Sabtu, 25 Mei 2019

Orang Kaya di Ranah Banten

[fotoilustrasi]
Senin, 01 Okt 2018 | 14:46 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Banten

“Kebahagiaan hidup terletak pada upaya dan hasrat untuk mencintai dan memerdekakan manusia, bukan pada hasrat untuk berkuasa dan memperdayakan mereka.” (Soekarno)

Kita masih ingat penggulingan Presiden Soekarno oleh kekuatan militerisme Orde Baru, yang didukung kekuasaan kapitalisme Amerika-Inggris, CIA, dengan segala perangkat imperialisme negeri-negeri industri maju. Pada tahun-tahun 1960-an Presiden Soekarno termasuk pemimpin yang berani berdiri di baris depan untuk melawan segala bentuk perbudakan, maupun neo-kolonialisme yang masih bercokol di negeri-negeri dunia ketiga, khususnya Afrika. Pada momen itu, sangat tidak beradab ketika ada kekuatan elit politik dalam negeri yang dengan mudahnya menerima sokongan negeri-negeri Barat, lalu menggulingkan pemimpin yang jelas-jelas berjuang keras untuk memerdekakan negeri-negeri yang masih terjajah dan tertindas.

Dalam buku “Dokumen CIA – Melacak Penggulingan Presiden Soekarno” (Hasta Mitra, 2001) sangat mudah dipahami tentang tabiat orang-orang kaya dari kalangan elit politik Indonesia di era 1960-an, yang ketakutan setengah mati akan kepentingan dan jaminan kapitalnya yang terancam. Sebagian lain merasa khawatir kepentingannya terusik di bawah kendali kepemimpinan Soekarno yang terang-terangan menyatakan pentingnya kemandirian ekonomi dan politik. Soekarno juga secara terbuka mendeklarasikan konsep “sosialisme Indonesia” sebagai penjabaran dari konsep bhineka tunggal ika dan masyarakat gemah ripah loh jinawi.

Dalam hal ini, Amerika dan CIA tidak mau dipusingkan dengan term-term lokal yang membingungkan, tetapi mereka hanya membagi antara blok Barat dan Timur, kiri atau kanan. Secara ideologis, mereka hanya ingin mendengar suatu negeri berhaluan kapitalis ataukah komunis? Oleh karena itu, fenomena Soekarno dan Indonesia yang memilih “nonblok”, serta-merta digolongkan sebagai pihak yang berseberangan dengan kubu Barat, terlebih ketika Soekarno menyampaikan pidatonya dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung, bahwa, “Kehendak berkuasa dari negeri-negeri imperialisme tak lain adalah kemauan nafsu dan keserakahan bangsa-bangsa kaya, agar terus-menerus mengadakan ekspansi untuk menggerogoti kekayaan bangsa-bangsa miskin.”

Sekarang kita sudah memasuki pembicaraan mengenai ketakutan negeri-negeri kaya, dan secara mikro sangat berkaitan erat dengan ketakutan orang-orang kaya di negeri-negeri dunia ketiga, tak terkecuali orang kaya di ranah Banten.

Jika kita membaca karakteristik dari salah satu kandidat, siapapun tidak bisa menampik jumlah kekayaan mereka yang bernilai trilyunan. Tapi jangan lupa, mereka adalah orang-orang kaya yang hidup di dunia ketiga, dengan kemampuan membayar UMR perbulan bagi ribuan karyawan mereka, seharga satu pasang sepatu bermerk Nike atau Adidas.

Kaya di Negeri Miskin

Orang-orang kaya di republik ini – secara mikro di Banten juga – mesti ketakutan setengah mati dengan munculnya seorang pemimpin yang pro-rakyat. Kita semua tahu, jaminan kapital mereka akan terancam dengan munculnya presiden yang berani membuka akses bagi kemudahan layanan publik untuk masyarakat menengah ke bawah. Maka, dirancanglah berbagai agenda bagi orang-orang kaya di Banten, yang sebenarnya hanya memiliki “kaya aset” yang membutuhkan biaya tinggi untuk perawatannya. Konsekuensinya, mereka bersiap-siap menghadapi likuiditas yang semakin kurang dan berkurang.

Jika pun rupiah terpuruk, dan krisis ekonomi terjadi di negeri ini, yang merasa paling terancam justru mereka-mereka itulah! Utang-utang mereka semakin membengkak, hanya untuk mempertahankan aset yang harus likuid. Terbukti dari pengalaman krisis moneter pada 1998 lalu, perbankan negeri ini ambruk, orang kaya dan para konglomerat ketar-ketir. Karena aset-aset yang menimbun itu – seperti juga yang dimiliki leluhur salah satu kandidat presiden – merasa kesulitan likuiditas. Dan tentu saja, mereka paling merasa terancam dengan fenomena krisis ekonomi.

Rhenald Kasali, pakar ekonomi dan manajemen Indonesia, menegaskan bahwa orang-orang semacam itulah yang merepotkan bangsa dan negeri ini, karena akan menyedot likuiditas dari BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Hal yang lebih merepotkan dari orang-orang yang menimbun aset tersebut adalah soal pajak. Ketika pemerintah menerapkan sisitem baru yang berkeadilan (meningkatkan tax ratio), justru orang-orang kaya itulah yang paling sibuk menentang. Tidak jarang mereka berdalih seolah-olah pemerintah tidak optimal mengurus ekonomi, padahal cuma pelarian saja dari adanya sistem baru yang mengancam mereka dalam hal pembebanan pajak.

Di sisi lain, gaya hidup hedonis yang ditularkan orang-orang kaya kepada masyarakat miskin Banten, tidak kalah membahayakan. Tak ayal, ibu-ibu pengajian (emak-emak) yang mendambakan gaya hidup orang kaya dengan kredit sana-sini, membicarakan kerudung dan tas bermerk ala Atut Chosiyah atau Eni Saragih, kini dihidupkan kembali oleh tipikal keluarga Cendana, tanpa pernah menyuarakan pentingnya hidup sederhana dan bersahaja, yang merupakan anutan semua agama-agama mulia di dunia ini.

Banyak konsekuensi yang membahayakan dengan memberi teladan pada gaya hidup hedonis, di antaranya soal kolesterol, obesitas, dan gula. Saat ini, problem yang dihadapi umat manusia bukan soal kekurangan pangan, tapi kelebihan makan, gaya hidup yang salah, kegemukan, perut buncit (maaf, bukan menyinggung kandidat manapun). Jalan yang diajarkan agama dari gaya hidup yang boros dan konsumtif adalah upaya-upaya untuk membatasinya, mengerem, dan mengendalikan diri (taqwa). Kalaupun tidak mampu berpuasa, paling tidak, orang yang beriman dengan baik akan menjaga diri agar tidak makan sampai terlalu kenyang.

Saya melihat pada pribadi salah satu kandidat – meskipun tidak bicara secara eksplisit -- seakan-akan mereka mengajarkan rakyat Indonesia (dan Banten) agar terus menggenjot gaya hidup berselera tinggi, dengan tidak membedakan antara kebutuhan dan keinginan yang tak terkendali. Padahal obesitas, diabetes, dan perut buncit (eating too much), adalah problem utama kesehatan dunia yang semakin dihindari bangsa-bangsa yang berperadaban tinggi. Dalam realitasnya, saat ini – menurut ilmuwan dan intelektual Yuval Harari – kelebihan mengkonsumsi gula adalah pembunuh yang paling mematikan di era milenial ini.

Gelar dan Kekuasaan

Godaan untuk mendapatkan gelar, atau meraih gelar dengan jalan pintas tidak hanya dihadapi orang-orang kaya, bahkan seorang mubalig atau kiai sekalipun. Tapi, para pemburu gelar dari orang-orang kaya Banten tak ubahnya seperti “achiever”, yakni orang-orang berduit yang dengan cara apapun mengejar-ngejar titel untuk menunjukkan prestise guna meraih kekuasaan.

Menurut Rhenald Kasali, orang kaya yang mabuk gelar tersebut biasanya akan memperolehnya dari suatu lembaga (perguruan tinggi) yang mengharapkan “charity” untuk kelestarian dan kelangsungan lembaga dan organisasinya. Sementara, mereka yang memiliki karya dan kreasi yang jelas-jelas dibicarakan banyak akademisi dan intelektual, yang jelas-jelas rekam jejaknya, belum tentu dianugerahi gelar atau penghargaan dari tipikal lembaga pendidikan semacam itu. Terlebih bagi mereka yang berkarya di bidang sastra, yang memang – kebanyakan sastrawan yang kredibel – tak mau tergoda atau terpikat oleh gelar-gelar artifisial seperti itu.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa fenomena orang kaya Banten yang mestinya mengejar target kekayaan untuk meraih kebahagiaan hidup, sepertinya makin jauh saja dari sesuatu yang namanya “bahagia”. Sebab, yang mereka cari adalah banyak, bukan berkah. Yang mereka dambakan adalah titel akademik, bukan ilmu yang mencerdaskan. Yang mereka kejar adalah kemasan yang mentereng, bukan hidup berkualitas. Yang mereka cita-citakan adalah popularitas, bukan hidup yang sehat, mulia, dan beradab. Politik mereka adalah politik Machiavellian, bukan berpolitik untuk memekarkan nilai-nilai keadaban dan perbaikan moral bangsa.

Dari problem ketakutan akan hidup miskin (dihantui krisis ekonomi), perawatan aset yang menimbun, utang yang menumpuk, pajak yang harus dibayar, gaya hidup boros dan hedonis, hingga ke urusan makan kekenyangan dan perut buncit tadi, maka saya berani membalik logika bahwa bangsa Indonesia saat ini, tidak lebih jelek peradabannya ketimbang negeri-negeri yang sering digadang-gadang sebagai negeri makmur dan kaya-raya seperti Prancis, Korea Selatan, Finlandia, Belgia maupun Swiss. Buktinya, negeri kita yang selalu dipolitiasasi orang-orang kaya (elit politik) sebagai kantongnya kemiskinan ini, menduduki peringkat yang sangat jauh di nomor 165 dari 177 negara dunia, dalam kasus bunuh diri.

Secara eksplisit, saya ingin membuka mata hati pembaca yang konsisten berpikir dengan akal sehat, bahwa rangkaian ketakutan orang-orang kaya di Banten dan Indonesia ini, terakumulasi mendapat jawaban dengan memelihara hasrat yang menggebu-gebu untuk mengambil-alih kekuasaan, selama presiden di republik ini terang-terangan memposisikan diri sebagai “pro rakyat”. Hasrat berkuasa tiada henti, dengan cita-cita materialisme dan liberalisme yang bersifat duniawi belaka, hanya semata-mata berlari dari ancaman ketakutan pada hukum alam (fraud) yang mengintai sehari-hari kehidupan mereka.

Orang-orang kaya itu, menganggap hanya melalui jalan kekuasaan, konsesi areal pertambangan akan terus-menerus dikeruk, saham milik negara dapat diambil-alih melalui jalan divestasi. Di antara mereka, bahkan ada yang tega-teganya mengorbankan anak dan keturunan yang masih lugu dan polos (buta politik) agar bercokol menduduki jabatan publik dan tampuk kekuasaan.

Akumulasi ketakutan yang melahirkan hasrat tiada akhir untuk berkuasa, hanya dapat dihentikan oleh hati nurani yang jernih. Tak ada jalan lain selain mereka wajib mengerem, mengendalikan diri, dan mengubah gaya hidup. Dalam terminologi sastra dan religiositas, orang-orang kaya yang banyak menanggung dosa masa lalu (di era Orde Baru) itu, wajib berbenah diri, muhasabah, dan bertobat atas kekhilafan dan kesalahannya.

Sudah cukup banyak cobaan dan malapetaka yang dialami atas kesalahan dan dosa yang telah mereka perbuat di masa lalu. Tapi, apakah akibat buruk dari dosa dan kesalahan itu akan mengantarkan mereka kepada proses kesadaran (hidayah), ataukah mereka ingin menjerumuskan diri ke jurang yang lebih parah lagi?

Pilihan yang mereka tentukan mulai hari ini, akan berdampak pada kebaikan atau keburukan nasib mereka di kemudian hari. Oleh karena itu, mereka wajib memutuskan pilihan yang akan berdampak positif bagi masa depan hidup mereka dan anak-cucu mereka. ***

Bagikan:

LAINNYA

Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Senin, 20 Mei 2019 | 15:53 WIB
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Politik dan Pemberhalaan Agama
Senin, 20 Mei 2019 | 15:10 WIB
Politik dan Pemberhalaan Agama
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan
Minggu, 12 Mei 2019 | 17:34 WIB
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan

KOMENTAR

Orang Kaya di Ranah Banten

PEMERINTAHAN

1333 dibaca
Inspektorat Data Ulang Fisik Randis di Distan Banten
421 dibaca
KASN Rekomendasi Sanksi 3 Pejabat Banten Dukung Calon DPD RI 
204 dibaca
Jamsosratu Dinilai Berhasil, Dinsos NTB Belajar ke Dinsos Banten

POLITIK

884 dibaca
Anak Gubernur Gagal ke Senayan, HMI Kawal Pelanggaran ASN Banten
3002 dibaca
Andiara Raih Suara Terbanyak Calon DPD Dapil Banten, Anak Gubernur Gagal
1550 dibaca
Tuding HMI Demo Gubernur Ditunggangi, Ketum KAHMI Banten Dinilai Fitnah

HUKUM & KRIMINAL

152 dibaca
Dua Spesialis Pencuri Rumsong Dibekuk Resmob
429 dibaca
Melawan, 2 Bandit Ganjal Kartu ATM Ditembak
1129 dibaca
Digerebeg, 4 Pengepul, Pengecer dan Pemasang Judi Togel Lebaran Dipenjara

PERISTIWA

655 dibaca
PGK dan GP2B Desak Pecat Kadindikbud Engkos dan Faturrahman
249 dibaca
Diduga Gelapkan Dana BAT, Puluhan Karyawan Demo Kantor Alfamart Serang
2992 dibaca
Demo di Rumdis Gubernur, HMI Ingatkan KAHMI Jangan Bungkam Kami

EKONOMI & BISNIS

208 dibaca
Ramadhan, Pemprov Banten Gelar Bazar Sembako Murah
1910 dibaca
Ini Dia Tips Memilih Baju Muslim Wanita Sesuai Syariat yang Harus Anda Ketahui
Top