Kamis, 04 Maret 2021

Dugaan Pungli PTSL, Warga Bojong Manik Pandeglang Memanas

Warga saat mendatangi tokoh masyarakat untuk mengadukan dugaan pungli PTSL pada Sabtu, 9 Desember 2017. (Foto:lnilahBanten/Saepullah)
Minggu, 10 Des 2017 | 19:10 WIB - Pandeglang Peristiwa

IBC, Pandeglang - Kasus dugaan Pungutan Liar (Pungli) Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) atau yang dulu disebut Prona di Desa Bojong Manik, Kecamatan Sindang Resmi,  Kabupaten Pandeglang makin memanas.

Hal itulah yang dilakukan ratusan warga Desa Bojong Manik dengan mendatangi salah Satu Tokoh Masyarakat (Tokmas)  di Kampung Cikupaen pada Sabtu, 9 Desember 2017, untuk menyuarakan bahwa mereka merasa di tipu oleh oknum aparat Desa Bojongmanik dengan program tersebut.

Pantauan IBC dilokasi, meski diguyur hujan warga baik kaum ibu-ibu dan bapak-bapak tetap semangat menyampaikan keluhanya dengan program itu kepada Tokmas. Para warga juga membawa kwitansi tanda terima saat menyerahkan uang kepada oknum aparat Desa Bojongmanik.

Kasus dugaan pungli di Desa Bojong Manik warga dipatok bervariasi dari Rp700 ribu hingga Rp1 juta. Diduga korbanya pun mencapai 350 orang. Mirisnya lagi program tersebut seolah-olah ditutupi oleh pihak desa jika program PTSL gratis. Pasalnya, warga baru mengetahui program tersebut gratis saat Presiden Jokowi bertandang ke Menes.

"Nah, pas ada Presiden ke Menes itu saya kesana dan saya kaget ketika mendegar sertifikat itu gratis,"terang salah seorang warga E. Tuti Herawati.

Setelah merasa ditipu, Ia berharap duitnya yang telah dicaplok oleh oknum aparat desa dalam hal ini ketua Program PTSL Ajat bisa kembali. Namun bukan hanya uang yang tidak kembali,  sertifikat dari program itu juga ambil kembali oleh aparat Desa,  dengan alasan jika sertifikat tersebut belum ditantangani oleh Kepala BPN.

"Saya sudah bayar lunas sebesar Rp700 ribu, yang minta uangnya itu aparat desa Pak Ajat dan Pendi. Saya mau dikembalikan lagi uangnya oleh aparat desa. Malah kami suruh berbohong oleh aparat desa di mobil, jika ada yang nanya jawab gratis saja, bahkan sertifikat yang kami pegang diambil lagi oleh desa,” jelasnya. 

Selama sekitar 1 jam setelah mendapatkan jawaban dari tokmas dan pengurus pemuda siap kembali melaporkan baik ke pihak Kepolisian Polres Pandeglang maupun ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Pandeglang, akhirnya warga membubarkan diri dengan tertib sambil berkata siap mendatangi bupati Pandeglang dan pihak Kepolisian Polres Pandeglang.

"Kami sangat berharap agar para oknum ini ditindak tegas oleh aparat kepolisian dan bupati Pandeglang Irna Narulita,” pintanya.

Rencananya warga bakal mendatangi  Polres Pandeglang untuk melaporkan kembali kasus PTSL. " Pokoknya saya dan tokoh masyarakat bersama-sama warga yang menjadi korban, sangat siap melaporkan dugaan tersebut ke aparat penegak hukum,” ungkap Pengurus Pemuda Kampung Cikupaen, Aden.

Salah seorang pendamping tim ukur BPN, Udin mengakui bahwa ia pernah menerima uang dari salah seorang warga. Tapi kata dia, uang itu sifatnya hanya menitipkan saja kepada dirinya dan ia langsung memberikannya kepada ketua.

“Kalau saya itu cuman menerima uang dari pak Ujid, nilainya itu Rp 400 ribu untuk dua buku (sertifikat). Uang itu hanya menitipkan saja ke saya, dan saya serahkan kepada ketua pak Ajat, untuk lebih jelasnya silahkan ke pak Ajat saja,” kilahnya.

Reporter: Saepullah
Redaktur: Arif Soleh
Bagikan:

KOMENTAR

Dugaan Pungli PTSL, Warga Bojong Manik Pandeglang Memanas
dinsos dewan ac as Fae SF

INILAH SERANG

42 dibaca
Presiden Jokowi Resmikan Bendungan Sindang Heula
Top