Sabtu, 02 Maret 2024

Makna Hari Raya Kurban, Berkorban dan Menjadi Korban

Sabtu, 09 Jul 2022 | 20:14 WIB - Mozaik Islami

Hari Raya Idul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah setiap tahunnya. Di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan hari Minggu, 10 Juli 2022, sebagai Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah berdasarkan sidang isbat. Penting bagi umat Muslim untuk memaknainya.

Saat Idul Adha, seluruh umat Muslim di berbagai belahan dunia akan melakukan ibadah penyembelihan hewan kurban seperti kambing, sapi, domba, hingga unta. Idul Adha berasal dari dua kata, yakni Id yang diartikan sebagai ‘berhari raya’ sementara kata Adha memiliki makna kurban.

Karenanya tak heran, Idul Adha juga kerap dikenal dengan sebutan Hari Raya Kurban. Waktu penyembelihan kurban adalah tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Idul Adha) sesudah Salat ‘Id dan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah (tiga hari sesudahnya) yang dikenal dengan Ayyam Tasyriq.

Makna dari Idul Adha adalah kembali berkurban, kembali mengorbankan sesuatu untuk mendekat kepada Allah SWT. Timbul pertanyaan, apa yang sudah kita korbankan? Mana yang lebih dipilih oleh kita: mengorbankan apa menjadi korban?

Hari Raya Idul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah setiap tahunnya. Di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan hari Minggu, 10 Juli 2022, sebagai Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah berdasarkan sidang isbat. Penting bagi umat Muslim untuk memaknainya.

Saat Idul Adha, seluruh umat Muslim di berbagai belahan dunia akan melakukan ibadah penyembelihan hewan kurban seperti kambing, sapi, domba, hingga unta. Idul Adha berasal dari dua kata, yakni Id yang diartikan sebagai ‘berhari raya’ sementara kata Adha memiliki makna kurban.

Karenanya tak heran, Idul Adha juga kerap dikenal dengan sebutan Hari Raya Kurban. Waktu penyembelihan kurban adalah tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Idul Adha) sesudah Salat ‘Id dan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah (tiga hari sesudahnya) yang dikenal dengan Ayyam Tasyriq.

Makna dari Idul Adha adalah kembali berkurban, kembali mengorbankan sesuatu untuk mendekat kepada Allah SWT. Timbul pertanyaan, apa yang sudah kita korbankan? Mana yang lebih dipilih oleh kita: mengorbankan apa menjadi korban?

Ada orang yang lebih memilih mengorbankan sesuatu asal tidak menjadi korban. Namun, ada pula orang yang memilih menjadi korban demi untuk kebahagiaan pihak lain. Sesungguhnya bedanya sangat tipis, karena memilih menjadi korban sesungguhnya adalah juga berkorban.

Menilik peristiwa Nabi Ibrahim AS dengan puteranya, Ismail AS, yang diperintahkan untuk dikurbankan, siapakah yang berkorban dan siapa yang menjadi korban? Sulit dijawab. Yang jelas beliau berdua adalah potret manusia yang berkurban, mendekat kepada Allah demi menggapai ridho-Nya. Kekompakan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam makna inilah yang menjadikan mereka mulia dan dikenang sampai saat ini.

Ada ungkapan unik dari para bijak soal kurban ini. “Setiap kita adalah Ibrahim atau menjadi Ismail. Ismail mungkin adalah harta, jabatan gelar, atau apapun yang Anda sayangi di dunia ini. Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail. Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa memiliki terhadap Ismail.”

Mengutip catatan Prof Dr KH Ahmad Imam Mawardi MA, kisah pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim disebutkan dalam Alquran surat As-Saffat ayat 99 hingga 111. Dalam ayat tersebut, dikisahkan Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah Aza Wa Jalla untuk menyembelih putranya, yakni Ismail.

Nabi Ismail yang merupakan orang saleh dan sabar lantas mendorong sang ayah untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Pencipta. Atas ketabahan dan kesabaran keduanya, saat Nabi Ismail telah siap untuk dikorbankan, Allah kemudian mengganti jasad Ismail dengan seekor domba jantan.

Dalam proses kurban ini, Ibrahim dan Ismail tak lepas dari godaan. Setan tak henti-hentinya menggodanya untuk melanggar perintah Allah tersebut. Namun, ketakwaan antara keduanya tidaklah padam, Ibrahim dan Ismail berhasil membentengi diri dan menjaga ketakwaanya dari godaan setan. Ritual melempar jumrah yang dilakukan para jemaah haji erat kaitannya dengan kisah ini.

Pada hari raya ini, mari jadikan keluarga kita sebagai keluarga yang senantiasa berkurban, mendekat kepada Allah dengan menjadikan pilihan hidup ini senantiasa segaris dengan apa yang Allah suka. Tanamkan dalam keluarga kita komitmen untuk menjauhi kemaksiatan, karena kemaksiatan adalah jalan yang berlawanan dengan makna kurban.

Berkurbanlah, mendekatlah kepada-Nya dan jangan menjauhi-Nya. Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha, salam kepada segenap saudara dan sahabat.[lnilahcom]

Bagikan:

KOMENTAR

Makna Hari Raya Kurban, Berkorban dan Menjadi Korban

INILAH SERANG

1201 dibaca
HUT Kabupaten Serang ke-494, Pjs Bupati Paparkan Program Prioritas
126 dibaca
Pemkab Serang Bangun 13 Ribu Rumah Tidak Layak menjadi Layak Huni

HUKUM & KRIMINAL

914 dibaca
Viral di Medsos, Resmob Polres Serang Berhasil Ungkap Dua Pelaku Curanmor
907 dibaca
Pesta Sabu, Oknum Kades di Kabupaten Tangerang Digerebek Polisi

POLITIK

1813 dibaca
KPU Kabupaten Serang Verifikasi Faktual Parpol
1317 dibaca
Andika Minta KNPI Banten Naik Level

PENDIDIKAN

1586 dibaca
Dua Pelajar Banten Kibarkan Bendera Pusaka di Istana, Andika Mengaku Bangga
760 dibaca
Kemen PUPR Serahkan Hibah Rehab 5 SDN ke Pemkab Serang
Top