Senin, 08 Maret 2021

Salah Kita Sendiri

Ilustrasi/Net
Selasa, 19 Jan 2021 | 09:39 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra

Seorang ahli syaraf dan otak (neurosains) dari Yale University Amerika Serikat, Steven Novella kerap memperingatkan para mahasiswanya agar berhati-hati – di era medsos ini – terhadap kemungkinan munculnya orang-orang yang berpikir satu arah dan satu perspektif saja. “Ketika mereka meyakini sesuatu secara membabi-buta, maka tak ada cara bagi kalian untuk menyampaikan informasi yang membuat mereka bergeser dari keyakinannya. Mereka juga menolak untuk memeriksa kejiwaan mereka, tetapi justru akan menggunakan perangkat apapun, mengulik informasi apapun, hanya untuk memperkuat pendapat serta membenarkan diri mereka sendiri.”

Secara pribadi, saya sendiri bukan cuma sekali dua kali berjumpa dengan orang-orang berkepala batu seperti itu. Tiap ketemu, baik di warung kopi (café), kios pangkas rambut, gardu ronda, hingga di teras-teras masjid, ia senangnya berdebat dan berdebat melulu. Saya sudah menyampaikan argumen semampu saya, berikut fakta-fakta pendukung yang saya miliki, tetapi ia tetap ngeyel tak mau menggeser keyakinannya sedikit pun. Padahal, tidak sedikit orang meragukan kapasitasnya, termasuk keyakinannya yang cukup aneh bagi kebanyakan orang.

Misalnya, saya mendebat orang yang begitu yakin bahwa di bawah Gunung Karang terkandung kekayaan Nabi Sulaiman, serta di puncak gunung itu tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa. Selain itu, ada lagi berpendapat bahwa orang-orang dari Baduy Dalam kelak akan melakukan pemberontakan hingga dari generasi mereka memunculkan sang pemimpin dunia. Kemudian, ada lagi yang berpendapat bahwa Tuhan hanya akan memilih 144 ribu orang sebagai penghuni surga. Di antara para penghuni itu tentu saja – dengan teramat yakin – dia sendiri adalah salah satunya. Lalu, setiap lawan bicaranya dengan mudah dicap sebagai penghuni jahannam.

Dalam keadaan seperti itu, seakan-akan saya sedang berhadapan dengan tembok tebal yang teramat sulit untuk dirobohkan. Secara tidak sadar, orang semacam itu hanya bertumpu pada mekanisme penalaran yang hanya mendukung apa saja yang diyakini sebagai kebenaran. Sementara, kebenaran lain dianggap musykil dan mustahil. Orang semacam itu akan merasa terganggu dengan adanya informasi yang berseberangan dengan tafsir yang mendukung pernyataannya. Artinya, nalarnya hanya terkoneksi dengan data-data yang hanya mendukung keyakinannya, bahwa apa yang dia percayai adalah yang paling akurat adanya.

Lebih tendensius lagi, orang semacam itu akan mudah meremehkan dan mengabaikan segala pendapat dan kepercayaan pihak lain (wong liyan). Misalnya, mereka yang berpendapat bahwa Candi Borobudur adalah hasil kreasi Nabi Sulaiman. Para pendukung mereka, jika dasar keyakinannya adalah dalil agama, mereka akan mencari informasi pendukung dari ayat Quran atau hadits Nabi yang ditafsir semaunya, serta menolak informasi dan bukti-bukti ilmiah apapun yang dianggap bertentangan dengan keyakinannya.

Bila mereka membaca paragraf di atas, biasanya mereka menyebarkan informasi lewat medsos kemudian bercuap-cuap dengan teman satu grupnya, lalu menganggap bahwa penulis opini ini termasuk lemah aqidahnya, dengan bukti dalil begini dan begitu dan seterusnya dan sebagainya. Mereka tidak sadar bahwa agama yang mulia ini (Islam) diawali oleh sang pembawa risalah yang berpikir sangat rasional dan ilmiah, serta menolak nalar-nalar emosional dengan cara-cara yang tidak santun dan beradab.

Sebaliknya, citra agama apapun justru akan terpuruk apabila sang pembawa misi (pendakwah) seenaknya menyampaikan dalil-dalil berdasarkan nalar emosional, apalagi jika dibarengi dengan dusta dan kebohongan yang sulit diterima oleh akal sehat.

Sesungguhnya, setiap ide dan gagasan, bahkan data dan bukti ilmiah apapun, memang menimbulkan perasaan positif dan negatif. Ia akan mengandung konsekuensi diterima atau ditolak oleh publik. Maka bersiap-siaplah, sebab ketika kita meluncurkan gagasan ilmiah, tentu akan dianggap ancaman bagi keyakinan mereka. Sehingga, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, mereka akan memblokir segala informasi yang ditafsir sebagai ancaman tersebut. Mereka hanya mau menerima informasi yang dianggap “ramah” bagi keyakinan kelompok atau grup mereka.

Dari sisi aqidah, mereka yang terlampau kritis menyikapi suatu aliran atau mazhab, akan mati-matian menolak pendapat mazhab lain yang berbeda dengan pendapat mazhabnya. Mereka akan sibuk mengumpulkan informasi sedapat mungkin, lalu segera menyimpulkan bahwa pendapat itu adalah bid’ah, sekuler atau neolib. Segala kesuksesan dan keberhasilan yang dicapai oleh pihak lain, segera akan dicarikan caranya untuk mendelegitimasi atau mengecilkan informasi perihal keberhasilan itu.

Pada prinsipnya, mereka itu – meminjam istilah Aa Gym – layak dinilai sebagai dobel SMS, yakni senang melihat orang susah, juga susah melihat orang senang. Rasulullah pernah mewanti-wanti umatnya agar berhati-hati dengan kedengkian dan kesombongan, karena ia akan menjadi “batu sandungan” bagi seseorang untuk mencapai pintu surga, betapapun ia seorang ahli ibadah. “Sifat dengki itu bisa menggerogoti kebaikan, bagaikan api yang menghanguskan kayu-kayu bakar,” demikian sabda Nabi.

Karena itu, saya bisa memahami ketika novel Perasaan Orang Banten menampilkan seorang tokoh yang angkuh dan pongah, biarpun si tokoh seorang seniman atau penyair. Juga kita bisa saksikan seorang berpredikat “haji” (Haji Mahmud) dengan sikap temperamentalnya yang kebangetan, sampai-sampai ia harus menanggung akibat dari sebab yang ia perbuat sendiri.

Tipikal semacam itu, biasanya gemar mengutak-atik kesalahan orang sekecil apapun. Dan pada saat bersamaan, sikap mengecilkan orang itu dalam upayanya untuk menutupi aib dan kesalahannya sendiri yang sangat fatal dan prinsipil. Dalam logika agama, kalau penguasa itu berani membunuh rakyat tanpa sebab yang dipertanggungjawabkan, maka akan mudah baginya untuk melakukan tindak korupsi dan penipuan terhadap rakyatnya sendiri. Artinya, kalau kesalahan besar saja berani ia lakukan, apalagi kesalahan yang berskala kecil dan ringan.

Novel Perasaan Orang Banten memang berbeda gaya tuturnya dengan para sastrawan penganut monisme dan pantheisme. Mereka berpendapat bahwa segala amal perbuatan manusia adalah kehendak Tuhan belaka. Bahkan, segala sesuatu adalah Tuhan itu sendiri. Setiap sebab maupun akibat adalah tanggungjawab Tuhan. Seakan-akan yang mengetuk pintu adalah Tuhan, termasuk sang tuan rumahnya juga Tuhan. Bahkan pintu dan bunyi ketukan itu sendiri adalah Tuhan juga.

Sedangkan dalam ajaran monotheisme, segala keburukan yang menimpa hidup manusia tak lain akibat ulah perbuatannya sendiri. Dan setiap manusia harus bertanggungjawab atas keburukan yang telah ia lakukan. Meski di sisi lain, Tuhan Maha Pengampun dan Pemaaf, jika manusia mau introspeksi diri atas kesalahan dan kekhilafannya.

“Sawa’un alaihim a’andzartahum amlam tundzirhum la yu’minun.” Demikian ayat Alquran mengingatkan kita. Sama saja bagi mereka, apabila kita beri peringatan ataupun tidak, tetap saja mereka yang keras kepala itu tidak akan mempercayai kebenaran. Segala kegaduhan dan keributan di media sosial menyadarkan kita betapa tidak mudah meluruskan dan mengajak orang di jalan kebaikan dan perdamaian. Tidak mudah bagi kita untuk memenangkan perdebatan, apapun topik permasalahan yang disampaikan.

Oleh karena itu, ketika nalar emosional bangsa ini terlibat terlalu intens selama ini, dapat dimengerti jika penduduk negara berjumlah ratusan juta jiwa ini, merasa kesulitan mencari penulis andal yang bisa diakui dunia. Juga kewalahan mencari beberapa gelintir pemain bulutangkis dan (hanya) sebelas orang pemain sepakbola, ketimbang bangsa-bangsa di negeri lain yang hanya beberapa juta jiwa saja. Lalu, masihkah kita mencari-cari kambing hitam untuk menyalahkan pihak lain? (*)

Penulis Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang

Bagikan:

LAINNYA

Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (2)
Minggu, 07 Mar 2021 | 21:10 WIB
Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (2)
Borong Tanah di Daerah Baduy
Jumat, 05 Mar 2021 | 22:32 WIB
Borong Tanah di Daerah Baduy
Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (1)
Kamis, 04 Mar 2021 | 17:46 WIB
Cerpen: Toko Cokelat di Pasar Cilegon (1)
Ternyata ini Jumlah Istri Seorang Muslim di Surga
Minggu, 21 Feb 2021 | 17:47 WIB
Ternyata ini Jumlah Istri Seorang Muslim di Surga

KOMENTAR

Salah Kita Sendiri
dinsos dewan ac as Fae SF

INILAH SERANG

78 dibaca
Balap Liar di Kibin Dibubarkan Polsek Cikande
Top