Kamis, 27 Juni 2019

Politik dan Pemberhalaan Agama

[foto ilustrasi/Net]
Senin, 20 Mei 2019 | 15:10 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Hafis Azhari

Penulis novel ‘Pikiran Orang Indonesia’

Di era kehidupan Nabi Muhammad (571-632 Masehi), dunia di sekitar Arab sedang mengalami interaksi antara satu peradaban dengan peradaban lainnya. Pandangan dan universalitas wawasan Nabi Muhammad tak lepas dari luasnya imajinasi dan pengalaman hidup sebagai pedagang yang bersentuhan langsung dengan peradaban manusia lainnya melalui perjalanan transportasi darat dan laut.

Mari kita uraikan beberapa peradaban dunia yang sedang berjalan di masa kehidupan Nabi. Dalam ruang opini yang sangat terbatas ini, saya akan menampilkan beberapa peradaban besar yang diakui dunia, selain peradaban Yunani yang diprakarsai filosof Socrates, Plato hingga Aristoteles. Peradaban besar itu tak lepas dari jumlah penganutnya, serta keluhuran budi dan kearifan pembawa risalahnya. Hingga di dalam Alquran dinyatakan, bahwa di antara para Nabi dan orang-orang bijak itu ada yang dikisahkan di dalam teks-teks kitab suci, tetapi sebagian besar tidak dikisahkan secara tekstual.

Para ilmuwan dan sejarawan Eropa menyebut era tersebut sebagai “achsenzeit”  (zaman poros). Bahkan sebagian sejarawan memperkirakan adanya interaksi yang begitu masif sejak kurun waktu sepuluh abad sebelum kelahiran Nabi Isa, hingga tujuh abad sesudah kelahirannya. Dalam kitab Perjanjian Baru maupun Alquran, diungkapkan secara tersurat maupun tersirat tentang kemajuan bangsa-bangsa Romawi, Cina, Mesir, hingga Iran yang menganut ajaran Majusyi (Zoroaster). Di zaman poros ini, bangsa-bangsa yang memiliki peradaban maju, dari Asia Timur hingga Cina telah mencapai pemahaman baru yang menuju pada emansipasi kesadaran yang semakin universal.

Ajaran yang dibawa Zoroaster di Iran misalnya – seak tahun 660 sebelum masehi – sehaluan dengan pesan-pesan moral pada ajaran Shidarta Gautama di India. Pada periode yang hampir bersamaan, Confucius yang kemudian melahirkan ajaran ‘Kong Hu Cu’ sedang memberi pelajaran kepada bangsa Cina tentang pentingnya kebajikan dan nilai-nilai kemanusiaan. Di belahan dunia lain, bangsa Romawi yang bertradisi penyembahan kepada dewa-dewi (polytheisme), di akhir abad keenam sebelum masehi, semakin meningkat kepada fajar monotheisme yang semakin diakui bangsa-bangsa Eropa.

Terkait dengan itu, dalam teks Alquran termaktub dengan jelas di awal surat ar-Rum (Romawi) perihal Nabi Muhammad yang mendukung kemenangan Romawi atas Persia yang sudah mengalami dekadensi moral. Sementara bangsa Romawi (sekitar 500 Masehi) sudah mulai bangkit dalam fajar monotheisme yang dianut oleh penduduknya, kemudian diakui oleh bangsa-bangsa dunia lainnya. Bahkan sebelum diperkenalkan dengan kata “Allah”, seorang budak keturunan Afrika, Bilal bin Rabah menyebut Tuhan dengan panggilan “Ahad”, hampir sehaluan dengan istilah “Yupiter” yang diartikan sebagai “Yang Maha Esa” oleh bangsa-bangsa Romawi.

Sebelum dimerdekakan dari majikannya, budak berkulit hitam itu – seperti umumnya budak-budak Afrika lainnya – diperlakukan semena-mena oleh bangsa Arab (Jahiliyah), sampai kemudian dibebaskan oleh salah seorang sahabat Nabi (Abu Bakar), dengan menebus pembayaran mahal kepada majikannya.

Kultus dan Doktrin Agama

Bicara dalam tataran historis berarti bicara tentang kebenaran yang terus berproses, dinamis dan tidak mandek dan statis. Adanya mutasi dalam evolusi kesadaran manusia, baik di Timur maupun di Barat, semakin disadari oleh bangsa-bangsa dunia setelah era zaman poros tersebut. Dalam konteks ini, Islam memperkenalkan istilah “taqwa” yang paralel dengan istilah “adil” (al-‘adalah), bahwa kualitas ketaqwaan yang baik bersifat universal. Maka, dengan tegas Nabi Muhammad menyatakan bahwa bangsa-bangsa Arab tidak berhak mengklaim dirinya lebih benar dan lebih baik ketimbang bangsa-bangsa non-Arab (al-‘ajam).

Tetapi, dalam doktrin Islam ortodoks yang bersifat eksklusif, dan banyak dianut elit politik Banten yang teriak-teriak ‘people power’ akhir-akhir ini, hampir sehaluan dengan doktrin dan kultus pada sekte-sekte agama Kristiani yang marak di abad pertengahan. Bagi mereka, kebenaran itu sudah berhenti dan selesai. Pintu ijtihad sudah tertutup. Tidak ada hukum dan kebenaran lain selain kebenaran pada ajaran mereka, guru-guru mereka, kitab-kitab mereka, bahkan tokoh politik yang mereka kagumi. Islam dalam perspektif mereka adalah yang paling benar. Hanya tafsir dan pemahaman agama yang mereka yakini yang akan menjadi ahli sorga, sementara paham dan ajaran lain dianggap thagut dan ahli neraka.

Ketika keyakinan itu terus dipupuk dan dikembangkan selama bertahun-tahun, ia akan menjadi gelembung kebenaran yang berkualitas rendah dan dangkal belaka. Dan ketika berhadapan dengan realitas yang sebenarnya, mereka akan mengisolasi diri, bergerombol dengan orang-orang yang sepaham dengannya, berikut paham politik yang sama-sama mengembangkan teori berdasarkan keyakinan yang sudah telanjur dipupuk dalam pikiran dan perasaan mereka. Agama yang dipahami hanyalah pembenaran atau politisasi firman Tuhan yang dianggap satunya-satunya sumber kebenaran yang sejati. Ketika kepercayaan ini hidup dalam diri seorang yang berwatak temperamental, maka ungkapan tersebut hanya berfungsi sebagai alat pemolitikan Tuhan semata.

Sejarah politisasi Alquran juga pernah dilakukan sejak zaman para sahabat Nabi, terutama yang dilakukan oleh Abdurahman bin Muljam, dengan mengerahkan gerakan separatisme Kaum Khawarij yang menolak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. “Kaum Khawarij itu selalu saja mengucapkan kata-kata kebenaran untuk tujuan yang tidak benar (kekuasaan),” demikian tegas Ali bin Abi Thalib.

Sejak era inilah dikenal dengan istilah “Islam Politik” yang pura-pura membawa misi agama, namun untuk tujuan-tujuan politis demi kekuasaan semata. Beda dengan pemahaman Islam yang membawa risalah tauhid, dakwah, dan syiar Islam yang elegan. Disebarluaskan sambil membawa misi kebaikan universal berdasarkan keteladanan hidup Nabi Muhammad yang paralel dengan cinta-kasih yang diajarkan Nabi Isa alaihissalam. Tetapi, selama masyarakat Banten berpikir ahistoris, mereka akan terjebak ke dalam pemahaman agama yang eksklusif dan dangkal belaka. Alangkah lumrah jika beberapa pakar neurosains berkesimpulan, bahwa sebab utama yang mempersulit bangsa ini untuk maju adalah tidak berkembangnya akal sehat, karena terbiasa mengunyah doktrin-doktrin agama yang melumpuhkan daya nalar dan kreativitasnya.

Bagaimana mungkin orang Islam mampu memahami ajaran agamanya dengan baik, manakala tidak sungguh-sungguh mengenali sejarah hidup dan karakter dari pembawa risalah Islam itu sendiri. Di sisi lain, Ali bin Abi Thalib, yang lebih banyak mengenal watak dan karakteristik Nabi Muhammad, justru terbunuh oleh pemimpin gerakan separatis yang tak lain adalah sosok yang merasa dirinya paling soleh, merasa diri paling sempurna, serta menutup diri dari ikhtiar mencari kebenaran. Hingga merasa berhak membunuh sahabat Nabi dengan penuh keyakinan, seraya mengutip ayat Alquran sesuai dengan otak dan penafsirannya sendiri. Pemahaman Islam yang salah tafsir itu, telah menjebak Abdurahman bin Muljam kepada tindakan anarkis yang di luar nalar dan akal sehat manusia.

Pemberhalaan Agama

Siapapun yang tak peduli sejarah, sebenarnya telah melenceng dari peringatan para bapak bangsa kita. Hal inilah yang ditekankan oleh Soekarno, agar rakyat Indonesia tidak buta terhadap sejarah Islam (tarikh Islam). Di sisi lain, Soekarno menganjurkan para pemikir dan cendikiawan muslim Indonesia harus mampu memahami konsep Islam yang dinamis, tidak beku dan statis. Masyarakat dianjurkan agar mampu menangkap esensi Islam yang sebenarnya, bukan semata-mata buih-buihnya Islam.

“Bukan berarti Islam tidak memiliki hukum-hukum tertentu, tetapi justru hukum-hukum itu memerintahkan umat Islam agar dapat bergerak sesuai dengan perkembangan zaman,” demikian tegas Soekarno. Terkait dengan ini, dalam salah satu pidatonya, Soekarno pernah menganjurkan bangsa Indonesia agar berani mengetuk pintu ijtihad, yang diartikannya sebagai pintu analisis, pintu penyelidikan, bahkan pintu kebebasan berpikir.

Pintu ijtihad, sebenarnya mengandung arti kemampuan menalar dan berpikir logis. Dengan kemampuan berpikir logis dan rasional, bangsa ini akan sanggup mencapai tingkat kemakmuran yang sebesar-besarnya. Karena bagaimanapun, hanya bangsa-bangsa yang sanggup berpikir logis dan rasional yang dapat meningkatkan taraf hidupnya dalam segala hal. Bukan bangsa yang terkungkung oleh ortodoksi pemahaman agama yang konservatif, yang diakui telah mengalami kegagalan di banyak negeri-negeri Eropa pada abad-abad pertengahan.

Pernyataan yang progresif dari pemikiran bapak bangsa itu tetap valid hingga saat ini, meskipun dianggap kontroversial oleh sebagian cendikiawan muslim pada zamannya. Dalam salah satu pidatonya di hadapan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Soekarno dengan jelas menyatakan, “Hasil penyelidikan ulama-ulama terdahulu harus kita gali kembali. Oleh karena itu, saya minta kepada kalian semua, bahwa dalam memasuki pintu ijtihad itu janganlah hanya ‘mengijtihadi’ hukum-hukum fiqih saja, tetapi ijtihadilah ‘tarikh Islam’, ijtihadilah sejarah Islam. Inilah yang kadang-kadang dilupakan. Saya pun sering mengutip pernyataan Thomas Carlyle: ‘Pelajarilah sejarah agar kita menjadi bijaksana lebih dulu’. Salah satu penyebab downfall-nya Islam ialah dengan tertutupnya pintu ijtihad itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh muka bumi ini. Oleh karena itu, yang perlu diperdalam adalah bagaimana kita bisa membawa masyarakat Islam di Indonesia kepada taraf yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri. Nah, di sinilah banyaknya masyarakat kita belum mengenal betul ajaran Islam itu dengan baik.”

Pidato-pidato bapak bangsa yang progresif itu hendaknya dipelajari dan dipahami betul oleh para dai, mubalig hingga kalangan cendikiawan muslim di negeri ini. Mereka harus mampu memahami Islam dengan baik. Mereka harus mampu menangkap esensi Islam, bukan semata-mata doktrin agama yang mengerdilkan nalar dan akal sehat manusia.

Namun, jika mereka melupakan akar sejarah bangsanya, serta abai terhadap konsep Islam yang baik, yang pernah diajarkan bapak bangsa, bolej jadi mereka mengulang-ulang pemahaman agama yang eksklusif dan dangkal belaka. Maka, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kembali pemberhalaan terhadap ajaran dan teks-teks Islam, sebagaimana Kristen pernah mengalami pemberhalaan di abad-abad pertengahan lalu. ***

Bagikan:

LAINNYA

Ketika Sastra Berpaling
Senin, 17 Jun 2019 | 21:09 WIB
Ketika Sastra Berpaling
Seberapa Waras Orang Banten?
Kamis, 30 Mei 2019 | 15:05 WIB
Seberapa Waras Orang Banten?
Manusia Selesai
Kamis, 30 Mei 2019 | 14:45 WIB
Manusia Selesai
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Senin, 20 Mei 2019 | 15:53 WIB
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan

KOMENTAR

Politik dan Pemberhalaan Agama

PEMERINTAHAN

554 dibaca
Pemkab Serang Terapkan Sistem Berbasis Elektronik
1199 dibaca
Pemprov Banten Merubah RPJMD 2017-2022, Ini Sebabnya
1403 dibaca
Perencanaan APBD Banten 2019, Pembangunan Fisik Harus Selesai November

POLITIK

1204 dibaca
Pilkada Kabupaten Serang 2020, KPU Ajukan Anggaran Rp85 Miliar
1388 dibaca
2 Tahun Kepemimpinan WH-Andika, Eks Relawan Bentuk Tim Kajian 
10969 dibaca
Arwan Benarkan Ucapan Gubernur WH ‘Siapa Suruh jadi Relawan’

HUKUM & KRIMINAL

640 dibaca
Cabuli Siswa Hingga Hamil, 3 Oknum Guru Terancam 20 Tahun Penjara
2154 dibaca
Kapolda Banten Berhentikan Dua Anggota Polri
494 dibaca
Dua Spesialis Pencuri Rumsong Dibekuk Resmob

PERISTIWA

371 dibaca
Peringati HANI 2019, Bupati Serang Canangkan Program Bersih dan Aman
303 dibaca
Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi, Pemkab Serang Siaga Satu
1417 dibaca
Ops Cipta Kondisi, Polres Serang Minimalisir Pergerakan Massa

EKONOMI & BISNIS

539 dibaca
Dekopinwil Banten Diminta Lakukan Perubahan di Era Digital
521 dibaca
WH Ingatkan Tertinggal Revolusi 4.0, Menganggur Kita
Top