Kamis, 30 Januari 2020

Sakit Itu Memperkaya Ilmu

[foto ilustrasi/net]
Jumat, 20 Sept 2019 | 19:15 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Hafis Azhari
Penulis novel Perasaan Orang Banten dan Pikiran Orang Indonesia

NABI Muhammad pernah menyatakan bahwa “habbatussauda” (jintan hitam) dapat menyembuhkan segala-macam penyakit, kecuali jika Allah sudah menakdirkan ajal kematian.
Ada dua tipikal manusia yang berbeda dalam menyikapi penyakit atau rasa sakit. Sebut saja yang satu Fulan, yang satu lagi Falan. Si Fulan menjalani apa-apa yang dianjurkan agama dalam menghadapi penyakit yang dideritanya, yakni bersabar, berdoa, dan berusaha.

Fulan berdoa siang-malam agar Allah menyembuhkan penyakitnya. Ia juga pergi ke dokter yang dianggap cocok bagi pengobatannya. Penyakitnya cukup kronis sehingga dokter menyarankan agar minum tujuh butir obat 3x1 sehari. Fulan pun berbaring selama beberapa hari, minggu, bahkan sudah lebih dari satu bulan. Ia konsisten mengikuti petunjuk dokter agar banyak minum air hangat, tidak mengonsumsi es, rokok, kopi, hingga makanan yang pedas-pedas.

Obat sudah diminum, pantangan sedapat mungkin dihindari. Doa-doa dipanjatkan siang-malam, namun Allah belum juga berkehendak bagi kesembuhan penyakitnya. Ia terus istiqomah untuk menjalankan yang terbaik bagi kesembuhannya. Berusaha bersikap ramah pada setiap orang yang menjenguknya. Tidak banyak mengeluh, malah justru membesarkan hati para penjenguknya agar senantiasa opitimis menghadapi ujian hidup. Akhirnya, banyak hikmah dan ilmu yang dipetik setelah takdir Allah menentukan waktu tiga bulan bagi penyakit yang dideritanya. Selepas tiga bulan itu, Fulan sembuh total. Ia beraktivitas secara optimal, ilmu dan wawasan semakin matang, dan ia tetap konsisten sebagai seorang religius yang baik.

Beda dengan Falan yang selalu marah-marah dan mencak-mencak lantaran penyakit yang dideritanya. Ia banyak mengeluh dan mengaduh. Baginya, semua orang adalah musuh dalam selimut. Setiap orang yang menjenguk dicurigainya telah mengirim santet atau teluh. Ia merasa yakin bahwa gitu-gituan itu memang ada, sehingga tiap penjenguk yang hadir dicurigainya dengan muka cemberut. Ia tidak mau memakan makanan yang dikirim siapapun, takut mengandung benda-benda yang berunsur nila atau tuah. Makanan dari rumah sakit pun terasa pahit dan hambar di mulutnya.

Karena rasa frustasi dan kecurigaan berlebihan pada semua orang (makhluk Allah), maka ia pun malas berdoa bagi kesembuhannya. Pantangan dari dokter seringkali ia langgar. Setelah beberapa hari, obat pun berhenti ia konsumsi. Kerjaannya hanya marah dan uring-uringan di tempat tidur. Dokter merasa segan merawatnya. Saudara-kerabat juga enggan menjenguknya, takut kena damprat dan amarah. Tatapi, karena Allah menakdirkan ia sakit selama tiga bulan, maka sembuhlah ia setelah dirawat selama tiga bulan penuh.

Fulan dan Falan telah sama-sama menghadapi takdir Allah terserang penyakit, dan menjalani proses penyembuhannya selama tiga bulan. Yang satu konsisten berdoa dan berusaha secara optimal, hingga sembuh dari penyakitnya. Satunya lagi, menjalani proses kesembuhannya dengan mengumbar amarah dan kedengkian pada semua orang. Dua-duanya bisa sembuh setelah masa tiga bulan, dan menjalani aktivitasnya seperti sedia kala. Namun demikian, para pembaca yang berakal sehat dan berhati nurani, tentu akan sanggup membedakan siapakah yang lebih mulia derajatnya dalam pandangan Allah maupun manusia.

Lalu, ada lagi dua tipikal manusia yang berbeda dalam menyikapi penyakit dan rasa sakit yang dideritanya. Sebut saja, yang satu Filan, satunya lagi Folan. Kedunya menderita penyakit yang sangat kronis. Filan sudah menjalani pengobatan selama dua bulan lebih. Doa-doa berusaha dipanjatkan siang dan malam. Ia berusaha bersikap ramah kepada setiap penjenguknya. Meski demikian, penyakitnya terus menjalar ke sekujur tubuh, sampai kemudian ia berpulang ke rahmatullah setelah menjalani tiga bulan masa pengobatan.

Sementara itu, Folan bersikap masam dan cemberut pada semua orang, termasuk kepada dokter yang merawatnya. Jenis penyakitnya serupa dengan Filan, juga sama-sama kronis dan menjalani pengobatan selama dua bulan lebih. Ia tidak sempat berdoa, atau doa-doanya kurang optimal karena rasa tegang serta kedengkiannya pada semua orang (makhluk Allah). Pada bulan ketiga, sakitnya semakin parah, hingga kemudian ajal pun menjemputnya.

Filan dan Folan sudah ditakdirkan ajal kematiannya setelah tiga bulan masa pengobatan. Minum atau tidak minum obat, berdoa atau berpangku tangan, tetap saja ajal menjemputnya, karena Allah sudah mencatatnya. Usaha dan doa-doa yang dipanjatkan Filan secara optimal, tetap saja mengantarkannya ke pintu gerbang kematian. Tetapi, semua pembaca akan paham, kualitas hidup yang manakah yang lebih baik antara Filan dan Folan. Dan siapakah derajatnya yang lebih mulia dalam pandangan Allah maupun manusia.

Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang sakit atau yang sedang menjalani masa pengobatan. Sungguh hanya Allah Yang Maha Tahu, apakah dengan sakit yang diderita itu akan mengantarkan Anda pada kesembuhan, ataukah mengantarkan Anda ke pintu gerbang kematian? Saya bukan dalam kapasitas menghakimi apakah Anda berada dalam ketegori yang mulia ataukah hina. Sebagai hamba, saya tidak punya hak untuk mengklaim apakah Anda akan menjadi ahli surga ataukah neraka? Sesungguhnya, mulia di mata Allah – cepat atau lama – sudah pasti akan melahirkan kemuliaan di mata manusia. Tetapi, belum tentu sebaliknya.

Sekali lagi, selaku hamba Allah, saya tak punya kewenangan untuk menilai, apakah Anda seorang theis, atheis, ataukah sejenis manusia yang pintar membungkus atheisme dengan aksesoris keberagamaan yang bersifat kasatmata belaka? Bukankah hakikat iman yang sebenarnya adalah apa yang tersirat di dalam hati, serta dibenarkan oleh perilaku yang tenang dan sabar dalam menyikapi ujian hidup?

Jika kita menyikapi ujian Allah sebagaimana watak dan karakteristik Falan dan Folan, maka sejauhmana kualitas keimanan kita sebagai bangsa yang mengaku-ngaku beragama dan berpancasila sejati? Sebaliknya, jika kita meneladani watak dan karakteristik Fulan dan Filan, maka tak ada masalah dengan kesembuhan maupun kematian, sehat atau sakit, sukses atau gagal, menang atau kalah dan seterusnya.

Yang penting kita sudah berdoa dan berusaha seoptimal mungkin. Perkara bagaimana akhirnya, kita serahkan sepenuhnya pada keputusan Allah Yang Maha Menguasai dan Memiliki kita semua. Itulah yang disebut “Islam”, bertawakkal dan berserah diri pada Allah, setelah doa dan usaha diupayakan seoptimal mungkin. Ataukah sebagai orang Banten, akan terus-menerus hilir mudik antara timur dan barat, mukmin dan kafir, muslim dan musyrik. Di satu sisi mengaku-ngaku “muslim” tetapi di sisi lain tak mau berserah diri untuk melepaskan segala aksesoris jimat, takhayul dan segala amalan-amalan syirik lainnya?

Sahabat dan menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan kata-kata bersayap, “Tidak sama orang yang mencari kebenaran dengan orang yang mencari-cari kesalahan. Beruntunglah orang yang mencari kebenaran walaupun belum dicapainya, ketimbang orang yang mencari-cari kesalahan meskipun telah berhasil diraihnya.”

Ali bin Abi Thalib kemudian terbunuh oleh pedang seorang ekstrimis dan radikalis, bernama Abdurrahman bin Muljam, yang di depan pengadilan dia mengutip-ngutip ayat Alquran untuk membenarkan tingkah laku dan sikap anarkisnya.

Kematian yang indah dialami oleh Sayidina Ali, sang pembuka cahaya ilmu yang mewariskan karya monumental “Nahjul Balaghah”. Goresan pena dari Sayidina Ali ini terus-menerus menjadi rujukan para ilmuwan muslim, kaum sufi, para filosof dan sastrawan muslim sedunia. Karya itu sangat berharga bagi mereka yang mendedikasikan dirinya untuk berkiprah di dunia literasi dan tulis-menulis, sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga saat ini.

Sementara itu, Abdurrahman bin Muljam yang membunuhnya, seorang pemburu harta dan kekuasaan ini, terus-menerus dihantui oleh dosa dan kesalahan seumur hidupnya. Ia tidak melahirkan karya dan prestasi apapun, karena memang seseorang yang hidupnya masih diselimuti dosa masa lalu, tak mungkin punya kemampuan untuk berpikir lapang dan terbuka. Juga tak punya kekuatan untuk mengangkat pena sebagai sarana penting untuk berkarya bagi kemaslahatan umat. (*)

Bagikan:

LAINNYA

Korupsi Tindakan Mencela Masyarakat
Sabtu, 11 Jan 2020 | 18:00 WIB
Korupsi Tindakan Mencela Masyarakat
Kuliah Jalanan
Kamis, 21 Nov 2019 | 10:27 WIB
Kuliah Jalanan
Pesantren di Era Medsos
Kamis, 07 Nov 2019 | 16:39 WIB
Pesantren di Era Medsos
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Minggu, 27 Okt 2019 | 20:43 WIB
Usia Produktif Jangan Konsumtif

KOMENTAR

Sakit Itu Memperkaya Ilmu

PEMERINTAHAN

158 dibaca
Bupati Serang: Pembangunan 65 KM Jalan Selesai di 2021
247 dibaca
Bupati Serang: APBD Rp 3 Triliun Adalah Amanah Rakyat

POLITIK

68 dibaca
Bersama Gerindra, Tatu Yakin Tuntaskan Program Pemkab Serang
154 dibaca
Juni, KPU Buka Pendaftaran Cabup dan Cawabup Serang

HUKUM & KRIMINAL

48 dibaca
Buron Selama 6 Bulan, Pelaku Pencabulan Akhirnya Ditangkap
127 dibaca
Mau Jual Motor Hasil Curian, Khasan Ditangkap

PERISTIWA

281 dibaca
Banjir, Ratusan Rumah di Kecamatan Kasemen Terendam
490 dibaca
Tak Mampu Penuhi Mahar Janda Idamannya, Pria Ini Tewas Gantung

EKONOMI & BISNIS

27 dibaca
PBNU Kenalkan Keuangan Digital, Namanya NUcash
122 dibaca
Cara Memesan Tiket Kereta Berdasarkan Jenis Kelas di Pegipegi
Top