Senin, 27 Mei 2019

Santri Banten Sepulang Umroh

[foto ilustrasi/net]
Kamis, 14 Mar 2019 | 15:24 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Ahmad Subahi dan Rois Mekar Arum

Penulis Santri Pondok Pesantren Al-Bayan dan Alfafa, Rangkasbitung, Lebak

Rencana keberangkatan kami bersama 60 santri Al-Bayan dan Alfafa, dan para guru pembimbing, dilaksanakan pada hari Senin, 4 Februari 2019. Karena itu, sehari sebelum keberangkatan, kami sepakat berpuasa sunah, kemudian berbuka puasa bersama di sore harinya, yang dibimbing langsung oleh K.H. Eeng Nurhaeni dan keluarga besar pondok.

Tausiyah menjelang keberangkatan, disampaikan oleh pemimpin pondok Darur Rosyid (Jakarta) di aula utama, dan kami pun mendengar wejangan perihal keteguhan hati, kesabaran, dan rasa syukur yang harus dipanjatkan kepada Tuhan yang mutlak memiliki kewenangan untuk memberangkatkan kami semua. Betapa banyak orang yang sehat badan, cukup materi, namun belum mendapat panggilan menunaikan ibadah umroh. Tapi sebaliknya, siapapun akan berlaku dalam ketentuan “kun fayakun” jika Tuhan sudah berkehandak atas sesuatu yang Ia inginkan. 

Kami pun berkumpul di Saphire Lounge Terminal 3 blok C Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat berangkat jam 16.00 sore menuju Madinah. Di Bani Saqifah, kami menyaksikan bangunan beratap yang pernah dipakai kabilah Bani Saidah, suku Khazraj. Di tempat itulah Abu Bakar pernah dilantik sebagai Khalifah untuk menggantikan Rasulullah. Kemudian, rombongan meluncur menuju museum Alquran. Ketika kami masuk di ruangan pertama susananya begitu ramai. Seketika kami menerima penjelasan dari pemandu, sampai masuk ke ruang berikutnya mendengarkan sejarah huruf hijaiyah dari yang masih polos tanpa titik dan harakat, kemudian berkembang sampai mudah dibaca secara umum.

Di ruangan ketiga, kami menyaksikan Alquran besar yang terbuat dari kulit kayu, berikut tempatnya yang terbuat dari potongan gading gajah. Di sekitar itu kami sempat menonton film pendek berdurasi hanya 5 menit, mengisahkan perjuangan Rasulullah yang mengangkat martabat manusia dari kaum Jahiliyah menuju cahaya yang terang benderang (minadz-dzulumati ilannur).

Setelah itu, kami menuju masjid QubaDalam sejarahnya kita mengenal masjid ini dibangun berdasarkan gotong royong dan swadaya para sahabat Nabi. Di Alquran, masjid Quba dikenal sebagai masjid yang didirikan berdasarkan “taqwa”. Mobil bus meluncur ke arah tenggara, sekitar 5 Km dari Kota Madinah. Sesampai di masjid tersebut, kami melaksanakan solat dua rakaat yang pahalanya sama dengan sekali mengadakan umroh.

Masjid ini adalah yang pertama kalinya dibangun atas bimbingan Rasulullah, pada tahun pertama setelah hijrah (622 Masehi). Di dalam surat at-Taubah (108) dijelaskan bahwa melaksanakan solat di masjid Quba identik dengan kualitas manusia yang membersihkan diri dari noda dan dosa. Dan Tuhan sangat mencintai orang-orang yang selalu introspeksi diri membersihkan dirinya. Selepas dari Quba, bus meluncur melintasi masjid Qiblatain, tempat berpindahnya Rasul, sahabat dan umat muslimin, dari yang semula menghadap Masjidil Aqsha (Palestina) pada waktu solat. Kemudian Rasul menerima wahyu yang memerintahkan agar berpindah kiblat ke arah Masjidil Haram (Ka’bah).

Tak lupa kami menyempatkan diri menuju kebun kurma sebagai salah satu tempat wisata yang favorit juga. Ada toko perbelanjaan di tengah-tengah kebun, dan para santri dapat membeli apa saja di sana. Cokelat dan permen berbagai rupa dan warna-warni adalah sasaran empuk bagi kami sebagai bangsa tukang jajan. Di sekitar kebun dan pertokoan, kami pun saling berfoto sambil menikmati rupa-rupa cemilan yang diproduksi oleh tangan-tangan terampil warga Madinah.

Setelah mengunjungi Jabal Magnet yang cukup unik, kami pun meluncur menuju Jabal Uhud. Di situ kami menyaksikan pemakaman umum para syuhada yang wafat sewaktu mengalami kekalahan di medan pertempuran. Termasuk makam Hamzah, paman Rasulullah, yang meninggal atas prakarsa dan strategi seorang wanita bernama Hindun. Ia membiayai Wahsyi untuk bergiat mengadakan training dan pelatihan menombak, sampai akhirnya berhasil menjatuhkan Hamzah dalam pertempuran. Para sahabat merasa iba dan sedih, tetapi Nabi meneguhkan hati mereka, bahwa kalah di medan pertempuran, tidak identik dengan kalah dalam peperangan yang sesungguhnya.

Setelah itu masjid Nabawi. Inilah tempat yang dinanti-nanti oleh kami semua. Sebuah masjid besar yang di dalamnya terdapat “Raudlah”, antara tempat Rasul memberikan tausiyah dengan kediaman beliau (yang kini menjadi makam beliau). Di masjid Nabawi, begitu indah dan sejuk, dihiasi pernak-pernik lampu hias di setiap sudut langit-langit, dengan karpet-karpet merah dan tebal yang menutupi ubin lantainya.

Di sekitar halamannya terdapat menara-menara tinggi dan indah disertai 250 payung-payung raksasa dengan teknologi canggih masakini. Kami merasa bersyukur dapat berziarah ke makam Rasulullah sekaligus berdoa dengan khusuk di depan Raudlah, sambil terus berzikir dan memohon syafaat kepada Rasulullah. Kemudian, Kiai Eeng mengajak rombongan menuju pekarangan samping Masjid Nabawi, tempat dimakamkannya para sahabat, tabiin dan para syuhada. Di pemakaman Baqi terdapat pula makam putera Rasulullah, Ibrahim bin Muhammad, sahabat Nabi Utsman bin Affan, Sayidina Abbas, Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Muhammad, Shafiyah (bibi Nabi) dan sebagainya.

Pada hari Kamis, 7 Februari 2019, kami menuju kota suci Makkah al-Mukarromah. Setelah mengambil miqat di Birr Ali, kami pun check in hotel lalu berkumpul di lobby hotel, mendengarkan santapan rohani dari wejangan K.H. Eeng Nurhaeni, kemudian menuju Masjidil Haram bersama-sama. Mulai sejak itulah kami melaksanakan rukun umroh yang paling utama, di antaranya thawaf mengelilingi Ka’bah, lalu melakukan sa’i antara Bukit Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali bolak-balik.

Pada malam Jumat, kami sempatkan waktu beribadah dan berdoa sekhusuk-khusuknya di sekitar Ka’bah, bangunan kubus persegi empat yang superunik, karena setiap menit dan detik tak lepas dari kumandang talbiyah membesarkan dan mengagungkan Allahu Akbar Sang Pencipta jagat makro alam semesta, sekaligus jagat mikro dari milyaran sel dan partikel terkecil yang bersemayam di dalam tubuh kita.

Ka’bah persegi empat dengan atap yang datar, berbeda dengan tempat-tempat sakral lainnya yang kebanyakan berbentuk segitiga dengan kuncup yang menjulang ke langit. Misalnya Piramida di Mesir, Kubah di Roma, Stupa di Borobudur dan India, Fuji di Jepang, Zikurrat di Babilonia, Menara Katedral di Eropa, Totem di suku-suku Indian, Gunung Olimpia di Yunani, Mahameru di India, termasuk Bukit Zion di Israel. Dalam acara city tour kali ini, kami senantiasa dibimbing Ustaz Misbah yang setia setiap saat. Ia memandu kami menuju tempat kelahiran Nabi, Suquq Lail di sekitar Bukit Abi Qubays, yang saat ini menjadi tempat perpustakaan. Di halaman muka gedung itu tertera tulisan “Maktabah Makkah al-Mukarramah”.

Setelah itu, bus melaju kencang menuju Jabal Rahmah yang terletak di tengah-tengah Bukit Arafah. Kami mendaki bukit Jabal Rahmah bersama-sama hingga mencapai tugu di ketinggian bukit itu. Konon, di sekitar tugu itulah tampat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah ratusan tahun terpisah, ketika mereka diturunkan Tuhan dari surga ke permukaan bumi ini. Kemudian, kami pun  menyempatkan diri menuju Jabal Nur yang di puncaknya terdapat Gua Hira, tempat diturunkan Alquran pertama kali (surat al-Alaq) yang memerintahkan umat manusia agar senantiasa menuntut ilmu: “Bacalah, bacalah, dengan nama Tuhanmu…”

Setelah melaksanakan solat subuh berjamaah di masjid yang terletak di kaki gunung tersebut, kami pun berupaya keras mendaki gunung yang tingginya hampir mencapai 400 meter di atas permukaan laut. Kami menuju tangga-tangga batu, menyaksikan pemandangan malam yang indah menawan dikelilingi kerlap-kerlip jutaan lampu di sekitar masjidil haram.

Sesampai di Gua Hira, kami saling berbincang membayangkan sosok Malaikat Jibril ketika menurunkan ayat pertama secara langsung kepada Rasulullah Saw. Seketika kami melaksanakan solat sunah sambil berkhalwat dan bertafakkur tentang penciptaan manusia dan seisi alam semesta ini. Subhanallah.

Pengalaman spiritual lainnya yang tidak kalah menarik, ketika kami berhadap-hadapan dengan wajah Ka’bah. Setelah lama mengamati indahnya jam raksasa zamzam tower (Albrast al-Bait) kami pun berdoa dengan khusuk di depan Multazam, Hijir Ismail, hingga Rukun Yamani. Kemudian berupaya keras menjangkau Hajar Aswad, sampai akhirnya kami pun berhasil menciumnya.

Hajar Aswad termasuk simbol ketakwaan dan keadilan, ketika bertikainya para kepala suku Arab memperebutkan kekuasaan. Secara politis, masing-masing merasa berhak menguasainya. Intrik politik semakin meruncing, sampai kemudian muncul kesepakatan bahwa seorang pemuda bernama Muhammad yang berhak menentukan keputusan akhir.

Para kepala suku pun didamaikan, dan masing-masing berhak untuk memegang ujung sorban dari empat sudut yang dibentangkan Muhammad. Pemuda ini kemudian dijuluki “al-Amin”, tanpa kehendak untuk berkuasa, tanpa berambisi pada kekuasaan dan kedudukan duniawi. Tetapi, ketika pada waktunya Allah berkehendak agar ia menjadi pemimpin, maka jadilah ia pemimpin dunia dan rahmat bagi sekalian alam. Subhanallah. (*)

Bagikan:

LAINNYA

Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Senin, 20 Mei 2019 | 15:53 WIB
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Politik dan Pemberhalaan Agama
Senin, 20 Mei 2019 | 15:10 WIB
Politik dan Pemberhalaan Agama
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan
Minggu, 12 Mei 2019 | 17:34 WIB
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan

KOMENTAR

Santri Banten Sepulang Umroh

PEMERINTAHAN

1569 dibaca
Inspektorat Data Ulang Fisik Randis di Distan Banten
428 dibaca
KASN Rekomendasi Sanksi 3 Pejabat Banten Dukung Calon DPD RI 
207 dibaca
Jamsosratu Dinilai Berhasil, Dinsos NTB Belajar ke Dinsos Banten

POLITIK

567 dibaca
3 Kader Golkar Banten Lolos ke Senayan, Andika Apresiasi Jaringan Relawan 
891 dibaca
Anak Gubernur Gagal ke Senayan, HMI Kawal Pelanggaran ASN Banten
3013 dibaca
Andiara Raih Suara Terbanyak Calon DPD Dapil Banten, Anak Gubernur Gagal

HUKUM & KRIMINAL

179 dibaca
Dua Spesialis Pencuri Rumsong Dibekuk Resmob
531 dibaca
Melawan, 2 Bandit Ganjal Kartu ATM Ditembak
1366 dibaca
Digerebeg, 4 Pengepul, Pengecer dan Pemasang Judi Togel Lebaran Dipenjara

PERISTIWA

413 dibaca
Dompet Dhuafa Bantu Korban Banjir Bandang di Lebak
661 dibaca
PGK dan GP2B Desak Pecat Kadindikbud Engkos dan Faturrahman
252 dibaca
Diduga Gelapkan Dana BAT, Puluhan Karyawan Demo Kantor Alfamart Serang

EKONOMI & BISNIS

227 dibaca
Ramadhan, Pemprov Banten Gelar Bazar Sembako Murah
1938 dibaca
Ini Dia Tips Memilih Baju Muslim Wanita Sesuai Syariat yang Harus Anda Ketahui
Top