Minggu, 20 Oktober 2019

Mencegah Kemungkaran dengan Kemungkaran yang Sama

[foto ilustrasi]
Kamis, 10 Okt 2019 | 06:43 WIB - Mozaik Islami

PEMBUBARAN atau penghancuran paksa tempat-tempat prostitusi atau lokasi minuman keras kerap terjadi di Indonesia. Biasanya hal ini dilakukan atas nama umat Islam melalui ormas-ormas keagamaan. Alasannya tentu untuk menjalankan amar maruf nahi munkar namun dengan kekuatan tangan (kekerasan red.) apalagi jika diwarnai aksi baku hantam hingga pembakaran. Bagaimana sesungguhnya Islam memandang hal ini? Bolehkah hal itu dilakukan?

Berdasarkan penjelasan dari Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, ternyata hal ini tidak diperbolehkan. Bahkan ini termasuk kemungkaran tersendiri. Merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan merupakan hak Waliyul Amr (umara). Tindakan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang terhadap tempat-tempat maksiat, (yakni) dengan menghancurkan dan membakarnya, atau juga tindakan melampaui batas seseorang dengan melakukan pemukulan, maka ini merupakan kemungkaran tersendiri, dan tidak boleh dilakukan.

Para ulama telah menyebutkan masalah mengingkari dengan kekuatan tangan, merupakan hak penguasa. Yaitu orang-orang yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. "Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya."

Makna kemampuan yang disebutkan dalam hadis ini, bukan seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, yaitu kemampuan fisik untuk memukul atau membunuh. Kalau demikian yang dimaksudkan, maka kita semua dapat memukul. Namun, apakah benar yang dimaksud seperti ini?

Kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan syariyah. Yang berhak melakukannya ialah orang yang memiliki kemampuan syariyah. Yaitu, pengingkaran terhadap mereka tidak akan menimbulkan kemungkaran lain. Dengan demikian, perbuatan melampaui batas yang dilakukan oleh sebagian orang, baik dengan memukul atau menghancurkan tempat-tempat maksiat yang dilakukan seperti pada sekarang ini merupakan pelanggaran.

Orang yang melihat kemungkaran atau melihat pelaku kemungkaran, hendaknya melaporkannya kepada polisi, sebagai pihak yang bertanggungjawab, atau para ulama atau para dai, untuk selanjutnya diserahkan kepada yang memiliki wewenang. Kemudian akan diselidiki, sehingga dapat diatasi dengan cara yang tepat. [Pernyataan Syaikh disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun X/1427H/lnilah]

Bagikan:

LAINNYA

Empat Hari dan Empat Malam Terbaik dalam Islam
Senin, 14 Okt 2019 | 21:17 WIB
Empat Hari dan Empat Malam Terbaik dalam Islam
Perbanyak Istigfar Dapat Kemudahan di Saat Sulit
Senin, 14 Okt 2019 | 20:42 WIB
Perbanyak Istigfar Dapat Kemudahan di Saat Sulit
Suami Lebih Takut Istri Daripada Durhaka Pada Ibu
Senin, 14 Okt 2019 | 20:10 WIB
Suami Lebih Takut Istri Daripada Durhaka Pada Ibu

KOMENTAR

Mencegah Kemungkaran dengan Kemungkaran yang Sama
sayembara2

PEMERINTAHAN

153 dibaca
Pemprov Banten Terima Apresiasi dan Penghargaan dari Kemendagri
167 dibaca
Sosialisasikan SLRT, Layanan Sosial Kini Dilakukan Terpadu

POLITIK

679 dibaca
Didiskualifikasi, Balon Kades Garut Malah Kesurupan
117 dibaca
Rapatkan Barisan, Seluruh Dewan Golkar di Banten Diminta Solid

HUKUM & KRIMINAL

212 dibaca
Unit Reskrim Polsek Curug Tembak Gembong Curanmor
127 dibaca
Belum Nikmati Hasil Curanmor, Dua Pelaku Diringkus

PERISTIWA

68 dibaca
Bupati Serang Minta UPZ Maksimalkan Penerimaan ZIS
230 dibaca
Temui Massa Aksi Demo, Bupati Serang Jawab Semua Tuntutan

EKONOMI & BISNIS

105 dibaca
Musim Kemarau, PDAM Tirta Albantani Alami Kerugian Capai Rp5 Miliar
47 dibaca
Andika Jajaki Ekspor Gula Aren dan Manggis via Platform Digital
Top