Minggu, 24 Maret 2019
Suara Pembaca

Saya Tidak Tahu

Kamis, 01 Nov 2018 | 10:30 WIB
[Foto Istimewa]

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis  Alumni Untirta, pegiat organisasi Gema Nusa Banten

Ada seorang ustaz di suatu pesantren salafi (kobong) yang merasa keberatan jika tidak mampu menjawab pertanyaan santrinya. Padahal jika ia mau, mudah saja dibuka referensinya dari kitab-kitab kuning yang berderet-deret di lemarinya. Kalau tidak mampu menjawab juga, bisa saja minta tempo waktu, hingga si santri bisa datang dua atau tiga hari ke depan, untuk mendapatkan kepastian jawabannya. Kadang saya tak habis pikir, mengapa seorang ustaz maupun guru merasa keberatan untuk sekadar mengatakan, “Maaf, saya tidak tahu.”

Barangkali akan timbul kesan dalam hati muridnya, jika seorang guru mengatakan “tidak tahu” seakan muncul stigma negatif bahwa sang guru kurang pengetahuan, bodoh, dan sedikit ilmunya. Padahal seorang ulama besar Al-Mawardi menyatakan bahwa sifat orang bodoh justru kalau ia merasa gengsi mengatakan dirinya “tidak tahu”. Lebih lanjut Al-Mawardi menjelaskan, bahwa  kedudukan orang cerdas dan berilmu (alim) tidak akan jatuh dengan menyatakan dirinya “tidak tahu”, terhadap hal-hal yang memang tidak diketahuinya. Hal ini justru menunjukkan sikap jujur dan apa adanya, sekaligus menunjukkan kemuliaan dan kesucian hatinya di hadapan Allah.

“Orang yang lemah iman dan ilmu agamanya, justru akan merasa berat untuk mengakui bahwa dirinya tidak tahu. Ia merasa takut derajatnya turun dalam pandangan manusia, tapi tidak merasa takut kemuliaannya jatuh di hadapan Allah,” ujar Al-Mawardi.

Tidak mungkin manusia menguasai segala aspek dari maraknya ilmu pengetahuan di dunia ini. Ketika manusia menyadari bahwa dirinya tidak sanggup menguasai segala bentuk ilmu, maka dengan mengakui dirinya “tidak tahu” bukanlah suatu aib dan kekhilafan. Alangkah bodoh dan jahil jika manusia merasa dirinya serba tahu, bahkan berani menjawab sesuatu yang sebenarnya ia tidak tahu sama sekali duduk persoalannya.

Intelektual muslim dan ulama besar Imam Al-Ghazali pernah mengatakan, bahwa pahala orang yang mengaku dengan jujur bahwa dirinya tidak tahu atas jawaban dari persoalan yang tidak diketahuinya, itu sama saja dengan orang yang menguasai ilmunya serta menerangkan jawabannya. Di sisi lain, kejujuran untuk mengakui bahwa dirinya “tidak tahu” adalah suatu sikap hati-hati (wara’) terhadap ilmu yang diamanatkan Allah untuk menyampaikannya dengan benar.

Karena itu, kenapa kebanyakan kita merasa malu untuk berterus-terang mengatakan “saya tidak tahu” terhadap sesuatu yang memang tidak kita ketahui? Kenapa kebanyakan kita sering memaksakan diri berkata, berucap, bahkan menulis tentang sesuatu yang sebenarnya banyak yang belum kita ketahui secara pasti?

Kalau ulama dan orang bijak saja tidak gengsi mengatakan “saya tidak tahu”, kenapa justru kita sering malu-malu berterus-terang mengatakan tidak tahu. Emangnye siape kite ini? Padahal, menurut Al-Ghazali, ada konsekuensi yang teramat berat akan ditanggung oleh manusia jika mereka berani berfatwa yang tidak didasari dengan ilmu. Sifat orang-orang alim yang serba hati-hati (wara’) itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu. Sebab, orang bodoh akan serampangan mengatakan apa saja yang tidak diketahuinya, juga tidak mampu mengukur risiko dari perkataan dan perbuatannya.

Suatu ketika datang seseorang bertanya kepada ulama besar Imam Malik bin Anas, tetapi Imam Malik menjawabnya dengan kata “tidak tahu”. Beberapa hari kemudian ia datang lagi menanyakan hal yang sama, lalu dijawab lagi, “belum tahu”. Orang itu mengatakan bahwa dirinya akan keluar kota, dan mendesak Imam Malik agar memberitahukan jawabannya segera, tapi kemudian dijawab dengan agak kesal, “Masya Allah, kalau saya menjawab pertanyaan Anda dengan benar, tentu saya akan mendapat banyak pahala. Tapi masalahnya apa yang harus saya katakan, karena saya memang tidak tahu jawabannya?” (Hilyatul alimil mu’allim, hal. 63).

Ulama besar itu paham betul, jika ia menyampaikan sesuatu secara tidak valid, maka konsekuensinya akan menyebarlah kesalahan itu, dan bermutasi terus-menerus dari satu individu ke individu lain, bahkan dari satu generasi ke generasi sesudahnya. Maka, seorang ulama Salim bin Hilaly menegaskan pada murid-muridnya agar mereka belajar untuk berani mengatakan “saya tidak tahu”, dan jangan belajar untuk mengatakan “saya tahu segalanya”. Sebab, jika kita mengatakan “tidak tahu”, ada kemungkinan orang mengajari kita hingga kita menjadi tahu. Tapi jika kita selalu mengatakan “tahu”, maka orang-orang akan terus mencecar pada pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita tersudut hingga sampai pada titik mengatakan “saya tidak tahu”.

Ibnu Mahdi juga pernah menceritakan seseorang yang menemui Imam Malik, kemudian Imam Malik menjawab dengan singkat, “La adri” (Saya tidak tahu). “Wahai Malik, tolong beritahu jawabannya,” desak si penanya, “Sungguh saya telah melakukan perjalanan berbulan-bulan, diutus oleh masyarakat kami untuk menemui Imam, lalu apa yang harus saya sampaikan kepada mereka nanti?”

Imam Malik menghela nafas dalam-dalam, kemudian jawabnya dengan santun, “Tolong sampaikan pada masyarakat Anda, bahwa Malik tidak tahu jawabannya.”

Paling berat bagi ulama-ulama besar sekelas Imam Malik, Al-Mawardi maupun Al-Ghazali, ketika diajukan persoalan yang menyangkut halal atau haram. Menurut mereka, memaksakan diri menjawab persoalan yang belum dikatahui kebenarannya, sama saja dengan menisbatkan perkara yang bukan syariah kepada hal-hal yang bersifat “syar’i”. Hal tersebut menyangkut hukum Allah, dan bila hukum Allah itu diselewengkan untuk kepentingan duniawi, sama saja artinya dengan memperjualbelikan ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah. Karena itu, kita mendengar adagium dari seorang ulama Banten bahwa, “Celaka bagi orang-orang yang hasratnya pada harta duniawi, tapi dengan memperjualbelikan agamanya.“ (wailun liman thalaba ad-dunya biddin).

Terkait dengan itu, Abu Hanifah, imam mazhab tertua dari empat mazhab terkenal, di usia senjanya pernah didatangi beberapa orang yang ingin bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama. Dari semua pertanyaan itu, ada 9 masalah yang tidak sanggup ia jawab.

“Kenapa Imam mengatakan tidah tahu?” tanya mereka.

“Tidak tahu adalah bagian dari ilmu,” jawab Imam Abu Hanifah. (*)

LAINNYA

Santri Banten Sepulang Umroh
Kamis, 14 Mar 2019 | 15:24 WIB
Santri Banten Sepulang Umroh
Bila Sejarah Ditinggalkan
Senin, 11 Mar 2019 | 14:18 WIB
Bila Sejarah Ditinggalkan
Perjalanan Umroh Santri Banten
Selasa, 05 Mar 2019 | 15:00 WIB
Perjalanan Umroh Santri Banten
Kasta Tertinggi di Banten
Selasa, 05 Mar 2019 | 12:03 WIB
Kasta Tertinggi di Banten

KOMENTAR

Saya Tidak Tahu

PEMERINTAHAN

6740 dibaca
Soal Tiga Guru Dilantik jadi Pejabat, Gubernur WH: Apa, Apa?
5891 dibaca
Guru Diangkat jadi Pejabat, Ombudsman Sebut Melanggar SE MenPAN- RB
1716 dibaca
Ini 202 Nama Pejabat Pemprov Banten yang Dilantik
dvvdv wagub

POLITIK

594 dibaca
Gubernur Wahidin Ajak Warga NU Banten Dukung Ma'ruf Amin di Pilpres
474 dibaca
Pelapor ASN Dukung Calon DPD RI Anak Gubernur Banten Diperiksa Bawaslu
194 dibaca
Survei Demokrat: Masyarakat Tidak Puas atas Kinerja Gubernur dan Wagub Banten

HUKUM & KRIMINAL

257 dibaca
Personil Polsek Cikande Berhasil Selamatkan Uang Nasabah Rp80 Juta
244 dibaca
Kepergok Akan Mencuri, Warga Lampung Tewas di RSUD Serang

PERISTIWA

226 dibaca
BNN Banten Musnahkan 10 Kg Sabu Senilai Rp10 Miliar
Top