Senin, 18 Oktober 2021

Keseimbangan Fungsi Otak

[foto ilustrasi]
Selasa, 05 Jun 2018 | 03:20 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Fauziyah Nurul

Pada prinsipnya, mengoptimalkan fungsi otak yang dianugerahkan Sang Pencipta tak lain adalah upaya-upaya meningkatkan rasa syukur atas anugerah-Nya yang tak terbatas.Di zaman dulu, dunia medis jarang mempersoalkan keajaiban fungsi dari otak depan (korteks prefrontal), tetapi penemuan-penemuan ilmiah yang mutakhir saling bersinambung antara satu pakar dengan pakar lainnya, hingga terintegrasi dalam keharmonisan yang semakin membawa berkah bagi cita-cita umat manusia.

Dulu banyak pakar kedokteran yang menyatakan bahwa tidaklah banyak perbedaan antara fungsi otak kiri dan otak kanan. Tetapi penemuan itu menjadi tidak valid dalam konteks saat ini, karena penjelajahan mengenai fungsi kedua otak tersebut semakin diakui para praktisi medis, telah menjelma sebagai cabang ilmu tersendiri. Fungsi otak kiri yang dapat meningkatkan kemampuan linguistik, menganalisa, hingga menghitung, dihubungkan dengan potensi pada IQ seseorang. Dominasi otak kiri, dengan fungsi yang tidak seimbang dengan otak kanan, akan menimbulkan seorang anak menjadi hiper aktif, egois, merasa menang sendiri, congkak dan mudah iri hati. Sementara dominasi otak kanan yang berlebihan, membuat seorang anak cenderung pendiam (introvert), bahkan sulit diajak bicara dan berkomunikasi.

Tidak sedikit orang tua yang menderita menghadapi pertumbuhan anak yang dianggap tidak wajar. Padahal, maju dan tidaknya perkembangan pada salah satu fungsi otak diniscayakan dari pembangunan sistem rumah-tangga yang diciptakan oleh orang tua sendiri. Minimnya ilmu pengetahuan tentang peran dan fungsi otak anak, akan membuat orang tua makin menderita karena kebodohan dan ketidaktahuannya.

Di sisi lain, banyak orang tua yang sibuk mengajarkan agama maupun tahfidzul quran (menghafal Alquran), tanpa sempat memahami apa fungsi-fungsi otak yang berlaku pada diri anak-anaknya. Otak kanan, yang bertanggung jawab dalam soal emosi, daya ingat, intuisi, kreativitas hingga kemampuan seni dan refleksi, seakan-akan kurang mendapatkan perhatian dan pengarahan tersendiri. Seringkali orang tua hanya sibuk menyalahkan anak apabila tidak mampu menguasai hal tertentu ketimbang temannya. Sebaliknya, kelebihan yang ada pada potensi anak – yang tidak dimiliki temannya – luput dari rasa syukur dan tak sempat diberikan penghargaan (reward) kepadanya.

Pendidikan di Ranah Banten

Kemampuan perspektif yang kurang, menimbulkan anak-didik tidak pandai melihat atau menilai sesuatu dari beragam sudut pandang. Inilah akibatnya jika pendidikan lebih menitikberatkan kemampuan kognitif yang berpusat di otak kiri. Kemampuan otak kanan tertekan oleh dominasi otak kiri, hingga melemahnya indera intuisi, daya prediksi dan kemampuan membaca sudut pandang yang berbeda.

Belakangan ini semakin bermunculan lembaga-lembaga di bidang ilmu otak dan saraf, misalnya Genius Mind Consultancy (GMC) yang saat ini tengah membahas tentang sistem limbik pada bagian tengah otak manusia yang ditengarai sebagai sistem penghubung antara otak kiri dan otak kanan. GMC mengajarkan metode pengaktifan otak tengah dengan menggunakan teknologi komputer yang dikombinasi dengan audio dan musik, baik musik klasik maupun musik rohani. Pelatihan yang dilakukan untuk ibu-ibu hamil, dengan memberi rangsangan pada janin yang sedang berkembang, telah memberikan pembuktian yang akurat bahwa, setelah bayi lahir, ia memiliki kecerdasan yang melebihi kemampuan anak-anak biasa. Anak itu lebih cepat menangkap ilmu yang diajarkan, lebih cerdas dibanding anak-anak lainnya.

Anak-anak yang memiliki kemampuan otak yang tidak seimbang antara otak kiri dan kanannya, ditumbuhkan kemampuan sistem limbik pada otak bagian tengahnya. Dengan cara itu, kemampuan nalar, daya ingat, refleksi, hingga kemampuan memprediksi sesuatu, terus mengalami peningkatan. Kemampuan prediksi ini bukanlah ramalan mistik maupun hipnosis, melainkan intuisi yang berkembang secara alamiah. Keseimbangan antara otak kiri dan kanan akan terus meningkatkan kemampuan spiritual dan religiusitas, hingga dalam dirinya akan semakin tumbuh rasa empati, setiakawan, solidaritas dan penghormatan kepada orang tua, atau orang yang lebih tua darinya.

Menurut ahli neurologi Indonesia, Taufiq Pasiak, hal tersebut akan tumbuh secara alamiah tanpa harus mencekoki anak dengan doktrin-doktrin agama perihal pentingnya“birrul walidain”, tetapi tumbuh dari kesadaran dirinya karena rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap sesamanya.

Otak kiri yang tidak tertekan oleh otak kanan, begitupun sebaliknya, akan mengembalikan fungsi dan peran anak kepada fitrah manusia sebagai makhluk termulia. Ia akan memiliki keseimbangan mental yang kuat, kemampuan manajerial, pemahaman yang baik, serta sifat rukun dan adil terhadap diri sendiri, yang senantiasa memancarkan kerukunan terhadap sesamanya. Artinya, dengan membangun kekuatan otak kiri dan kanan yang berimbang, akan membuat anak tumbuh dengan mentalitas yang tangguh, hingga terketuk hatinya untuk senantiasa memanusiawikan manusia.

Tidak Cukup Otak Kiri

Pendidikan kognitif yang terjadi di sekolah-sekolah kita seringkali menciptakan dominasi otak kiri yang berlebihan, hingga dapat dikatakan “geger otak”. Pengertian geger otak tidak selamnya terjadi karena benturan atau kecelakaan yang mengakibatkan cedera otak, tetapi kelebihan memanfaatkan yang satu dengan mengabaikan fungsi yang lainnya, hingga terjadi penjomplangan atau ketidakseimbangan.

Kita sering menyebut anak yang congkak dan egois dengan sebutan “keras kepala”. Fungsi otak kiri yang dominan ketimbang otak kanan, membuat jiwa anak sulit dikendalikan. Pada pertumbuhan berikutnya, tidak jarang kita temukan orang-orang Banten yang congkak dalam berbahasa, temperamental dan merasa menang sendiri. Hal tersebut dapat juga dikatakan “geger otak”, karena otak tengahnya kurang mengalami aktivasi hingga tidak memberikan keseimbangan antara kekuatan otak kiri dan kanannya.

Anda boleh saja memberikan ceramah agama ngalor-ngidul, mencekoki pikirannya agar di bulan Ramadan ini senantiasa bersikap religius dan mengendalikan hawa nafsunya, sampai setan-setan terikat dan dirantai tak berkutik. Tapi masalahnya, penyakit dalam yang ada pada pasien tidak serta-merta sembuh apabila hanya dipolesi obat gosok atau dikerokin begitu saja. Penyakit itu harus diangkat dari tubuh hingga tercipta kesembuhan yang permanen karena kesadaran dan perubahan karakteristiknya.

Anda kira, anak-anak sekolah yang baik dan hormat pada guru dan orang tuanya, baik di Swedia, Denmark hingga Finlandia itu lebih didominasi tausiyah atau ceramah-ceramah yang menggurui? Sama sekali tidak. Sistem pendidikan dan pengajaran di sana tidak hanya berupa doktrin dan nasihat-nasihat yang menggurui tetapi diimbangi dengan kemampuan nalar, kreativitas dan kemandirian. Berbagai metode dan eksperimentasi pendidikan lebih menitikberatkan fungsi dan keseimbangan otak kiri dan kanan sehingga anak-anak belajar lebih rileks, lebih gembira dan bahagia dalam menuntut ilmu.

Tidak jarang orang-orang tua modern di Banten ini yang tergoda mencekoki anak dengan berbagai macam cara, seakan-akan didorong dan dipaksa agar menjadi top dan sukses. Bagi mereka, yang penting anak menjadi cerdas dan terkenal. Prosesnya tidak begitu urgen, yang penting hasil dan outputnya jelas, anak menjadi jenius dan prestisius. Dengan demikian, akhirnya anak dipandang sebagai komoditas untuk menunjukkan bahwa orang tua telah berhasil meningkatkan kecerdasannya. Memang, siapa yang tidak bangga punya anak yang cerdas? Tapi masalahnya, memaksa anak agar cerdas yang harus mencapai standar tertentu, sangat berbahaya bagi perkembangannya secara psikologis.

Bila kita berkaca pada sistem pendidikan di Finlandia, sangat jelas disampaikan oleh pihak-pihak yang berwenang di dunia pendidikan, bahwa menjadi cerdas dan jenius bukanlah tujuan utama dari pendidikan anak. Tetapi bagaimana sistem pendidikan itu dapat memupuk perkembangan dan keseimbangan fungsi otak, hingga tercipta keselarasan antara kecerdasan dan kebaikan, antara popularitas dan keluhuran budi pekertinya. Itulah yang disebut pendidikan yang islami yang menitikberatkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. (*)

Penulis Alumni Ponpes Daar el-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Cerpen Ramli Lahaping: Rantai Bumerang
Senin, 18 Okt 2021 | 10:49 WIB
Cerpen Ramli Lahaping: Rantai Bumerang
Cerpen Muakhor Zakaria: Hemat Pangkal Kaya    
Selasa, 05 Okt 2021 | 10:46 WIB
Cerpen Muakhor Zakaria: Hemat Pangkal Kaya   
Stigma Negatif yang Meresahkan
Kamis, 09 Sept 2021 | 14:11 WIB
Stigma Negatif yang Meresahkan
Dalam Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
Selasa, 10 Agt 2021 | 11:21 WIB
Dalam Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

KOMENTAR

Keseimbangan Fungsi Otak

INILAH SERANG

213 dibaca
Resmob Polres Serang Tangkap Dua Pengecer Judi Togel
147 dibaca
Penilaian KI Banten Kabupaten Serang Berpotensi Paling Informatif
180 dibaca
Pengedar Pil Koplo Ditangkap Satresnarkoba Polres Serang Saat Menonton Tv

HUKUM & KRIMINAL

213 dibaca
Resmob Polres Serang Tangkap Dua Pengecer Judi Togel
180 dibaca
Pengedar Pil Koplo Ditangkap Satresnarkoba Polres Serang Saat Menonton Tv
223 dibaca
Dikenakan Pasal Berlapis, Polda Banten Lakukan Penahanan Terhadap Brigadir NP

POLITIK

133 dibaca
Jelang Pilkades Serentak, Kapolres Serang Kunjungi Ketua MUI
178 dibaca
Pilkades Serentak di Kabupaten Serang Digelar 31 Oktober 2021
594 dibaca
Polres Serang Kirim 150 Personil Bantu Pengamanan Pilkades Serentak di Kabupaten Tangerang

PENDIDIKAN

189 dibaca
Wagub Andika Ingin Perencanaan Pembangunan Berbasis Teknologi Tepat Guna
243 dibaca
Baznas Pandeglang Gulirkan Ratusan Juta untuk Program Studi Mahasiswa
Top