Selasa, 23 Juli 2019

Polemik Masuknya Islam di Banten

Masjid Agung Banten lama-[Foto Istimewa]
Minggu, 31 Mar 2019 | 20:57 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Fauziyah Nurul

“Pada saatnya nanti, kita akan temukan sosok pahlawan yang sebenarnya, bukan pada figur heroik yang mewah dan glamor melainkan pada rakyat biasa yang sederhana, tetapi kaya akan pemikiran dan nyata dalam amal perbuatan.” (K.H. Sjam’un)

Banyak orang Banten yang mengira bahwa masuknya Islam ke Indonesia karena orasi dan ceramah para da’i atau mubalig yang berkoar-koar menyampaikan visi dan misi tentang kebesaran agama Islam. Berabad-abad lalu, kedatangan orang-orang asing yang menggelar barang-barang dagangan di suatu wilayah yang dihuni para penganut Hindu dan Budha ini, terasa aneh dalam pandangan penduduk pribumi.

Mereka itulah para pendatang muslim dari Gujarat (India) menuju Samudera Pasai, terus ke wilayah Banten, menggelar dagangan-dagangan, melaksanakan solat lima waktu. Di waktu pagi buta, selepas solat subuh, mereka mempersiapkan barang-barang dagangannya untuk digelar di tempat-tempat strategis yang kemudian disebut pasar. Mereka itu orang-orang berjiwa merdeka, kedatangan mereka bukan untuk menjajah dan menduduki wilayah, tapi untuk menunaikan amanah jual-beli yang didasarkan atas dasar suka sama suka (ikhlas dan ridho).

Ribuan kilometer mereka tempuh melalui jalur darat dan laut, untuk menunaikan hajat hidup manusia yang saling membutuhkan hasil produksi dan jasa mereka. Pada awalnya, tentu para pendatang muslim yang singgah di Banten ini dipandang aneh oleh mayoritas Hindu (Sunda) karena kejujuran, keterbukaan dalam komunikasi, serta keindahan akhlak dan perilakunya.

Karena jiwa yang terbuka dan komunikatif tersebut, banyak orang pribumi yang ingin mencari tahu hal ihwal tentang watak dan keseharian mereka, yang semakin lama semakin melebarkan sayapnya, mendatangkan beribu-ribu konsumen dan pelanggan yang saling berinteraksi, bertransaksi, menjalin persahabatan yang semakin luas melebihi apa-apa yang dilakukan oleh agresi dan penaklukan suatu wilayah dengan perang dan pertempuran.

Para Saudagar di Banten

Coba perhatikan di wilayah Banten saja. Berapa luas area dan wilayah yang pernah ditaklukkan oleh para pedagang muslim, bersandar di pelabuhan-pelabukan sekitar Merak, Anyer, Cilegon, Karangantu, jauh sebelum abad-abad kedatangan pedagang VOC (Belanda) menduduki wilayah Indonesia. Bahkan setelah tiga abad lebih mereka bercokol di Nusantara, lalu Indonesia memprolamirkan dirinya sebagai negara merdeka (1945), posisi bangsa Indonesia semakin eksis mengukuhkan dirinya sebagai muslim terbesar di dunia.

Memori tentang sejarah perkembangan Islam atas jasa-jasa para pedagang, seakan semakin terkikis dalam benak generasi muda Banten. Tapi sejarah tetaplah sejarah yang harus diungkapkan dengan jernih dan ilmiah. Kita bisa membayangkan para pedagang itu datang berbondong-bondong dari Hadramaut menuju India, kemudian melanjutkan pelayaran berbulan-bulan dengan menghempas badai dan ganasnya ombak lautan. Mereka datang ke suatu tempat bukan untuk menduduki wilayah dengan pedang dan senapan, atau mengobarkan jihad dalam pengertian dangkal. Tapi untuk menunaikan amanah perniagaan yang didasarkan atas dasar suka sama suka (ikhlas). Mereka mengajarkan hal-hal prinsipil dalam ajaran Islam, agar mempermudah hajat dan peningkatan taraf hidup manusia pada umumnya.

Di Cilegon misalnya, ada suatu kampung bernama “Temu Putih” yang dulunya dihuni oleh mayoritas pedagang muslim. Kemudian merambah terus ke daerah Cibeber, Seneja, Ketileng, Cidunak, Palas hingga Jerang Ilir. Menurut penuturan Ibunda Hj. Holiyah, pedagang senior di Pasar Cilegon, sebelum dibangun mal-mal untuk pengadaan barang-barang produk Barat, para pedagang di pasar lama Cilegon saling berdampingan antara pedagang kain, kebutuhan untuk solat, dengan para pedagang kitab, Alquran, tasbih, minyak wangi dan sebagainya.

“Hal itu persis cerminan pasar-pasar yang ada di sekitar Masjidil Haram hingga Madinah,” tutur ibu dari penulis lulusan Biologi Untirta, Indah Noviariesta di kampung Jerang Ilir. “Di bagian belakang pasar tersebut, terhampar para pedagang muslim yang menjual rempah-rempah dan berbagai jenis ikan hasil tangkapan para nelayan di daerah Jombang hingga Bojonegara.”

Perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa ribuan pedagang yang memperkenalkan ajaran Islam itu bukanlah kaum da’i, mubalig, apalagi kiai dan ulama. Tetapi mereka memperkenalkan agama Islam melalui jalur pertemanan dan persahabatan, yang berawal dari keakraban antara pihak pedagang dan konsumennya. Bagi orang-orang pribumi, sikap amanah dan kejujuran mereka dalam perniagaan begitu mengesankan. Etika dan akhlak mereka dalam berdagang begitu mengagumkan. Ada unsur kepemilikian yang didasari oleh ketulusan dan keikhlasan, bukan atas dasar paksaan apalagi perbudakan. Para pedagang itu berjiwa bebas dan merdeka.

Banyak penulis di Banten yang lahir dari keluarga padagang. Sentuhan dan goresan penanya terasa akrab, terbuka, menyentuh hati, memiliki kekuatan imajinasi yang dilandasi dari jiwa yang merdeka. Sangat berbeda dengan goresan pena para pegawai negeri, birokrat, karyawan perusahaan, yang cenderung eksklusif dan terlampau hati-hati (untuk tidak mengatakan ‘penakut’).

Menyoal Akhlak Mubalig

Sekali lagi, para pedagang tadi bukanlah mubalig. Kalaupun ada yang bisa berceramah paling hanya satu-dua orang saja. Lagipula, akhlak yang diteladani kaum mubalig sulit untuk diadaptasi dalam kehidupan nyata. Karena baru sebatas omongan di mulut, bukan praksis amaliyah di lapangan. Belum tentu mereka teruji kualitas kejujurannya bila berhadapan dengan praksis kehidupan nyata. Sedangkan karakteristik pedagang langsung berhadap-hadapan dengan realitas. Kualitas kejujuran dan kebohongannya langsung teruji, karenanya mereka gampang beradaptasi untuk membenahi diri, introspeksi serta memperbaiki kekurangannya.

Perlahan-lahan, masyarakat pribumi pun semakin tertarik dengan kejujuran dan sifat amanah tersebut. Rupanya, sifat-sifat amanah itu bukan soal adat dan tradisi, tapi manifestasi langsung dari ajaran agama Islam yang menekankan para penganutnya untuk bersikap jujur, sesuai timbangan, ridho, ikhlas, berkah, tidak memakan harta secara batil, bahkan tidak boleh memakan harta riba, agar terjadi keseimbangan dan pemerataan dalam hal kepemilikan.

Karakteristik manusia Indonesia (dan Nusantara) yang tercermin pada goresan pena para sastrawan, dari Pramoedya, Rendra hingga Mochtar Lubis, seakan menuntut pertanggungjawaban terhadap amanah dan kejujuran yang kian tergerus oleh degradasi moral masyarakat. Dalam hal ini, menyampaikan dakwah dengan sikap dan tingkahlaku, akan lebih mengena di hati publik, ketimbang hanya retorika penyampaian dalil-dalil agama yang terucap lewat pidato maupun ceramah.

Berdakwah dengan tingkahlaku, serta bermuamalah dengan orang-orang jujur dan amanah – seperti yang saya sebutkan di atas – jauh lebih mendalam ketimbang mendengar sepuluh kali ceramah agama. Terkait dengan ini, saya ingin menyampaikan anekdot yang saya kisahkan secara bebas, mengenai datangnya seorang pengusaha perumahan dari Jerang Permai, minta didoakan oleh Kiai Mufassir di daerah Padarincang, Serang.

“Pak Kiai, tolong Lexus saya diberkahi oleh Pak Kiai.”

Kiai Mufassir mengerutkan dahinya bertanya-tanya, “Kalau berkah saya tahu maksudnya, tapi kalau ‘Lexus’ itu apa artinya?”

Setelah dari rumah Kiai Mufassir, pengusaha Banten itu datang ke rumah ‘kiai selebritas’ yang sering tampil di layar televisi, “Pak Kiai, mohon Lexus saya diberkahi.”

“Oke baik, kalau Lexus saya tahu, dan sebentar lagi saya mau beli. Tapi kalau berkah, itu apa maksudnya?” (*)

Penulis (Alumni Ponpes Daar el-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang) 

Bagikan:

LAINNYA

Kiai Sepuh di Banten 
Senin, 22 Jul 2019 | 12:21 WIB
Kiai Sepuh di Banten 
Mengungkap Logika yang Terbalik
Kamis, 18 Jul 2019 | 19:29 WIB
Mengungkap Logika yang Terbalik
Jimat Orang Banten
Senin, 08 Jul 2019 | 16:59 WIB
Jimat Orang Banten
Ketika Sastra Berpaling
Senin, 17 Jun 2019 | 21:09 WIB
Ketika Sastra Berpaling

KOMENTAR

Polemik Masuknya Islam di Banten

PEMERINTAHAN

628 dibaca
Silpa APBD Kabupaten Serang TA 2018 Capai Rp403 Miliar
1848 dibaca
Dinilai Sukses, Bupati Minsel Belajar Kelola BUMD ke Bupati Serang
1709 dibaca
Pemkab Serang Terapkan Sistem Berbasis Elektronik

POLITIK

824 dibaca
Tak Penuhi Kuorum, Paripurna DPRD Kabupaten Serang Batal Digelar
1871 dibaca
Pilkada Serentak 2020, Golkar Banten Prioritaskan Usung Kader
1777 dibaca
Eks Relawan Sebut Kepemimpinan WH–Andika Bergaya Otoriter

HUKUM & KRIMINAL

2344 dibaca
Orang Tua Kades di Kecamatan Ciruas Dibacok
1399 dibaca
Tiga Pelaku Curas Biasa Aksi di Wilayah KP3B Diringkus
1447 dibaca
Miliki Catatan Kriminalitas, Dua Perampok Asal Malaysia Tak Bisa Dibawa ke Indonesia

PERISTIWA

1816 dibaca
Bupati Serang: TMMD Bangkitkan Budaya Gotong Royong di Masyarakat 
1958 dibaca
Diduga Terlibat Jual Aset Negara, Kejari Didesak Usut Walikota Serang
1734 dibaca
Peringati HANI 2019, Bupati Serang Canangkan Program Bersih dan Aman

EKONOMI & BISNIS

373 dibaca
Soal Pasir Laut, Bupati Tatu Minta Kajian Tim Ahli Dipublikasikan
536 dibaca
Inilah Gadis di Balik Uang Digital Facebook
Top