Minggu, 08 Desember 2019

Kuliah Jalanan

Kamis, 21 Nov 2019 | 10:27 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhamad Sulaiman

Kuliah merupakan proses pembelajaran, pengayaan, pendalaman nilai-nilai yang dilakukan oleh Pengajar atau dosen kepada Mahasiswa, dalam pelaksanaannya kuliah diatur dalam sistem perkuliahan yang dibuat oleh instansi terkait dalam hal ini adalah Kemenristek Dikti sebagai acuan seluruh perguruan tinggi dalam menjalankan motor penggerak kehidupan kampus.

Umumnya penyelenggaraan kuliah dilasanakan diruangan-ruangan kelas yang ada dikampus, dengan adanya interaksi antara dosen dan Mahasiswa dengan rincian perkuliahan tersebut sudah diatur dalam perjanjian diawal ketika bertatap muka yakni dengan pemberian SAP (Satuan acara perkuliahan) selama satu semeseter perkuliahan dari dosen kepada Mahasiswa

Akhir-akhir ini tepatnya beberapa bulan belakangan ini penuh dengan serangkaian pemberitaan mengenai sejumlah aksi jalanan yang dilakukan oleh mahasiswa diseluruh Indonesia, dari barat sampai timur semua ikut ambil bagian, dan lokasi puncak aksi dilakukan di Jakarta tepatnya di Gedung MPR/DPR pada 23 dan 24 september lalu, lantas mengapa aksi mahasiswa dinamakan Kuliah Jalanan ?

Kuliah jalanan merupakan  bentuk implementasi nilai dan tanggung jawab moril yang didapat oleh para Mahasiswa ketika dibangku perkuliahan yang pelakasanaannya diselenggarakan di jalan-jalan tepatnya di depan “rumah rakyat” terhadap kontrol sosial masyarakat atas setiap kebijakan yang diambil oleh pemangku kekuasaan melalui cara berdemonstrasi seperti pemberian kritik, saran, dan masukan dan sampai kepada pernyataan sikap tegas  terhadap permasalahan apa yang sedang terjadi ditengah-tengah masyarakat.

Dari masa ke masa, mahasiswa memang menjadi penggerak  dan selalu menjadi garda terdepan dalam setiap perubahan, mahasiswa menjadi penyambung lidah masyarakat pada saat interaksi antara penguasa dengan masyarakatnya mengalami deadlock terhadap segala kebijakan dan keputusan yang akan diambil oleh pemangku kekuasaan. Aksi 23 dan 24 yang lalu terindikasi bahwa negara kita sedang menghadapi persoalan yang cukup pelik, uniknya permasalahan tersebut bukan bersumber dari lingkungan eksternal negara tetapi yang menjadi polemik adalah aktor tersebut adalah institusi negara itu sendiri.

Kuliah jalanan terjadi sebagai bentuk penyampaian aspirasi jalur terakhir yang tidak bisa dilakukan melalui jalur-jalur formal seperti pemberian masukan melalui tulisan ataupun dialog antara pemerintah dengan rakyatnya. Melalui hal itu mahasiswa mengambil peran untuk memberikan “Shock Theraphy” kepada penguasa, yang dianggap kinerja nya masih jauh dari harapan dan adanya ketidakadilan yang dipertontonkan oleh segenap  pemangku kekuasaan.

Sebagai kaum terdidik yang jumlah nya tidak lebih 30% dari jumlah penduduk Indonesia, mahasiswa memang selalu dituntut untuk aktif berperan  dalam segala permasalahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, dan hal tersebut juga termasuk salah satu fungsi dan peran mahasiswa sebagai Agent of Control (Kontrol sosial). Mahasiswa hadir sebagai penengah antara pemerintah dengan masyarakat, mahasiswa mengkontrol segala situasi dan kondisi yang dapat mengurangi hak-hak demokrasi yang hal tersebut dituangkan mahasiswa dengan pemberian aspirasi dalam bentuk demonstransi.

Megutip tulisan aktivis IMM FISIP UMJ Yuniazma Zeliana yang mengatakan bahwa Aksi turun ke jalan merupakan bentuk menentang ketidakadilan, berpanas ria, berbusana dalam basahan hujan gas air mata, berteriak dendangkan mimpi-mipi hingga habiskan keringat dan air mata dari tubuh, hal itu dilakukan hanya untuk mendesak orang-orang yang memegang pemangku kekuasaan serta menggugah segelintir masyarakat disekitar menjadi saksi perjuangan mereka. Mereka berharap segala tindakan dan tuntutan didengar oleh elite-elite kekuasaan dan membangunkan kepekaan masyarakat terhadap segala kebijakan yang diambil tidak didasarkan kepentingan rakyat, semua Gerakan mahasiswa  dilakukan untuk memberikan kontribusi bermanfaat kepada sang ibu pertiwi dan tidak lain hanya untuk menjadi penggerak dan stimulus dalam pergejolakan yang sedang terjadi.

Oleh karenanya jika ada sentimen negatif yang berkembang ditengah-tengah masyarakat terhadap aksi yang dilakukan mahasiswa adalah telah direkayasa dan gerakan aksi ini hanya untuk pengalihan isu maupun ada juga yang menyebutnya dengan istilah yang kurang nyaman “ditunggangi”, dalam setiap pergerakan pasti akan selalu ada oknum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan akan tetapi apakah itu yang akan kita zoom in ? dan tidakkah melihat substansi dari apa yang telah dibawa dan disampaikan oleh para mahasiswa? Sudah selayaknya, apabila mahasiswa telah bergerak, terlebih lagi aksi yang dilakukan ini atas dasar keresehan bersama bukan karena dipaksa, dilihat dari pergerakan dan tidak ada afilisasi kepada  siapapun maka tidak elok jika kita mendeskiritkan perjuangan mereka. Hidup Mahasiswa ! Hidup Rakyat Indonesia !

Bagikan:

LAINNYA

Pesantren di Era Medsos
Kamis, 07 Nov 2019 | 16:39 WIB
Pesantren di Era Medsos
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Minggu, 27 Okt 2019 | 20:43 WIB
Usia Produktif Jangan Konsumtif
Perintis Pesantren Modern di Banten
Kamis, 24 Okt 2019 | 20:23 WIB
Perintis Pesantren Modern di Banten

KOMENTAR

Kuliah Jalanan

PEMERINTAHAN

350 dibaca
Soal Aset, Bupati Serang Tegaskan Gubernur Tidak Perlu Mediasi
123 dibaca
Peringati Hari Korpri, Bupati Serang Minta ASN Berinovasi

POLITIK

143 dibaca
Hadiri Launching Pilbup Serang 2020, Pandji Pastikan ASN Netral
169 dibaca
KPU Launching Pilbup dan Wabup Serang 2020

HUKUM & KRIMINAL

332 dibaca
Polisi Limpahkan Tersangka Penambangan Ilegal ke Kejari Serang
212 dibaca
Ibu dan Ayah Pembuang Bayi di Pagelaran Ditetapkan Jadi Tersangka

PERISTIWA

114 dibaca
Pemkab Serang Siaga Hadapi Musim Penghujan
178 dibaca
Warga Pagelaran Dihebohkan Penemuan Mayat Bayi

EKONOMI & BISNIS

143 dibaca
Wagub Banten Minta Walikota/Bupati Evaluasi Regulasi Hambat InvestasiĀ 
156 dibaca
Inflasi di Kabupaten Serang Terendah di Banten
Top