Minggu, 26 Mei 2024

Menikah beda Agama Kenapa tidak?

(Foto-ilustrasi)
Rabu, 31 Jan 2018 | 07:05 WIB - Mozaik Islami

PERNIKAHAN beda agama terus terjadi di masyarakat khususnya di kalangan artis. Agama Islam telah mengajarkan terkait perkawinan beda agama.

Ustaz Ammi Nur Baits mewanti-wanti agar memperhatikan beberapa hal.

Pertama, nikah beda agama tidak dilarang secara mutlak. Karena Islam membolehkan seorang lelaki Muslim menikah dengan wanita ahli kitab Yahudi atau Nasrani yang menjaga kehormatan dan bukan wanita nakal.

Allah berfirman; Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Alkitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. (QS. Al-Maidah: 5)

Karena itu, mengatakan bahwa nikah beda agama dilarang dalam Islam secara mutlak tanpa pengecualian, jelas kesalahan dan kedustaan atas nama syariat.

Kedua, bahwa agama tidak hanya status semata. Namun status yang sekaligus menjadi ideologi seseorang. Bagi sebagian orang yang kurang peduli dengan agama, menganggap bahwa agama hanya status. Tidak ada beda antara satu agama dengan lainnya. Karena semuanya agama. Anda bisa katakan, ini prinsip orang ateis atau agnotis, yang tidak memahami hakekat agama. Jelas prinsip yang sangat tidak relevan dengan realita di lapangan.

Setiap manusia memiliki status. Agama, kewarganegaraan, suku, bahasa, daerah, hingga usia. Sebagian dicantumkan di KTP, seperti agama, daerah, dan usia. Dan semua orang bisa membedakan antara status agama dengan status kewarganegaraan atau suku, bahasa, daerah atau usia. Semakin agung statusnya, semakin kuat usaha seseorang untuk membelanya.

Bagi orang yang menilai agama paling agung, pembelaan dia terhadap agama akan lebih besar dibandingkan pembelaan terhadap negara, suku, bahasa atau daerah. Demikian pula, bagi orang yang menilai status kewarganegaraan lebih penting, maka upaya pembelaannya akan banyak tercurah ke sana, dan begitu seterusnya.

Anda akan lebih marah ketika suku anda dihina daripada tanggal kelahiran anda dihina. Karena anda menganggap, suku lebih mulia dari pada tanggal lahir. Padahal keduanya sama-sama status manusia. Namun status yang satu lebih mulia, dibanding status lainnya.

Sebagai bangsa bernegara, kita diarahkan agar tidak terlalu menonjolkan sentimen kesukuan. Karena ini bisa mengancam persatuan bangsa. Sebagai manusia beragama, Islam juga menyuruh kita untuk tidak menonjolkan sentimen kesukuan, kebangsaan. Karena bisa mengancam persaudaraan sesama Muslim. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

Bukan termasuk golonganku, orang yang menampar pipi, atau merobek baju (ketika keluarganya meninggal), dan orang yang menghidupkan seruan jahiliyah. (HR. Bukhari 1298 dan Muslim 103)

Di sini kita hanya hendak menggaris bawahi, bahwa agama bukan semata status. Agama adalah ideologi. Manusia rela melakukan apapun demi ideologinya. Hingga ada orang yang rela memakan kotoran tokoh agamanya, tidak lain karena dorongan ideologi agama. Karena itu, jangan remehkan status agama. Agama tidak hanya status, tapi ideologi. []

 

Redaktur: Akew
Bagikan:

KOMENTAR

Menikah beda Agama Kenapa tidak?

INILAH SERANG

1227 dibaca
Walikota Bangga Banyak Santri Al-Mubarok dari Kota Serang
2537 dibaca
Kapolres Serang Pimpin Sertijab Kasatreskrim dan Kapolsek Kopo

HUKUM & KRIMINAL

2019 dibaca
Bobol ATM, Kawanan Maling Gondol Uang Rp830 Juta
822 dibaca
Langgar PPKM, Personil Polres Serang Angkut Sound System THM di Ciruas

POLITIK

512 dibaca
Andika Hazrumy Masuk Daftar 20 Politisi Muda Terpopuler
1272 dibaca
Pemilu 2019, Andika Ajak Masyarakat Cek Data Diri Sebagai Pemilih

PENDIDIKAN

2035 dibaca
Guru Diniyah di Lebak Terima Dana Insentif
1559 dibaca
Puluhan Mahasiswa IPB KKN di Lebak
Top