Senin, 01 Juni 2020

Mencegah Kemungkaran dengan Kemungkaran yang Sama

[foto ilustrasi]
Kamis, 10 Okt 2019 | 06:43 WIB - Mozaik Islami

PEMBUBARAN atau penghancuran paksa tempat-tempat prostitusi atau lokasi minuman keras kerap terjadi di Indonesia. Biasanya hal ini dilakukan atas nama umat Islam melalui ormas-ormas keagamaan. Alasannya tentu untuk menjalankan amar maruf nahi munkar namun dengan kekuatan tangan (kekerasan red.) apalagi jika diwarnai aksi baku hantam hingga pembakaran. Bagaimana sesungguhnya Islam memandang hal ini? Bolehkah hal itu dilakukan?

Berdasarkan penjelasan dari Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, ternyata hal ini tidak diperbolehkan. Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak Waliyul Amr (umara). Tindakan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap tempat-tempat maksiat, (yakni) dengan menghancurkan dan membakarnya, atau juga tindakan melampaui batas seseorang dengan melakukan pemukulan, maka ini merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan.

Para ulama telah menyebutkan masalah mengingkari dengan kekuatan tangan, merupakan hak penguasa. Yaitu orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. "Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya."

Makna kemampuan yang disebutkan dalam hadis ini, bukan seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh. Kalau demikian yang dimaksudkan, maka kita semua dapat memukul. Namun, apakah benar yang dimaksud seperti ini?

Kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan syariyah. Yang berhak melakukannya ialah orang yang memiliki kemampuan syariyah. Yaitu, pengingkaran terhadap mereka tidak akan menimbulkan kemungkaran lain. Dengan demikian, perbuatan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang, baik dengan memukul atau menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dilakukan seperti pada sekarang ini merupakan pelanggaran.

Orang yang melihat kemungkaran atau melihat pelaku kemungkaran, hendaknya melaporkannya kepada polisi, sebagai pihak yang bertanggungjawab, atau para ulama atau para dai, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang. Kemudian akan diselidiki, sehingga dapat diatasi dengan cara yang tepat. [Pernyataan Syaikh disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/lnilah]

Bagikan:

LAINNYA

Mau Jadi yang Biasa atau yang Luar Biasa?
Jumat, 29 Mei 2020 | 21:26 WIB
Mau Jadi yang Biasa atau yang Luar Biasa?
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Jumat, 29 Mei 2020 | 20:51 WIB
Covid-19 Hingga Musim Haji..
Kepada Siapa Saya Harus Bertanya?
Kamis, 28 Mei 2020 | 21:07 WIB
Kepada Siapa Saya Harus Bertanya?

KOMENTAR

Mencegah Kemungkaran dengan Kemungkaran yang Sama

PEMERINTAHAN

185 dibaca
Pakai Protokol Kesehatan, Pemkab Serang Gelar Halabihalal Terbatas
593 dibaca
Pemkab Serang Bentuk Satgas Ketahanan Pangan Daerah

POLITIK

1114 dibaca
DPP Serahkan ke DPD Gerindra Banten Tentukan Balon Kada
1196 dibaca
PDIP Usulkan Tatu-Pandji di Pilkada Kabupaten Serang 2020

HUKUM & KRIMINAL

111 dibaca
Salah Sasaran, Warga Tanara Kena Bacok
67 dibaca
Kantongi Sabu, Seorang Pemuda di Cilegon Diciduk Polisi

PERISTIWA

85 dibaca
Diduga Stres, Mahasiswi Bina Bangsa Gantung Diri
542 dibaca
Warga Curug Ditemukan Tewas Mengambang di Sungai

EKONOMI & BISNIS

531 dibaca
Sekretaris Bapenda: Bank Banten Gagal Bayar Disebabkan Utang ASN dan DPRD
582 dibaca
Bupati Serang Sebut Bantuan Beras Harus Serap Petani Lokal
Top