Selasa, 19 November 2019

Rektor Impor, Mahasiswa Explore

[Foto Istimewa]
Minggu, 18 Agt 2019 | 19:54 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Nur Muhamad Iqbal

Pendidikan merupakan hak segala anak bangsa untuk menempuh dan belajar dimanapun dan kapanpun demi mencerdaskan anak cucu bangsa kita, karena aset negara yang paling penting adalah anak cucu kita dalam menempuh pendidikan. Indonesia negara semakmuran yang memiliki kekayaan alam berlimpah tapi belum maksimal mengelola alamnya. Pendidikan hadir untuk bisa mengurusi segala bentuk kekayaan alam yang berlimpah salah satunya. Jangan sampai karna kurangnya pendidikan kita mengadopsi SDM asing (Impor).

Kementrian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) dengan mengantongi ijin dari Presiden Indonesia serta mendukung wacana Impor Rektor ke dalam negeri dengan didasarkan untuk bersaing lebih giat dalam kompetisi dunia, karena dianggap tenaga pendidik indonesia belum mampu bersaing di kancah dunia, serta masih minimnya peringkat pendidikan Perguruan Tinggi Negeri/swasta di mata dunia. Bila tujuan impor Rektor asing dilatari untuk mengatroli Peringkat dunia berdasarkan QS World University Rangking.

Maka alasan-alasan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai upaya dalam pemberlakuan Rektor asing, pasalnya kalo memang kendatinya seperti itu, harus mengupayakan dari sistem pendidikan yang bermutu dengan memberikan ruang Diskusi yang Explore bagi mahasiswa dan dosen tanpa dibatasi kepentingan elit politik, dan menjadikam mimbar akademisi yang terbuka bukan untuk elit politik melainkan sebagai penerjemahan intelektual akademik dan bisa merapihkan susunan birokrasi yang akuntabel dan transparansi.

Mahasiswa harus berpikir terbuka dan menjelajahi ruang hampa yang tak pernah disinggahi, peran mahasiswa terhadap Perguruan Tinggi, terkhusus harus memiliki pengaruh dan dampak yang bermanfaat bagi semua stakeholder yang terlibat dalam persoalan Rektor Impor, harapannya mahasiswa bisa menjadi oposisi terhadap pemerintah bukan lagi siapa yang duduk di pemerintahan.

Kali ini Impor Rektor menjadi persoalan yang tanpa sadar menyinggung kaum intelektual muda sebagai pelopor muda bangsa yang akan memimpin dunia. Mahasiswa harus terbangun dari tidurnya bukan untuk pergi ke kampus, lalu duduk di kelas mendengarkan pidato yang tak dapat disanggah. Akan tetapi mahasiswa harus pergi ke ruang terbuka untuk menyuarakan hak – hak masyarakat yang telah lama hilang.

Dari pada sibuk mengeluarkan Wacana dan gagasan yang tak kunjung nalar, karena dalam pembentukannya bukan melihat dari aspek budaya dan kebutuhan masyarakat, melainkan dari kebutuhan asing dengan menilai negara luar sudah menjalankan dan memiliki impact lebih yang diharapkan. Hal itu senada dengan perang dagang yang saat ini bergejolak tapi sedikit masyarakat melihat hal ini dan sedih terpuruk kaku memandang barang pokok yang dibeli adalah made in negara asing, terlintas dalam pikiran apakah kita bertukar produk atau kita yang dijajah oleh produk asing.

Kalo memang Rektor kita bertukar itu lebih baik dari pada kita hanya Impor Rektor untuk memperbaiki sistem pendidikan kita dikancah global, padahal kalo memang kita bisa Ekspor dan Impor Rektor kita bisa lebih bersaing dengan dunia internasional. Pasalanya kita hanya ingin indonesia lebih baik dengan diurus oleh asing dibanding manusia yang harus berkompetisi dengan orang asing.

Melirik Permendikbud No 14 Tahun 2018 tentang sistem zonasi dengan berbagai permasalahan  dalam pelaksanaanya dan sempat menuai kritik dikalangan emak-emak karena dianggap anaknya tidak bisa sekolah di negeri yang dekat dengan rumahnya, terjadi di Tangerang dan NTT orang tua murid menggelar aksi menuntut anaknya untuk masuk sekolah negeri dekat dengan rumahnya sesuai yang diamanatkan permendikbud No 14 Tahun 2014.

Dalam permasalahan ini pembangunan sekolah di setiap daerah belum merata untuk memberikan tempat pendidikan bagi anak yang layak, selaras dengan wacana Impor Rektor, Perguruan Tinggi di indonesia terkhusus di daerah masih belum cukup untuk mengembangkan potensi pendidikan di setiap daerah indonesia hal ini dibuktikan dengan dari 10 kampus teratas menurut QS Word University Rangking 2019-2020, tak satu pun berasal dari kampus di luar Pulau Jawa.

Artinya pembangunan pengembangan pendidikan di daerah belum sempat jadi perhatian khusus oleh pemerintah untuk meningkatkan peringkat dikancah global. apa jadinya, kalo wacana ini terealisasi bisa terjadi sekolah favorit yang ditempatkan Rektor asing di Perguruan Tinggi. Mengutip Francisco Marmolejo (2008) bahwa institusi pendidikan tinggi memainkan peranan penting dalam men-trigger pembangunan suatu daerah. Tidak hanya pembangunan dalam terminologi ekonomi tetapi juga bangunan sosial, kebudayaan, hingga lingkungan.

Penulis Ketua BEM FISIP UMJ 2018 – 2019

Bagikan:

LAINNYA

Pesantren di Era Medsos
Kamis, 07 Nov 2019 | 16:39 WIB
Pesantren di Era Medsos
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Minggu, 27 Okt 2019 | 20:43 WIB
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Perintis Pesantren Modern di Banten
Kamis, 24 Okt 2019 | 20:23 WIB
Perintis Pesantren Modern di Banten

KOMENTAR

Rektor Impor, Mahasiswa Explore

PEMERINTAHAN

108 dibaca
DPMD Kabupaten Serang Bentuk BUMDes, Ekonomi Masyarakat Meningkat
142 dibaca
Diskominfosatik Kabupaten Serang Akan Sosialisasikan Wali Data

POLITIK

282 dibaca
Hanya Ingin Dampingi Tatu, Pandji Daftar ke Gerindra
185 dibaca
Tatu Ajak Demokrat Tuntaskan Pembangunan Kabupaten Serang

HUKUM & KRIMINAL

153 dibaca
Buruh Pabrik Bawa Satu Paket Sabu
154 dibaca
Ringkus Tiga Pelaku Curanmor, Polisi Temukan 24 Paket Sabu

PERISTIWA

198 dibaca
Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Polres Serang Perketat Pemeriksaan
214 dibaca
Kebakaran di Pasar Baros, 300 Kios Ludes Terbakar

EKONOMI & BISNIS

41 dibaca
PUPR Putuskan Uang Muka Rumah Bersubsidi Cuman 1 Persen
138 dibaca
BUMD Pemkab Serang Kelola Pelabuhan Swasta 
Top