Selasa, 13 November 2018

Ki Syam'un Setia pada Akal Sehat

[Foto Istimewa]
Minggu, 11 Nov 2018 | 10:59 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis Aktivis Gema Nusa, alumni Untirta, Banten

“Membangun manusia tidak cukup dengan jampi-jampi dan air kendi, tapi harus dengan ilmu pengetahuan, karena itu jika umat Islam tidak menguasai ilmu, hidup mereka hanya akan menghabiskan beras di pendaringan.” (Ki Syam’un , 1894-1949)

Melalui berbagai upaya dan perjuangan dari para intelektual, jurnalis, akademisi dan ulama Banten, akhirnya berhasil juga Ki Syam’un dianugerahi tokoh pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Sebagai tokoh pejuang Indonesia, Ki Syam’un lebih kental dengan nuansa pendidikan ketimbang kemiliterannya. Gugatannya terhadap adat tradisi Banten dan Indonesia yang cenderung kolot, penuh takhayul dan khurafat, didobrak dengan ikhtiar membangun lembaga pendidikan agar masyarakat kita melek ilmu dan berwawasan luas.

Bagi Ki Syam’un, nasib hidup manusia terletak pada pikiran sadarnya untuk mengubah diri ke arah yang lebih baik. Bukan hanya dengan mengandalkan wangsit, doa-doa, yang sepenuhnya diserahkan kepada ketentuan Tuhan. Seorang yang optimis tidak menganut fatalisme yang gampang menyerah pada nasib. Oleh karena itu, “jangan sampai umat Islam hidup hanya mengandalkan doa sambil meniup-niupkan rajah ke air,” tegas Ki Syam’un. Pernyataan tersebut, paralel dengan sabda Nabi, bahwa keutamaan seorang ahli ilmu ketimbang ahli-ahli ibadah, bagaikan terangnya sinar bulan purnama, melebihi ribuan bintang di angkasa. (H.R. Imam Tirmidzi)

Terkait dengan itu, kita masih ingat pesan sederhana dari Kaisar Hirohito di Jepang, setelah beberapa hari percobaan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (1945) yang membuat perekonomian Jepang luluh-lantak dan bangkut. Ia berpesan agar mencatat jumlah guru-guru yang masih hidup. Pandangan yang visioner ini jelas bukan pemikiran instan yang urusannya sekadar perebutan jatah nasi bungkus dari emak-emak di dapur umum. Tetapi berpikir dalam konteks membangun generasi unggul untuk jangka puluhan tahun ke depan (long term).

Dari sisi kekayaan darat maupun laut (SDA), jelas Indonesia lebih makmur ketimbang Jepang. Dari sisi spiritual (ibadah mahdlah) jelas Indonesia terbilang paling rajin ubudiahnya. Tapi masalahnya, untuk meraih kemakmuran duniawi harus dengan ilmu, begitu juga untuk mendapatkan keselamatan ukhrawi. Lalu, kenapa kita sering memisah-misahkan kedua unsur tersebut? Bukankah dengan lemahnya perekonomian negara – akibat lemahnya ilmu – justru akan menjerumuskan bangsa ke jurang neraka akibat maraknya tawuran, sengketa lahan, rebutan jatah parkir yang urusannya hanya di tingkat receh-receh melulu?

Melimpahnya protein ikan di sepanjang laut kepulauan kita, mestinya menjadi berkah bagi proses kecerdasan otak anak-anak bangsa. Hingga kita tidak lagi dijuluki sebagai bangsa yang kaya ikan tetapi tidak pernah tahu manfaat protein ikan. Jangan sampai kita dikenal sebagai bangsa bahari, dengan ratusan lagu-lagu bertemakan anak-anak kepulauan, tetapi bangsa kita tidak mengenal dunia lautan. Padahal Rasulullah sendiri menganjurkan para sahabat agar mengajari anak-anak mereka berenang, memanah dan berkuda (berkendaraan).

Perkara ibadah mahdlah bangsa ini memang jagonya. Ribuan pesantren marak di mana-mana, ceramah agama disiarkan setiap pagi selama berjam-jam, dalam puluhan saluran televisi dari Sabang sampai Merauke. Tetapi, karena lemahnya ekonomi – akibat lemahnya ilmu pengetahuan tadi – justru mengakibatkan nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan sendi dan esensi agama menjadi terabaikan. Kalau suatu bangsa bodoh dan miskin ilmu, ceramah agama tak mengenai sasaran karena tidak mampu ditangkap substansinya. Dikarenakan otaknya lemah dan dangkal tadi, urusan agamanya hanya soal ecek-ecek yang masuk ke kuping kiri keluar ke kuping kanan belaka.

Para ibu seringkali berbondong-bondong datang ke majlis ta’lim. Menghadiri acara yang secara sentral disiarkan televisi. Di desa kami, mereka urunan dana untuk seragam pakaian dan kerudung, yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah. Mengenai persoalan yang realistis ini, karya sastra – seperti Perasaan Orang Banten– sudah mengungkapkannya secara mendetil. Mereka beramai-ramai mendengarkan ceramah Mamah Dedeh, Ustad Abdul Somad hingga Rizieq Shihab. Sebenarnya materi ceramah itu kadang stagnan, yang itu-itu saja. Hanya penyampai materinya yang berbeda. Sebentar kemudian mereka bosan dengan satu penceramah, lalu muncul penceramah baru yang lebih kondang lagi. Materi yang disampaikan itu-itu juga, hanya cara penyampaiannya yang agak berbeda.

Tetapi, pernahkah kepikiran dalam cara pandang yang lebih realistis dan mendalam, khususnya tentang iklan dan promosi yang ditayangkan dalam sepanjang ceramah itu. Produk-produk yang ditayangkan, kebanyakan didominasi oleh etnis Tionghoa yang memang pintar dan jenius dalam ilmu perniagaan. Sementara masyarakat kita hanya terprovokasi menjadi konsumen dagang belaka. Ironisnya, kadang penceramah dan guru agama mereka, sibuk dalam persaingan dan rebutan lapak dagangan dengan mubalig dari daerah-daerah lain, atau dengan siaran televisi tetangga sebelah. Tidak jarang di antara mereka saling mendisakreditkan yang satu dengan yang lainnya, oleh karena perebutan lapak tadi. Padahal, mereka sama-sama berceramah dengan membawa misi kebesaran agama Islam.

Dalam konteks ini, bila kita setback ke pemikiran Ki Syam’un, tak lepas dari pola pikir penulis dan intelektual muda Banten yang selama ini menggoreskan karya-karyanya melalui harian umum maupun online. Mereka menekankan pentingnya generasi masadepan yang harus kaya ilmu, baik dunia maupun akhirat. Tidak melulu bicara dunia, juga tidak melulu urusan akhirat. Karena faktanya, kita tidak bisa memisahkan yang satu dengan yang lainnya.

Kita punya perbandingan generasi Jepang, Cina maupun Yahudi, bukan untuk meniru hal-hal yang negatif pada mereka. Karena setiap bangsa punya sisi positif dan negatifnya sendiri. Dalam soal Yahudi, tentu saja kita tidak meniru aspek militerisme mereka yang brutal dan biadab, tetapi kita juga harus melihat sisi positif dari kebiasaan anak-anak Yahudi yang seringkali tumbuh dewasa, kemudian unggul dalam berbagai bidang keilmuwan, baik perniagaan maupun dalam soal literasi, linguistik hingga ilmu pengetahuan alam.

Sekali lagi, kita jangan latah untuk menggeneralisir masalah. Ketika bulir-bulir emas itu keluar dari hamparan lumpur, lalu kita menganggap semuanya adalah lumpur dan kotoran. Akibatnya, pihak lain yang memanfaatkan bulir-bulir emas tersebut, padahal berada di wilayah teritorial negara kita? Apakah kita terus-menerus akan menjadi budak di suatu negeri yang sudah memproklamirkan diri merdeka sejak puluhan tahun lalu? Apakah kita terus-menerus menjadi konsumen dari produk-produk hasil kreasi mereka? Apakah kita terus-menerus menjadi “orang asing” di kampung halaman sendiri? Apakah kita hanya menjadi intelektual-intelektual tukang, di bawah kendalimindset, pola pikir dan sponsor mereka?

Di satu sisi, memang ada beberapa penceramah yang baik dalam penyampaian materi dakwahnya. Tapi di sisi lain, kadang kita jengkel dengan penceramah yang karena kepentingan politis-ekonomis, bicara seenaknya hingga menjurus kepada ajakan agar hadirin bersikap skeptis atau su’udzon kepada kehidupan ini. Kita bisa bayangkan, apa fungsi pendidikan dan pembelajaran dakwah, jika nasib dan takdir dipahami seakan-akan sudahgiven, dari sononya sudah begitu, seakan tak perlu untuk diubah lagi. Bukankah dengan pola pikir itu, kehidupan manusia seakan menjadi absurd. Kekerasan dan radikalisme akan merajalela, karena setiap orang akan merasa melakukan kekerasan dan kejahatan lantaran sudah ketentuan dan takdir Tuhan.

Kemudian, bagaimana kita membayangkan para nabi dan rasul, jika saja mereka putus asa dalam mengemban amanah kerasulan, dikarenakan berpikir dalam pola saklek dan skeptis, seakan percuma saja menyampaikan kebaikan, karena toh tiap-tiap individu sudah ditentukan surga dan nerakanya. Kerancuan pola pikir semacam ini – yang juga dianut oleh sebagian penceramah kita – membuat masyarakat sulit untuk bangkit melawan kebodohan, kemiskinan dan kesewenangan. Maunya cukup dicekoki atasan saja, maunya menerima ikannya saja. Karena tak mau belajar untuk mengelola dan memanfaatkan kail-kailnya. Kemalasan belajar akan bermuara pada kemalasan berpikir dan berikhtiar. Karena orang yang cerdas memiliki hasrat ingin tahu dan ingin mencari, tak pernah mau diam dan berpangku tangan.

Dengan kelebihan akal pikiran yang dianugerahkan Tuhan, sebenaranya manusia memiliki otonomi yang luas untuk memilih kehidupan seperti apa yang ingin dijalani. Ia akan mampu membedakan antara posisi dirinya sebagai manusia, dengan Tuhan sebagai pencipta manusia dan semua makhluk-Nya. Dengan demikian, mengasah akal pikiran untuk terus rasional dengan tuntutan hati dan agama perlu ditingkatkan dalam proses belajar-mengajar. Jangan sampai tema takdir dan nasib jatuh pada pemahaman yang salah, sehingga memengaruhi perilaku kekerasan dan radikalisme yang tumbuh-subur, lantaran menganggap kekerasan merupakan pilihan satu-satunya dalam menghadapi kesulitan hidup.

Saat ini, berapa banyak penceramah, guru dan tenaga pengajar yang keliru memberikan pemahaman tentang peristiwa gempa bumi dan tsunami Palu, Lombok maupun Aceh, yang merenggut ribuan korban anak-anak negeri sendiri. Mereka seakan lupa, bahwa gempa dengan kekuatan 6,4 SR yang terjadi di Suruga, Jepang (2009), tidak menimbulkan korban jiwa seorang pun, dikarenakan rakyat Jepang memiliki pengetahuan dan wawasan tentang mitigasi bencana alam dengan baik. Coba bandingkan dengan negara dan bangsa kita yang rendah dalam soal mitigasi dan ilmu pengetahuan alam. Misalnya kejadian di Yogyakarta (2006) yang kekuatannya hanya 6,3 SR, tetapi mampu meluluhlantakkan bangunan dan menewaskan hingga 5.745 korban jiwa. Astaghfirullah al-adzim. (*)

Bagikan:

LAINNYA

Doa Restu Untuk Caleg
Senin, 12 Nov 2018 | 22:10 WIB
Doa Restu Untuk Caleg
Saya Tidak Tahu
Kamis, 01 Nov 2018 | 10:30 WIB
Saya Tidak Tahu
Sabar Itu Kekuatan
Selasa, 30 Okt 2018 | 06:40 WIB
Sabar Itu Kekuatan
Banten Belajar Berdemokrasi
Jumat, 26 Okt 2018 | 07:41 WIB
Banten Belajar Berdemokrasi

KOMENTAR

Ki Syam'un Setia pada Akal Sehat

PEMERINTAHAN

236 dibaca
Puluhan Pejabat Fungsional Pemprov Banten Dilantik
1029 dibaca
Perintah Perpres 16/2018, LPSE Dibentuk dalam Satu Badan/Dinas
218 dibaca
Lokakarya, Pemprov Bahas Pengurangan Kawasan Kumuh di Banten

POLITIK

264 dibaca
Caleg Golkar Dilarang Saling Menjelekkan dan Menjegal
210 dibaca
Dikukuhkan, Karya Nyata ICMI Ditunggu Masyarakat Banten
290 dibaca
Memilih Pemimpin di Pilpres 2019 Menurut UAS

HUKUM & KRIMINAL

147 dibaca
Di Pandeglang, Seorang Anak Bacok Ibu Tirinya Hingga Meninggal
632 dibaca
Sebar Ujaran Kebencian di Facebook, Warga Petir Ditangkap
340 dibaca
6 Oknum Anggota Ormas Pengeroyok Polisi Terancam 7 Tahun Penjara

PERISTIWA

106 dibaca
Melalui ARDEX-18, Provinsi Banten Siap Atasi Dampak Bencana
1183 dibaca
Mayat Laki-laki Membusuk di Rumah Kontrakan Gegerkan Warga Cikande
1782 dibaca
Di Waringinkurung, Polisi dan TNI Ini Kompak Gotong Keranda Mayat

EKONOMI & BISNIS

82 dibaca
Andika Ingin Ekraf Jadi Tulang Punggung Baru Perekonomian di Banten
102 dibaca
Selama Oktober 2018, Nilai Tukar Petani di Banten Alami Kenaikan
Top