Minggu, 17 Januari 2021
Suara Pembaca

Lagi-lagi Soal Kiamat

Selasa, 12 Jan 2021 | 17:09 WIB

Oleh: Fauziyah Nurul

Rasa depresi hingga frustasi yang diakibatkan ketakutan tidak kebagian vaksin Covid 19, membuat banyak warga Banten gaduh perihal kiamat sudah di ambang pintu. Silakan saja berpendapat begitu, bahwa kehidupan ini semakin mengarah pada kegelapan dan kerusakan, bukan pada kebaikan dan jalan terang. Silakan, monggo, sah-sah saja, biarpun Anda seorang seniman kawakan, akademisi hingga ulama yang duduk di majelis sekalipun (MUI Banten).

Tetapi saya pribadi akan tegas menyatakan bahwa jalan kehidupan ini akan terus melangkah ke arah kebaikan, solidaritas dan perdamaian. Saat ini rasisme dan perbudakan dengan gaya kuno, sudah tidak ada. Bahkan orang-orang Baduy semakin manusiawi dalam berperilaku. Di sisi lain, tentu saja saya tidak menampik maraknya kriminalitas, kemaksiatan dan ketidakadilan, tetapi kita diajarkan oleh agama agar selalu bersyukur dan menyuarakan nilai-nilai kebaikan yang dianugerahkan Allah (Wa’amma bini’mati rabbika fahaddits).

Dari perspektif lain, segala sesuatu memang ada umurnya, ada masa lapuknya. Benda-benda akan melapuk jika usianya bertambah. Bahkan makanan dan minuman yang tersedia di ribuan supermarket selama masa berlakunya social distancing, akan melapuk dan kadaluwarsa. Fisik manusia juga semakin menua, peot dan keriput. Itu semua lumrah saja, karena sunatullah dan faktor-faktor alamiah.

Tetapi cara berpikir umat manusia, bahwa perempuan seakan perlu direndahkan derajatnya, bahwa yang satu perlu meremehkan kebenaran yang lainnya, bahwa satu golongan seolah berhak merasa dirinya paling unggul (hingga bertindak semena-mena) jelas suatu pemikiran yang usang, kuno dan ketinggalan zaman.

Dulu, di zaman Orde Baru segala sesuatu serba dibatasi. Media massa yang kritis dibredel. Kebebasan berpendapat diringkus. Para aktivis yang berseberangan dengan penguasa diberangus, dipenjarakan bahkan dibunuh. Saat ini, kita bisa beraktivitas tanpa merasa terancam, meski sebagian orang berpendapat bahwa zaman Pak Harto dianggap lebih tenang, tentram dan tidak berisik.

Di masa Orde Baru memang tidak ada ruang untuk bertindak gaduh dan berisik. Kebebasan berpenadapat atau perbedaan cara pandang (paham) juga diberangus. Maka di era reformasi hingga saat ini, ketika ruang-ruang itu diberikan, tentu saja ada pihak-pihak tertentu yang bertindak melampaui batas kewajaran. Kadang-kadang ada juga yang mancingnya justru di saat air tidak bening. Cari perkara dan cari untung justru di saat air sedang keruh dan kotor.

Mereka itu orang-orang yang tidak peduli bahwa hidup dalam kebebasan tidaklah gampang. Sebab,  mentalitas yang bebas dan merdeka memang perlu dipupuk sejak lahir hingga masa kanak-kanak, dan berbuah hingga dewasa. Sejak masa kanak-kanak, manusia perlu dididik agar memiliki kebebasan bersuara. Mereka harus tahu bagaimana menjadi warganegara yang memiliki kebebasan, sehingga kelak melahirkan respek terhadap kebebasan itu sendiri.

Tanpa adanya respek terhadap nilai-nilai kebebasan, kehidupan demokrasi hanya akan menimbulkan eforia yang saling berbenturan antara satu paham dengan paham lainnya.

Saya pernah memberi ilustrasi pada kesempatan lalu, bahwa memberi kebebasan kepada anak-anak Banten yang merengek minta dibelikan golok yang tajam, hanya akan menimbulkan malapetaka kepada kehidupan anak itu sendiri. Di sisi lain, bila kita berkaca dari novel Perasaan Orang Banten, bahwa pihak pemerintah juga tak perlu memberi kebebasan sepenuhnya kepada orang-orang dewasa apabila tingkah laku dan tingkat pengetahuannya selevel dengan bocah dan anak-anak.

Kita tidak bisa membiarkan domba-domba berjalan semaunya, atau membiarkan gajah dan orangutan berkeliaran di pasar Rau atau Royal. Binatang hanya hidup dengan nalurinya. Mereka juga akan menghindari kehidupan yang gaduh dan berisik. Domba-domba justru memilih diam dalam ketenangan di tengah hamparan rerumputan. Mereka tidak berjuang untuk meraih kebebasan, biarpun dipukuli bertubi-tubi dengan tongkat kayu sekalipun.

Sedangkan manusia, di samping menghendaki kebebasan dan berjuang  mendapatkannya, mereka pun dibekali kemampuan untuk mengembangkan potensinya di tengah kebebasan itu. Mengapa demikian? Sebab, manusia adalah makhluk yang ingin mengekspresikan dirinya tanpa rasa cemas dan takut. Mereka berhasrat untuk mengoptimalkan potensinya. Sementara, optimalisasi potensi hanya mungkin bila orang Banten berada dalam ruang dan waktu yang bebas dan merdeka.

Karena itu, tidak ada artinya bicara “manusia unggul” jika orang-orang Banten tidak sanggup membebaskan dirinya. Sebab bagaimanapun, karya-karya besar hanya akan lahir dari alam kebebasan dan kemerdekaan, di mana potensi-potensi  manusia akan bermekaran di tengah iklim semacam itu.

Lalu, bagaimanakah agar orang Banten mensyukuri kemerdekaan? Tidak asal gontok-gontokan dan merasa hebat sendiri? Ya itulah, sedari kecil mereka harus dibekali agar memiliki respek terhadap diri sendiri. Menghargai respek terhadap kemanusiaan yang hanya akan tumbuh dari pribadi-pribadi yang memiliki respek terhadap kebebasan dan kemerdekaan dirinya.

Orang-orang yang menghargai dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan, niscaya akan pandai mensyukuri kehidupan ini, serta menjalani hidup sehari-hari dengan perasaan dan pikiran yang baik. Bukankah nasib hidup manusia tergantung dari pandangannya tentang kekuasaan dan hakikat Tuhannya?

Jika mereka optimistis maka – pada waktunya – akan ada jalan terang dari kegelapan hidup yang dialaminya. Tetapi, jika mereka pesimis dan skeptis, maka jalan terang pun takkan nampak dalam pandangan mata dan batinnya.  “Ana inda dzanni abdi bii.” Aku akan berada dalam persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Demikian firman Allah dalam sebuah hadits qudsi. (*)

Penulis adalah alumni Ponpes Daar el-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang.

LAINNYA

Bukan Sastra Pendendam
Jumat, 08 Jan 2021 | 22:41 WIB
Bukan Sastra Pendendam
Cerpen Supadilah Iskandar: Kang Kandar
Senin, 04 Jan 2021 | 15:25 WIB
Cerpen Supadilah Iskandar: Kang Kandar
Wajah Masyarakat Kita
Kamis, 31 Des 2020 | 15:55 WIB
Wajah Masyarakat Kita
Konsumsi Media di Masa Pandemi Covid-19
Kamis, 24 Des 2020 | 21:00 WIB
Konsumsi Media di Masa Pandemi Covid-19

KOMENTAR

Lagi-lagi Soal Kiamat

INILAH BANTEN

81 dibaca
HPN 2021 SMSI Sumbang Jalan dan Sarana Sanitasi
199 dibaca
Kapolda: Jadilah Polisi yang Empati, Mengayomi dan Dekat Dengan Rakyat

INILAH SERANG

46 dibaca
Bupati Tatu Beberkan Reaksi Pasca Divaksin
124 dibaca
Lakalantas Dua Truk di Tol Tangerang-Merak, Satu Meninggal Dunia

HUKUM & KRIMINAL

127 dibaca
Jokowi Minta Aparat Tindaklanjuti Temuan Komnas HAM soal FPI
935 dibaca
Sejumlah Pejabat Polres Serang Dimutasi dan Promosi, Ini Daftarnya

POLITIK

129 dibaca
Partisipasi Masyarakat di Pilkades Diprediksi Tinggi
369 dibaca
Kapan Pelantikan Bupati-Wabup Serang Terpilih, Ini Penjelasan Ketua KPU

PENDIDIKAN

106 dibaca
Nadiem Makarim Bicara Korban Sriwijaya Air
253 dibaca
Tenaga Pengajar Berstatus ASN di Pandeglang Masih Minim
Top