Kamis, 15 April 2021

Kenapa Kita Mudah Panik?

Ilustrasi/Net
Rabu, 10 Feb 2021 | 14:02 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra

Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Fikar, Jawilan, Serang

Sebuah kisah menarik tentang rumah seorang ustaz yang terkena banjir bandang. Air perlahan-lahan naik dari lantai, dinding hingga mencapai ke langit-langit rumah. Ustaz itu terus memanjat naik ke atap rumahnya, tetapi air bah mencapai pula ke atap-atap rumah. Seorang tukang perahu datang lalu menawarkan ustaz itu agar naik ke perahunya. Tetapi, sang ustaz justru merasa takut dan panik, kemudian mengusir tukang perahu,  “Kau bukan jamaahku, untuk apa kau datang ke sini? Biarkan aku di sini, sampai Tuhan Yang akan menolongku!”

Ketika air terus naik melampaui atap rumah, banjir itu akhirnya menenggelamkan sang ustaz hingga tewaslah ia.  Konon, di akhirat ia protes keras, dan katanya: “Tuhan, kenapa Kau tidak menolongku, padahal aku adalah hamba yang selalu beribadah kepada-Mu?” Lalu, Tuhan pun menjawab tegas, “Kau sudah Kukirimkan tukang perahu, tapi kenapa kau menolaknya?”

Di tengah wabah Covid 19, upaya melakukan ikhtiar adalah bagian penting dari sikap seseorang yang menghargai ilmu pengetahuan. Tetapi di sisi lain, manusia bukanlah makhluk yang serba berkuasa atas dirinya sendiri, biarpun dia seorang pendeta atau ulama yang saleh. Dalam situasi terdesak dan serba ketakutan, alangkah lumrah jika ia menerima saja tawaran seorang tukang perahu tersebut, tanpa harus menghitung-hitung apa jamaahnya, apa agama dan kastanya.

Ketakutan adalah hal yang alamiah. Dalam situasi yang serba takut dan terdesak, akal sehat akan selalu berhitung mengenai kesempatan-kesempatan untuk berlindung atau melindungi dirinya. Dalam situasi terancam, pikiran manusia senantiasa bereaksi terhadap kemungkinan berlawan, meminta pertolongan atau melarikan diri.

Sikap sang ustaz yang menolak tawaran tukang perahu, dengan sibuk menghitung-hitung apa agama dan kepercayaannya, jelas suatu tindakan gegabah dan sembrono, yang bisa merugikan dirinya sendiri. Sebagian orang tentu akan menertawakan pilihan yang salah tersebut. “Bukankah ia seorang beragama, dan rajin beribadah pula, tapi mengapa tidak menggunakan akal sehatnya?”

Bagi kita, ketika melihat air bah terus naik ke atap rumah, pilihan terbaik tentu melompat ke atas perahu agar bisa selamat dari musibah. Tetapi, ustaz itu memilih tetap bersikukuh pada keyakinannya, seakan-akan Tuhan menimpakan azab kepada manusia, dan Tuhan hanya akan menolong orang-orang yang sepaham dengan dirinya. Akal sehatnya tidak berjalan dengan baik pada saat dilanda ketakutan dan kepanikan. Sebagaimana orang yang menjerit-jerit karena rasa panik, kemudian berlari-lari ke sana kemari hanya karena melihat seekor ulat kecil.

Faktor lain yang membuat akal sehat menjadi tumpul adalah kecemasan dan kebingungan. Dalam situasi itu, orang tak mampu membuat perhitungan yang baik dan matang, hingga akhirnya membuat keputusan yang salah. Mau naik ke atas perahu atau mengharap mukjizat Tuhan memihak dirinya?

Akhir-akhir ini, kepanikan masyarakat akan virus Corona, serta varian-variannya yang terbaru – yang belum ada vaksinnya – semakin menjadi-jadi. Pada saat yang sama, kasusnya di berbagai negara memberi gambaran mengerikan. Di tengah kecemasan itu, kita melihat masyarakat bingung dan gagap membuat keputusan penting untuk mereka sendiri. Keputusan yang diambil – benar maupun salah – jelas bermula dari pertimbangan pikiran manusia dalam menentukan kriteris baik atau buruk. Begitupun ketika seseorang berproses untuk mencari kebenaran, niscaya ia akan mengalami peningkatan pikiran, yang bisa jadi apa yang kemarin ia anggap benar, saat ini dianggap sebagai kesalahan. Dan apa yang dikira hari ini benar, boleh jadi besok dianggap kekeliruan.

Tatapi, apapun bentuk pikiran manusia, kebenarannya atau kesalahannya akan dapat ternilai manakala ia telah menjelma sebagai perilaku dalam perbuatan. Sebab, perbuatan itu kasatmata, bisa dilihat, dan karenanya bersifat universal. Perbuatan itu, baik dan benar dapat disaksikan dan dialami oleh manusia atau bangsa manapun, sebagai baik dan benar. Secara inderawi, seorang anak kecil dapat mudah merasakan kebenaran dan kebaikan dari perilaku manusia. Meskipun mereka belum berkembang pikirannya, tetapi setiap anak-anak telah dibekali karunia perasaan yang dapat menilai tingkah laku umat manusia.

Konsep kekuasaan Disraelli yang menyatakan, bahwa benar maupun salah, negaraku selalu benar (right or wrong is my country) sehaluan dengan konsep militerisme Dai Nippon Jepang di era 1940-an. Ketika seseorang duduk dalam tampuk kekuasaan – sebagaimana sang ustaz yang memimpin santri – seringkali terperosok dalam ujian keangkuhan dan kesombongan. Sikap arif dan bijak akan dikesampingkan manakala ia berhadapan dengan pilihan-pilihan penting yang harus diputuskan. Otoritarianisme Hitler dapat pula menjalar menyusupi pikiran-pikiran pasukan NAZI selaku “jamaahnya”, hingga kepongahan itu menjadi gagasan vertikal antara induk semang dan para abdinya.

Dalam tulisan saya di harian nasional Kompas, “Agama Tanpa Akal dan Hati Nurani” (Kompas, 21 November 2018) pernah saya jelaskan mengenai sikap intoleransi penguasa terhadap pendapat, paham, ras, dan bangsa lain. Ini bukan suatu gejala baru yang merupakan efek negatif dari penggunaan media sosial. Sebab, dari zaman ke zaman manusia memang memiliki sifat dasar intoleran sebagai naluri bawaan terhadap orang lain (liyan) yang bukan kelompok dan golongannya. Mereka memandang pihak lain sebagai ancaman. Paham dan ajaran apa pun yang berbeda dengan pahamnya seakan harus disingkirkan.

Inilah yang membuat kita, sebagai warga Banten harus banyak introspeksi diri, banyak mengelus dada sambil ber-istighfar. Karena tidak setiap yang baik (benar) menurut kita, adalah baik di mata Allah. Dan tidak setiap yang buruk (salah) dalam pandangan kita adalah buruk dalam pandangan Allah. Sesungguhnya kita sebagai manusia hanya tahu sedikit, serba terbatas, tapi mengapa seringkali kita merasa tahu banyak? (*)

Bagikan:

LAINNYA

Cerpen Supadilah Iskandar: Hidup dalam Kesunyian
Sabtu, 10 Apr 2021 | 13:44 WIB
Cerpen Supadilah Iskandar: Hidup dalam Kesunyian
Jika Sakit, Anda Sedang Disucikan dari Dosa
Rabu, 31 Mar 2021 | 22:44 WIB
Jika Sakit, Anda Sedang Disucikan dari Dosa
Cerpen Chudori Sukra: Tewasnya Sang Teroris
Rabu, 31 Mar 2021 | 22:38 WIB
Cerpen Chudori Sukra: Tewasnya Sang Teroris

KOMENTAR

Kenapa Kita Mudah Panik?
pa aef

INILAH SERANG

63 dibaca
Beli Sabu Patungan, Dua Sekawan Dicokok Polres Serang
122 dibaca
Supporter Bola dan Club Motor Sepakat Jaga KondusivitasRamadhan

HUKUM & KRIMINAL

63 dibaca
Beli Sabu Patungan, Dua Sekawan Dicokok Polres Serang
119 dibaca
Lagi, Polres Serang Ringkus Penjual Obat Tramadol dan Hexymer

POLITIK

201 dibaca
Antisipasi Kerawanan Pilkades, Pemkab Serang Lakukan Pemetaan
755 dibaca
Ngopi Bareng Kapolres, Apdesi dan DPMD Bahas Pilkades Aman, Damai dan Sehat

PENDIDIKAN

421 dibaca
Mendikbud: Sekolah Diperbolehkan Belajar Tatap Muka Terbatas
549 dibaca
Pemkab Serang Akan Tingkatkan Penerima dan Insentif Guru Paud
Top