Selasa, 13 November 2018

Sabar Itu Kekuatan

[foto ilustrasi]
Selasa, 30 Okt 2018 | 06:40 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Hafis Azhari
Pendiri Gema Nusa, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

Ketika menjalani studi S1 di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Ustadz Abdul Somad mencermarti uraian dosennya Syekh Muhammad Jibril, saat ditanya perihal kezaliman Bani Israil di Palestina, yang pernah menembak mati beberapa ibu hamil, “Mengapa mereka tidak ditenggelamkan saja ke bumi, seperti yang pernah dialami kaum Nabi Luth atau Nabi Nuh?” tanya seorang mahasiswa dengan penuh emosi.

Sang dosen menghela nafas dalam-dalam, menahan emosinya, dan dengan suara lembut ia pun menjawab, “Kalau mereka ditenggelamkan dan dimusnahkan dari muka bumi ini, lalu melalui jalan apa kita akan masuk surga?”

Apakah kita semua perlu berjihad mengangkat senjata, berbondong-bondong mendatangi Palestina untuk memerangi mereka? Ternyata bukan konsep “jihad” seperti itu yang diteladani Rasulullah. Kalaupun berambisi untuk memusnahkan suatu kaum atau etnis tertentu, hal itu pernah dilaksanakan Raja Firaun (Ramses II) di Mesir, juga pernah dilakukan di zaman modern oleh penguasa Hitler di Jerman, Eropa Barat. Lalu, apakah kita berambisi untuk melakukan tindakan politik yang sama dengan Firaun maupun Hitler, dan itukah konsep jihad yang kita inginkan?

Erdogan, presiden republik Turki  sempat meneteskan air matanya saat menyaksikan alunan lagu berjudul “Atouna el-Toufoule” yang disenandungkan gadis Indonesia, Nissa Sabyan. Sambil menyaksikan lagu yang bertema impian anak-anak Palestina yang menjadi korban keganasan militerisme Israel itu, Erdogan tak tahankan diri hingga mengeluarkan komentarnya, “Mereka itu musuh terbesar umat manusia sepanjang masa.”

Pasang-surut perjalanan hidup kaum Yahudi, baik secara individu maupun sebagai bangsa dipergilirkan oleh Allah Swt. Di zaman tertentu mereka bernasib baik dan hidup berkemakmuran, tetapi di zaman lain mereka berada di bawah, dan hidup dalam ketertindasan. Ketika Rasulullah memimpin Kota Madinah, mereka tergolong masyarakat minoritas yang harus tunduk pada aturan sistem yang dibangun Rasul dan para sahabat Nabi.

Suatu kali terjadi perdebatan sengit antara seorang Yahudi yang memuji-muji kebesaran Nabi Musa, dengan seorang sahabat yang membesarkan kenabian Muhammad. Ketika pada puncak perdebatan itu, sahabat Nabi sempat khilaf dan menamparnya. Peristiwa itu dilaporkan ke hadapan Rasulullah, namun Rasul justru memperingatkan sahabat agar jangan membanding-bandingkan dirinya dengan Nabi Musa. Tidak boleh membesarkan yang satu dengan mengecilkan yang lainnya. Karena pada hakikatnya, tauhid yang diajarkan Nabi Musa kepada umatnya sehaluan dengan tauhid yang diajarkan Rasulullah kepada kaum muslimin.

Mungkin ada saja orang Banten yang membenarkan pikirannya sendiri, lalu berdoa dengan suara melengking, seperti yang tertera di media-media sosial: “Ya Allah, kenapa tidak Kau tenggelamkan orang-orang Yahudi ke dasar bumi? Kenapa harus masyarakat Aceh, Lombok, Palu, yang mayoritas muslim?”

Doa semacam ini adalah doa yang mengatur-ngatur Tuhan. Sedangkan Tuhan Maha Tahu urusan-Nya, Maha Tahu apa-apa yang dilakukan-Nya, juga Maha Tahu penyebab dan penyelesaiannya. Bukankah tidak ada musibah dan bencana yang menimpa manusia, melainkan pasti ada hikmahnya. Tidak ada musibah menimpa manusia tanpa tujuan baik dari Allah. Ketika kita mencela dan menjelek-jelekkan pihak lain sebelum adanya bukti nyata, ketika kita berburuk sangka kepada Allah karena musibah yang menimpa diri kita maupun orang lain, bukankah itu menunjukkan lemahnya kualitas iman kita?

Seringkali kita menimpakan pertanggungjawaban pada pihak lain ketika ditimpa ujian hidup, apalagi jika ujian itu berupa celaan, hinaan, atau ejekan. Tetapi bagi orang yang teguh dan konsisten di jalan Allah, ia akan berusaha sekuat-mungkin untuk menjaga lisan dan perbuatannya. Ia akan senantiasa menjaga etika di hadapan Allah, tidak mungkin mengatur-ngatur kehendak-Nya, tidak bakal menabrak-nabrak hak prerogatif Allah.

Berucap dengan mengharapkan orang atau kelompok lain celaka, bukankah itu etika yang salah dalam berdoa di hadapan Sang Pencipta? Anda tidak bisa mendoakan orang lain agar disempitkan rizkinya, karena rizki setiap manusia itu urusan Allah. Anda juga tak bisa mengharapkan suatu kaum tenggelam di dasar lumpur, kecuali jika Anda meminta dengan etika yang baik di hadapan Allah agar mereka diberi kesadaran atas perbuatan jahatnya.

Alkisah pada suatu hari di usia senjanya, Khalifah Abu Bakar bertanya pada anaknya Siti Aisyah, “Anakku, selama ini Ayah sudah berusaha keras untuk melakukan apa-apa yang diteladani Rasulullah di masa hidupnya, tapi bolehkah Ayah bertanya satu hal kepadamu?”

“Apa yang ingin Ayah tanyakan?” kata Aisyah.
      “Kira-kira, kebaikan apa yang pernah dilakukan Rasul, tapi Ayah luput untuk melakukannya?”

Siti Aisyah terdiam, kemudian terlintas dalam ingatannya ketika ia menyaksikan Rasulullah menyuapi roti ke mulut nenek pengemis buta, berdarah Yahudi, yang setiap hari mangkal di pojokan pasar Madinah. Nenek tua itu dikaruniai umur panjang, hampir 100 tahun. Setiap hari ia memaki dan menjelek-jelekkan Muhammad, tetapi nabi umat Islam yang memiliki al-akhlaqul adzimah ini, dengan sabar dan ikhlas menyuapi nenek buta itu.

“Apakah nenek Yahudi itu masih hidup?” tanya Abu Bakar.
      “Saya tidak tahu, Ayah.”
      Seketika itu, Abu Bakar bergegas ke pasar Madinah, menuju suatu tempat yang ditunjukkan Aisyah mengenai keberadaan nenek tua itu.

Rupanya nenek buta itu masih hidup, dan masih tetap mengemis di pangkalannya. Abu Bakar menanyakan beberapa hal kepada nenek Yahudi itu, membeli beberapa potong roti, kemudian menyuapkan ke mulutnya.
      “Siapa nama Anda?” tanya nenek buta itu.
      “Abu Bakar,” sambil menyuapkan sepotong roti.
      “Anda kenal orang yang namanya Muhammad?” tanya si nenek.
      Abu Bakar agak terkesiap, lalu menjawab pelan, “Ya, saya kenal sekali, Nek.”
      “Hati-hati dengan orang itu.”
      “Kenapa, Nek?”
      “Dia itu pembohong, tukang tipu, dia itu tukang sihir yang bisa mencelakakan siapapun. Awas, Anda ini orang baik-baik, jangan sampai tertipu dengan orang itu.”

Perkataan senonoh yang diucapkan nenek tua itu membuat Abu Bakar seakan kehilangan kesabarannya. Ia merasa sungkan menyuapkan roti untuk ke sekian kalinya. Kualitas keikhlasannya makin teruji. Kalaupun sesekali datang ke tempat itu, potongan-potongan roti yang disuapkan tidak seperti biasanya, agak kasar, dan dimasukkan ke mulut nenek dengan agak cepat dan seketika saja.

Perasaan nenek buta itu agak terusik, lalu berkata dengan ketus, “Kalau Anda ingin tahu, beberapa bulan lalu ada laki-laki yang sangat sopan menyuapkan roti ke mulut saya. Bicaranya lembut dan santun, sangat hormat kepada orang tua seperti kami. Setiap menyuapkan roti ke mulut saya, potongan-potongan rotinya dihaluskan terlebih dahulu, agar mudah saya telan, dan mudah pula dicerna oleh perut saya. Kalau Anda kenal, wahai Abu Bakar, tolong sampaikan salam saya kepada laki-laki itu.”

Seketika Abu Bakar berlinang air matanya, “Laki-laki itu sudah wafat, Nek?”
      “Sudah wafat? Siapakah dia?” tanya nenek berkaca-kaca.
      “Dialah Muhammad Rasulullah.”
      Nenek tua itu terperangah membayangkan akhlaq laki-laki yang terbiasa menyuapkan roti ke mulutnya, seakan tak pernah kehilangan kesabarannya. Ketika ia mendengar kabar dari orang-orang yang dapat dipercaya, bahwa laki-laki itu benar-benar Muhammad, nenek Yahudi itu tersungkur ke tanah, bersujud di hadapan Tuhan untuk mengakui kekhilafannya selama ini.

Sebelum berpulang ke rahmatullah, nenek tua itu sudah menyatakan keislamannya, ia bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bersaksi pula bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Subhanallah. ***

Bagikan:

LAINNYA

Doa Restu Untuk Caleg
Senin, 12 Nov 2018 | 22:10 WIB
Doa Restu Untuk Caleg
Ki Syam'un Setia pada Akal Sehat
Minggu, 11 Nov 2018 | 10:59 WIB
Ki Syam'un Setia pada Akal Sehat
Saya Tidak Tahu
Kamis, 01 Nov 2018 | 10:30 WIB
Saya Tidak Tahu
Banten Belajar Berdemokrasi
Jumat, 26 Okt 2018 | 07:41 WIB
Banten Belajar Berdemokrasi

KOMENTAR

Sabar Itu Kekuatan

PEMERINTAHAN

235 dibaca
Puluhan Pejabat Fungsional Pemprov Banten Dilantik
1029 dibaca
Perintah Perpres 16/2018, LPSE Dibentuk dalam Satu Badan/Dinas
217 dibaca
Lokakarya, Pemprov Bahas Pengurangan Kawasan Kumuh di Banten

POLITIK

264 dibaca
Caleg Golkar Dilarang Saling Menjelekkan dan Menjegal
210 dibaca
Dikukuhkan, Karya Nyata ICMI Ditunggu Masyarakat Banten
290 dibaca
Memilih Pemimpin di Pilpres 2019 Menurut UAS

HUKUM & KRIMINAL

146 dibaca
Di Pandeglang, Seorang Anak Bacok Ibu Tirinya Hingga Meninggal
632 dibaca
Sebar Ujaran Kebencian di Facebook, Warga Petir Ditangkap
340 dibaca
6 Oknum Anggota Ormas Pengeroyok Polisi Terancam 7 Tahun Penjara

PERISTIWA

106 dibaca
Melalui ARDEX-18, Provinsi Banten Siap Atasi Dampak Bencana
1183 dibaca
Mayat Laki-laki Membusuk di Rumah Kontrakan Gegerkan Warga Cikande
1781 dibaca
Di Waringinkurung, Polisi dan TNI Ini Kompak Gotong Keranda Mayat

EKONOMI & BISNIS

80 dibaca
Andika Ingin Ekraf Jadi Tulang Punggung Baru Perekonomian di Banten
102 dibaca
Selama Oktober 2018, Nilai Tukar Petani di Banten Alami Kenaikan
Top