Jumat, 14 Desember 2018

Jujur Itu Kekuatan

[foto ilustrasi]
Selasa, 09 Okt 2018 | 19:14 WIB - Suara Pembaca

                                                          Oleh: Indah Noviariesta

                                             Penulis Alumni Jurusan Biologi, Untirta Banten

Saya tersenyum simpul ketika menyaksikan kehadiran Prabowo, Amin Rais, Fadli Zon, dan beberapa ustad dan habaib, dalam acara tausiyah yang disampaikan seorang kiai muda yang menamakan dirinya “Gus Nur” beberapa waktu lalu. Tausiyah yang dihadiri orang-orang pintar, bertitel, dan berpendidikan itu, sepertinya kurang tepat bila disebut “tausiyah” karena terang-terangan mengandung unsur propaganda dan provokasi untuk menyudutkan salah satu kandidat presiden, dan diamini oleh para jamaahnya.

Saya tak habis pikir, untuk apa orang sekelas Amin Rais yang katanya “profesor” itu menghadiri acara tausiyah oleh seorang anak muda yang dengan bangga dipanggil “Gus”, seakan-akan dia adalah anak kiai besar dari Jawa. Sebegitunyakah kualitas profesor dan doktor di negeri ini, ketika perannya makin terdisrupsi, dan anak muda milenial mengumandangkan “kematian para pakar”. Mestinya dia tekun menelusuri penelitian ilmiah yang lebih kompeten lagi, apabila kualitas ilmunya – yang dipupuk semasa Orde Baru – kini sudah diragukan validitasnya.

Barangkali kualitas profesor sekelas Amin Rais hanya mengenal konsep kekuasaan ala Machiavelli atau Disraelli. Padahal anak-anak muda zaman now sudah melanglang buana memahami konsep kepemimpinan sebagai “leadership diamond”, bahwa seseorang tidak bakal menjadi besar dan tercatat dalam keabadian sejarah, manakala masih berpijak pada petuah dukun dan mitos-mitos irasional.

Mana mungkin seorang terpelajar mencatatkan dirinya dalam sejarah bila tidak bekerja berdasarkan fakta? Sebagai seorang doktor dan profesor – tak terkecuali di ranah Banten – tidak mungkin sanggup memajukan bangsa apabila bekerja berdasarkan ilusi, bukan berdasarkan intuisi dan nalar ilmiah (validity and reliability). Keculai jika jika titel dan gelarnya memang abal-abal, diberikan oleh perguruan tinggi yang mengharapkan “charity” demi kelestarian institusinya.

Tapi apakah tipikal Amin Rais atau Fadli Zon itu seorang pemburu gelar (archiever) yang bersikeras mengejar titel untuk meraih kekuasaan? Saya kira tidak. Mereka punya kapasitas dan boleh jadi punya karya dan kreasi. Meskipun generasi milenial patut menyangsikan kualitas keilmuwannya, manakala mereka dikenal sebagai “pakar” hanya di masa kekuasaan militerisme Orde Baru saja.

Bagi saya pribadi, maaf saja – dan mereka harus siap menghadapi kritik – karya-karya mereka terlampau saklek dan kering. Sangat miskin dari bobot sastra dan religiusitas yang menjadi anutan para generasi milenial saat ini. Saya tidak menuduh mereka tidak kredibel yang hanya memiliki gelar artifisial semata. Tapi, ya itu tadi, mereka hanya bertitel doktor dan profesor sekelas zaman Orde Baru. Dan saat ini, orang-orang semacam mereka – seperti juga banyak di Banten – harus bersiap-siap menghadapi era disruption yang menakjubkan ini.

Seperti yang dinyatakan oleh filosof Wina Wittgenstein, tentang pentingnya para ilmuwan dan sastrawan untuk berpikir jernih, jelas dan apa adanya. Saya menduga, bahwa tipikal pemikiran orang berpendidikan semodel Amin Rais dan Fadli Zon, tak ubahnya seperti orang awam yang kebingungan menghadapi realitas maraknya kabar burung dan berita berseliweran, hingga pusing tujuh keliling untuk memilah dan membedakan mana yang hoaks dan mana fakta riil yang valid.

Saya bisa maklumi fenomena saat ini, yang menurut generasi milenial, banyak mengalami bencanadisillusionment, yakni mental orang-orang terdidik yang belum siap menghadapi pesatnya laju teknologi, hingga pada tataran tertentu bertingkah polah seperti orang linglung untuk membedakan mana yang fakta dan mana yang ilusi.

Saya ketawa-ketiwi saja ketika menyaksikan Fadli Zon, sang wakil DPR pusat – yang mantan ketuanya berada dalam jeruji besi – mengaku telah dihohongi seniman Ratna Sarumpaet, sang selebriti hoaks. Padahal sebelumnya, politikus yang berpendidikan tinggi itu, dengan genitnya menyatakan bahwa seniman yang pernah tenar di zaman Orde Baru itu, telah dianiaya massa yang berafiliasi dengan salah satu kandidat lawannya.

Di sisi lain, jika orang berpendidikan menggunakan nalar dan akal sehatnya, tentu dia akan mampu membedakan mana karya ilmiah yang berdasarkan fakta, dan mana karya sastra yang berdasarkan kekuatan imajinasi. Sehebat apapun karya sastra Perasaan Orang Banten (POB) bicara mengenai fakta di lapangan, kita harus mampu menilainya sebagai karya sastra tentang karakteristik orang Banten yang merupakan representasi jiwa manusia Indonesia.

Siapapun orang Banten yang menganggap karya POB itu telah menjelek-jelekkan kepribadian orang Banten, orang yang menuduh itu – awam atau berpendidikan – cepat atau lambat, tentu akan dihakimi oleh dirinya sendiri. Sementara, karya itu terus saja melanglang buana, melintasi batasan ruang dan waktu, tercatat dalam digital footprint yang akan terus dikenal, disebarluaskan, dan dibaca orang berperadaban, tanpa mengenal batasan geografis.

Di sisi lain, orang yang membiarkan otak dan pikirannya larut ke dalam ilusi, memang akan kesulitan menangkap pesan (massage) yang tertuang dalam karya sastra, terlebih jika karya itu sangat kental mengguratkan fakta yang diolah secara genuine menjadi suatu prosa. Memang karya sastra seperti itu, sungguh merepotkan politisi dan penguasa yang banyak berkutat dengan ilusi demi membenarkan kepentingan politisnya. Sebab, penulisnya memiliki prinsip bahwa bicara apa adanya adalah kekuatan (clarity is power). Sebaliknya, dusta, kebohongan dan kepura-puraan adalah kelemahan yang membingungkan dan memperdayakan.

Bayangkan, masa depan Banten jika dipimpin oleh tipikal manusia-manusia semacam itu. Membiarkan diri mereka larut dalam ilusi dan khayalan, takhayul, dan menjauh dari fakta yang sebenarnya. Ilusi-ilusi itu jika dipupuk terus-menerus, akan semakin menguatkan kebenaran dalam pikiran pelakunya – baik politisi, pengusaha, ustad dan kiai sekalipun – seakan-akan dunia ini semrawut dan tidak adil. Kalau sudah begitu, bagaimana seorang tokoh agama dapat memperkuat iman dan taqwanya, jika kepada Allah saja sudah bersu’udzon? Bagaimana dia dapat menghibur dan membahagiakan orang-orang beriman, jika membaca diri – yang sedang kufur nikmat – sudah tidak sanggup? Bagaimana dia sanggup meresapi kata-kata orang bijak, bahwa di tengah prahara dan malapetaka sekalipun, manusia wajib bersikap husnudzon kepada Allah Sang Pencipta?

“Clarity is Power”, hidup jujur dan terbuka, adalah kekuatan. Mestinya hal ini menjadi pegangan utama kaum agamawan, politisi, dan para pemimpin bangsa. Jika sudah berpegang pada prinsip ini, manusia tak perlu riskan dengan maraknya teknologi sensor dan pendeteksi di mana-mana. Karena, dia sudah menampilkan diri apa adanya, hingga mampu menjalani hidup dengan penuh percaya diri, baik dari pikiran, perkataan maupun perbuatannya.

Silakan saja titel Anda berderet-deret, kedudukan Anda setinggi awan, tetapi jika ngotot menyelimuti diri Anda dengan akting, kebohongan dan kepura-puraan, maka hidup Anda akan mudah terdeteksi oleh genarasi baru milenial yang senantiasa berpegang pada prinsip kejujuran dan hidup apa adanya. Clarity is power! (*)

Bagikan:

LAINNYA

Berbagi, Siapa Takut?
Selasa, 11 Des 2018 | 19:14 WIB
Berbagi, Siapa Takut?
Akal Sehat dan Kekuatan Sastra
Selasa, 11 Des 2018 | 16:57 WIB
Akal Sehat dan Kekuatan Sastra
Maaf bagi Seniman Banten
Rabu, 05 Des 2018 | 19:07 WIB
Maaf bagi Seniman Banten
Belajar Membaca 'Wong Liyan'
Senin, 03 Des 2018 | 22:10 WIB
Belajar Membaca 'Wong Liyan'

KOMENTAR

Jujur Itu Kekuatan

PEMERINTAHAN

202 dibaca
Gubernur Banten Terima DIPA TA 2019 dari Presiden
2775 dibaca
Gaji Guru Naik Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Menekan Angka Pengangguran
317 dibaca
Walikota dan Wakil Walikota Serang Periode 2018-2023 Dilantik

POLITIK

310 dibaca
Eeng Kosasih Pimpin KNPI Kabupaten Serang, Ini Program Unggulannya
154 dibaca
Pemilu 2019, Pemprov Banten Target Partisipasi Pemilih 80 Persen
219 dibaca
Bahas Pemilu 2019 Damai di Banten

HUKUM & KRIMINAL

128 dibaca
Sabu 2,5 Kg dan 51 Pil Ekstasi Siap Edar di Tangsel Diamankan
256 dibaca
Meresahkan, Tiga Warga Lebak Tersangka Curanmor Diringkus
332 dibaca
Di Pandeglang, Seorang Anak Bacok Ibu Tirinya Hingga Meninggal

PERISTIWA

251 dibaca
Naik Tipe, Polda Banten Diminta Tingkatkan Kamtibmas
280 dibaca
Kapolri Resmikan Kenaikan Tipologi Polda Banten dari Tipe B ke Tipe A

EKONOMI & BISNIS

157 dibaca
Investasi di Banten Harus Meningkatkan Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat 
210 dibaca
Pemprov Banten Lepas Seluruh Saham di Bank BJB
Top