Minggu, 21 Juli 2019

Rezeki Orang Banten Harus Berkah

[foto ilustrasi]
Selasa, 07 Agt 2018 | 20:04 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra

Penulis Pendiri dan Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang

Dua pemuda datang mengunjungi pesantren, bersilaturahim ke rumah saya, mengadukan berbagai hal mengenai taraf hidupnya yang konon kurang beruntung dan serba kekurangan. Sudah membanting tulang memeras keringat tetapi hasilnya begitu dan segitu saja. Sudah berdoa dan melakukan amalan tiap hari tetapi yang didapatkan tak kunjung meningkat. Di sisi lain, ada orang yang kualitas kerjanya nampak biasa-biasa saja, tetapi taraf hidupnya semakin meningkat, dan rezeki seakan memihak kepadanya. Lalu, kesimpulannya dapat mudah ditebak, dua orang itu seakan menyangsikan keadilan Tuhan, bahwa hidup ini seakan tak bermakna dan sia-sia belaka.

 Rasulullah bersabda bahwa untuk mendapatkan perkara dunia harus dengan ilmu, untuk memperoleh akhirat juga harus dengan ilmu, dan untuk meraih keduanya juga harus dengan kekayaan ilmu. Kerja pontang-panting tanpa didasari ilmu, sama saja dengan kerja rodi atau kuli panggul di terminal Pakupatan, stasiun Rangkasbitung maupun pelabuhan Merak. Tapi kerja yang didasari ilmu, tanpa disertai iman, juga akan berimplikasi pada kualitas rezeki yang tidak membawa keberkahan dan kebahagiaan.

Untuk lebih detilnya, saya uraikan kepada dua pemuda Banten tersebut, khususnya mengenai kualitas dan kategori rezeki, yang saya kira bukan rahasia lagi, karena secara eksplisit Alquran sudah menjelaskannya dengan lugas dan gamlang.

Dalam surat Hud ayat ke-6, ada kategori rezeki yang sudah dijamin oleh Allah bagi semua makhluk hidup, baik manusia, tumbuhan maupun binatang melata yang hidup di bawah tanah sekalipun. Bahkan seorang bayi di perut ibunya selama sembilan bulan, juga dijamin pemenuhan rezekinya oleh Allah. Di sisi lain, ada rezeki yang dihasilkan dari usaha dan jerih payah manusia, dan Allah akan memberikan sesuai dengan kemampuan dan kinerja seseorang.

Jika ia bekerja dengan jam kerja yang lebih banyak, tekun dan giat mengerjakannya, ditambah dengan ilmu yang dikuasainya, niscaya Allah akan memberikan lebih banyak ketimbang pekerjaan yang standar dan dilakukan oleh orang yang biasa-biasa saja.

Adapun rezeki berkualitas yang dijanjikan Allah akan bertambah terus dan terus, adalah rezeki orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah. Dan seperti yang termaktub dalam surat Ibrahim ayat ke-7, bahwa Allah berjanji akan menambah nikmat-Nya bagi orang-orang yang pandai bersyukur.

Kategori rezeki istimewa yang datang dari arah yang tak disangka-sangka tercantum dalam surat at-Thalaq ayat 2 dan 3:“Barangsiapa bertaqwa pada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi-Nya jalan keluar, serta memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Barangsiapa bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan cukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.”

Orang Banten sering menjuluki ayat-ayat di atas dengan istilah “ayat seribu dinar”. Banyak kiai dan orang pintar menganjurkan murid dan pasiennya agar rajin membaca ayat-ayat tersebut sehubungan dengan keinginan pada peningkatan rezeki, serta peningkatan taraf hidup seseorang. Rezeki yang datang dari arah yang tak disangka-sangka ini seakan ada elemen hoki di dalamnya. Sebenarnya dalam ajaran Islam, tidak ada elemen hoki dan keberuntungan yang datang secara tiba-tiba. Semuanya mesti ada sebab-musababnya. Segala nasib baik maupun buruk tak terlepas dari mata-rantai jejak-langkah dan perjalanan hidup seseorang, di mana ia menghadapi akibat dari apa-apa yang ia sebabkan terlebih dahulu.

Seorang istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar, sepintas ada elemen hoki yang datang pada dirinya dengan memancarnya mata air (oase) dari hentakan kaki bayinya (Ismail). Tapi seandainya ia tidak berjuang bolak-balik sebanyak tujuh kali dari bukit Shafa ke Marwa mencari-cari sumber air, siapa yang menjamin mata air itu akan muncul dari hentakan kaki anaknya? Dalam bahasa religius, kita wajib berjuang sekuat tenaga untuk meraih dan mencapai suatu tujuan. Adapun perkara hasilnya wajib kita serahkan kepada Allah Swt.

Boleh jadi, Allah juga akan tetap membiarkan hamba-Nya bila ia tidak mau bergerak untuk berbuat, hingga elemen hoki itu tidak diturunkan oleh para malaikat. Oleh karena itu, jika manusia kurang peka dan peduli pada fenomena yang ada, peluang sebesar gajah yang lewat di pelupuk mata, mungkin saja tidak kelihatan, dan tidak ia hiraukan. Tapi sebaliknya, peluang sekecil semut yang ada di seberang lautan, dalam pandangan orang yang peka dan peduli, ia akan berusaha untuk mencari-cari sampan dan berjuang menghampirinya.

Rezeki yang datang dari arah yang tak disangka-sangka – bila merujuk dari pengalaman Siti Hajar – tak lepas dari faktor “keterdesakan” orang beriman yang percaya pada rahmat dan kasih sayang Allah. Karena ketika waktunya tiba, Allah pasti akan menurunkan anugerah-Nya yang melimpah bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa dan istiqomah di jalan kebenaran. Kalau orang yang jahat dan zalim saja diberi peluang rezekinya oleh Allah, mustahil kita yang beriman dan berusaha berbuat baik, tidak dijamin oleh-Nya?

Suatu hari, beberapa sahabat yang hidupnya miskin pernah mengadukan nasibnya kepada Rasulullah. Mereka mengaku telah berjuang mencari nafkah dan penghidupan, tapi nilai kekayaannya tak pernah kunjung meningkat. Sementara beberapa sahabat lain yang juga melakukan perjuangan yang sama, tapi Allah begitu murah hati memberikan rezeki-Nya yang melimpah untuk mereka. “Maukah aku beritahu amalan yang membuat kekayaan kalian dapat melebihi mereka?” pancing Rasulullah.

“Tentu saja, ya Rasul,” jawab mereka dengan penuh antusias.

“Bacalah subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar, masing-masing sebanyak 33 kali.”

 Selang beberapa waktu, mereka pun mendatangi Rasul sambil menyatakan bahwa bocoran amalan tersebut telah sampai ke telinga orang-orang kaya, lalu mereka ikut pula mengamalkannya. Rasulullah tersenyum seraya menegaskan bahwa kemurahan Allah tiada terbatas, dan Dia memberi kelapangan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, serta memberi keterbatasan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Di sinilah letak kualitas sabar dan syukur bagi orang-orang beriman agar senantiasa mampu berserah-diri pada anugerah Allah, apakah anugerah itu berupa ujian kenikmatan ataukah ujian kesempitan dan keterbatasan.

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi orang-orang beriman untuk putus asa dan frustasi dari rahmat Allah, hanya karena dililit masalah ekonomi dan takut miskin. Jika ada orang Banten yang merasa depresi hanya karena soal utang atau kesulitan ekonomi, lalu melakukan tindakan anarki – entah dengan dalih jihad atau mati syahid – itu sama saja dengan tindakan kekufuran, karena merasa kurang yakin pada pertolongan Allah Yang Maha Kaya, Maha Pengasih dan Maha Memberi anugerah kepada setiap makhluk-Nya tanpa batas.... (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Mengungkap Logika yang Terbalik
Kamis, 18 Jul 2019 | 19:29 WIB
Mengungkap Logika yang Terbalik
Jimat Orang Banten
Senin, 08 Jul 2019 | 16:59 WIB
Jimat Orang Banten
Ketika Sastra Berpaling
Senin, 17 Jun 2019 | 21:09 WIB
Ketika Sastra Berpaling
Seberapa Waras Orang Banten?
Kamis, 30 Mei 2019 | 15:05 WIB
Seberapa Waras Orang Banten?

KOMENTAR

Rezeki Orang Banten Harus Berkah

PEMERINTAHAN

414 dibaca
Silpa APBD Kabupaten Serang TA 2018 Capai Rp403 Miliar
1677 dibaca
Dinilai Sukses, Bupati Minsel Belajar Kelola BUMD ke Bupati Serang
1705 dibaca
Pemkab Serang Terapkan Sistem Berbasis Elektronik

POLITIK

555 dibaca
Tak Penuhi Kuorum, Paripurna DPRD Kabupaten Serang Batal Digelar
1633 dibaca
Pilkada Serentak 2020, Golkar Banten Prioritaskan Usung Kader
1774 dibaca
Eks Relawan Sebut Kepemimpinan WH–Andika Bergaya Otoriter

HUKUM & KRIMINAL

2081 dibaca
Orang Tua Kades di Kecamatan Ciruas Dibacok
1164 dibaca
Tiga Pelaku Curas Biasa Aksi di Wilayah KP3B Diringkus
1257 dibaca
Miliki Catatan Kriminalitas, Dua Perampok Asal Malaysia Tak Bisa Dibawa ke Indonesia

PERISTIWA

1582 dibaca
Bupati Serang: TMMD Bangkitkan Budaya Gotong Royong di Masyarakat 
1760 dibaca
Diduga Terlibat Jual Aset Negara, Kejari Didesak Usut Walikota Serang
1732 dibaca
Peringati HANI 2019, Bupati Serang Canangkan Program Bersih dan Aman

EKONOMI & BISNIS

220 dibaca
Puluhan Perumahan Belum Serah Terima Fasos Fasum ke Pemkab
2826 dibaca
Ratusan Juta Kubik Pasir Laut Banten Bakal Dikeruk untuk Reklamasi
Top