Senin, 27 Januari 2020

Perintis Pesantren Modern di Banten

[foto ilustrasi/net]
Kamis, 24 Okt 2019 | 20:23 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Eeng Nurhaeni

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak

Kita masih ingat pesan sederhana dari Kaisar Hirohito di Jepang, beberapa hari setelah percobaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (1945) yang membuat perekonomian Jepang luluh-lantak dan bangkut total. Kaisar memerintahkan para menterinya agar mencatat seluruh nama-nama guru yang masih hidup. Tindakan yang visioner ini mengupayakan generasi masa depan Jepang harus terselamatkan dari sisi pendidikan, yang kemudian terbukti setelah beberapa dasawarsa ke depan, bangsa Jepang tampil sebagai generasi unggul di wilayah asia.

Padahal, dari sisi kekayaan darat maupun laut (SDA), jelas Indonesia lebih makmur ketimbang mereka. Dari sisi spiritual (ibadah mahdlah) jelas Indonesia terbilang paling rajin ubudiahnya, plus beribu-ribu jumlah mubalignya. Tetapi masalahnya, untuk meraih kemakmuran duniawi harus dengan ilmu, begitu juga untuk mendapatkan keselamatan ukhrawi. Lalu, mengapa kondisi Banten dan Indonesia tetap saja terpuruk secara ekonomi, meskipun kemerdekaan sudah diraihnya sejak 74 tahun lalu.

Bukankah dengan lemahnya perekonomian – akibat lemahnya ilmu – justru akan menjerumuskan masyarakat ke jurang neraka, karena kemiskinan dan keterbelakangan identik dengan kekufuran?

Dalam kultur dan tradisi Banten seperti itulah maka sosok Kiai Rifa’i Arief muncul dengan membawa misi pendidikan modern, selepas lulus dari pesantren Gontor lalu mendirikan pondok pesantren Daar el-Qolam, sebagai pesantren modern pertama di ranah Banten (1968). Para penganut paham konservatif sontak kebakaran jenggot. Beberapa tokoh dari pesantren tradisional (salafi) mempersoalkan keabsahannya, mengapa sebuah pesantren mengajarkan santrinya agar pintar berbahasa Inggris?

Lalu, mengapa banyak guru mengajar sambil mengenakan dasi dan celana panjang? Bukankah yang namanya pesantren itu cukup dengan kopiah dan sarung, kitab kuning yang diterjemahkan dengan bahasa Jawa Kawi, sorogan, dan seterusnya? Mengapa juga sebuah pesantren harus menyediakan sarana untuk berolahraga dan berkesenian segala?

Kental sekali nuansa tarik-menarik antara ideologi timur dan barat, sehingga Kiai Rifa’i dituduh menyebarkan paham sekularisme di Banten. Padahal, yang dipersoalkan pesantren modern adalah kebekuan dan kejumudan Islam tradisional selama berabad-abad. Sama halnya yang menjadi kritikan Soekarno dan para bapak bangsa, mereka mempersoalkan Islam konservatif yang seakan-akan telah menutup pintu ijtihad. Dalam hal ini, Kiai Rifa’i Arief membuka kembali pintu ijtihad di Banten, sambil menggaungkan pemikiran Islam modern yang diprakarsai seorang filsuf Mesir, Muhammad Abduh, melalui bukunya yang terkenal, “Limadza ta’akharal muslimun wataqaddama ghairuhum?” (Kenapa umat Islam terbelakang, sementara yang lainnya mengalami kemajuan?)

Sebelum era munculnya pesantren modern di Gintung, Tangerang, dua dasawarsa sebelumnya sudah ada tokoh pendidikan yang lebih dulu mengamati maraknya mitologi dan mistisisme di Banten. Dialah Kiai Sjam’un (1894-1949), yang dikenal dengan ungkapan filosofisnya yang revolusioner: “Membangun manusia tidak cukup dengan jampi-jampi dan air kendi, tapi harus dengan ilmu pengetahuan, karena itu jika umat Islam tidak menguasai ilmu, hidup mereka hanya akan menghabiskan beras di pendaringan.”

Melalui berbagai upaya dan perjuangan dari para intelektual, jurnalis, akademisi dan ulama Banten selama bertahun-tahun, akhirnya berhasil juga Kiai Sjam’un dianugerahi tokoh pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi beberapa bulan lalu. Sebagai tentara dan pejuang Indonesia, ia lebih kental dengan nuansa pendidikan ketimbang kemiliterannya. Gugatannya terhadap adat tradisi Banten yang cenderung kolot, penuh takhayul dan khurafat, didobrak dengan ikhtiar membangun lembaga pendidikan Al-Khairiyah (Cilegon) agar masyarakat kita melek ilmu serta berwawasan luas.

Bagi Kiai Sjam’un, nasib manusia terletak pada pikiran sadarnya untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik. Bukan hanya dengan mengandalkan wangsit, doa-doa, yang sepenuhnya diserahkan kepada ketentuan Tuhan. Seorang yang optimistis tidak menganut fatalisme yang gampang menyerah pada nasib. Itu mah kerjaan orang malas yang berpikir skeptis. Oleh karena itu, “jangan sampai umat Islam hidup hanya mengandalkan doa sambil meniup-niupkan rajah ke air,” tegas Kiai Sjam’un. Pernyataan tersebut, paralel dengan sabda Nabi, bahwa keutamaan seorang ahli ilmu ketimbang ahli-ahli ibadah, bagaikan terangnya sinar bulan purnama, melebihi ribuan bintang di angkasa. (H.R. Imam Tirmidzi)

Dari perspektif pendidikan nasional, untuk mengimbangi dominasi pendidikan Belanda – sebagai misi dari politik etik mereka – sejak awal abad ke-20, para pemikir pendidikan mencari format dan alternatif untuk mengimbangi peranan Barat di bumi Nusantara. Ki Hajar Dewantoro yang dikenal sebagai perintis pendidikan Indonesia, telah menyatakan bahwa visi pendidikan Belanda memang bermetodologi modern.

Dengan alasan yang sama dipakai pula dalam konsep restorasi Meiji di Jepang, yang juga sama-sama menghadapi invasi kebudayaan Barat. Hingga ia pun menandaskan bahwa mereka yang mampu menandingi hegemoni Barat adalah kaum terpelajar keluaran sekolah yang bermetodologi Barat juga. Namun demikian, Ki Hajar Dewantoro menambahkan bahwa hegemoni Barat – melalui politik etik Belanda – harus diimbangi dengan mempertahankan kebudayaan Timur dengan pembentukan karakter, sikap dasar dan budi pekerti, serta semangat perjuangan untuk melawan ketidakadilan sebagai program utamanya.

Dunia pesantren di Banten dan Nusantara, secara formal belum bersarana kurikulum, tingkat-tingkat, kelas-kelas maupun ijazah. Pada mulanya, pesantren sendiri merupakan bagian dari pendidikan tradisional yang diselenggarakan oleh para orang tua atau kolektivitas suku melalui jalan adat-istiadat. Kedatangan Islam di Indonesia sangat berperan dalam penggunaan sistem asrama (ashram) atau surau, yang kemudian orang sunda Banten menyebutnya dengan istilah “kobong”.

Setelah memasuki abad ke-20 ketika munculnya tata-politik, ekonomi, sosial dan budaya yang diselenggarakan oleh pihak Belanda, hadirlah sistem persekolahan yang bersarana kurikulum, kelas-kelas yang berjenjang, ijazah dan seterusnya. Maka, terjadilah perubahan yang prinsipil pada metode pengajaran dan kelembagaan di dunia pesantren, sedangkan eksperimentasi terus berlanjut hingga memunculkan pesantren-pesantren yang memadukan berbagai macam disiplin ilmu, seperti pertanian, peternakan, agro-bisnis hingga agro teknologi.

Meskipun mengadopsi sistem yang ada di Gontor (Jawa Timur), perjalanan Kiai Rifa’i Arief untuk menerapkannya di Banten bukanlah perkara mudah. Sentimen primordial yang kental, mistik dan takhayul yang kawin dengan Islam konservatif, jelas memposisikan Kiai Rifa’i dan para muridnya sebagai sasaran amarah dan kedengkian massa.

Label tokoh pesantren modern yang disematkan di pundak Kiai Rifa’i menjadi beban tersendiri. Sebab, kata “modern” tak pernah memiliki makna tunggal. Ia mengandung makna kompleks, hingga sebagian besar masyarakat Banten pada masa itu mengaitkannya dengan “barat” yang identik pula dengan “kafir”. Di sisi lain, Kiai Rifa’i terus mengumandangkan pentingnya masyarakat Banten agar memahami modernitas dan perkembangan zaman, melalui kata-katanya yang revolusioner: “Pesantren dituntut tidak hanya mampu mencetak pemikir dan intelektual yang faqih fiddin, tetapi juga faqih fi masailil khalqi, sehingga mampu mengaktualisasi diri di tengah-tengah masyarakat yang majemuk dan maju.” 

Kiai Rifa’i sendiri berpendapat bahwa perubahan dan perkembangan adalah suatu keniscayaan. Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi akibat dari transformasi global, interaksi sosial, serta pesatnya dunia sains dan teknologi yang melahirkan berbagai persoalan hidup yang diakibatkan dari keniscayaan perubahan itu sendiri. Dengan prinsip hidup yang kokoh itu, Kiai Rifa’i menyadari pentingnya dunia pesantren menginovasi diri, demi untuk menyiasati pembaharuan dan perkembangan zaman. Sistem pengajaran dan pengasuhan harus dibenahi dan ditingkatkan kualitasnya. Jika tidak, masyarakat Banten akan terus-menerus terjebak dalam kebodohan dan keterbelakangan.

Terkait dengan ini, seorang profesor dan guru besar Banten, H.M.A. Tihami menyampaikan komentar yang bersayap, bahwa kegigihan Kiai Rifa’i dalam merintis pesantren modern, tak lain untuk mewujudkan intelektual-intelektual muslim yang berwawasan luas, serta memiliki integritas dan komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Wassalam. (*)

Bagikan:

LAINNYA

Korupsi Tindakan Mencela Masyarakat
Sabtu, 11 Jan 2020 | 18:00 WIB
Korupsi Tindakan Mencela Masyarakat
Kuliah Jalanan
Kamis, 21 Nov 2019 | 10:27 WIB
Kuliah Jalanan
Pesantren di Era Medsos
Kamis, 07 Nov 2019 | 16:39 WIB
Pesantren di Era Medsos
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Minggu, 27 Okt 2019 | 20:43 WIB
Usia Produktif Jangan Konsumtif

KOMENTAR

Perintis Pesantren Modern di Banten

PEMERINTAHAN

243 dibaca
Bupati Serang: APBD Rp 3 Triliun Adalah Amanah Rakyat
344 dibaca
Lantik 277 Pejabat, Bupati Serang Minta Pemerintah Kecamatan Siaga Bencana

POLITIK

107 dibaca
Juni, KPU Buka Pendaftaran Cabup dan Cawabup Serang
209 dibaca
Puji Program Infrastruktur, Tatu Direkomendasikan ke DPP Berkarya

HUKUM & KRIMINAL

186 dibaca
Bosan Pelayanan Istri, Kakek di Pandeglang Cabuli 2 Bocah
255 dibaca
Setubuhi Gadis Dibawah Umur, Pedagang Pakaian Ditangkap

PERISTIWA

280 dibaca
Banjir, Ratusan Rumah di Kecamatan Kasemen Terendam
482 dibaca
Tak Mampu Penuhi Mahar Janda Idamannya, Pria Ini Tewas Gantung

EKONOMI & BISNIS

219 dibaca
Andika: Banten Siap Dukung Kebijakan Strategis OJK
160 dibaca
Produksi Pertanian Surplus, Bupati Serang Kampanyekan Beras Jaseng
Top