Senin, 10 Desember 2018

Maaf bagi Seniman Banten

[foto ilustrasi/net]
Rabu, 05 Des 2018 | 19:07 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Habib M

Penulis Pemerhati pendidikan dan sastra Banten

ADA pepatah mengatakan bahwa sejarah akan terus berubah. Tapi di sisi lain, ada juga seniman Banten membuat pepatah tandingan, bahwa sejarah tak akan pernah berubah sampai kapanpun.

Sah-sah saja kan bikin pepatah tandingan. Persoalan orang dengar apa tidak, itu urusan lain. Tapi sudah bukan rahasia umum, sejak zaman baheula sampai saiki, nasib seniman Banten – apalagi penyair – tetap begitu-begitu juga. Atau justru mengalami kemunduran. Jadi, siapa yang harus bertanggungjawab? Apa mau ditanyakan pada rumput yang bergoyang?

Kalau kita mendengar ceritanya para seniman di Rumah Dunia atau Kubah Budaya, tentang perjalanan para seniman Banten, memang label “kere” dan “blangsak” sudah bukan rahasia umum lagi. Dari zaman sekuasa-kuasanya Orde Baru, sampai era milenial ini, tetap saja nasibnya tidak berubah. Konon, mereka hobi menggelandang siang dan malam, hanya untuk menyelami kehidupan berpuisi.

Supaya ide dan gagasannya tetap orisinal dan valid, mereka tak mau terkontaminasi dengan urusan-urusan lain, apalagi nyambi sebagai wartawan, karyawan pabrik, hingga menjadi PNS. Begitupun yang digambarkan dalam tokoh Taufik Ibrahim pada novel Perasaan Orang Banten (POB), waduh, sepertinya kok kehidupan penyair memang sudah digariskan dari sononya, tetap kere, gembel dan blangsak. Untuk beli rokok dan segelas kopi saja susah, sampai harus nyatut di warung Pak Salim dan Bi Siti. Perkara utang itu dicatat atau tidak, jojong saja, sepertinya Taufik – yang dikenal idealis itu – tak ada urusan dengan dalil-dalil hukum yang dilontarkan Habib Rizieq maupun Mamah Dedeh.

Tapi tidak ada salahnya kita mengutip dalil dari Mbah Gol A Gong atau Firman Venayaksa, yang bila diterjemahkan secara bebas kira-kira begini: “Eh, justru itulah seniman yang otentik, penyair yang murni, bahkan semurni-murninya penyair, oleh sebab itu angkutan bus juga kalah murni. Karena bagaimanapun, Anda harus total sebagai penyair. Ketahuilah, totalitas itu penting, Bung!”

Kalau sang penyair Banten dibiarkan punya bisnis sampingan, semacam warung kopi, kedai pangkas rambut, warung kelontongan, jual gorengan, atau merangkap menjadi penulis esai, artikel atau opini seperti saya ini, itu namanya seniman sontoloyo. Termasuk penulis novel POB yang dicetak puluhan ribu eksemplar itu. Sekali penerbitnya masuk ke pesantren Daar el-Qolam hingga La Tansa, dalam sehari bisa terjual 30.000 eksemplar. Belum ke pesantren-pesantren lain seperti Al-Bayan, Al-Mizan, Manahijussadat, Al-Inayah, kampus La Tansa Mashiro, dan masih terus bergulir hingga hari ini.

Sebentar lagi pihak penerbit akan keliling menawarkan novel Pikiran Orang Indonesia (POI) yang sedang hot diperbincangkan dalam opini harian nasional KOMPAS sejak 24 April hingga 21 November 2018 lalu. Kalau tidak percaya, lihat saja di internet, atau buka dokumentasi cetaknya. Itulah yang saya bilang tadi, penulis sontoloyo itu namanya.

Di sisi lain, bila kita membuka cakrawala dengan perspektif yang lebih cerdas lagi, bukankah hal tersebut sah-sah saja. Mungkin itulah yang disebut writerpreneurship (ejaannya benar gak ya?). Barangkali itu soal pilihan hidup saja, seperti Toto Radik, Venayaksa, hingga Ardian Je, biarlah mau jadi PNS, dosen, guru pesantren. Saya kira sah-sah saja. Justru ketika label kere atau gembel itu hilang dari imej masyarakat tantang para seniman Banten, hal itu patut kita syukuri bersama-sama.

Kalau seniman itu hanya bergantung dan hanya dihidupi dengan puisi, lalu mau makan apa? Lagi-lagi kasus Taufik dalam novel POB nyengir lagi di sini. Apalagi ketika harga kertas naik, dolar menembus belasan ribu, lalu kita keliling kampus UIN atau Untirta untuk menawarkan mahasiswa agar membeli puisi kita. Siapa yang mau beli? Dan siapa yang mau baca? Masih mending buat beli quota pulsa, atau membeli cimol dan cilok, limaribu juga kenyang.

            Kalaupun kita paksakan diri untuk fokus menulis puisi atau cerpen, lalu kita kirim ke media lokal atau nasional, berapa sih honornya? Buat beli lipstiknya Ayu Ting Ting saja nggak cukup. Mending kalau honornya langsung ditransfer ke rekening yang sudah hampir diblokir itu. Tapi kalau harus ribut dulu dengan bagian admin yang cerewet dan ganas, juga raja tega terhadap nasib seniman? Bagi mereka, penyair semacam Taufik Ibrahim toh gak bakal nagih honor. Wong hidupnya saja sudah zuhud seperti kaum sufi. Kalau bajunya kumal akan ada orang yang memberi baju baru, kalau kopiahnya usang akan ada kopiah baru dibawakan orang. Biar sajalah tetap menggembel, biar afdol dia sebagai penyair tulen dan sejati.

Akhirnya, sang seniman memilih pasrah sumaroh daripada melanggar HAM bertempur dengan bagian keuangan yang – selalu saja ditunjuk pemred – di mana-mana perempuan perkasa laiknya Nyi Mas Gamparan. Daripada sang seniman digampar oleh bagian admin, mending menyerah dan kembali ke habitatnya sebagai kaum zuhud tadi. Padahal, banyak puisi-puisinya bicara tentang keadilan bagi para petani kopi hingga kaum nelayan. Sekarang, giliran dia harus menuntut hak dan keadilan bagi dirinya sendiri, terpaksa harus menyerah.

            Jangan ketawa, Bung! Ini serius, sudah lumrah pengalaman yang pernah saya alami ini, di mana-mana begitu-begitu juga. Ayo, masih mau bercita-cita sebagai seniman atau penyair?

            Karena itu, saya menyarankan jadilah writerpreneurship. Sambil aktif menulis tapi sekaligus pintar membaca tanda-tanda zaman. Emangnya ide dan gagasan penyair bisa hilang dengan nyambi sebagai pedagang, pegawai kantoran maupun guru. Justru di tempat-tempat itu barangkali dia bisa menjual ide dan gagasannya. Tapi, apakah ide dan gagasan adalah barang yang mesti kita perjual-belikan?

Apakah penyair itu menulis agar dihidupi oleh puisi, ataukah ia pintar beradaptasi dengan kehidupan agar menghidupi puisi? Bukankah seniman itu adalah manusia yang pintar mewakafkan hidupnya, ide dan gagasannya, melalui kata-kata, untuk dipersembahkan bagi kehidupan masyarakat Banten yang lebih baik, sejahtera, dan bahagia? ***

Bagikan:

LAINNYA

Belajar Membaca 'Wong Liyan'
Senin, 03 Des 2018 | 22:10 WIB
Belajar Membaca 'Wong Liyan'
Islam Politik dan Mistisisme Banten
Kamis, 29 Nov 2018 | 18:56 WIB
Islam Politik dan Mistisisme Banten
Filosofi 'Tidak Tahu' 
Kamis, 29 Nov 2018 | 05:57 WIB
Filosofi 'Tidak Tahu' 
Filosofi Azab dan Takdir Tuhan
Selasa, 27 Nov 2018 | 13:55 WIB
Filosofi Azab dan Takdir Tuhan

KOMENTAR

Maaf bagi Seniman Banten

PEMERINTAHAN

2629 dibaca
Gaji Guru Naik Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Menekan Angka Pengangguran
304 dibaca
Walikota dan Wakil Walikota Serang Periode 2018-2023 Dilantik
345 dibaca
Pengumuman Hasil Seleksi Kompetensi Dasar CPNS Pemkot Cilegon 2018
bkdcilegon

POLITIK

209 dibaca
Bahas Pemilu 2019 Damai di Banten
352 dibaca
Di Sertijab Danrem, Wagub Banten Ingatkan TNI Soal Pemilu 2019

HUKUM & KRIMINAL

251 dibaca
Meresahkan, Tiga Warga Lebak Tersangka Curanmor Diringkus
326 dibaca
Di Pandeglang, Seorang Anak Bacok Ibu Tirinya Hingga Meninggal

PERISTIWA

234 dibaca
Naik Tipe, Polda Banten Diminta Tingkatkan Kamtibmas
259 dibaca
Kapolri Resmikan Kenaikan Tipologi Polda Banten dari Tipe B ke Tipe A

EKONOMI & BISNIS

153 dibaca
Dishub Kota Serang Diminta Tertibkan Trayek Angkum
213 dibaca
Andika Janji Naikan Uang Saku dan Transportasi Penyuluh Pertanian
Top