Senin, 01 Juni 2020
Suara Pembaca

Revolusi Mental Negara Indonesia

Rabu, 09 Okt 2019 | 14:31 WIB
Sri Wulan Destriyani

Oleh: Sri Wulan Destriyani

Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta Jurusan Ilmu Politik

Mendengar kata revolusi tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan dalam pelajaran sejarah pun kita sering menggunakannya, seperti halnya revolusi industry, pahlawan revolusi, dan lain-lain. Revolusi adalah sebuah perubahan baik itu kearah yang lebih baik ataupun kearah yang lebih buruk, maka dari itu revolusi mental tidak selamanya menjadi suatu acuan perubahan kearah yang lebih baik, karena suatu kata revolusi bisa bermakna kearah yang lebih buruk semuanya tentu kembali lagi kepada diri masing-masing serta bagaimana seorang pemimpin melaksanakan tugas dan tanggung jawab serta amanah yang telah diberikan.

Perlu diketahui bahwasannya revolusi mental negara Indonesia pertama kali dicetuskan oleh Ir. Soekarno saat pidato kenegaraan mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Revolusi mental saat itu agar negara Indonesia menjadi negara yang berdaulat dalam aspek politik, dan mandiri dalam hal ekonomi, dan berkarakter dalam hal social budaya agar terciptanya negara Indonesia yang damai serta adil dan makmur dalam pelaksanaan kehidupan bernegara.

Mental memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh yang berhubungan dengan pikiran, akal, ingatan atau proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal dan ingatan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Masyarakat perkotaan akan berbeda dengan masyarakat di lingkungan pedesaan, lingkungan pesisir akan berbeda dengan lingkungan pasar, lingkungan pertanian akan berbeda dengan lingkungan industri dan begitu seterunya. Namun, dengan adanya keragaman latar belakang budaya, tradisi, warna kulit, etnis, suku, bangsa, bahasa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat heterogen tidak menjadi penghambat terwujudnya corak mentalitas yang  satu dan homogen karena dapat terikat dengan satu ungkapan kata indah,yaitu: Bhineka Tunggal Ika “Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu”. 

Lantas bagaimana Revolusi Mental yang terjadi di negara Indonesia?  Persoalan demi persoalan yang muncul menimpa bangsa Indonesia saat ini, pada dasarnya dilatar belakangi oleh mental individu sebagai masyarakat dan pemimpin negara yang mungkin bisa dikatakan lemah. Sekarang goodwill berpulang pada masing-masing individu, para pemangku jabatan dan lapisan masyarakat di negeri Indonesia tercinta ini. Pada sistem kepemerintahan banyak sekali permasalahan yang terjadi yang menyebabkan negara Indonesia semakin memiliki revolusi mental yang kurang baik, revolusi mental pemerintah yang semakin kacau hingga pada revolusi masyarakat Indonesia yang saat ini mudah terprovokasi oleh issue-issue yang belum jelas kebenarannya dan bahkan issue agama kerap sekali dibawa sebagai penghancur dan pembelaah masyarakat menjadi beberapa kubu. Banyak terjadinya kontroversi antara aparat negara dengan masyarakat, aparat negara yang seharusnya memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada masyarakat akan tetapi sangat bertolak belakang dengan kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Seringkali masyarakat mengharapkan adanya perubahan untuk menjadikan negara Indonesia lebih baik, namun yang terjadi jauh dari harapan.

Kenapa tidak banyak terjadi perubahan pada negara Indonesia ataupun para penguasa yang saat sekarang sedang porak poranda untuk saling mendapatkan kursi jabatannya, sebab mereka tidak ada tekad untuk merubah hidup bernegara dan cara menjalankan estafet kepemimpinan yang jauh lebih baik lagi. Pancasila hanya dijadikan sebagai formalitas dan benar-benar hanya sebagai ideologi negara, para penguasa menghalakan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. 

Untuk itu jika ingin melakukan perubahan tentu perlu adanya nilai-nilai yang dihayati karena tidak mungkin terjadi perubahan jika nilai-nilai yang dihayati itu tidak diupayakan melalui tekad.  Maka dari, itu jika bangsa Indonesia menginginkan perubahan maka tentu wajib baginya untuk menghayati nilai-nilai pancasila dan bertekad untuk mengimplementasikan nilai-nilai pancasila serta melakukan perubahan atas dasar dari nilai-nilai tersebut dan para pemimpin harus mampu memahami bagaimana memimpin dengan cara yang adil serta jujur dan tidak menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kekuasaan. 

LAINNYA

Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jumat, 29 Mei 2020 | 20:51 WIB
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 
Selasa, 19 Mei 2020 | 21:11 WIB
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 
Sebuah Perspektif tentang Sastra Kita
Jumat, 01 Mei 2020 | 13:47 WIB
Sebuah Perspektif tentang Sastra Kita
Pentingnya Kemerdekaan Jiwa Pengarang
Sabtu, 15 Feb 2020 | 09:59 WIB
Pentingnya Kemerdekaan Jiwa Pengarang

KOMENTAR

Revolusi Mental Negara Indonesia

PEMERINTAHAN

183 dibaca
Pakai Protokol Kesehatan, Pemkab Serang Gelar Halabihalal Terbatas
593 dibaca
Pemkab Serang Bentuk Satgas Ketahanan Pangan Daerah

POLITIK

1111 dibaca
DPP Serahkan ke DPD Gerindra Banten Tentukan Balon Kada
1196 dibaca
PDIP Usulkan Tatu-Pandji di Pilkada Kabupaten Serang 2020

HUKUM & KRIMINAL

111 dibaca
Salah Sasaran, Warga Tanara Kena Bacok
67 dibaca
Kantongi Sabu, Seorang Pemuda di Cilegon Diciduk Polisi

PERISTIWA

85 dibaca
Diduga Stres, Mahasiswi Bina Bangsa Gantung Diri
542 dibaca
Warga Curug Ditemukan Tewas Mengambang di Sungai

EKONOMI & BISNIS

531 dibaca
Sekretaris Bapenda: Bank Banten Gagal Bayar Disebabkan Utang ASN dan DPRD
582 dibaca
Bupati Serang Sebut Bantuan Beras Harus Serap Petani Lokal
Top