Sabtu, 25 Mei 2019

Meruqyah Orang Banten

[Foto ilustrasi/net]
Selasa, 30 Apr 2019 | 19:57 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muakhor Zakaria

KEMAMPUAN menerawang atau memprediksi apa yang akan terjadi, kadang membuat orang Banten lupa diri. Ketika kebanggaan itu melampaui batas-batas kewajaran, seseorang dapat bersikap angkuh dan sombong, hingga anugerah Tuhan yang berupa “kelebihan” itu dapat berbalik menjadi bumerang yang dapat mencelakakan dirinya. Ada orang Banten yang merasa yakin bahwa mimpinya akan jadi kenyataan. Banyak orang Banten yang merasa bahwa pilihan kandidatnya yang paling benar.

Padahal, ayat Alquran mengingatkan kita, bahwa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Begitupun yang buruk menurut kita, boleh jadi baik dalam pandangan Allah. Lalu, mengapa banyak orang Banten yang ngotot banget, bahwa apa yang baik menurutnya harus menjadi baik menurut Allah juga. Emangnya, siape lho?

Terkait dengan itu, Gus Jakfar merasa pusing tujuh keliling. Sebagai anak satu-satunya Kiai Soleh yang memiliki indera keenam, dan lazimnya disebut “anak indigo”. Fenomena tentang anak indigo yang digambarkan dalam cerpen K.H. Mustofa Bisri berjudul “Gus Jakfar”, seringkali kita temukan dalam keseharian masyarakat Banten. Karya sastra itu membedah tentang karakteristik seorang pemuda yang punya kemampuan meramal dan memprediksi apa yang akan terjadi, seolah-olah kandidat yang akan menang adalah 02. Kepastian itu seakan menjadi keyakinan mutlak, seratus persen. Tetapi, ketika Allah berkehendak lain, boleh jadi perlu disediakan Rumah Sakit Jiwa untuk menampung orang-orang yang mengalami depresi massal.

Di antara anak-anak Kiai Soleh, Gus Jakfar inilah yang namanya paling populer dan tersohor di tengah masyarakat. Bahkan lebih populer dari tokoh Tohir maupun Taufik dalam novel Perasaan Orang Banten, yang diikhtiarkan penulisnya sebagai upaya meruqyah orang Banten juga. Karena itu, orang seperti Gus Jakfar, cukup melihat dahi dan raut wajah Anda, ia akan mudah menebak apakah Anda akan berumur panjang ataukah sebentar lagi Anda akan mati. Keistimewaan itulah yang membuat namanya melambung hingga diakui oleh banyak kiai di lingkungan pesantren. Sejak dulu, ketika ada pejabat atau pengusaha yang datang bersilaturahim ke Kiai Soleh, tak lupa menyempatkan diri berjumpa dengan Gus Jakfar serta menyelipkan amplop atau cenderamata lainnya.

Suatu hari, seorang pejabat Pemda yang sudah puluhan tahun mengabdi pada negara, diterawang oleh Gus Jakfar di hadapan kawan-kawannya: “Kang, hidung sampeyan itu kok sudah bengkok? Apa Kang Kandar sudah bosan bernafas?” Keesokan harinya, kawan-kawan sekantor segera melayat menuju rumah di ujung jalan Cendana, dilatari dengan bendera kuning-kuning, yang tak lain adalah rumah almarhum Kang Kandar.

Pernah juga terawangan itu dialami Sumini, anak penjual rujak yang dijuluki banyak orang sebagai perawan tua: “Sum, saya melihat kening kamu kok mengkilat, sudah ada yang melamar ya?” Tak berapa lama, muncullah laki-laki dari kampung seberang yang menemui orang tua Sumini untuk melamar anaknya. Cerita lainnya, suatu kali seorang pemborong memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat provinsi. Sehari sebelum memenangkan tender tersebut, tak ada hujan tak ada angin, ia disindir oleh Gus Jakfar ketika secara kebetulan berpapasan dengannya: “Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol, dapat proyek besar ya?” Padahal waktu itu, sakunya sedang kempes, dan tidak ada selembar uang pun di dalamnya.

Menurut Mustofa Bisri, pesan moral dan nilai-nilai religiusitas, akan mudah melekat pada memori masyarakat dengan menyuguhkan dakwah dan syiar dalam bentuk karya sastra. “Cerita-cerita yang baik akan mempesona dan memikat hati pembacanya, karena memang disampaikan dengan penuh kecermatan dan ketelitian, oleh orang-orang yang cerdas, cakap dan penuh perhitungan,” ujar Gus Mus. Begitupun yang disampaikan Hafis Azhari dalam acara bedah buku “Pikiran Orang Indonesia” yang diselenggarakan oleh para jurnalis Banten yang tergabung dalam Lingkar Kajian Untuk Pencerahan di Serang, bahwa, “Karya sastra yang ditulis berdasarkan hati hanya akan dapat dinikmati oleh para pembaca yang menggunakan akal dan hati nuraninya.”

Konon, kemampuan menerawang dari pemuda indigo yang digambarkan dalam cerpen Gus Jakfar, banyak dimiliki oleh para kiai dan pemuda Banten berdasarkan motif-motif tertentu. Bukan hanya perkara jodoh, rizki dan kematian, konon melalui ilmu kasyaf tanda-tanda akan mudah terbaca, apakah suatu kekuasaan akan jatuh kepada kandidat nomor 01, 02 atau 007. Apakah suatu perusahaan akan terus berjaya ataukah jatuh dalam kebangkrutan. Apakah akan bangkit kembali setelah kejatuhan, ataukah akan gulung tikar untuk selama-lamanya.

Gus Jakfar merasa ada sesuatu yang ganjil dalam kepribadiannya, bahwa “kelebihan” yang dimilikinya adalah anugerah ataukah suatu malapetaka yang kelak akan mencelakakan dirinya. Gugatan inilah yang harus menjadi perhatian banyak orang Banten yang merasa diri punya kelebihan yang seringkali – dengan angkuh dan bangga – disebut sebagai “karomah”. Padahal, hanya Allah yang mutlak menentukan apakah suatu pemberian itu bernilai karomah ataukah justru menjelma sebagai “istidraj” yang lambat laun dapat menjerumuskan mereka kepada kufur nikmat.

Menyucikan Hati yang Kotor

Sudah cukup lama kemampuan menerawang yang dimiliki sebagian orang Banten menjadi bahan studi bagi kalangan akademisi dan intelektual. Namun, tanpa disertai keberanian menggugat, bahkan tanpa sanggup menghadapinya dengan sikap kritis. Padahal, setiap kelebihan yang dimiliki manusia hakikatnya adalah anugerah yang harus disikapi dengan rasa syukur, kearifan, dan penuh kerendahan hati. Seandainya nikmat itu diterima dengan sikap ujub dan takabur, itulah yang menggelincirkan kualitas anugerah itu menjadi “istidraj” yang tidak menjamin keberkahan dan kebahagiaan dalam hidup manusia.

Pemuda yang digambarkan Gus Mus adalah pengecualian, yakni sosok pemuda yang telah mencapai derajat manusia dewasa yang berani introspeksi dan muhasabah diri. Jangan-jangan kelebihan yang dimiliki dapat menggelincirkan dirinya kepada derajat manusia rendah yang terhinakan, bukan martabat yang memuliakan dirinya.

Selama berhari-hari ia merasa murung dan gelisah, diselimuti beragam teka-teki dalam pikirannya. Dalam kemurungan dan kebingungan yang membuatnya hampir terjatuh di ambang frustasi, ia pun memenuhi hajat ayahnya, Kiai Soleh, agar segera menemui seorang ulama sufi bernama “Kiai Tawakkal” yang konon telah mencapai derajat dan maqam waliullah.

Fatwa Ulama Sufi

Berhari-hari Gus Jakfar merasa kesulitan mencari-cari Kiai Tawakkal. Sang Kiai Sufi itu dikenal misterius, kadang datang dan pergi entah ke mana rimbanya. Suatu malam yang gelap-gulita, ia membuntuti Kiai Tawakkal di belakangnya, guna mencari tahu ke manakah dirinya akan menyendiri atau beritikaf. Dari kejauhan ia mengintip Kiai Sufi itu menuju suatu warung remeng-remang, tempat para wanita tunasusila menjajakan diri setiap malam.

Untuk tujuan apakah Kiai Tawakkal mendatangi tempat kotor yang dikenal sebagai lokalisasi atau tempat prostitusi itu? Bukankah selama ini ia punya keyakinan bahwa para hidung belang maupun WTS dipastikan sebagai ahli neraka yang tidak ada ampun baginya dalam pandangan Allah?

Setelah sekian lama berdiam diri, akhirnya Kiai Tawakkal memberikan petuah (fatwa) kepada Gus Jakfar yang memang berniat untuk mencari ilmu dan hikmah dengan penuh kesabaran. Seketika ia terhenyak dengan pandangan menerawang. Dalam dirinya muncul pencerahan dan kesadaran baru, menuju paradigma yang mengubah jalan berpikirnya tentang hakikat manusia dalam hubungannya secara vertikal dengan Allah Sang Pencipta.

“Wahai anak muda,” kata Kiai Tawakkal dengan penuh kelembutan, “Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca di keningku? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri? Apa yang kau lihat itu, belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Bukankah kau mengerti bahwa surga dan neraka hakikatnya adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia akan memasukkan kita ke dalam surga atau neraka. Dan untuk menggolongkan hamba-Nya ke dalam ahli surga atau neraka, sebenarnya Allah tidak memerlukan suatu alasan. Sebagai orang pintar, apakah kau berani menjamin amal-amalmu pasti mengantarkanmu ke dalam surga? Ataukah kau berani mengklaim orang-orang yang berada di warung remang yang kau pandang sebelah mata tadi, pasti akan masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh Allah, kita semua ingin mendekat kepada-Nya. Tapi kita tidak berhak menuntut balasan atas kebaikan yang telah kita lakukan. Mengapa? Karena hakikatnya, kebaikan kita berasal dari Allah juga. Dan kita diberi kesempatan dan kekuatan untuk berbuat baik, hakikatnya kesempatan dan kekuatan itu diberikan oleh Allah juga.”

Perlu ditambahkan satu paragraf lagi berdasarkan redaksi penulis: “Wahai anak muda Banten, sekiranya ramalan-ramalan Anda terbukti benar sesuai dengan hasil mimpi-mimpi Anda, apakah setiap kehendak Anda harus menjadi kehendak Allah. Ternyata, pasangan presiden yang Anda ramal kemenangannya, terbukti mengalami kekalahan telak. Jika apa-apa yang kau pastikan merupakan kepastian Allah, berarti Anda telah memiliki kewenangan untuk mendikte keputusan Allah. Seakan derajat Anda lebih mulia daripada para Nabi dan waliullah. Lalu, manusia jenis apakah Anda itu yang sebenarnya?”

Gus Jakfar yang terbilang sakti itu hanya menunduk, terpaku diam. Sementara, Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk pundaknya, menasihatinya agar senantiasa berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa nikmat dan anugerah. Sesungguhnya cobaan berupa nikmat tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa musibah dan malapetaka. Seperti para wanita yang berada di warung tadi, kebanyakan mereka adalah orang-orang susah. Sedangkan orang susah akan sulit bagi mereka untuk berlaku ujub, sombong dan takabur, yakni sifat-sifat yang seringkali dimiliki oleh orang-orang yang haus kekuasaan, popularitas, dan penghormatan. Mereka seringkali sibuk memuji dan membesarkan dirinya sendiri.

Semalam suntuk perjalanannya bersama Kiai Tawakkal mengantarkan Gus Jakfar pada petunjuk dan hidayah Allah. Bahwa setinggi-tinggi ilmu manusia, hanyalah setetes tinta di tengah lautan samudera yang maha luas. Di atas langit masih ada langit. Setinggi apapun derajat dan kedudukan manusia, akan selalu masih ada yang lebih tinggi darinya. Karena sesungguhnya, kekuasaan yang sejati hanya milik Allah, dan Dia-lah Yang sepantas-pantasnya dipuji dan diagungkan. ***

Penulis Alumni Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak

Bagikan:

LAINNYA

Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Senin, 20 Mei 2019 | 15:53 WIB
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Politik dan Pemberhalaan Agama
Senin, 20 Mei 2019 | 15:10 WIB
Politik dan Pemberhalaan Agama
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan
Minggu, 12 Mei 2019 | 17:34 WIB
Paradigma Baru tentang Hakikat Kesuksesan

KOMENTAR

Meruqyah Orang Banten

PEMERINTAHAN

1329 dibaca
Inspektorat Data Ulang Fisik Randis di Distan Banten
420 dibaca
KASN Rekomendasi Sanksi 3 Pejabat Banten Dukung Calon DPD RI 
203 dibaca
Jamsosratu Dinilai Berhasil, Dinsos NTB Belajar ke Dinsos Banten

POLITIK

882 dibaca
Anak Gubernur Gagal ke Senayan, HMI Kawal Pelanggaran ASN Banten
3002 dibaca
Andiara Raih Suara Terbanyak Calon DPD Dapil Banten, Anak Gubernur Gagal
1549 dibaca
Tuding HMI Demo Gubernur Ditunggangi, Ketum KAHMI Banten Dinilai Fitnah

HUKUM & KRIMINAL

152 dibaca
Dua Spesialis Pencuri Rumsong Dibekuk Resmob
415 dibaca
Melawan, 2 Bandit Ganjal Kartu ATM Ditembak
1126 dibaca
Digerebeg, 4 Pengepul, Pengecer dan Pemasang Judi Togel Lebaran Dipenjara

PERISTIWA

655 dibaca
PGK dan GP2B Desak Pecat Kadindikbud Engkos dan Faturrahman
249 dibaca
Diduga Gelapkan Dana BAT, Puluhan Karyawan Demo Kantor Alfamart Serang
2991 dibaca
Demo di Rumdis Gubernur, HMI Ingatkan KAHMI Jangan Bungkam Kami

EKONOMI & BISNIS

208 dibaca
Ramadhan, Pemprov Banten Gelar Bazar Sembako Murah
1906 dibaca
Ini Dia Tips Memilih Baju Muslim Wanita Sesuai Syariat yang Harus Anda Ketahui
Top