Selasa, 17 September 2019

Menyoal Wartawan Profetik

[foto ilustrasi/net]
Jumat, 16 Agt 2019 | 16:06 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhamad Pauji

      “Tidak mungkin kita sanggup menerangi masa depan, sebelum kita berhasil menyelesaikan masa lalu yang gelap?” (Nelson Mandela, 1918-2013)

       Saya masih ingat ketika majalah Teras pimpinan Bapak Firdaus Ansueto mengkonfrontasikan pendapat Atut Chosiyah (mantan Gubernur Banten) dengan pendapat Bapak Hafiz Azhari perihal bantuan sosial yang harus dialokasikan semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat Banten. Pada edisi tersebut (jauh sebelum Ibu Atut terkena OTT) sempat dinyatakan oleh penulis novel Perasaan Orang Banten itu, bahwa dana sosial yang bersumber dari APBD akan menjadi bumerang yang menjerumuskan para pejabat Banten sendiri, apabila tidak dialokasikan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Banten.

Bagi saya, kata-kata itu terlampau ideal dinyatakan oleh seorang penulis. Tapi boleh jadi, Pak Hafiz ingin menempatkan diri dalam imajinasi kaum pejabat, sehingga – apa boleh buat – mencoba berbahasa yang sekiranya dapat mengena di hati Gubernur beserta aparatur yang mendampinginya. Di sisi lain, saya masih ingat berita tentang beberapa “oknum” pejabat daerah yang menggrebek kantor redaksi Teras (2006) sewaktu masih beralamat di Desa Pagebangan, tak begitu jauh dari kampung saya, Temu Putih, Cilegon.

Jika saja para pejabat Banten berusaha bersikap bijak laiknya mantan presiden SBY yang suatu kali berpidato di hadapan kalangan jurnalis dan wartawan: “Pers sangat berjasa kepada diri saya. Kritik dan sinisme pers telah membuat saya lebih kuat sehingga mampu bertahan selama satu dasawarsa memimpin negeri ini. Kritik pers telah membuat saya hati-hati dalam melangkah, tahan godaan, tidak ceroboh, dan tidak gegabah.”

Dari keluhan SBY itu nampak adanya raut-raut kegelisahan yang membuat sosok penguasa tak mampu berbuat banyak di hadapan iklim kebebasan pers saat ini. Bahkan mereka sanggup mendesak seorang presiden agar bertindak realistis, jujur dan amanah. Nah, di situ bisa kita saksikan bagaimana seorang presiden merasa tak berkutik ketika terus-menerus diberondong pertanyaan, dipantau, dianalisis dan dikritisi kalangan wartawan, kemudian menunjukkan sikap serba salah untuk melakukan segala hal yang mesti berdampak, sampai-sampai dia pun ikut “nelangsa” hanya bisa berwacana laiknya penulis opini di media ini.

Dalam konteks 2019 ini, sejengkel-jengkelnya Presiden Jokowi terhadap kalangan jurnalis, tentu membuatnya berpikir seribu kali bila melakukan tindakan gegabah yang di luar nalar dan akal sehat sebagai pemimpin suatu negeri yang menjunjung tinggi independensi dan kebebasan pers. Sekesal-kesalnya Jokowi, apa mungkin beliau sanggup melakukan keputusan sepihak, misalnya memenjarakan wartawan, mencabut izin siaran, menghentikan iklan berwajah dan berlogat mirip Jokowi di media nakal, atau menghentikan bantuan dana untuk KPI, Dewan Pers dan seterusnya.
Jokowi tentu saja paham, dan tidak bakal bertindak gegabah, karena untuk konteks zaman saiki – beda dengan masa Orde Baru – pendekatan kekuasaan sudah tak mungkin lagi. Hanya akan mendapat pertentangan dari pergerakan kedaulatan rakyat itu sendiri. Selagi presiden tidak berani melakukan pendekatan kekuasaan, ya udah, rileks saja. Toh setiap orang punya kebebasan berpendapat dan berekspresi, serta dijamin oleh undang-undang dan kebebasan pers.

Karena itu, selayaknya kita juga berargumen secara bertanggung jawab, serta bersikap rileks menghadapi kritik dan perbedaan pendapat. Kita juga harus menjaga respek terhadap lawan bicara, baik melalui esai, surat suara maupun ruang-ruang publik lainnya. Inilah prinsip-prinsip yang perlu kita tumbuhkan di ruang publik. Jangan sampai ruang-ruang publik di Banten ini, seenak udelnya digadaikan untuk kepentingan politik praktis calon penguasa. Murah sekali harga kemerdekaan dan kebebasan pers di kita ini. Bahkan konon, ada pemred yang menerima mentah-mentah bisikan agar menghentikan ruang opini, dan dia manut saja, nuhun sewu wathon suloyo.

Karena itu, gagasan sekolah wartawan profetik oleh Bapak Firdaus (Ketua PWI Banten) tentu saja menarik perhatian kita. Sebagai kasta tertinggi sekaligus “tukang kritik”, memang tidak semestinya jurnalis bersikap reaktif terhadap kritik yang dilayangkan kepadanya. Di sisi lain, para birokrat dan pejabat Banten juga tidak sepantasnya bersikap apriori terhadap jurnalis. Pergunjingan dan kritik pedas terhadap kalangan jurnalis dan wartawan, justru banyak terjadi melalui medsos. Tak usah diambil hati. Biarkan saja. Lagipula, dunia medsos tak punya ikatan dengan Kode Etik Jurnalistik.  

Saat ini, masih banyak media (termasuk online) di negeri ini yang konsisten menjaga kredibilitasnya. Walaupun nakal agak urakan, masih banyak yang bersikap proporsional terhadap pejabat tinggi maupun presiden RI, meskipun ada juga yang kerjaannya memuji-muji pemerintah daerah melulu. Memang selayaknya, setiap kritik terhadap jurnalis maupun pemerintah, mestinya merujuk kepada media yang jelas, dan dijaga oleh kode etik. Jangan sampai terpancing lalu memicu debat kusir ngalor ngidul yang gak jelas juntrungannya.

Beberapa waktu lalu, dalam perbincangan tentang pesantren yang pernah digagas Kiai Rifa’i Arief di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ketiga pembicara (Fachri Ali, Komarudin Hidayat dan Hafiz Azhari) sepakat mempersoalkan pentingnya pesantren jurnalistik, di samping pesantren yang melahirkan santripreneur di seluruh Indonesia. Ditegaskan oleh pembicara Prof. Komarudin, bahwa kalangan jurnalis harus memiliki respek terhadap masyarakat kita yang heterogen. Dalam urusan kritik-mengkritik, harus dikedepankan sikap respek terhadap lawan bicara dan keterbukaan untuk dikoreksi. Sikap kita menyampaikan dan menghadapi kritik adalah cermin kedewasaan kita sebagai warganegara yang berjiwa toleran dan demokratis.

Budaya masyarakat Banten yang plural dan kompleks ditegaskan pula oleh pembicara Hafiz Azhari, sambil memperkenalkan pula kompleksitas budaya tersebut melalui novelnya Perasaan Orang Banten (meskipun saya kurang tahu apakah Bapak Firdaus pernah membaca novel tersebut). Padahal, pembahasannya semakin marak dari media massa lokal hingga nasional (seperti Kompas, Analisa, Padang Ekspres, Lampung Post, hingga Solo Pos), termasuk banyak analisis di website sastrawan nasional ahmadtohari.

Bagi saya pribadi, novel tersebut adalah rumus tentang kehidupan masyarakat Banten yang temperamental. Dari kasus pelarian anak muda karena konflik laten dengan orang tua, narkoba dan dendam percintaan, maraknya kriminalitas di provinsi seribu “kiai dan wali”, atheisme kaum agamawan, pembunuhan terencana di tingkat rumah-tangga, bahkan hingga terorisme dan radikalisme berkelas internasional. Rumus itu dapat saya simpulkan bahwa: bicara problem Banten berarti bicara problem dunia. Dalam ilmu sastra, masa lalu tetap menjadi sesuatu yang aktual. Demikian pula pernyataan Nelson Mandela, “Mana mungkin kita sanggup menerangi masa depan, sebelum kita berhasil menyelesaikan masa lalu yang gelap?”
 

Itulah uniknya dunia sastra yang digarap secara jurnalistik. Ia bicara tentang realitas apa adanya. Karena bagaimanapun, menjiwai karya sastra tentang diri kita, adalah jalan terang bagi masyarakat Banten untuk muhasabah, introspeksi dan berkaca diri dengan sebaik-baiknya. Selama ini, upaya para penulis muda Banten untuk membahas novel tersebut, tak lain merupakan jalan penawaran ide agar diterima dan dipahami masyarakat, suatu proses dan ikhtiar pergulatan dalam mewakafkan hidup penulis dalam menyaring intisari kata-kata lewat pertaruhan hidup yang hanya sekali ini.

Setiap jurnalis maupun sastrawan telah melakukan pengorbanan yang sama besarnya demi butiran ide dan gagasan yang ditawarkan. Mereka telah mengeluarkan energi dan dana yang tak sedikit untuk melakukan riset, penelitian dan wawancara, demi menghasilkan wacana, opini maupun resensi yang terbaik.

Mereka mencari sikon yang tepat dari segala hiruk-pikuk perpolitikan yang sarat hedonisme di Banten ini. Mereka begitu tekun dan fokus menjatuhkan pilihan karya untuk menangkal hoaks, kampanye hitam, dan fitnah kolektif. Justru pada saat kebanyakan orang sibuk memburu profesi yang lebih cepat dan instan agar menghasilkan harta dan kedudukan melimpah lewat jalan pintas. 

Di setiap festival dan pameran besar, kadang nampak politisi, penguasa dan para ajudannya melongok sepintas lalu pada barisan buku jurnalistik maupun sastra. Mereka tidak sempat menanyakan dan mencari tahu di manakah penulisnya. Padahal, sang penulis dengan jiwanya yang introvert sedang duduk menyendiri di pojokan sana. Seakan kesepian setelah berbulan lamanya mengguratkan pena, berekeringat menyeka peluh di kening, pada waktu sepertiga malam ketika para politisi dan penguasa sedang tidur pulas di kasur-kasur empuk mereka.

Tetapi pada prinsipnya, apapun yang digagas Bapak Firdaus dan kawan-kawan jurnalis, dengan sasaran utama melahirkan insan-insan unggul Banten dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan, adalah tugas mulia yang patut didukung oleh semua pihak. Terutama bagi kita yang mencita-citakan lahirnya wartawan-wartawan profetik yang pasti akan memberikan sumbangan positif bagi kemajuan peradaban Banten dan Indonesia. Insya Allah. ***

Penulis Founder untuk organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa.

Bagikan:

LAINNYA

Apa Bedanya Banten dan Papua?
Senin, 16 Sept 2019 | 17:24 WIB
Apa Bedanya Banten dan Papua?
Kesejahteraan Masyarakat dalam Pelayanan Kesehatan
Senin, 09 Sept 2019 | 12:55 WIB
Kesejahteraan Masyarakat dalam Pelayanan Kesehatan
Bicara Banten Bicara Indonesia
Kamis, 05 Sept 2019 | 16:53 WIB
Bicara Banten Bicara Indonesia
Membongkar Mitos Sastra Kita
Selasa, 03 Sept 2019 | 16:39 WIB
Membongkar Mitos Sastra Kita

KOMENTAR

Menyoal Wartawan Profetik

PEMERINTAHAN

179 dibaca
Bangun 28 Gedung OPD di Puspemkab Serang Butuh Dana Rp300 M
234 dibaca
Bangun Gedung Puspemkab, Pemprov Siap Kucurkan Bankeu
katarBanten1

POLITIK

691 dibaca
Pilkada Serang 2020, Tatu Berharap dapat Dukungan Partai Lain
998 dibaca
Pilkada Serang 2020, Tatu-Pandji Kembali Maju jadi Balon Bupati dan Wabup

HUKUM & KRIMINAL

375 dibaca
Kerap Lakukan Pemerasan di KP3B, 4 Pemuda Diringkus
914 dibaca
Diduga Peras Kades, Oknum LSM Terjaring OTT

PERISTIWA

906 dibaca
Duuh, Sepasang Kekasih di Cikande Dipaksa Preman Lepas Pakaian
1375 dibaca
Mengenaskan, Gadis Baduy Tewas Dibacok

EKONOMI & BISNIS

329 dibaca
Geram, Bupati Serang Ancam Sanksi Perusahaan yang Abaikan CSR
269 dibaca
Rayakan Hari Pelanggan Nasional, Andika Kunjungi Bank bjb Banten
Top