Selasa, 19 November 2019

Pesantren di Era Medsos

[foto istimewa]
Kamis, 07 Nov 2019 | 16:39 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhammad Toto Wiranto

Santriwan Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak

ANAK-anak masa kini sudah tidak asing lagi dengan teknologi. Tetapi di sisi lain, pemanfaatan teknologi memiliki ruang dan waktu yang tak terbatas. Sedangkan manajemen kehidupan manusia, dari anak-anak, dewasa hingga orang tua, terpolarisasi oleh batasan-batasan ruang dan waktu yang ditentukan oleh hukum alam (sunatullah).

Ketika orang tua disibukkan hari-harinya dengan berkantor, bekerja atau berdagang, maka sang waktu akan menjadi tuan yang memenej kehidupan sang anak, karena bagaimanapun seorang anak tak punya keterampilan untuk menguasai waktu. Ia hanya akan menjadi abdi yang dikendalikan ruang dan waktu, di manapun dan kapanpun ia akan menghabiskan hari-harinya bersama gawai, di warnet, terminal, mal dan seterusnya.

Menurut pengasuh pondok pesantren Al-Mizan, KH. Anang Azharie, di era milenial ini tak perlu disangsikan lagi bahwa pesantren bisa menjadi lembaga pendidikan alternatif yang paling dicari dan disegani oleh para orang tua yang sedang mengalami kegelisahan di mana-mana. Degradasi moral yang melanda bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa dunia akhir-akhir ini, menciptakan longsoran peradaban yang diakibatkan oleh maraknya transformasi budaya yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Dunia sekolah yang mestinya memberikan waktu dan ruang yang nyaman bagi anak-didik, tetapi berfungsi sebagai ajang perkumpulan para siswa yang saling melampiaskan kebebasan mereka dari kegelisahan-kegelisahan yang dihadapi. Akibatnya, tujuan utama pendidikan bangsa untuk memekarkan nilai-nilai ketakwaan, pembentukan watak dan karakter, solidaritas dan kesetiakawanan sosial, menjadi terabaikan dengan sendirinya.

            Dilengkapi oleh pendapat KH. Eeng Nurhaeni (Al-Bayan) bahwa era medsos saat ini mengisyaratkan banyak orang yang merasa tahu segala-galanya, sampai-sampai mereka lupa diri bahwa Yang Maha Tahu hanyalah Allah Swt. Secanggih apapun perangkat teknologi diciptakan manusia, bila tidak disertai energi pendukungnya, ia tidak akan sanggup berdaya secara independen. Terbukti dengan kematian listrik di wilayah Jawa beberapa minggu lalu, hanya beberapa jam saja semua perangkat teknologi menjadi lumpuh total, dan kerugian negara bisa mencapai ratusan milyar rupiah.

Setiap pesantren modern di Banten memang menyediakan sarana dan prasarana bagi kemudahan santri mengembangkan bakat dan potensinya yang beragam, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Di sisi lain, pengembangan keterampilan santri di luar wilayah kurikulum formal, seperti pengembangan seni (Wali Band) semakin menyemarakkan khazanah dakwah Islam yang beragam.

Tetapi, akan menjadi keliru ketika ada beberapa wali santri dari Jakarta yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di pesantren La Tansa – seperti yang dituturkan dalam tausiyah KH. Adrian beberapa waktu lalu – kemudian berpesan pada sang kiyai agar anaknya dididik dan digembleng agar menjadi musikus sekaliber Apoy dan Faank (personil Wali Band). “Masalahnya,” ujar sang kiyai, “para personil Wali Band itu diperlakukan sama sewaktu mondok dulu. Biarpun Faank pintar bernyanyi, dia pun dulunya pernah menjadi pengurus ngaji dan jam’iyatul qura, begitupun Apoy yang pernah jadi pengurus bela diri. Kalau mereka berprestasi akan mendapat reward, tetapi ketika mereka nakal dan melanggar aturan pondok, mereka juga bisa dijemur atau dibotak seperti santri-santri lainnya.”

Dari perspektif lain, mendidik santri di pesantren juga tidak semata-mata mencetak anak agar menjadi “pintar”. Banyak lembaga pendidikan yang seakan fokus untuk memintarkan anak, tetapi di pesantren bukan semata-mata anak harus pintar melainkan yang utama adalah “tahdibul akhlaq” (keseimbangan karakter) yang akan mengantarkan anak para perilaku yang baik dan islami. Bahkan dunia kesenian yang berjalan juga dalam koridor membawa misi Islam yang moderat – bukan yang radikal – seperti yang dinyatakan oleh Umar bin Khattab saat mengirim para da’i ke 19 negara yang ditaklukkannya: “Fi ayyi ardhin tatha, anta mas’ulun an-islamiha”. (Di bumi manapun Anda berpijak, setiap muslim bertanggung jawab membawa misi keislamannya).

Karena itu, persoalan disiplin pondok berbeda dengan disiplin kepatuhan ala militerisme yang seakan-akan tanpa syarat. Disiplin pondok diniscayakan sebagai bagian dari alternatif pengarahan dan pembimbingan yang membuat anak-didik kelak dapat mampu mendisiplinkan dirinya. Faktanya, tidak ada negara maju di dunia ini yang tidak dimulai dari anak-anak bangsa yang sanggup mendisiplinkan diri dengan sebaik-baiknya. Lihat saja negeri tetangga kita seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Korea dan seterusnya.

Dalam kaitan ini, KH. Eeng Nurhaeni menegaskan, dunia pesantren tak bisa disamakan dengan sekolah-sekolah unggulan yang bervisi pada kebebasan ekspresi semata. Sebab, dunia pendidikan adalah amanah agar memberdayakan kekuatan otak dan pikiran para pendidik maupun kiyai pesantren, untuk terus-menerus membangun transformasi pendidikan yang paling ideal.

Di sisi lain, dunia pesantren justru bertanggungjawab untuk mengadopsi dan merawat anak-anak telantar dan yatim piatu yang datang dari keluarga kelas menengah ke bawah. Bila ada orang tua yang mempercayakan anaknya ke pesantren, lantaran keunggulan dan prestasinya yang menonjol, dipersilakan. Sebaliknya, tidak sedikit dunia pesantren yang justru menangani anak-anak bermasalah di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Karenanya, diperlukan  keseimbangan untuk mendisiplinkan mereka di jalan yang baik dan benar.

Para pengasuh dan pengurus (mudabbir) di pesantren juga memiliki otonomi sendiri dalam pola asuh dan pola ajar yang diberlakukan oleh sistem pesantren. Dari anak-anak yang baik, nakal, bahkan nakal sekali, semuanya ditangani dan diakomodasi dengan pola asuh yang semestinya diberlakukan.

Di situlah peran strategis dunia pesantren, ketika keluarga dan negara sedang mencari format pendidikan ideal untuk membendung arus budaya global, pergaulan bebas, kriminalitas hingga obat-obatan terlarang. Justru dunia pesantren sudah membiasakan diri dengan sistem pola asuh dan pola ajar yang dipercaya oleh masyarakat. Khususnya pesantren-pesantren yang bertradisi kedisiplinan yang terarah, agar terciptanya keseimbangan bagi kecerdasan sosial, intelektual, hingga spiritualitas anak-didik. (*)

Bagikan:

LAINNYA

Usia Produktif Jangan Konsumtif
Minggu, 27 Okt 2019 | 20:43 WIB
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Perintis Pesantren Modern di Banten
Kamis, 24 Okt 2019 | 20:23 WIB
Perintis Pesantren Modern di Banten

KOMENTAR

Pesantren di Era Medsos

PEMERINTAHAN

107 dibaca
DPMD Kabupaten Serang Bentuk BUMDes, Ekonomi Masyarakat Meningkat
141 dibaca
Diskominfosatik Kabupaten Serang Akan Sosialisasikan Wali Data

POLITIK

282 dibaca
Hanya Ingin Dampingi Tatu, Pandji Daftar ke Gerindra
185 dibaca
Tatu Ajak Demokrat Tuntaskan Pembangunan Kabupaten Serang

HUKUM & KRIMINAL

152 dibaca
Buruh Pabrik Bawa Satu Paket Sabu
154 dibaca
Ringkus Tiga Pelaku Curanmor, Polisi Temukan 24 Paket Sabu

PERISTIWA

198 dibaca
Pasca Bom Bunuh Diri di Medan, Polres Serang Perketat Pemeriksaan
213 dibaca
Kebakaran di Pasar Baros, 300 Kios Ludes Terbakar

EKONOMI & BISNIS

40 dibaca
PUPR Putuskan Uang Muka Rumah Bersubsidi Cuman 1 Persen
138 dibaca
BUMD Pemkab Serang Kelola Pelabuhan Swasta 
Top