Kamis, 27 Juni 2019

Manusia Selesai

[foto ilustrasi/pixabay.com]
Kamis, 30 Mei 2019 | 14:45 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Habib M.

Guru dan pemerhati pendidikan Banten

Sejatinya, orang kaya adalah orang yang merasa cukup. Hanya mereka yang memiliki rasa cukup secara material layak disebut manusia yang telah melampaui kemakmuran awalnya. Mereka dapat disebut “manusia selesai” karena telah berhasil mengatasi segala godaan duniawi. Mereka memiliki kepekaan dan kepedulian, hingga sanggup melahirkan karya-karya besar, serta memiliki andil untuk menyumbang bagi jalannya keadilan dan kemanusiaan.

               Manusia yang telah terpenuhi kemakmuran awalnya, akan memiliki kepedulian pada kemuliaan hidup. Karena yang dicari bukan semata-mata prestise dan kesuksesan, tapi sejauhmana prestise itu mampu melahirkan kebahagiaan dan kemuliaan hidup. Oleh karena itu, saya berani berkesimpulan bahwa keterpurukan suatu negeri, karena minimnya orang-orang “selesai” yang telah melampaui kemakmuran awalnya, baik di tingkat penyelenggara negara, politisi hingga para pengusaha sekalipun.

               Dampak dari semuanya itu bisa kita saksikan di seluruh pelosok negeri ini – tak terkecuali Banten – bahwa peran sosial, politik, dan ekonomi hanya dipahami sebatas wahana perburuan kepentingan dan keuntungan yang berujung pada terpenuhinya ambisi dan obsesi duniawi semata. Penghayatan perasaan teramat “miskin” sampai-sampai mendorong perilaku dan karakteristik untuk bergerak liar, menyeruduk ke segala arah, membobol kantong kekayaan negara, baik dari hasil pajak, migas, sampai APBN sekalipun.

               Puncak dari kemiskinan jiwa itu, terakumulasi pada hasrat dan nafsu yang menggebu-gebu pada kekuasaan, karena ia adalah godaan paling manis sekaligus paling jahat. Hanya manusia-manusia yang memiliki karakter dan tabiat sama, yang akan menjadi korban politisasi mereka. Karena orang-orang semacam itu, tak mampu melihat kedalaman diri, tetapi hanya wadak dan kulit luarnya saja.

               Negeri ini membutuhkan surplus orang-orang “selesai” yang telah melampaui kemakmuran awalnya. Hal itu tidak identik dengan orang kaya, tetapi orang yang batinnya merasa cukup, merasa bahagia, hingga memiliki kelapangan dan kesempatan untuk dapat membahagiakan orang lain. Pemimpin yang memiliki sifat “zuhud”, di mana kekayaan jiwa dan batinnya telah menggeser nilai-nilai kekayaan duniawi yang hanya bersifat materialistik dan fatamoegana semata.

               Menurut hemat penulis, tokoh Kiai Muhaimin dalam novel Perasaan Orang Banten termasuk dalam kategori manusia selasai. Beda dengan tokoh politik atau pengusaha yang digambarkan penulisnya sebagai figur “kekanak-kanakan”. Bahkan, para tokoh politik seakan masih meraba-raba dunia perpolitikan, belum paham ilmu politik yang dapat mendewasakan khazanah, bahwa kekuasaan adalah ladang pengabdian (amanah) yang dianugerahkan Tuhan untuk memakmurkan dan membahagiakan rakyatnya.

               Konsep demokrasi Pancasila, selama masa kekuasaan Orde Baru, seakan bertumpu pada ambisi-ambisi material yang bersifat hedonistik semata. Oleh keluarga Cendana berikut timbunan kekayaan yang dimilikinya, Pancasila seakan disulap menjadi “jimat”, kemudian disimpan dalam lemari yang cenderung dikeramatkan. Fungsi Pancasila seakan tergeser oleh hasrat dan kehendak berebut kue tumpeng yang disodorkan Soeharto dan kroninya, hingga rakyat dibiarkan saling sikut kiri dan kanan untuk memenangkan kue perebutan itu. Bahkan dengan mengatasnamakan Pancasila, Orde Baru merasa sah dan berhak melakukan apa saja, termasuk memberangus pikiran-pikiran kritis.

               Dalam cengkeraman Orde Baru, rakyat kehilangan orientasi nilai dan horizon harapan atas perubahan menuju peradaban yang lebih tinggi. Etika dan etos bangsa dipasung dalam mesin bernama “pembangunan” kemudian digiring kepada pola-pikir yang seragam agar menjadi “manusia seutuhnya”. Pengertian manusia seutuhnya dalam konteks Soeharto bukanlah dalam pengertian insan kamil atau “manusia selesai” yang saya sebutkan di atas. Tetapi, manusia satu dimensi dengan perspektif tunggal, yang tidak rela adanya paham atau ideologi apapun yang dianggap tidak disukainya.

               Para penerus dan pewaris Orde Baru yang teriak-teriak menyuarakan “people power”, ikut pula menggeser fungsi Pancasila menjadi ideologi “kudu sugih” dengan moto hidup, “sing sabar ora keduman” (yang sabar tidak kebagian). Di kalangan para pewaris Orde Baru, sensitivitas atas harga diri dan martabat memang sangat rendah. Begitu mudahnya mereka pamer kekayaan di tengah jutaan rakyat miskin, sementara mereka terus menumpuk kepemilikan ribuan hektar tanah, rumah dan vila-vila megah, mobil mewah berderet-deret, hingga kuda-kuda poni yang berharga puluhan milyar dipelihara di kandang-kandang mereka.

               Ada beberapa catatan penting yang perlu saya kemukakan di sini. Kepada para penyelenggara pemerintahan – khususnya di Banten ini – izinkan saya menyampaikan beberapa catatan penting, bahwa rakyat Banten sebenarnya hanya menginginkan Anda menjadi penyelenggara negara yang baik, berani dan tegas, serta menempuh langkah-langkah etis, hingga mampu melahirkan karya-karya besar berupa legislasi, regulasi, dan kebijakan politik tata kelola kekuasaan.

               Singkirkan khayalan dan imajinasi untuk mengeruk dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara mengeksploitasi kekuasaan. Tinggalkan ideologi “kudu sugih” yang memiskinkan jiwa masyarakat kita. Hidup ini hanya sekali, mari kita berlomba untuk menunjukkan diri agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, bagi rakyat Banten dan Indonesia. Rakyat sangat berharap, bahwa Anda harus sanggup mengakhiri mimpi buruk bangsa ini, dengan kemampuan integritas dan dedikasi tinggi. Jadilah negarawan sejati, bukan hanya menjadi politikus semata.

               Sudah cukup lama buku sejarah bangsa ini menganggur. Selama puluhan tahun negeri ini belum lagi melahirkan tokoh dan pemimpin besar. Kita semua tidak menginginkan bangsa ini absen dalam membangun kebudayaan dan peradaban, hanya karena para penyelenggaranya sibuk memperkaya diri dan tenggelam dalam hedonisme. Bangsa ini menjadi celaka jika pemilu hanya menghasilkan penguasa dan wakil-wakil rakyat yang tidak memiliki otentisitas personal dan intelektual khas negarawan. Mitos-mitos tentang popularitas dan pencitraan harus dirobohkan karena telah memperbodoh publik. Para pemimpin yang melumuri diri dengan pencitraan dan popularitas terbukti tak mampu bekerja secara optimal untuk menyejahterakan rakyat, kecuali untuk hedonisme.

               Anda semua punya kapasitas dan potensi besar untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik dan bermaslahat bagi provinsi yang kita cintai ini. Pada saatnya nanti, anak-cucu kami akan menemukan Anda sebagai tuan rumah sejarah bangsa ini. Cermin keteladanan itu sudah ada pada para pendahulu kita. Jejak-langkah para bapak bangsa, sepert Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, telah memberikan raut-raut kepemimpinan yang memiliki otoritas tinggi terhadap perjalanan demokrasi bangsa ini.

               Kekuatan mereka menjalani proses, serta ketangguhan menjawab tantangan zaman, menjadikan mereka eksis dan hadir di tengah-tengah kita. Kami menghendaki kalian menjadi orang-orang yang dipentingkan bagi rakyat Banten, bukan sekadar orang-orang menarik yang dipoles hanya untuk tampil di media darling. Jadilah pemimpin yang disukai dan dirindukan rakyat, jadilah pemimpin yang amanah, menjaga martabat dan kemuliaan, karena telah berhasil menunjukkan dirinya bermanfaat bagi banyak orang. Semoga. (*)

Bagikan:

LAINNYA

Ketika Sastra Berpaling
Senin, 17 Jun 2019 | 21:09 WIB
Ketika Sastra Berpaling
Seberapa Waras Orang Banten?
Kamis, 30 Mei 2019 | 15:05 WIB
Seberapa Waras Orang Banten?
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Senin, 20 Mei 2019 | 15:53 WIB
Kekuasaan dan Terapi Kejiwaan
Politik dan Pemberhalaan Agama
Senin, 20 Mei 2019 | 15:10 WIB
Politik dan Pemberhalaan Agama

KOMENTAR

Manusia Selesai

PEMERINTAHAN

557 dibaca
Pemkab Serang Terapkan Sistem Berbasis Elektronik
1203 dibaca
Pemprov Banten Merubah RPJMD 2017-2022, Ini Sebabnya
1408 dibaca
Perencanaan APBD Banten 2019, Pembangunan Fisik Harus Selesai November

POLITIK

1208 dibaca
Pilkada Kabupaten Serang 2020, KPU Ajukan Anggaran Rp85 Miliar
1393 dibaca
2 Tahun Kepemimpinan WH-Andika, Eks Relawan Bentuk Tim Kajian 
10974 dibaca
Arwan Benarkan Ucapan Gubernur WH ‘Siapa Suruh jadi Relawan’

HUKUM & KRIMINAL

643 dibaca
Cabuli Siswa Hingga Hamil, 3 Oknum Guru Terancam 20 Tahun Penjara
2159 dibaca
Kapolda Banten Berhentikan Dua Anggota Polri
494 dibaca
Dua Spesialis Pencuri Rumsong Dibekuk Resmob

PERISTIWA

374 dibaca
Peringati HANI 2019, Bupati Serang Canangkan Program Bersih dan Aman
306 dibaca
Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi, Pemkab Serang Siaga Satu
1421 dibaca
Ops Cipta Kondisi, Polres Serang Minimalisir Pergerakan Massa

EKONOMI & BISNIS

543 dibaca
Dekopinwil Banten Diminta Lakukan Perubahan di Era Digital
525 dibaca
WH Ingatkan Tertinggal Revolusi 4.0, Menganggur Kita
Top