Kamis, 18 Oktober 2018

Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Kesehatan

[Foto Istimewa]
Jumat, 12 Okt 2018 | 22:00 WIB - Gaya Hidup

lBC, Jakarta - Masyarakat Indonesia saat ini kurang peduli kesehatan. Padahal, saat ini gaya hidup menjadi salah satu pemicu utama penyakit kritis.

Masyarakat dari berbagai usia, baik yang produktif maupun usia senja tidak luput dari risiko penyakit kritis. Menurut dr. Johan Winata, Sp,JP (K) FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah konsultan kardiologi intervensi RSPI, masyarakat Indonesia sangat kurang peduli dengan gaya hidup sehat. Memilih makanan yang sehat dan mengelola stress yang baik adalah salah satu kunci menjalankan hidup sehat.

"Di Indonesia, penyakit kritis yang paling pertama adalah masalah cardiovaskular yaitu stroke atau gangguan pembuluh darah dan jantung kemudian baru kanker. Sebenarnya angka ini dibanding 20 tahun lalu sangat terbaik. Kalau dulu kanker yang pertama. Baru penyakit metabolik termasuk jantung. Untuk data, memang setengahnya atau 50 persen angka kematian disebabkan karena penyakit jantung dan pembuluh darah. Kemudian 40 persen jantung coroner dan 38 persen stroke," papar Johan saat ditemui di acara BCA dan AIA Luncurkan Proteksi Penyakit Kritis Maksima (PRIMA), Jakarta, baru - baru ini.

Meski angka tersebut sangat tinggi untuk penderita penyakit kritis, ternyata masih banyak masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan untuk mengantisipasi biaya kesehatan di dalam keluarga. Menurut data dari AIA Healthy Living Index Survey 2018 menunjukkan bahwa sekitar 87 persen masyarakat Indonesia sangat mencemaskan biaya untuk pengobatan penyakit kritis.

Kemudian,, penyakit yang dianggap akan menimbulkan dampak finansial yang serius adalah kanker 53 persen, penyakit jantung 47 persen dan diabetes 31 persen. Untuk pengobatan penyakit seperti kanker, 31 persen menyatakan mereka membayar menggunakan uang tabungan dan 28 persen melalui asuransi.

"Kalau dihitung, untuk biaya mengatasi penyakit jantung, sekitar Rp. 100 juta lebih. Tergantung dari masalah atau kasus kesehatan jantungnya," tambah Johan.

Karena itu, direktur BCA Suwignyo Budiman mengatakan, memiliki jiwa dan raga yang sehat merupakan dambaan hidup semua orang. Meski demikian, gangguan kesehatan atau penyakit yang menyerang tubuh memang tidak bisa diprediksi.

"Oleh sebab itu, BCA bersama AIA mengambil langkah dengan menawarkan solusi proteksi jiwa dan penyakit kritis yang saat ini semakin mahal biayanya," ujar Suwignyo.[lnilahcom]

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Penemuan Dini Kanker Anak Cegah Risiko Kematian
Selasa, 16 Okt 2018 | 22:50 WIB
Penemuan Dini Kanker Anak Cegah Risiko Kematian
Ini yang Bisa Rangsang Bayi Jadi Pintar
Senin, 15 Okt 2018 | 23:44 WIB
Ini yang Bisa Rangsang Bayi Jadi Pintar
Kalimat Cinta Spesial untuk Pasangan
Minggu, 14 Okt 2018 | 23:08 WIB
Kalimat Cinta Spesial untuk Pasangan
Remaja Cenderung Agresif dan Melawan Orangtua?
Jumat, 12 Okt 2018 | 21:57 WIB
Remaja Cenderung Agresif dan Melawan Orangtua?

KOMENTAR

Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Kesehatan

PEMERINTAHAN

210 dibaca
ASN Pemprov Banten jangan Main-main dalam Absen
270 dibaca
HUT Ke-492, Pemkab Serang Diminta Perkuat Ekonomi Desa
247 dibaca
Dilantik, Pj Walikota Serang Diminta Perbaiki Jalan

POLITIK

129 dibaca
Pemilu 2019, Andika Ajak Masyarakat Cek Data Diri Sebagai Pemilih
415 dibaca
Ratusan Buruh Cikoja Deklarasi Pemilu Damai 2019
323 dibaca
Serempak di 29 Kecamatan, KPU Kabupaten Serang Lakukan GMHP

HUKUM & KRIMINAL

287 dibaca
6 Oknum Anggota Ormas Pengeroyok Polisi Terancam 7 Tahun Penjara
311 dibaca
Pengguna dan Pengedar Narkotika, Tiga Warga Cilegon Diringkus
215 dibaca
Alfamart Dibobol Maling, Uang Rp60 Juta Raib

PERISTIWA

156 dibaca
Polres Serang Kota Sita 3500 Lebih Botol Miras
184 dibaca
Tim PFA Dompet Dhuafa Pulihkan Anak-anak Pasca Gempa-Tsunami Sulteng
219 dibaca
Warga Petir Ditemukan Tewas Gantung Diri

EKONOMI & BISNIS

170 dibaca
MoU dengan DP3AKKB, Bank Banten Dukung Pemberdayaan Perempuan
181 dibaca
Andika Launching Toko Online Industri Rumahan Sijelita
Top