Selasa, 22 Mei 2018

Status Menikahi Wanita Hamil, Sah atau Haram?

(foto ilustrasi)
Kamis, 26 Apr 2018 | 21:45 WIB - Mozaik Islami

BAGAIMANA status pernikahan wanita yang hamil di luar nikah dengan pria yang menghamilinya? Madzhab Syafi'i dan Hanafi menganggap sah pernikahan ini tanpa harus menunggu anak zina lahir. Dengan alasan tidak ada keharaman pada anak zina karena tidak ada nasab (keturunan).

Kompilasi Hukum Islam (KHI), Bab VIII Kawin Hamil sama dengan persoalan menikahkan wanita hamil. Pasal 53 dari BAB tersebut berisi tiga(3) ayat , yaitu : 1. Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dinikahkan dengan pria yang menghamilinya.

Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dulu kelahiran anaknya. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Keputuasan KHI di atas diperkuat oleh pendapat mayoritas ahli fiqh (jumhur) yang membolehkan menikahi wanita yang dihamilinya. Juga diperkuat oleh beberapa hadits sbb:

i. Dari Aisyah ra berkata, "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda, "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal." (HR Tabarany dan Daruquthuny).

ii: Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Isteriku ini seorang yang suka berzina." Beliau menjawab, "Ceraikan dia!." "Tapi aku takut memberatkan diriku." "Kalau begitu mut'ahilah dia." (HR Abu Daud dan An-Nasa'i)

iii: Dimasa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra, "Aku melakukan zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat. Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil menyitir ayat Allah), "Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina juga atau dengan musyrik'. Lalu Ibnu Abbas berkata, "Ayat itu bukan untuk kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka `ku yang menanggungnya." (HR Ibnu Hibban dan Abu Hatim)

iv: Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab, "Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri." Kalangan Sahabat Nabi yang membolehkan nikah dalam kasus ini antara lain: Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas.

Bagaimana dengan status anak tersebut? Status anak, menurut sebagian ulama, jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad nikah--berarti usia kandugan sekitar 3 bulan saat menikah, maka si anak secara otomatis sah dinasabkan pada ayahnya tanpa harus ada ikrar tersendiri. Namun jika si jabang bayi lahir sebelum bulan keenam setelah pernikahan--berarti usia kandungan lebih dari 3 bulan saat menikah, maka ayahnya dipandang perlu untuk melakukan ikrar, yaitu menyatakan secara tegas bahwa si anak memang benar-benar dari darah dagingnya. [lnilah]

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Dahulukan Mandi Junub atau Sahur Dulu?
Senin, 21 Mei 2018 | 20:42 WIB
Dahulukan Mandi Junub atau Sahur Dulu?
Kapolres Serang Buka Puasa Bareng Wartawan
Senin, 21 Mei 2018 | 18:51 WIB
Kapolres Serang Buka Puasa Bareng Wartawan
Tips Mengatasi Syahwat Bercinta di Bulan Ramadhan
Senin, 21 Mei 2018 | 08:37 WIB
Tips Mengatasi Syahwat Bercinta di Bulan Ramadhan
Budaya Membuka Aurat Jadi Pemandangan Lumrah
Minggu, 20 Mei 2018 | 23:54 WIB
Budaya Membuka Aurat Jadi Pemandangan Lumrah

KOMENTAR

Status Menikahi Wanita Hamil, Sah atau Haram?

BERITA TERKAIT

puasa dewan

PEMERINTAHAN

158 dibaca
Selama Ramadhan, Jam Kerja ASN di Lebak Seminggu 32 Jam
245 dibaca
326 Desa di Kabupaten Serang Bakal Dapat Mobil Ambulance
Ino Ratu Ria

POLITIK

206 dibaca
KPU Lebak Datangi PT Aksara Prima Grafika, Ada Apa?

HUKUM & KRIMINAL

163 dibaca
Pol PP Lebak Tegur Warteg yang Kedapatan Buka Usaha di Siang Hari
Top