Minggu, 20 Oktober 2019
Suara Pembaca

Revolusi Mental Negara Indonesia

Rabu, 09 Okt 2019 | 14:31 WIB
Sri Wulan Destriyani

Oleh: Sri Wulan Destriyani

Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta Jurusan Ilmu Politik

Mendengar kata revolusi tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan dalam pelajaran sejarah pun kita sering menggunakannya, seperti halnya revolusi industry, pahlawan revolusi, dan lain-lain. Revolusi adalah sebuah perubahan baik itu kearah yang lebih baik ataupun kearah yang lebih buruk, maka dari itu revolusi mental tidak selamanya menjadi suatu acuan perubahan kearah yang lebih baik, karena suatu kata revolusi bisa bermakna kearah yang lebih buruk semuanya tentu kembali lagi kepada diri masing-masing serta bagaimana seorang pemimpin melaksanakan tugas dan tanggung jawab serta amanah yang telah diberikan.

Perlu diketahui bahwasannya revolusi mental negara Indonesia pertama kali dicetuskan oleh Ir. Soekarno saat pidato kenegaraan mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Revolusi mental saat itu agar negara Indonesia menjadi negara yang berdaulat dalam aspek politik, dan mandiri dalam hal ekonomi, dan berkarakter dalam hal social budaya agar terciptanya negara Indonesia yang damai serta adil dan makmur dalam pelaksanaan kehidupan bernegara.

Mental memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh yang berhubungan dengan pikiran, akal, ingatan atau proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal dan ingatan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Masyarakat perkotaan akan berbeda dengan masyarakat di lingkungan pedesaan, lingkungan pesisir akan berbeda dengan lingkungan pasar, lingkungan pertanian akan berbeda dengan lingkungan industri dan begitu seterunya. Namun, dengan adanya keragaman latar belakang budaya, tradisi, warna kulit, etnis, suku, bangsa, bahasa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat heterogen tidak menjadi penghambat terwujudnya corak mentalitas yang  satu dan homogen karena dapat terikat dengan satu ungkapan kata indah,yaitu: Bhineka Tunggal Ika “Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu”. 

Lantas bagaimana Revolusi Mental yang terjadi di negara Indonesia?  Persoalan demi persoalan yang muncul menimpa bangsa Indonesia saat ini, pada dasarnya dilatar belakangi oleh mental individu sebagai masyarakat dan pemimpin negara yang mungkin bisa dikatakan lemah. Sekarang goodwill berpulang pada masing-masing individu, para pemangku jabatan dan lapisan masyarakat di negeri Indonesia tercinta ini. Pada sistem kepemerintahan banyak sekali permasalahan yang terjadi yang menyebabkan negara Indonesia semakin memiliki revolusi mental yang kurang baik, revolusi mental pemerintah yang semakin kacau hingga pada revolusi masyarakat Indonesia yang saat ini mudah terprovokasi oleh issue-issue yang belum jelas kebenarannya dan bahkan issue agama kerap sekali dibawa sebagai penghancur dan pembelaah masyarakat menjadi beberapa kubu. Banyak terjadinya kontroversi antara aparat negara dengan masyarakat, aparat negara yang seharusnya memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada masyarakat akan tetapi sangat bertolak belakang dengan kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Seringkali masyarakat mengharapkan adanya perubahan untuk menjadikan negara Indonesia lebih baik, namun yang terjadi jauh dari harapan.

Kenapa tidak banyak terjadi perubahan pada negara Indonesia ataupun para penguasa yang saat sekarang sedang porak poranda untuk saling mendapatkan kursi jabatannya, sebab mereka tidak ada tekad untuk merubah hidup bernegara dan cara menjalankan estafet kepemimpinan yang jauh lebih baik lagi. Pancasila hanya dijadikan sebagai formalitas dan benar-benar hanya sebagai ideologi negara, para penguasa menghalakan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. 

Untuk itu jika ingin melakukan perubahan tentu perlu adanya nilai-nilai yang dihayati karena tidak mungkin terjadi perubahan jika nilai-nilai yang dihayati itu tidak diupayakan melalui tekad.  Maka dari, itu jika bangsa Indonesia menginginkan perubahan maka tentu wajib baginya untuk menghayati nilai-nilai pancasila dan bertekad untuk mengimplementasikan nilai-nilai pancasila serta melakukan perubahan atas dasar dari nilai-nilai tersebut dan para pemimpin harus mampu memahami bagaimana memimpin dengan cara yang adil serta jujur dan tidak menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kekuasaan. 

LAINNYA

Pentingnya Masyarakat Memahami Politik
Senin, 07 Okt 2019 | 21:34 WIB
Pentingnya Masyarakat Memahami Politik
Krisis Kepakaran di Bidang Sastra
Sabtu, 05 Okt 2019 | 16:38 WIB
Krisis Kepakaran di Bidang Sastra
Penguasa dalam Sorotan Milenial
Kamis, 03 Okt 2019 | 18:17 WIB
Penguasa dalam Sorotan Milenial

KOMENTAR

Revolusi Mental Negara Indonesia
sayembara2

PEMERINTAHAN

153 dibaca
Pemprov Banten Terima Apresiasi dan Penghargaan dari Kemendagri
167 dibaca
Sosialisasikan SLRT, Layanan Sosial Kini Dilakukan Terpadu

POLITIK

679 dibaca
Didiskualifikasi, Balon Kades Garut Malah Kesurupan
117 dibaca
Rapatkan Barisan, Seluruh Dewan Golkar di Banten Diminta Solid

HUKUM & KRIMINAL

212 dibaca
Unit Reskrim Polsek Curug Tembak Gembong Curanmor
127 dibaca
Belum Nikmati Hasil Curanmor, Dua Pelaku Diringkus

PERISTIWA

68 dibaca
Bupati Serang Minta UPZ Maksimalkan Penerimaan ZIS
230 dibaca
Temui Massa Aksi Demo, Bupati Serang Jawab Semua Tuntutan

EKONOMI & BISNIS

105 dibaca
Musim Kemarau, PDAM Tirta Albantani Alami Kerugian Capai Rp5 Miliar
47 dibaca
Andika Jajaki Ekspor Gula Aren dan Manggis via Platform Digital
Top