Sabtu, 02 Maret 2024

Kawasan Tertib Lalu Lintas

(foto ilustrasi/net)
Minggu, 08 Apr 2018 | 17:01 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Fauziyah Nurul

MASIH ingat Lana, sahabat saya dari Ukraina yang pernah mengadakan penelitian kebudayaan Indonesia di Banten. Suatu kali, dalam perjalanan menuju Vihara di kawasan Banten Lama, saya merasa kesulitan menjawab ketika ia menanyakan di manakah letak “Banten Baru”. Dia terus saja mencecar saya dengan pertanyaan: “Kalau ada Banten Lama mesti ada Banten Baru, tapi di mana letaknya?”

Saya agak khawatir juga waktu meminjamkan sepeda motor untuknya. Bukan karena sayang terhadap motor matic model terbaru yang telah saya beli, tapi karena maraknya intensitas berkendaraan di seluruh wilayah Banten ini. Belum lagi urusan rambu-rambu lalu lintas yang tak pernah dilengkapi bahasa Inggris (seperti di Bali). Sedangkan Lana sendiri, masih terbata-bata dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Karena itu, lumrah saja ketika dia bertanya-tanya tentang makna “Anda Memasuki Kawasan Tertib Lalu Lintas”. Tinggal saya yang kelimpungan harus menjelaskan bagaimana. Ketika saya terangkan bahwa di lingkungan itu harus pakai helm, lampu harus menyala, dan tak boleh melanggar lalu lintas. Dia hanya mengernyitkan dahi. Emangnya di tempat lainnya (di luar kawasan itu) boleh melanggar lalu lintas?

Saya juga kewalahan menjelaskan adanya pengendara sepeda motor yang ditilang setelah belok kiri di perempatan jalan. Kata saya, memang ada yang boleh belok kiri langsung tapi juga ada yang tak boleh belok kiri langsung. Lagi-lagi dia mengernyitkan dahi. Untuk lebih meyakinkan dia, “Kalau ada tulisan ‘belok kiri boleh langsung’ nah dipersilakan bagi pengendara untuk berbelok langsung, meskipun lampu sedang merah.”

“Mengapa tidak disediakan empat lampu, untuk menunjukkan ada belokan yang boleh, ada juga belokan yang tidak boleh?” Sekarang giliran saya yang mengernyitkan dahi. Saya agak lamban untuk menangkap kata-katanya. Mungkin di Ukraina memang ada perempatan yang dilengkapi tiga atau empat lampu, saya kurang sempat memperhatikan waktu berkunjung ke sana beberapa tahun lalu.

Sewaktu kami melintasi Kota Serang dan sempat berbelanja di supermarket, ada juga pertanyaan yang terus mengebor saya, “Apa maksudnya, belok kiri ikuti lampu lalu lintas.” Saya agak jengkel juga, mengapa dia menyibukkan diri pada kata-kata yang tertera di sekitar jalanan, mengapa tidak menanyakan hal lainnya, seperti kata-kata pada baliho atau plang iklan? Akhirnya, saya dapat memahami jalan pikirannya, karena kata-kata yang berhubungan dengan lalu lintas menyangkut soal kemaslahatan banyak orang, juga soal keselamatan dan hak hidup bagi jutaan warga Banten.

Baiklah kalau begitu. Saya jelaskan lagi bahwa di Banten ini lampu lalu lintas hanya dipasang vertikal, tidak ada yang horizontal. Juga hanya ada tiga dan bentuknya bulat, tidak ada yang bentuk segitiga ataupun kotak. “Mengapa begitu?” tanya Lana lagi. Saya tidak tahu, mungkin peraturannya harus begitu, jawab saya.

Konon di suatu jalan protokol,  Lana harus menghentikan sepeda motornya cukup lama. Saya tanyakan ada apa. “Aku harus membaca kalimat yang sangat panjang,” katanya. Setelah saya tanyakan kalimat itu, dengan terbata-bata ia menjawab: ‘Pasang sabuk pengaman Anda’. Ternyata pada spanduk yang sama, ada lagi kata-kata di bawahnya: ‘Pengendara sepeda motor wajib memakai helm dan menyalakan lampu’.

Lama kelamaan saya makin memahami apa-apa yang dipersoalkan Lana. Ini masalah bahasa, juga masalah budaya orang Indonesia dalam berbahasa. Kadang-kadang saya juga tak habis pikir, mengapa banyak plang-plang yang menunjukkan peringatan, disertai pula dengan kata-kata yang penuh basa-basi, misalnya, ‘Maaf, dilarang merokok’, ‘Hati-hati, ada acara perkawinan dan sunatan massal', Maaf, ada galian kabel’ (kabel kok digali?).

Di samping soal bahasa, dan tidak percaya dirinya orang Banten (orang Indonesia) dalam soal peraturan dan penegakan hak-hak kewarganegeraan, beberapa pertanyaan yang diajukan Lana, justru membuat saya lebih bertanya-tanya lagi. Mengapa kita begitu kaku dan baku dalam memandang segala hal, tanpa ada keberanian menciptakan perubahan sama sekali, meskipun perubahan itu demi kemaslahatan umat?

Mau bikin sesuatu yang lebih tegas, malah bertele-tele. Mau menegakkan kearifan lokal malah banyak basa-basinya. Mau dikunjungi para wisatawan asing, malah banyak singkatan dan bahasa-bahasa yang rancu.

Suatu kali Lana bertanya lagi, “Apa maksud NKRI harga mati! Mengapa harus dibayar dengan mati? Mahal sekali harga NKRI? Mengapa tidak seperti Jerman dan negara-negara lainnya di eropa yang Federal?”

Saya bingung lagi, dan mengernyitkan dahi lagi. Dalam hati kecil saya, Jerman itu kan negaranya Hitler? Tapi dalam hati besar saya, Hitler itu kan musuhnya Yahudi? Tuh kan, orang Banten jadi bingung lagi, apalagi bagi mereka yang gemar mazhab-mazhaban. Saya bisa memahami mengapa Lana juga sering mengirim email-nya sewaktu membaca buku Pikiran Orang Indonesia. Karena di situ banyak istilah-istilah politik Indonesia yang belum dia pahami. Hampir semua partai di negeri ini singkatan atau akronim semua: PDIP, PKB, PPP, PKS, Gerindra, Golkar, Perindo dan lain-lain. Belum lagi singakatan-singkatan seperti ABRI, Orba, GPK, OTB, WKWK dan sebagainya dan seterusnya.

Saking banyaknya anakronisme di republik kepulauan ini, sampai-sampai ada spanduk panjang membentang di Rangkasbitung bertuliskan: “Dalam rangka hari ulang tahun HUT RI, kita ramaikan tablig akbar bersama Mamah Dedeh di Desa Panyandungan, Lebak.”

Saya perlu menjelaskan pada Lana apa artinya HUT RI, tapi kalau saja dia tanya apa artinya “Panyandungan” barangkali saya merasa ogah untuk menjawabnya. Begitu menjengkelkan. Dalam email terakhirnya yang dikirimkan saat saya menghadiri acara Harlah Daar el-Qolam ke-50 beberapa minggu lalu, saya bisa memahami ketika Lana menulis,“Nurul, bahasa Indonesia itu terlalu panjang untuk menjelaskan sesuatu. Saya tidak mengatakan miskin kata, tapi memang usia bahasa ini belum mencapai satu abad lamanya. Harap dimaklum. Punten.”

Saya tersenyum membacanya. Rupanya Lana ketularan saya dalam berbasa-basi. Semoga saja ada nilai-nilai kearifan lokal di ranah Banten yang banyak menginspirasi pemikirannya. Sampai sekarang saya masih menunggu karya-karyanya tentang Banten dan Indonesia. Salam. (*)

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam, angkatan ke-14.

Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

LAINNYA

Demokrasi di Indonesia  Menjelang Pemilu 2024
Jumat, 17 Nov 2023 | 16:27 WIB
Demokrasi di Indonesia  Menjelang Pemilu 2024
Peran Agama Dalam Proses Demokrasi
Jumat, 17 Nov 2023 | 09:54 WIB
Peran Agama Dalam Proses Demokrasi
Pemikiran Besar dan Ideologi-Ideologi Besar
Jumat, 17 Nov 2023 | 09:30 WIB
Pemikiran Besar dan Ideologi-Ideologi Besar

KOMENTAR

Kawasan Tertib Lalu Lintas

BERITA TERKAIT

INILAH SERANG

699 dibaca
Hari Jadi Polwan RI ke-73, Polres Serang Gelar Baksos
6634 dibaca
Pleno Hasil Hitung Pemilu 2019 tingkat Kabupaten Serang Ricuh

HUKUM & KRIMINAL

825 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Pelaku Jambret
2665 dibaca
Warga Cilegon Mengaku Malu Wali Kotannya Ditangkap KPK

POLITIK

681 dibaca
Hasil Survei Elektabilitas PDI Perjuangan dan Gerindra Turun Drastis
493 dibaca
Ratu Tatu Abaikan Isu Munaslub, Golkar Banten Fokus Kemenangan Pemilu

PENDIDIKAN

1364 dibaca
Ratusan Mahasiswa La Tansa Mashiro Ikuti Pesantren Kilat
1053 dibaca
Nadiem Dinilai Gagal Baca Akar Persoalan
Top