Selasa, 24 November 2020

Inilah 4 Perbedaan Manusia Menyikapi Musibah

[foto ilustrasi/net]
Sabtu, 21 Nov 2020 | 23:50 WIB - Mozaik Islami

KETIKA ditimpa musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkat: Tingkat pertama: Bersikap marah. Sikap marah ini terbagi menjadi beberapa macam:

Pertama: Hatinya marah kepada Tuhannya dan mencela takdir Allah yang ditetapkan kepadanya. Tindakan semacam ini haram hukumnya dan kadang dapat menyebabkan kepada kekafiran. Allah subhanahu wa taala berfirman:

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Qs. Al-Hajj: 11)

Kedua: Lisannya marah kepada Allah, sehingga dia mengumpat dan berkata cela tatkala berdoa dan sebagainya. Tindakan semacam ini juga haram hukumnya. Ketiga: Marah dengan anggota badannya, seperti memukul pipi, merobek pakaian, terlalu bersedih, dan sebagainya. Semua ini juga haram hukumnya karena bertentangan dengan kesabaran yang diwajibkan.

Kelihatannya, tindakan semacm ini berat dilaksanakan, tetapi akan menjadikannya tabah dan kelihatannya susah dilaksanakan tetapi keimanannnya akan menjaganya dari kemarahan. Bagi orang seperti ini, musibah terjadi atau tidak sama saja, karena menurutnya, semua itu telah ditakdirkan dan pasti akan terjadi. Maka dari itu Allah memerintahkan agar bersabar sehingga berfirman:

"Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Anfaal: 46)

Tingkat ketiga: Ridha.

Orang semacam ini ridha terhadap musibah yang menimpanya. Menurutnya, ada dan tidaknya musibah itu sama saja. Keberadaannya tidak menyebabkannya susah dan tidak memikulnya dengan berat. Tindakan semacam ini hukumnya sunnah bukan wajib menurut pendapat yang rajih. Perbedaan antar tingkat ini dengan tingkat sebelumnya jelas; karena adanya musibah dan tidak adanya sama-sama ridha menurut tingkat ini, sedangkan pada tingkat sebelumnya, musibah itu sulit baginya tetapi dia bersabar atasnya.

Tingkat keempat: Bersyukur.

Bersyukur merupakan tingkat yang paling tinggi yaitu bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya, karena dia tahu bahwa musibah itu menjadi sebab penghapusan dosa dan sebab penambahan kebaikannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada musibah yang menimpa seorang Muslim kecuali dengan-Nya Allah menghapus dosanya, walaupun hanya tertusuk duri." (MuttafaqAlaih)

[Sumber: Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji (Fatawa Arkanul islam), Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]

Bagikan:

LAINNYA

Yuk Biasakan Anak Perempuan Berhijab dari Kecil
Senin, 23 Nov 2020 | 20:09 WIB
Yuk Biasakan Anak Perempuan Berhijab dari Kecil
Mengapa Kesempitan Hidup Masih Menghimpit?
Senin, 23 Nov 2020 | 07:00 WIB
Mengapa Kesempitan Hidup Masih Menghimpit?
Sahabat yang Berhasil Menundukkan Kepalsuan Dunia
Senin, 23 Nov 2020 | 05:53 WIB
Sahabat yang Berhasil Menundukkan Kepalsuan Dunia
Musibah Terbesar Manusia Lalai dari Makna Alquran
Sabtu, 21 Nov 2020 | 20:35 WIB
Musibah Terbesar Manusia Lalai dari Makna Alquran

KOMENTAR

Inilah 4 Perbedaan Manusia Menyikapi Musibah

PEMERINTAHAN

134 dibaca
Jelang Nataru, TPID Kabupaten Serang Diminta Antisipasi Gejolak Harga
304 dibaca
Sekda Entus: DWP Kabupaten Serang Harus jadi Perekat Masyarakat

POLITIK

101 dibaca
Tinjau Simulasi, Pjs Bupati Serang Optimis Pilkada Sukses Masyarakat Sehat
150 dibaca
Terapkan Prokes, KPU Kabupaten Serang Simulasi Pemungutan dan Perhitungan Suara

HUKUM & KRIMINAL

194 dibaca
Resmob Polres Serang Ringkus Tiga Pelaku Curanmor, Dua Ditembak
179 dibaca
214 Ranmor Diungkap Polda Banten

PERISTIWA

55 dibaca
Di Wilayah Hukum Polres Serang, Spanduk dan Baligho Ilegal Diturunkan
173 dibaca
Hujan Deras Akibatkan Tebing Longsor dan Rendam Rumah Warga

EKONOMI & BISNIS

23 dibaca
Widih, Start up Kaesang Dapat Dana Rp 29 Miliar
47 dibaca
Mau Liburan Tahun Baru, Tiket Kereta Api Udah Bisa Dipesen yah
Top