Jumat, 18 Januari 2019

Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Kesehatan

[Foto Istimewa]
Jumat, 12 Okt 2018 | 22:00 WIB - Gaya Hidup

lBC, Jakarta - Masyarakat Indonesia saat ini kurang peduli kesehatan. Padahal, saat ini gaya hidup menjadi salah satu pemicu utama penyakit kritis.

Masyarakat dari berbagai usia, baik yang produktif maupun usia senja tidak luput dari risiko penyakit kritis. Menurut dr. Johan Winata, Sp,JP (K) FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah konsultan kardiologi intervensi RSPI, masyarakat Indonesia sangat kurang peduli dengan gaya hidup sehat. Memilih makanan yang sehat dan mengelola stress yang baik adalah salah satu kunci menjalankan hidup sehat.

"Di Indonesia, penyakit kritis yang paling pertama adalah masalah cardiovaskular yaitu stroke atau gangguan pembuluh darah dan jantung kemudian baru kanker. Sebenarnya angka ini dibanding 20 tahun lalu sangat terbaik. Kalau dulu kanker yang pertama. Baru penyakit metabolik termasuk jantung. Untuk data, memang setengahnya atau 50 persen angka kematian disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Kemudian 40 persen jantung coroner dan 38 persen stroke," papar Johan saat ditemui di acara BCA dan AIA Luncurkan Proteksi Penyakit Kritis Maksima (PRIMA), Jakarta, baru - baru ini.

Meski angka tersebut sangat tinggi untuk penderita penyakit kritis, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan untuk mengantisipasi biaya kesehatan di dalam keluarga. Menurut data dari AIA Healthy Living Index Survey 2018 menunjukkan bahwa sekitar 87 persen masyarakat Indonesia sangat mencemaskan biaya untuk pengobatan penyakit kritis.

Kemudian,, penyakit yang dianggap akan menimbulkan dampak finansial yang serius adalah kanker 53 persen, penyakit jantung 47 persen dan diabetes 31 persen. Untuk pengobatan penyakit seperti kanker, 31 persen menyatakan mereka membayar menggunakan uang tabungan dan 28 persen melalui asuransi.

"Kalau dihitung, untuk biaya mengatasi penyakit jantung, sekitar Rp. 100 juta lebih. Tergantung dari masalah atau kasus kesehatan jantungnya," tambah Johan.

Karena itu, direktur BCA Suwignyo Budiman mengatakan, memiliki jiwa dan raga yang sehat merupakan dambaan hidup semua orang. Meski demikian, gangguan kesehatan atau penyakit yang menyerang tubuh memang tidak bisa diprediksi.

"Oleh sebab itu, BCA bersama AIA mengambil langkah dengan menawarkan solusi proteksi jiwa dan penyakit kritis yang saat ini semakin mahal biayanya," ujar Suwignyo.[lnilahcom]

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Kesehatan

PEMERINTAHAN

87 dibaca
Andika Sebut Kepercayaan Publik pada Pemprov Banten Meningkat
223 dibaca
Lantik 223 Pejabat, Bupati Serang Sebut Agar Kinerja Lebih Baik
181 dibaca
Pertama di Indonesia, Inspektorat Kabupaten Serang Integrasikan Dua ISO

POLITIK

3952 dibaca
Gubernur Banten Wahidin Halim Dilaporkan ke Bawaslu
847 dibaca
Dukung Prabowo-Sandi, Caleg PBB di Banten Bentuk Pass Lantang
153 dibaca
Debat Capres Bisa untuk Curi Perhatian Rakyat

HUKUM & KRIMINAL

219 dibaca
Mayat Wanita di Cipocok Jaya Ternyata Dibunuh
107 dibaca
Polisi Ringkus Pelaku Curanmor, Penadah dan Pengoplos
333 dibaca
Diduga Otak Pengeroyokan Santri, MH Terancam Dijemput Paksa

PERISTIWA

125 dibaca
Peran Media Penting dalam Sosialisasi Millennial Road Safety Festival
140 dibaca
Gubernur Berikan Bantuan Seragam Sekolah untuk Korban Tsunami

EKONOMI & BISNIS

105 dibaca
Sri Mulyani Jamin Usaha Kecil Digital Bebas Pajak
197 dibaca
Pulihkan Anyer, Pemprov Banten Tinjau Pelarangan Rapat di Hotel
Top