Selasa, 27 Oktober 2020

Menyoroti Jokowi dan Jurnalis

(foto ilustrasi)
Senin, 11 Des 2017 | 19:46 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Satu lagi adegan viral dipertontonkan oleh Presiden Jokowi, yakni pernikahan puterinya Kahyang Ayu dengan Bobby yang merupakan representasi dari adat dan tradisi manusia Indonesia. Peristiwa bersejarah itu juga disiarkan secara langsung oleh hampir seluruh televisi swasta di Indonesia. Jokowi memang manusia cerdik dan unik yang dimiliki oleh bangsa ini. Telah dimanfaatkan citra wong ndeso-nya untuk meraih simpati publik hingga menjadi kendaraan strategis untuk menapaki tangga-tangga kekuasaan.

Mulai dari makan lesehan di lapak-lapak, membersihkan sampah di gorong-gorong, gaya berpakaian dengan kemeja kotak-kotak hingga sarungan. Orang kampung yang cerdik menciptakan viral ini juga pernah membuat usaha kerabat saya terpaksa harus gulung tikar. Ketika mantan Presiden SBY membanggakan produk batu akik yang marak di ranah Banten, tiba-tiba pamornya anjlok setelah Jokowi (15 Maret 2015) terkaget-kaget menanyakan harga batu akik bacan dan Kalimantan yang mencapai Rp 25 jutaan.

“Hah, mahal banget!” Tiga kata yang terlontar dari mulut Jokowi ini, kontan menjadi viral. Bersamaan dengan itu, ribuan pengusaha batu akik yang bermodalkan trilyunan terpaksa harus kocar-kacir, terdisrupsi, dan mau tidak mau mencoba peruntungan pada jenis usaha baru. Para konsumen dan kolektor batu akik tiba-tiba mengalami shifting, putar haluan, untuk mengalokasikan anggarannya pada kebutuhan lain.

Apabila kita golongkan ke dalam kelas dan kasta, sebenarnya dari golongan mana sih Jokowi ini? Apakah dia dari kelas bangsawan, cendikiawan ataukah militer? Sebab, bila kita runut sepanjang sejarah kepemimpinan Indonesia, sejak Soekarno (bangsawan dan pemikir), Soeharto dan SBY (elit militer), Habibi (teknolog dan cendikiawan), sepertinya Jokowi tidak menempati kelas manapun di antara semua golongan itu?

Soekarno pernah memanfaatkan rakyat kecil sebagai kekuatan politiknya, padahal ia sendiri lahir dari kalangan bangsawan. Sebagai bangsawan pemikir Soekarno berbeda dengan Hatta yang memilih konsep “massa aksi” ketimbang “aksi massa”. Artinya, rakyat kecil harus dibekali pendidikan dan ilmu pengetahuan dulu, sebelum dikerahkan ke dalam aksi-aksi perlawanan menghadapi ketidakadilan dari pihak penjajah. Bagi Soekarno, keduanya mesti berjalan berbarengan hingga ia pun mendirikan PNI sebagai kekuatan untuk memobilisasi massa. Sedangkan Hatta memilih konsep PNI-Pendidikan untuk membangun kaderisasi rakyat agar melek politik terlebih dahulu.

Soeharto meskipun orang desa, tapi dia dibesarkan di tengah kalangan bangsawan yang kemudian tumbuh menjadi elit militer. Beda dengan Gus Dur yang lahir dari kalangan priyai Jawa yang tumbuh di kalangan bangsawan pemikir. Tak beda jauh dengan Megawati yang juga sebagai bangsawan pemikir, hingga dapat digolongkan sebagai kelas Brahmana. Tapi Jokowi? Siapakah dia? Sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang belum tuntas di kalangan para akademisi, jurnalis dan intelektual Indonesia.

Yang pasti Jokowi bukanlah dari keluarga militer. Tidak ada garis keturunan bangsawan yang dapat menggolongkannya sebagai orang berdarah biru. Dia dibesarkan di tengah perkampungan miskin dan kumuh. Persentuhan dengan kelas bangsawan oleh karena dia pernah merintis usaha kampung berupa panglong, jual-beli mebel, kemudian dilirik oleh PDIP bukan karena dia tergolong kelas bangsawan tapi justru dari rakyat kecil biasa. Untuk digolongkan dalam kelas waisya, dia pun bukan keturunan saudagar besar sekelas pengusaha seperti Jusuf Kalla dan Susi Pudjiastuti.

Sebagai rakyat kecil yang bergumul dengan aktivitas kerakyatan, Jokowi paham betul bagaimana bersikap di tengah-tengah rakyat biasa. Termasuk bergaul dengan kalangan wartawan dan jurnalis yang juga kebanyakan dari kelas rakyat biasa. Menantang hidup harian adalah etos kerja rakyat biasa, yang juga merupakan etos kerja kaum jurnalis kita. Dikejar-kejar oleh berita harian, deadline, berpikir taktis dan strategis, tegas dalam memutuskan sesuatu, berbarengan dengan sikap yang harus gesit dan lincah dalam mencari “rejeki halal”.

Lempar batu sembunyi tangan, yang seringkali menjadi motto hidup para militer yang terancam, bukanlah watak dan tabiat dari seorang berkasta waisya. Apalagi sampai merebut kekuasaan (kudeta), mengeksplorasi sumber daya alam habis-habisan, atau bersikap tega dengan mengekploitasi sumber daya manusia. Sebagai anak kandung dari rakyat biasa, kebanyakan jurnalis begitu solider dan setiakawan terhadap sesama yang bernasib malang seperti halnya rakyat biasa. Oleh karena itu, Jokowi paham betul bagaimana berhubungan dan menjalin relasi dan komunikasi dengan habitat mereka yang sibuk dengan etos-etos kerja rakyat biasa.

Tentu saja kaum jurnalis termasuk agensi penting yang paham bagaimana semangat harian terus berdegup. Begitupun dalam sejarah pergerakan Indonesia, kaum jurnalis dan intelektual sangat memiliki andil dan peran penting dalam perjuangan dan penyusunan batu-bata nation state (negara bangsa), seperti tokoh-tokoh penting berikut ini: Bung Tomo, Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro, hingga memasuki generasi Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Bahkan pemikir muslim seperti Natsir dan Kartosuwiryo, yang berbeda pandangan dengan Soekarno-Hatta dalam konsep radikalisme Islam dan nation state, juga memiliki andil dalam mewarnai corak pemikiran Islam di Indonesia. Meskipun semua pemikir itu sama-sama berbasis jurnalistik, penulis handal yang tekun bersaing dalam memperebutkan pengaruh opini publik untuk menciptakan warna-warni Indonesia yang beradab, adil dan berperikemanusiaan.

Tapi, selama kekuasaan militerisme Orde Baru, ketika politik menjadi panglima, dan kekuatan senjata dijadikan ajang pamer dan unjuk kekuatan, orang seperti Jokowi dan kaum jurnalis (yang bersenjatakan pena) serasa kurang dianggap. Mereka cukup diperhitungkan sebagai rakyat kecil yang statusnya sekelas Sudra. Suara mereka tak didengar, usulan mereka tak diperhitungkan. Bahkan kalangan jurnalis sempat disebut-sebut dengan julukan “massa mengambang” (the floating mass), artinya sekumpulan masyarakat yang pendapatnya ngawur dan tak perlu didengar. Di sini kita bisa memahami, mengapa jurnalis dan Jokowi seakan-akan berada dalam getaran gelombang yang sama.

Namun di sisi lain, kita pun harus jeli memahami sosok unik dan langka yang dimiliki Indonesia, seperti Jokowi dan sekian juta generasi baru yang sedang bermetamorfosis menyongsong abad milenial ini. Kecerdasan Jokowi sebagai orang desa, ternyata melampaui batas-batas pengetahuan yang disandang kaum militer dan politisi sekalipun. Sebab bagaimanapun, ia juga tergolong pujangga dan budayawan yang memahami seluk-beluk dan substansi perkembangan teknologi komunikasi dan informatika.

Tak mengherankan jika CEO Facebook, Mark Zuckerberg, di saat SBY de facto masih menjadi presiden RI, justru ia berkunjung ke Indonesia dengan memilih berjumpa secara intensif bersama Jokowi. Karena dialah sosok dan figur sentral yang banyak dibidik oleh pesatnya perkembangan media sosial dan segala aplikasinya hingga saat ini. (*)

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Jumat, 26 Jun 2020 | 18:39 WIB
New Normal: Revolusi Gaya Hidup
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Sabtu, 06 Jun 2020 | 15:04 WIB
Uniknya Punya Istri Orang Sunda
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jumat, 29 Mei 2020 | 20:51 WIB
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 
Selasa, 19 Mei 2020 | 21:11 WIB
Jadilah Pribadi yang Pemaaf 

KOMENTAR

Menyoroti Jokowi dan Jurnalis

BERITA TERKAIT

PEMERINTAHAN

81 dibaca
Libur Panjang, Sekda : Mending Sama Keluarga
124 dibaca
Pemkab Serang Raih Penghargaan 5 Kali Opini WTP dari Kemenkeu

POLITIK

214 dibaca
Ucapan Terima Kasih Warga, Ratu Tatu Dihadiahi Bontot Pontang
276 dibaca
Ciptakan Pilkada Kabupaten Serang Aman Damai Sehat dan sejuk

HUKUM & KRIMINAL

91 dibaca
Dua Residivis Sindikat Curanmor Dibekuk Polisi
171 dibaca
Belum Dapat Untung jadi Pengedar Pil Heximer, Dua Pemuda Ditangkap

PERISTIWA

53 dibaca
Libur Panjang, Polres Serang Terjunkan 143 Personil di Pusat Keramaian
69 dibaca
Sajadah Pengimaman Mesjid Al-Falah Dibakar Diduga ODGJ

EKONOMI & BISNIS

72 dibaca
Waduh, Upah Minimum Tahun Depan Tidak Naik
594 dibaca
Kemendag-Facebook Berdayakan UMKM Indonesia
Top