang sedang melayani para pembeli.
     “Bapak sendiri namanya siapa?”
     “Gunawan, nama asli saya Oey Hay Djoen.”

Melihat Pak Gunawan begitu cekatan melayani puluhan pembeli, saya dapat pastikan bahwa itulah tipikal khas warga keturunan Tionghoa dalam insting dagangnya. Hal itu mengingatkan saya pada Pak Slamet (bukan nama sebenarnya) yang juga keturunan Tionghoa, dan berhasil membuka counter HP selama beberapa tahun di depan masjid Al-Azhar. Ratusan pelanggannya dari kaum muslimin, belum lagi konsumen lepas yang berbelanja atau mengisi pulsa dan kuota internet selepas dari solat berjamaah.

Counter Pak Slamet tetap buka, malah menambah stok dagangnya ketika puluhan bus diparakir di depan masjid Al-Azhar untuk mengangkuti ribuan pendemo yang mendukung gerakan Habib Rizieq. Ketika ditanyakan kenapa Counter Pak Slamet tetap buka ketika ribuan warga menolak pencalonan Ahok sebagai Gubernur Jakarta, dia malah menjawab enteng, “Justru saya mendapat untung besar dengan aksi demo-demo itu. Para pembeli itu kan tidak ada yang tahu apakah saya pendukung Ahok atau Habib Rizieq. Kalau perlu, foto keduanya saya pasang di toko saya ini, hehe.” Konon sewaktu pemilu presiden beberapa waktu lalu, Pak  Slamet juga tak mau ambil pusing dengan hiruk-pikuk para partisan, hingga terpasang dua poster besar di counter-nya, yakni foto Jokowi di sebelahnya foto Prabowo sebagai rival politiknya.

Sikap egaliter untuk memandang orang lain sebagai manusia dan makhluk Tuhan, sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Karena itu di dalam surah al-Hujurat ditekankan istilah ‘Hai manusia’, dan bukan ‘Hai umat Islam’. Coba perhatikan ayat ke-13 dari surah al-Hujurat berikut ini: “Hai umat manusia, Kami telah ciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal di antara kalian.  Sesungguhnya derajat orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling tinggi nilai ketakwaannya. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”

Dalam Alquran, kualitas ketakwaan ternyata tidak dilihat dari suku bangsa apakah kita ini, juga bukan diukur apakah kita muslim atau non-muslim. Manusia bertakwa adalah hak bagi seluruh umat manusia. Tuhan Maha Teliti dalam menghisab amal kebaikan dan keburukan manusia, baik kita ini tergolong manusia tradisional, modern maupun postmodern. Baik kita adalah manusia kulit coklat yang tinggal di pedalaman Baduy Lebak, ataukah kulit putih langsat yang tinggal di New York AS.

Islam dan Sikap Egaliter

Suatu hari orang-orang Baduy Arab yang rajin menjalankan syariat agama, bertanya pada Rasulullah, apakah kami sudah tergolong hamba yang beriman ataukah belum? Jawaban Rasulullah tersurat dengan jelas pada ayat berikutnya (ayat ke-14 surah al-Hujurat) dengan redaksi yang langsung dipandu oleh Allah Swt.: “Orang-orang Baduy itu bertanya kepadamu (Muhammad) apakah kami sudah beriman, katakanlah bahwa mereka baru berislam (pasrah pada aturan), karena kualitas keimanan belum melekat dalam qolbu mereka. Tetapi jika kalian taat pada perintah Allah dan rasul-Nya, Dia akan membalas segala amal-amal kebaikanmu. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Kualitas keimanan dan ketakwaan yang digambarkan dalam jiwa Rasulullah begitu kentara dalam karya-karya Sayyidina Ali (Nahjul Balaghah), bahwa nilai ketakwaan itu melintasi batas-batas geografis suatu bangsa. Inilah yang dinyatakan pula oleh mahasiswa Untirta dalam dialog Tauhid beberapa waktu lalu, “Apakah Aristoteles dan Konfusius itu seorang nabi?”

Sebagai pembicara saya hanya menjawab “wallahu a’lam”. Saya kira tidak ada kiai atau ulama di Banten ini yang berhak menjawab kepastiannya apakah mereka nabi atau bukan. Memang mereka hidup sebelum zaman Rasulullah, karya-karya mereka juga begitu mulia dan agung dalam mengilhami jutaan umat manusia pada nilai kebaikan dan ketakwaan. Meskipun tidak bisa dipastikan apakah mereka tergolong nabi atau bukan. Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan menentukan kebenaran sejarahnya.

Untuk lebih menentramkan suasana dialog, saya mengutip Alquran (ayat 164 surah an-Nisa): “Dan Kami telah mengutus para rasul, dan sungguh telah Kami kisahkan sebagian mereka, tetapi juga sebagian lain tidak Kami kisahkan kepadamu.”

Sebagian ulama memperkirakan jumlah nabi yang tidak dikisahkan pada ayat tersebut mencapai ratusan orang, bahkan ada ulama yang menyatakan ribuan nabi yang tidak dikisahkan dalam Alquran. Apapun perbedaan pendapat pada kalangan ulama, yang jelas ayat tersebut mengajarkan kita pada persamaan hak dan anti sektarianisme. Karena itu tidak berhak kita mengklaim diri lebih mulia dan soleh ketimbang kelompok atau bangsa lain, seperti juga yang diperingatkan oleh Rasul, “Bangsa Arab belum tentu lebih mulia daripada bangsa-bangsa lain (al-ajam).”

Di sisi lain, perintah nabi akhir zaman agar di antara umatnya sanggup menuntut ilmu sampai ke negeri Cina, menunjukkan sikap egaliter hingga penekanan pada solidaritas internasional. Perintah menuntut ilmu agar melintasi batas-batas geografis tersebut, menunjukkan betapa Rasulullah secara implisit menyadari keterbatasan pengetahuannya sebagai hamba Allah, bahwa boleh jadi ada suatu bangsa di luar wilayah Arab yang telah banyak mengarungi samudera ilmu selama ribuan tahun sejarah peradaban mereka. Hingga tidak menutup kemungkinan bagi bangsa lain (termasuk Arab) selayaknya menimba dan menuntut ilmu dari bangsa-bangsa tersebut. (*)     

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Demokrasi di Indonesia  Menjelang Pemilu 2024
Jumat, 17 Nov 2023 | 16:27 WIB
Demokrasi di Indonesia  Menjelang Pemilu 2024
Peran Agama Dalam Proses Demokrasi
Jumat, 17 Nov 2023 | 09:54 WIB
Peran Agama Dalam Proses Demokrasi
Pemikiran Besar dan Ideologi-Ideologi Besar
Jumat, 17 Nov 2023 | 09:30 WIB
Pemikiran Besar dan Ideologi-Ideologi Besar

KOMENTAR

Universalitas Al Qur’an

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

774 dibaca
Bupati Serang: Pelantikan Jabatan Bukan Hak, Tapi Amanah
919 dibaca
Siap Amankan Pemilu 2019, Kapolres Serang Cek Ranmor

HUKUM & KRIMINAL

1343 dibaca
Penyelundupan 15.000 Baby Lobster di Bandara Soetta Digagalkan
1044 dibaca
Polda Tangkap 9 Tersangka Penyelundup Ganja 159 Kg antar Provinsi

POLITIK

1610 dibaca
PPP Akui Ikut di Koalisi Perubahan Bentukan PDIP
1576 dibaca
Target Golkar di 2024, Andika Tugaskan AMPI Banten Rangkul Milenial

PENDIDIKAN

1519 dibaca
35 Perpustakaan Sekolah di Kabupaten Serang Terima Sertifikat Akreditasi dari Pe...
1284 dibaca
Wali Kota Minta Pramuka Implementasikan Nilai Dasa Dharma
Top