Selasa, 23 Juli 2019

Tak Adalagi Semangat Baja di Krakatau Steel

[foto istimewa]
Kamis, 11 Jul 2019 | 14:23 WIB - Nasional

lBC, Jakarta - Di penghujung pemerintahan joko Widodo, satu demi satu BUMN dirundung masalah keuangan. Karena ekonomi yang sedang seret atau memang ada masalah serius. Salah satu yang mengemuka adalah PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Jauh-jauh hari, ekonom senior Rizal Ramli sudah mengingatkan pemerintah untuk menerapkan tarif anti dumping menghadapi serbuan baja China. Kalau itu dijalankan, PT Krakatau Steel (Persero) mungkin tidak terseok-seok seperti saat ini.

Dalam sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi nasional, Rabu malam (10/7/2019), Rizal memaparkan secara gamblang. Mulai dari pertumbuhan ekonomi China yang terjun bebas dari 12-14% menjadi hanya 6% dalam 25 tahun belakangan."Akibatnya, dari sisi industri baja, terjadi ekses capasity di China. Mau tak mau China banting harga baja, dumping. Mereka jual baja-baja dengan harga murah," paparnya.

Nah, Indonesia yang dipimpin Joko Widodo gencar membangun infrastruktur. Di sinilah pasar yang menggiurkan bagi industri baja China. Berbondong-bondong mereka masukan baja dengan harga dibanting. Urusan kualitas nomor buncit.
"Saya cek ke temen-temen yang kerja di proyek. Mereka bilang, kalau ingin murah pakai saja baja China, harga murah namun tidak jamin kualitasnya. Karena standar baja China lebih rendah ketimbang baja Krakatau Steel, Korea atau Jepang. Kalau mau yang kuat, biaya agak mahalan. Bisa pakai dari KS," beber mantan Menko Kemaritiman ini.

Logikanya, era Jokowi yang mencanangkan pembangunan infrastruktur besar-besaran, membawa berkah bagi Krakatau Steel (KS), selaku industri baja pelat merah. Kenyataannya justru terbalik. Malahan baja China yang kebagian rejeki nomplok.

Berdasarkan Laporan Tahunan 2018, beban keuangan KS mencapai US$112 juta. Bandingkan dengan 2011 yang angkanya masih bertengger di US$41 juta. Melonjaknya beban keuangan KS ini, diduga lantaran utang perseroan.

Hingga 2018, total utang perusahaan mencapai US$2,49 miliar. Terbagi atas utang jangka pendek US$1,60 miliar dan jangka panjang US$899 juta. Apesnya lagi, selama tujuh tahun berturut-turut, KS tekor.

Pada Kuartal I-2019, KS merugi US$62,32 juta atau setara Rp880 miliar. Kerugian tersebut melonjak dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$4,86 juta, atau setara Rp70 miliar. Perusahaan baja yang berdiri pada 1970 ini benar-benar sudah lampu kuning.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor besi dan baja pada 2018, mencapai US$10,245 miliar. Naik 28,31% ketimbang 2017 senilai US$7,985 miliar. Dan, baja China yang masuk ke Indonesia adalah yang terbesar, yakni hampir 60%.

Kenaikan impor besi dan baja tak bisa dianggap remeh, karena berkontribusi sebesar 6,45% terhadap total impor nonmigas sepanjang 2018. Impor besi dan baja pun memantik defisit neraca perdagangan sebesar US$8,57 miliar. Capaian ini merupakan yang paling jeblok sepanjang sejarah Republik Indonesia berdiri. Seratus delapan puluh derajat dengan neraca perdagangan 2017 yang surplus US$11,84 miliar.

Masih kata RR, sapaan akrab Rizal Ramli, pemerintah seharusnya menerapkan tarif anti dumping terhadap baja China. Dirinya pernah usulkan angka 25%. "Tahun lalu sudah saya usulkan, terapkan anti dumping tarif sebesar 25%. Kalau itu dilakukan, baja KS menjadi competitif. Artinya, infrastruktur kita maju, KS melaju. Tapi pemerintah enggak berani," ungkapnya.

Masalah yang tak kalah seriusnya, diingatkan Rizal, adalah relokasi sejumlah pabrik asal China, termasuk industri baja, serta impor pengangguran. Ketika perekonomian China terjun bebas, negeri Panda ini perlu melakukan relokasi pabrik dan mencarikan solusi pengangguran.

"Indonesia seharusnya mengantisipasi ini. Negosiasi dengan China batasi pekerjanya sampai 10%, seperti dilakukan Malaysia. Untuk relokasi pabrik, labeli sebagai made in Indonesia. Sehingga tidak terdampak perang dagang," terang Rizal.

Hebei Bishi Steel Group, industri baja asal China berencana investasi (relokasi) pabrik baja di Kendal, Jawa Tengah, senilai US$2,4 miliar. Perusahaan yang digadang-gadang terbesar di Asia ini, mendapat fasilitas tax holiday hingga 20 tahun.

"Kita punya menkeu terbalik. Menguntungkan investor dan kreditor asing tetapi merugikan rakyat dan negara kita. Misalnya pabrik baru dibangun di Kendal dapat tax holiday. Mereka bisa menjual baja lebih murah 25-35%. Dalam 10 tahun, KS bisa tergulung. Jadi memang pemerintah perlu ekstra hati-hati," ungkap mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini.

Carut marut masalah keuangan yang dialami KS ini, seharusnya menjadi pelajaran bagi Jokowi yang akan melanjutkan pemerintahan periode kedua. Bahwa, sektor industri dan perdagangan seharusnya tidak perlu dipisah.

Seperti dilakukan Jepang, Korea Selatan dan China yang menggabungkan kementerian perindustrian dan perdagangan. "Kalau ingin industri maju, tiru Jepang, Korea dan China, Mereka padukan industri dan perdagangan. Agar tidak jalan sendiri-sendiri," pungkas RR. [lnilahcom]

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Tak Adalagi Semangat Baja di Krakatau Steel

PEMERINTAHAN

628 dibaca
Silpa APBD Kabupaten Serang TA 2018 Capai Rp403 Miliar
1848 dibaca
Dinilai Sukses, Bupati Minsel Belajar Kelola BUMD ke Bupati Serang
1709 dibaca
Pemkab Serang Terapkan Sistem Berbasis Elektronik

POLITIK

824 dibaca
Tak Penuhi Kuorum, Paripurna DPRD Kabupaten Serang Batal Digelar
1871 dibaca
Pilkada Serentak 2020, Golkar Banten Prioritaskan Usung Kader
1777 dibaca
Eks Relawan Sebut Kepemimpinan WH–Andika Bergaya Otoriter

HUKUM & KRIMINAL

2344 dibaca
Orang Tua Kades di Kecamatan Ciruas Dibacok
1399 dibaca
Tiga Pelaku Curas Biasa Aksi di Wilayah KP3B Diringkus
1447 dibaca
Miliki Catatan Kriminalitas, Dua Perampok Asal Malaysia Tak Bisa Dibawa ke Indonesia

PERISTIWA

1816 dibaca
Bupati Serang: TMMD Bangkitkan Budaya Gotong Royong di Masyarakat 
1958 dibaca
Diduga Terlibat Jual Aset Negara, Kejari Didesak Usut Walikota Serang
1734 dibaca
Peringati HANI 2019, Bupati Serang Canangkan Program Bersih dan Aman

EKONOMI & BISNIS

373 dibaca
Soal Pasir Laut, Bupati Tatu Minta Kajian Tim Ahli Dipublikasikan
536 dibaca
Inilah Gadis di Balik Uang Digital Facebook
Top