Minggu, 24 Januari 2021

Jadilah Pribadi yang Pemaaf 

[foto ilustrasi]
Selasa, 19 Mei 2020 | 21:11 WIB - Suara Pembaca

Oleh: Chudori Sukra 

Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI) Jakarta 

Jika bertolak dari kajian antropologi filosofis Hannah Arendt, jalan keluar dari keterbatasan pikiran dan perasaan manusia adalah sikap arif dan rendah-hati, yang diwujudkan dalam tindakan nyata, yakni memberi maaf. Tanpa permaafan, hidup manusia akan terus-menerus terbelenggu dan terpenjara kesalahan masa lalu, bahkan harus menanggung konsekuensi tindakan yang keliru untuk selama-lamanya. Tanpa kemampuan untuk menghapus apa yang telah diperbuat, manusia akan terperangkap ke dalam siklus takdir yang pada akhirnya dapat menjerumuskan dirinya sendiri.

Melalui sikap rendah-hati dan memberi maaf, umat manusia saling membebaskan diri dari apa yang telah terjadi, untuk kemudian terlahir kembali menjadi manusia merdeka. Hanya dengan kehendak dan keikhlasan untuk saling menghapus kesalahan, manusia dapat membuka lembaran baru dalam kehidupan privat maupun publiknya.

Terkait dengan ini, karena manusia adalah makhluk sosial, maka saling memaafkan menjadi kebutuhan yang sangat vital. Manusia hidup di tengah-tengah manusia lain yang serba unik dan otentik. Manusia otentik bukanlah individu atomik yang teralienasi dari dunia benda-benda material, melainkan individu yang bertindak dan berinteraksi bersama-sama dengan yang lain. Oleh karena itu, kekuatan maaf menjadi perekat yang mengintegrasikan individu-individu yang majemuk.

Dari perspektif lain, sehubungan dengan masa pandemi Corona ini, memberi maaf dengan hati yang tulus – meskipun secara raga berjauhan – jauh lebih berkualitas ketimbang raga berdekatan namun ketulusan sangat minim. Di sisi lain, jiwa besar untuk menerima kelemahan dan keterbatasan manusia memang bukan perkara mudah. Membebaskan diri dari kekhilafan, atau mengakui pihak lain sebagai yang lebih benar, dibutuhkan hati yang lapang dan terbuka.

Tapi bagaimanapun, keutamaan memberi maaf adalah sifat dasar atau fitrah manusia yang bertindak dan berkomunikasi antar sesamanya dalam ruang kehidupan yang kompleks. Kemampuan bertindak dan berbicara di antara sesamanya, inilah keistimewaan yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk Tuhan lainnya (al-insanu hayawan annatiq).     

Di minggu terakhir bulan suci ini, hendaknya jiwa-jiwa kita terbebas dari segala perbuatan – bahkan pikiran – yang menimbulkan ketakseimbangan kosmik. Kemenangan melawan hawa nafsu harus diartikan lebih mendalam, bahwa kita dituntut menjadi pribadi-pribadi yang arif dan bijak, setelah ibadah puasa ditunaikan. Pembebasan terhadap dosa dan kesalahan, bila manusia mengingkarinya, berarti suatu pengingkaran terhadap janji dan amanah, yang mengidentikkan dirinya tidak takut di hadapan Tuhan.

Memberi maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kekhilafan, inilah yang harus menjadi esensi dari Idul Fitri. Kapasitas bertindak yang mencirikan jati diri manusia memang terbatas, sehingga dampak dari kesalahan, seringkali menjadi sesuatu yang tidak dapat dihapuskan begitu saja. Oleh karena itu, kekuatan maaf menjadi perekat yang mengintegrasikan individu-individu yang berbeda. Sehingga menghindarkan manusia dari sirkuit balas dendam sebagai reaksi alamiah atas kesalahan yang diperbuat oleh pihak lain.

Nabi Muhammad pernah menegaskan bahwa menahan hawa nafsu adalah jihad yang paling besar. Inilah yang perlu digarisbawahi, mengingat sebagian masyarakat muslim menganggap bahwa jihad itu identik sebagai perjuangan dengan mengangkat senjata. Seusai pertempuran Badar, sebagian sahabat Nabi yang mengalami euphoria kemenangan, ditegur oleh Nabi bahwa kemenangan pertempuran hanyalah jihad kecil-kecilan. Para sahabat tersentak kaget, “Lalu, jihad yang seperti apa yang besar itu, ya Rasulullah?”

“Kesanggupan kalian dalam menahan hawa nafsu, itulah jihad yang sebenarnya.”

Jawaban Nabi Muhammad itu membuat banyak sahabat tertegun, seraya membawa mereka pada sikap introspeksi diri, bahwa euphoria atas kemenangan yang bersifat duniawi – termasuk kemenangan politik – adalah jalan keliru yang bisa menggelincirkan manusia pada sifat ujub dan takabur. Kesanggupan menahan hawa nafsu, itulah yang membuat Nabi dijuluki manusia yang memiliki budi pekerti luhur (al-akhlaqul adzimah).

Rasanya sulit mencapai derajat sebagai hamba yang ber-akhlaqul adzimah, manakala masyarakat kita masih sibuk membanggakan egoisme pribadi maupun golongannya. Terkadang ada orang yang merasa dizalimi, seolah-olah merasa perlu membalas untuk melakukan sesuatu yang lebih dari perlakuan rivalnya. Watak temperamental ini selalu membenarkan cara-cara untuk membalas keburukan dengan sesuatu yang lebih buruk lagi. Hal ini sama sekali tidak mencerminkan umat beragama yang baik, yang mestinya mengedepankan sifat pemaaf atas kesalahan yang diperbuat sesamanya.

            Karena bagaimanapun, menjadi pemaaf dibutuhkan jiwa yang lapang dan merdeka. Untuk meraih kemerdekaan itu, manusia harus sampai pada kesadaran – sebagaimana sabda Nabi – bahwa musuh sebenarnya yang mesti dilawan berada dan bercokol di dalam diri kita sendiri. Mengatasi musuh dalam diri sendiri, bisa menjadi pemicu kebaikan, yang membuat seseorang bertindak kreatif untuk menghidupkan nilai-nilai religiositas dan peradaban yang luhur. *

Bagikan:

LAINNYA

Ilmu Adalah Amal Terbaik
Minggu, 24 Jan 2021 | 22:19 WIB
Ilmu Adalah Amal Terbaik
Salah Kita Sendiri
Selasa, 19 Jan 2021 | 09:39 WIB
Salah Kita Sendiri
Lagi-lagi Soal Kiamat
Selasa, 12 Jan 2021 | 17:09 WIB
Lagi-lagi Soal Kiamat
Bukan Sastra Pendendam
Jumat, 08 Jan 2021 | 22:41 WIB
Bukan Sastra Pendendam

KOMENTAR

Jadilah Pribadi yang Pemaaf 

INILAH BANTEN

70 dibaca
Polda Banten Kawal Distribusi Vaksin Sinovac ke Kabupaten/Kota
100 dibaca
Sambil Ngopi, Polda Banten Imbau Masyarakat Patuhi Prokes

INILAH SERANG

65 dibaca
Laznas Chevron dan Dompet Dhuafa Banten Salurkan Paket Nutrisi
112 dibaca
KPU Tetapkan Tatu-Pandji Bupati dan Wakil Bupati Serang Terpilih

HUKUM & KRIMINAL

66 dibaca
Selundupkan Bibit Lobster, Dua Warga Pandeglang Dibekuk
81 dibaca
Usai Disetujui DPR, Komjen Listyo Sigit Siapkan Rencana Aksi

POLITIK

112 dibaca
KPU Tetapkan Tatu-Pandji Bupati dan Wakil Bupati Serang Terpilih
116 dibaca
KPU Pandeglang Siapkan Materi Gugatan di MK

PENDIDIKAN

173 dibaca
Nadiem Makarim Bicara Korban Sriwijaya Air
303 dibaca
Tenaga Pengajar Berstatus ASN di Pandeglang Masih Minim
Top