Selasa, 23 Juli 2019

Jimat Orang Banten

[foto ilustrasi]
Senin, 08 Jul 2019 | 16:59 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Muhamad Muckhlisin

Pemenang pertama lomba cerpen nasional (2017) yang diselenggarakan harian Rakyat Sumbar

Sejak tahun 1998, sekitar duabelas tahun keluarga kami tidak berjumpa dengan Mayor Subowo. Konon, setelah peristiwa politik yang menimbulkan kerusuhan masal di Jakarta pada tahun itu, ia pergi dan menetap di beberapa negara Eropa. Padahal, di desa kami dialah satu-satunya tentara berpangkat mayor yang memiliki pengaruh dan kharisma tersendiri di mata masyarakat, termasuk keluarga kami.

Selepas tugas kemiliteran dari wilayah Timor Timur pada tahun 1995-an, aku masih ingat ketika ia membagi-bagikan cenderamata pada keluarga kami berupa gelang dari akar bahar, potongan kayu dari pohon cendana, bahkan tasbih manik-manik yang konon banyak dimanfaatkan teman-teman tentara sebagai jimat yang paling mujarab.

Ketika ia bertandang ke rumah setelah belasan tahun lamanya, aku melihat Mayor Subowo telah menjelma sebagai lelaki tua berbadan tambun dan gemuk. Mungkin saat ini titel kemiliterannya sudah mencapai letnan kolonel, mayor jenderal atau apalah namanya, tetapi keluarga kami kadung menjulukinya sebagai “tentara petualang”, dan aku sendiri tetap memanggilnya seperti duabelas tahun lalu.

Sebagaimana seluruh anggota keluargaku, aku pun menjabat tangannya dengan erat, seraya mengamatiku dengan seksama, “Wah, kau sudah besar rupanya, Mukhlis? Masih pelajar atau sudah mahasiswa?”

“Mahasiswa semester akhir,” jawabku singkat.

“Jurusan apa?”

“Filsafat.”

Mayor Subowo mengambil kursi yang telah kusodorkan kepadanya, mengamati dengan rasa puas, terlebih ketika Ibu membawakan dua cangkir kopi dengan nampan berikut tutupnya yang unik terbuat dari anyaman rotan. Ia menghirup kopi hitam itu sebanyak tiga kali, lalu bicara panjang-lebar tentang pengalamannya selama bertugas di Timor Timur, jauh sebelum ia berangkat ke berbagai negara di Eropa hingga Timur Tengah.

Semuanya duduk melingkar dengan antusias mengelilingi petualang tentara dari seberang lautan, sementara ia menegakkan bahunya yang bidang di kursi dan bicara mengenai kejadian-kejadian aneh dan menakutkan, perihal serangan wabah penyakit, serangan musuh yang dianggap merongrong kewibawaan pemerintah, bahkan tentang keyakinan orang-orang dusun pedalaman yang dianggap langka dan aneh bin ajaib.

“Setelah tugas kemiliteran dari Timor Timur, pada tahun 1996 lalu aku pun pernah bertugas menjaga badak-badak bercula satu di daerah Ujung Kulon, Banten Selatan. Kerjanya tidak terlalu berat, tetapi penghasilannya lumayan.”

“Boleh ajak-ajak aku agar mendapat penghasilan yang memadai,” kata Kak Arif, satu-satunya kakak kandungku, menawarkan diri.

“Lho? Bukankah kamu sudah menjadi karyawan di PT. Krakatau Steel?” tanya Mayor Subowo.

“Tapi aku ingin punya pengalaman yang kaya seperi Pak Mayor, terlebih kaya hartanya…”

“Ah, kamu bisa aja…”

Tak berapa lama, setelah mengamati benda pada jari manis sang tamu, Ibu pun angkat bicara, “Oya, ngomong-ngomong, bagaimana dengan cincin yang kau pakai itu? Apakah sejenis giok ataukah kalimaya? Mungkin harganya bisa mencapai ratusan juta, iya kan?”

“Ah, cincin ini tidak ada artinya, juga tidak ada harganya… maksudku, cincin ini kubeli dengan harga murah…”

“Lalu, bagaimana dengan gelang bahar yang dulu kau miliki?”

“Ah, sudahlah, lupakanlah semua itu. Bagi kalian hal itu cuma perbuatan syirik yang tak ada manfaatnya. Itu sama saja dengan sihir, dan sekarang kita sudah memasuki zaman milenial, bukankah begitu, Arif?”

“Ya,” dengan ragu-ragu Kak Arif mengangguk.

“Tapi, benda kecil seperti kelereng yang pernah Pak Mayor tunjukkan melalui internet, bukankah itu terbuat dari potongan cula badak?” tanya Ibu lagi.

Semakin antusias kami membaca tatapan mata sang tamu yang seperti manik-manik. Ia menghirup kopi sekali lagi, dan mendehem dengan penuh wibawa, kemudian meraba-raba isi dalam sakunya, "Nah, ini dia.” Benda itu ditatapnya erat-erat, kemudianya katanya lagi, “Sebenarnya ini adalah potongan ujung cula badak dari Ujung Kulon, Banten Selatan. Lebih besar sedikit dari kelereng, dan bentuknya agak lonjong.”

Ia pun menyodorkan benda itu ke arah meja. Semua menjulurkan mukanya ke arah benda itu. Ibu kembali ke posisi duduknya dengan senyum menyeringai, tetapi Ayah dan Kak Arif seperti berebutan mengambil benda itu, mengamatinya dengan rasa penasaran.

“Lalu, apa keistimewaan yang dimiliki benda itu?” tanyaku kemudian.

Sambil menghela nafasnya dalam-dalam, dan dengan mata menerawang, Mayor Subowo berkata, “Potongan dari cula badak ini sudah mendapat aji-ajian dari orang pintar di daerah Panimbang. Orang pintar itu datang dari daerah Gunung Karang, Pandeglang. Wajahnya putih dan bersih, seakan-akan tak pernah makan apapun yang masuk ke dalam perutnya kecuali dari barang yang halal.”

Mayor Subowo menggeser duduknya sedikit, mengamati reaksi kami yang terpukau mendengar uraiannya, kemudian lanjutnya, “Suatu hari, orang pintar itu berpesan kepadaku, bahwa takdir hiduplah yang menentukan nasib manusia, sementara bagi orang-orang yang coba-coba melawan takdir, sepanjang hidupnya takkan pernah menemukan apa yang disebut kebahagiaan.”

“Coba jelaskan pada kami, apa keistimewaan benda itu?” sela Ibu tak sabar.

Sang tamu mendehem beberapa kali, dan jawabnya, “Ciri khas dari keistimewaan cula badak ini, orang pintar dari Panimbang itu telah meniupkan aji-ajian mujarab, sehingga dua orang yang berbeda dari kalian, bisa meminta permintaan yang berbeda pula.” Gerak-geriknya yang mengesankan dan penuh kharisma, membuat kami serba riskan dan waswas, bahkan untuk sekadar tersenyum di hadapannya.

“Lalu, kenapa tidak Pak Mayor sendiri yang meminta, kalau perlu dua permintaan sekaligus?”

Pertanyaanku tidak ditanggapi. Mata Ibu menyorot tajam ke arahku, seakan memperingatkan agar jangan sampai mengulangi kata-kata yang dianggapnya lancang. Tak lama kemudian, Mayor Subowo menanggapinya dengan suara pelan, "Sudah pernah kulakukan… akulah peminta yang kedua itu..."

“Lalu, apakah permintaan Mayor dan peminta yang pertama, langsung dikabulkan?” tanya Ayah.

“Aku tidak tahu dengan peminta yang pertama, tapi yang bikin aku sedih adalah nasib hidupnya di kemudian hari…”

“Apa yang dia minta?”

Mayor Subowo menarik nafas panjang, tatapannya menerawang seakan-akan mengingat seorang sahabat yang hidupnya merana dan menyedihkan. “Dia seorang tentara berpangkat letkol, berbaring selama berbulan-bulan karena luka berat pada pangkal paha kanannya. Dia tertembak oleh pasukan pemberontak di Timor-Timur, ketika dia ditugaskan Presiden Soeharto untuk memimpin kesatuan tentara di sana. Karena lukanya terus membusuk, dan dia tak sanggup menahan derita yang begitu lama, dia minta agar disudahi saja, lalu dia pun mati tak berapa lama setelah menyatakan permintaan itu.”

***

Demikianlah, sampai potongan cula badak itu berada di tangan Mayor Subowo. Kesenyapan menyelimuti semua pendengar, karena nada bicaranya yang parau dan mengerikan itu.

"Kalau kedua permintaan itu sudah terjawab, maka benda itu sudah tidak ada gunanya lagi, Mayor,” kata Ayah memecah kesunyian, seraya memandang benda itu seakan sudah tak berharga.

“Bukan begitu, Pak, permintaan itu tak ada batasnya, dan aku sudah mengalaminya sendiri… tapi, ah lupakanlah….”

“Kenapa, Pak Mayor?” pancing Ibu lagi.

“Suatu ketika aku sendiri ingin menjualnya, tapi ya sudahlah, benda ini sudah membawa banyak malapetaka dalam hidupku.”

Mayor Subowo melangkah ke arah jendela, dan ketika akan melempar benda itu keluar jendela, tiba-tiba Ibu berteriak, “Jangan, Pak Mayor! Nanti dulu… ada satu hal yang ingin aku pertanyakan.”

Dengan suara terengah-engah, Ibu pun melanjutkan sambil menatap tajam, “Begini, kalau misalnya saat ini Pak Mayor punya kesempatan untuk minta pada permintaan yang kedua, apakah Pak Mayor tetap ingin memilikinya?”

“Aku tidak tahu, Bu, sungguh aku tidak tahu…”

Ketika Mayor Subowo akan melemparkan benda itu untuk kedua kalinya, Ibu segera mengamit lengannya seraya merebut benda itu dari tangannya. Sambil tersenyum sinis, ia merasa berhak memiliki benda itu, dan seketika ia membuka laci meja dan menaruhnya di dalam laci. Mayor Subowo tak begitu peduli, kemudian duduk di kursi dengan sedikit memberi peringatan, “Sebaiknya Ibu buang saja cula badak itu… tidak ada gunanya.”

"Kalau kau tidak menginginkannya lagi, Mayor, mengapa tidak kau berikan saja pada orang lain?” ujar Ayah.

"Sebenarnya berkali-kali aku ingin melempar benda itu jauh-jauh, tapi baiklah, kalau kalian memaksakan kehendak, kalian harus menerima segala risiko dan akibatnya.”

"Ah, perkataanmu itu kayak dongeng Abu Nawas saja… jadi, bagaimana ini cara menggunakannya,” tanya Ayah setelah mengeluarkan jimat itu dari dalam laci.

Dengan wajah yang penuh kecemasan, Mayor Subowo meraih lengan Ayah, “Kalau kau benar-benar ingin meminta," katanya dengan suara serak, "mintalah untuk sesuatu yang wajar dan masuk akal.”

Ayah memasukkan benda aneh itu ke dalam sakunya, kemudian Ibu menghampiri Ayah dan mengambilnya, seraya mengamatinya erat-erat, “Untuk aku pribadi, sebenarnya tidak tahu apa yang harus kuminta, karena selama hidupku sepertinya aku sudah mendapatkan segala yang dibutuhkan.”

Kak Arif kemudian menyela perkataan Ibu sambil mengenakan sepatunya hendak berangkat kerja, “Kalau Ayah dan Ibu ingin merehab rumah ini agar sedikit nyaman ditempati, kukira minta seratus juta sudah cukup.”

Ayah tersipu malu. Pada raut wajahnya mudah terbaca bahwa ia memang punya kecenderungan kuat untuk mempercayai sesuatu. Dengan ragu-ragu, mulut Ayah kemudian mengeluarkan suara, “Ya, kukira, seratus juta sudah cukup.”

“Yang keras, Pak.” tegur Mayor Subowo.

“Aku minta seratus juta rupiah!”

Tiba-tiba terdengar bunyi “prang” membelah suasana. Seekor kucing telah memecahkan gelas cucian di dapur, dan Ibu segera mengusir binatang itu keluar dapur. Sekembalinya ke ruang depan, ia terheran-heran melihat mata Ayah berkaca-kaca dengan dahi mengkerut.

“Ada apa, Mukhlis?” tanya Ibu.

“Aku sendiri tidak tahu, Bu?”

“Ada apa, Ayah?” ia pun memberanikan diri bertanya langsung.

"Benda itu bergerak, Bu!" ia berseru, dengan lirikan jijik pada benda itu saat dilepaskan dari genggamannya. “Ketika aku minta seratus juta tadi, tiba-tiba benda itu bergerak seperti ulat menggeremet di telapak tanganku.”

“Ah, tidak mungkin, pasti itu cuma khayalan Ayah saja.”

“Benar, Bu, ini benar-benar terjadi,” kata Ayah dengan mata terbelalak, “Benda itu benar-benar bergerak… jimat itu benar-benar hidup…!”

***

Ada suasana menjemukan di tengah keluarga kami, terutama ketika kehidupan menjadi bimbang, dan keimanan pada Tuhan semakin menipis. Di musim-musim paceklik, hawa panas begitu menyengat. Biaya hidup semakin meninggi, apalagi setelah ada pengumuman pemerintah mengenai kenaikan harga BBM. Pada saat yang menentukan itu, kepercayaan Ayah pada benda-benda pusaka semakin menguat, seolah-olah setiap benda apapun yang telah diisyaratkan oleh orang-orang pintar serta-merta menjadi keyakinan dan kepercayaan mutlak.

“Omong kosong saja semuanya itu,” gumamku setelah membaca novel Pikiran Orang Indonesia, “Kukira semua kelakuan tentara di negeri ini sama saja. Barangkali kesalahan terbesar bangsa ini, karena terlampau percaya pada omong kosong mistik semacam itu. Padahal, zaman sudah berubah. Mana mungkin suatu doa dan permintaan dapat terkabul seketika?”

Ibu pun mengalihkan pembicaraan, “Mana mungkin hanya minta seratus juta dapat menyakiti Ayah, kalau perlu Ayah minta lebih dari itu.”

Kudengar canda Kak Arif dari balik pintu, "Yah, jangan habiskan uangnya sebelum aku pulang, aku mau berangkat kerja dulu!”

Ibu tertawa keras sambil menatap keberangkatan Kak Arif dari balik tirai jendela. Ayah tak peduli pada tawa Ibu yang seakan menyindirnya karena begitu mudah percaya pada hal-hal yang bersifat takhayul.

"Kenapa Ibu masih tertawa saja, Yah?” tanyaku kemudian.

“Biarkan saja, Mukhlis, apapun yang ditertawakan ibumu, nyatanya benar bahwa cula badak itu bergerak-gerak di genggaman Ayah.”

“Ayah hanya berpikir seolah-olah benda itu bergerak…”

“Sumpah! Itu bukan hanya pikiran Ayah, tapi benda itu benar-benar bergerak!”

***

Di sore hari, Ibu seperti mengamati bayangan misterius dari seorang pria di luar, yang mengintip ragu-ragu ke dalam rumah. Nampaknya orang itu sedang berpikir hendak mengetuk pintu untuk segera masuk. Dahi Ibu mengkerut dengan mata menyorot tajam, seakan terbersit dalam ingatannya mengenai uang seratus juta tadi. Orang asing itu mengenakan seragam PT. Krakatau Steel dengan rambut tersisir rapi. Ibu segera menyambutnya keluar, lalu mengajaknya masuk dan duduk di ruang depan. Setelah menyediakan secangkir teh, tamu itu merasa serba-salah menghadapi wajah Ibu yang berseri-seri, sementara kabar mengenai kecelakaan kerja yang dialami Kak Arif disampaikan dengan suara terbata-bata.

"Jadi, aku diminta oleh perusahaan untuk menemui keluarga Arif Hermawan, tentang keadaan yang dialaminya pagi tadi…”

“Ada apa dengan anakku? Ada apa, Pak?” tanya Ibu kaget.

“Tenanglah, Bu, sabar dulu, coba sampaikan terus terang, Mas?” sela Ayah.

“Kami mohon maaf Pak, atas kecelakaan kerja yang dialami almarhum Arif anak Bapak dan Ibu.”

“Kenapa, Pak, kecelakaan apa?” teriak Ibu.

Tamu itu pun menundukkan kepalanya, “Almarhum mengalami kecelakaan kerja sekitar jam 11.30 siang tadi…”

Ibu menarik nafas panjang sambil mengeluarkan suara melenguh. Ia beralih melihat wajah Ayah, lalu meletakkan tangannya yang gemetar di atas tangan Ayah. Sesaat muncul keheningan panjang yang melanda ruangan itu.

"Arif terjepit di antara dua mesin, kemudian terperangkap di dalamnya.”

“Terjepit mesin?” ulang Ayah penuh tanda-tanya.

“Iya, Pak, setelah mayatnya diangkat dari mesin, dokter menganjurkan beberapa bagian tubuhnya agar dimutilasi. Saat ini, semuanya sudah selasai.”

Ayah berdiri terpaku, memandang ke luar jendela, sambil menggenggam tangan Ibu erat-erat. Seketika tamu itu berdiri di samping Ayah, dan dengan suara pelan mengatakan, “Pihak perusahaan memberi amanat agar segera mengabarkan peristiwa ini pada Bapak-Ibu, dan kuharap semua keluarga di sini memahami bahwa aku hanyalah pesuruh yang diberi tugas oleh pihak perusahaan.”

Aku masih diam mematung, bersama Ayah dan Ibu dengan wajah yang teramat pucat. Kemudian tamu itu menambahkan, “Jadi, PT. Krakatau Steel merasa bertanggungjawab atas peristiwa ini, lalu mengurus kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi, terutama setelah menimbang pengabdian dan kerja keras anak Bapak-Ibu selama ini demi untuk memajukan perusahaan. Oleh karena itu, mereka ingin memberikan sekadar kompensasi dalam jumlah tertentu, agar sekiranya Bapak dan Ibu mau menerimanya dengan ikhlas…”

“Berapa, Pak?” tanya Ibu seketika.

“Seratus juta rupiah.”

***

Jasad Arif dikebumikan di pemakaman desa pada keesokan harinya. Aku sendiri tak sempat menanyakan bagian tubuh mana yang tersangkut di mesin dan harus dimutilasi, lalu disatukan dengan bagian tubuh lainnya. Setelah kami kembali ke rumah, suasana diliputi dengan bayang-bayang senyap penuh keheningan. Semua ini terjadi dengan begitu cepat sampai pada mulanya kami seperti kehilangan kesadaran, dan tetap dalam keadaan berharap seolah-olah sesuatu yang lain yang mestinya terjadi. Kenapa harus Arif kakak kandungku? Kenapa bukan orang lain?

Dua minggu telah berlalu, segala harapan seakan-akan pupus oleh rasa sedih dan putus asa. Kedua orang tuaku saling diam seribu basa, dan hari-hari kami yang panjang terasa letih dan melelahkan. Suatu ketika di tengah malam, tiba-tiba Ibu bersejingkat dari tempat tidur, serta-merta berteriak-teriak histeris, “Cula badak itu, Pak! Di mana dia Pak, di mana dia…?”

Seperti orang kesurupan, Ibu berjalan sempoyongan dari sudut rumah ke sudut lainnya, kemudian ia melompat menghampiri meja dan membuka laci. “Nah, ini dia, Pak!”

Ia menggenggam potongan cula badak itu sambil tersenyum menyeringai. Ayah menatap Ibu dengan panik. Seketika ia tertawa dan menangis secara bersamaan, “Aku baru saja kepikiran… kenapa tidak dari hari-hari kemarin?”

“Kepikiran apa, Bu?” tanya Ayah heran.

“Permintaan yang kedua. Kita baru menyampaikan permintaan yang pertama, dan itu sudah terkabul. Sekarang yang kedua… yang kedua, Pak…”

“Tidak, Bu,” kata Ayah gemetar, “Kembali ke tempat tidur, kau sudah gila rupanya.”

Dengan suaranya yang mendesis, mata Ibu melotot ke muka Ayah, “Permintaan pertama sudah terkabul, kenapa kita tidak mencoba yang kedua?”

“Tidak Bu, itu hanya kebetulan saja,” jawab Ayah terbata-bata.

Seketika Ibu membelakangi Ayah, memejamkan matanya seraya meminta keras-keras pada jimat yang ada di telapak tangannya, “Aku minta anakku Arif Hermawan hidup kembali!”

“Bu, jangan Bu, dia sudah dua minggu dikuburkan!”

“Bawa dia kembali… bawa dia kembali….”

“Jangan, Bu… banyak bagian tubuhnya yang dimutilasi…”

“Bawa dia kembali….

***

Jimat itu masih dalam genggaman Ibu, lalu muncul ketakutan yang luar biasa dalam diri kami, jika permintaan itu segera terkabul dalam kondisi tubuh Kak Arif yang sudah terpotong-potong. Aku menarik nafas panjang dengan tubuh gemetar, meski tak mungkin melarikan diri dari ruangan itu. Ibu melangkah mengitari meja seperti tak sadarkan diri, kemudian meraba-raba seluruh dinding. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat membanjiri sekujur tubuhnya.

Ayah yang sedang ketakutan terus memperhatikan ulah Ibu yang baginya memiliki tampilan yang tak wajar. Pada saat Ibu mengucap ‘bawa dia kembali’ yang ke sekian puluh kalinya, tiba-tiba jimat di tangannya terpental dan jatuh ke lantai. Lalu ia menghilang dari balik kursi, sementara Ayah, dengan mata berapi-api, berjalan ke arah jendela dan mengangkat tirai yang menutupinya. Saat itu juga, kami melihat Ibu sudah berada di depan halaman rumah.

Setelah sekian lama, ia pun kembali masuk dengan perasaan setengah frustasi karena kegagalan jimatnya. Ia kembali ke tempat tidur, dan kami pun merasa lega dengan harapan Ibu yang seakan pupus, karena permintaan yang tak masuk akal itu. Ia berbaring membelakangi Ayah dengan rasa sungkan. Aku pun pergi ke kamar, dan kembali tidur dalam suasana hening dan senyap, sementara waktu pada jam dinding sudah menunjukkan Pk. 01.00 dini hari.

Tak lama kemudian, terdengar suara samar-samar seperti ketukan pintu dari luar. Kegelapan itu pun semakin mencekam. Ketukan pintu kembali terulang, dan ketika aku berjalan pelan-pelan menuju ruang depan, ternyata Ibu sudah ada di tempat itu. Ia memberi isyarat dengan telunjuk di bibir agar aku terdiam. Seketika itu, Ayah melompat ke ruang depan, sambil mengatakan, “Jangan, Bu, jangan memaksakan kehendak… tubuhnya sudah terpotong-potong…”

Dan Ibu pun berteriak, “Tidak bisa, Pak, aku harus membukakan pintu. Bapak kira, aku takut pada anak yang telah aku kandung dan susui sejak kecil?”

Sepintas aku melihat bayangan tubuh mengerikan dari tirai yang tersingkap oleh angin. “Siapa di luar?” tiba-tiba Ibu berteriak.

Terdengar suara yang masih samar-samar. Ibu melompat menuju pintu, tapi Ayah segera mengejar dan menangkap lengannya, lalu memeluknya erat-erat.

“Itu Arif, Pak, itu Arif Hermawan! Aku harus membukakan pintu!” ia terus meronta-ronta agar keluar dari dekapan Ayah.

“Lepaskan aku, itu Arif anakku, lepaskan aku…!”

Pelukan itu pun terlepas, “Apa yang akan kau lakukan?" bisik Ayah dengan suara serak.

Ibu pun membuka pintu pelan-pelan. Ia melangkah keluar disertai Ayah dan aku yang mengikutinya dari belakang. Di halaman depan rumah, ia menatap kosong ke arah pohon mangga yang pernah ditanam Kak Arif belasan tahun lalu. Batangnya sudah membesar. Dahan-dahannya semarak tumbuh menjulang ke langit.

Sehelai daun kering terjatuh mengenai kepala Ibu yang berdiri dengan mata melompong. Angin dingin dengan cepat menyusuri tubuh kami, lampu jalanan seakan berkedip-kedip remang menyinari suasana yang sunyi dan senyap. ***

Bagikan:

LAINNYA

Kiai Sepuh di Banten 
Senin, 22 Jul 2019 | 12:21 WIB
Kiai Sepuh di Banten 
Mengungkap Logika yang Terbalik
Kamis, 18 Jul 2019 | 19:29 WIB
Mengungkap Logika yang Terbalik
Ketika Sastra Berpaling
Senin, 17 Jun 2019 | 21:09 WIB
Ketika Sastra Berpaling
Seberapa Waras Orang Banten?
Kamis, 30 Mei 2019 | 15:05 WIB
Seberapa Waras Orang Banten?

KOMENTAR

Jimat Orang Banten

PEMERINTAHAN

628 dibaca
Silpa APBD Kabupaten Serang TA 2018 Capai Rp403 Miliar
1848 dibaca
Dinilai Sukses, Bupati Minsel Belajar Kelola BUMD ke Bupati Serang
1709 dibaca
Pemkab Serang Terapkan Sistem Berbasis Elektronik

POLITIK

824 dibaca
Tak Penuhi Kuorum, Paripurna DPRD Kabupaten Serang Batal Digelar
1871 dibaca
Pilkada Serentak 2020, Golkar Banten Prioritaskan Usung Kader
1777 dibaca
Eks Relawan Sebut Kepemimpinan WH–Andika Bergaya Otoriter

HUKUM & KRIMINAL

2344 dibaca
Orang Tua Kades di Kecamatan Ciruas Dibacok
1399 dibaca
Tiga Pelaku Curas Biasa Aksi di Wilayah KP3B Diringkus
1447 dibaca
Miliki Catatan Kriminalitas, Dua Perampok Asal Malaysia Tak Bisa Dibawa ke Indonesia

PERISTIWA

1817 dibaca
Bupati Serang: TMMD Bangkitkan Budaya Gotong Royong di Masyarakat 
1958 dibaca
Diduga Terlibat Jual Aset Negara, Kejari Didesak Usut Walikota Serang
1734 dibaca
Peringati HANI 2019, Bupati Serang Canangkan Program Bersih dan Aman

EKONOMI & BISNIS

373 dibaca
Soal Pasir Laut, Bupati Tatu Minta Kajian Tim Ahli Dipublikasikan
536 dibaca
Inilah Gadis di Balik Uang Digital Facebook
Top